Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
180. Ekonomi Memburuk


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Wabah penyakit sudah sampai di Indonesia, kondisi perekonomian semakin memburuk. Kabar Tante Laras sudah membaik kesehatannya dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan Om Prabu.


“Bram terima kasih banyak ya, kamu sudah sangat membantu Bharata Group di Jakarta.” Ucap Om Prabu saat serah terima pekerjaan dengan Bram.


“Sama sama Om.” Ucap Bram


“Saya harus segera ke Yogya untuk ngurus perusahaan yang sedang dalam kondisi darurat.” Ucap Bram kemudian


“Aku turut prihatin dengan permasalahan yang menimpa Arum dan Bharata Group di Yogya.” Ucap Om Prabu


“Kalau kamu ada kesulitan aku juga siap membantu Bram.” Ucap Om Prabu kemudian


“Baik Om.” Jawab Bram.


“Kamu benar benar mau pulang dengan kereta api?” tanya Om Prabu saat Bram sudah siap siap mau kembali ke Yogyakarta.


“Iya Om, menghemat biaya besuk pagi juga sudah sampai Yogyakarta.” Jawab Bram.


“Baiklah, biar kamu diantar sekretaris Niko menuju ke stasiun demi keamanan. Ingat jaga selalu kesehatan ya.” Ucap Om Prabu.


“Baik Om.” Jawab Bram.


Setelah pamit dengan Om Prabu dan Tante Laras. Bram masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh sekretaris Niko. Bram merasa lega bisa menjalankan tugasnya dengan baik.


Keesokan harinya Bram sudah sampai di Yogyakarta. Bram dijemput oleh sopir kantor.


“Tidak usah pakai AC Pak biar ada sirkulasi udara.” Ucap Bram saat masuk ke dalam mobil.


“Meskipun waktu aku mau berangkat sudah ditest dan hasilnya negatif tetapi tidak tahu saat di dalam perjalanan.” Ucap Bram lagi


“Baik Mas, saya juga selalu siap disinfektan di mobil dan selalu pakai masker.” Ucap pak Sopir yang memakai masker dan lalu memyemprot disinfektan. Brampun juga setia memakai masker.


Mobil berjalan meninggalkan stasiun menuju ke rumah bapak Bharata.


Beberapa menit kemudian mobil sampai di rumah bapak Bharata. Setelah sampai Bram langsung menuju ke paviliun. Dia belum berani menemui seluruh anggota keluarganya meskipun rindu dengan anak istri begitu menderu.


Sementara itu di ruang makan keluarga Bharata sudah siap untuk sarapan pagi. Anggota keluarga sekarang bertambah satu karena Arum lebih memilih tinggal lagi di rumah orang tuanya.


“Bu, mas Bram sudah sampai tadi, dan dia karantina mandiri di paviliun.” Ucap Mak yang tadi diberi kabar oleh pak Man. Dan sekarang dia juga sedang mengambilkan sarapan untuk Bram.


“Atu mau tetemu ayah.” Ucap Andru berusaha melorotkan tubuhnya meskipun sebenarnya tidak berani beneran untuk melorot hanya cari perhatian saja.


“Andru nanti kamu jatuh.” Ucap Bapak Bharata sambil memegang kursi Andru.


“Iya.. mata toyong atu yang..” ucap Andru sambil menatap bapak Bharata

__ADS_1


“Andru kita belum boleh ketemu ayah.” Ucap Nindya


“Tenapa?” Tanya Andru


“Dilihat dokter dulu ayah ada kumannya tidak.” Jawab ibu Murti


“Emang ayah ga mandi ga gocok gigi?” Tanya Andru lagi.


“Bukan karena itu sayang tapi sekarang sedang banyak kuman berbahaya yang kita tidak tahu dia ada di mana.” Jawab Nindya


“Ayah kan habis dari naik kereta di stasiun dan ketemu banyak orang.” Ucap Ibu Murti menambahi


“Oooo.” Gumam Andru


“Andru boleh lihat ayah tapi dari jauh ya...” ucap Nindya lagi


“Secalang ya bun..” ucap Andru


“Sebentar nanti kalau sudah selesai maem. Ayah juga sedang makan.” Jawab Nindya sambil mengambilkan makanan untuk Andru


“Nin karena paviliun untuk karantina Bram, kamu kerja di rumah saja.” Ucap Bapak Bharata


“Baik Pak.” Jawab Nindya


Mereka semua.lalu menyelesaikan sarapannya. Terlihat Arum hanya makan sedikit kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke dalam kamarnya.


“Ayah.. Ayah.... Ayah... “ teriak Andru


“Ayah ... Ayah.. atu datang" teriak Andru di sepanjang perjalanan dari rumah menuju ke paviliun


“Mbah Man ayah cudah puyang" ucap Andru saat bertemu dengan pak Man.


“Iya Bos, Bos besar sudah di paviliun.” Jawab pak Man


“Iya tapi ayah macih ada tuman.” Ucap Andru


Tidak berapa lama Andru dan Nindya sudah berada di depan pintu. Bram yang mendengar suara Andru lalu melihat anak istrinya dari balik jendela kaca. Mereka berkomunikasi dan melepas rindu dengan skat jendela kaca.


“Bun atu temeni ayah ya.. “.ucap Andru sambil mendongak menatap bundanya.


“Atu di lual cama mbah Man.” Ucap Andru lagi


“Andru jangan nakal ya jangan nganggu mbah Man.” Ucap Nindya


“Atu main cepeda di sini bial bica liat ayah.” Jawab Andru

__ADS_1


“Ya sudah bunda masuk ke rumah ya, bunda banyak pekerjaan.” Ucap Nindya dan Andru menganggukkan kepala.


“Mas, jagain Andru dari dalam ya..” teriak Nindya. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bram. Rasanya dia ingin memeluk anak istrinya. Namun demi keamanan kesehatan semuanya dia menahan diri, menunggu masa karantina selesai.


“Ayah atu cudah pintal naik cepeda.” Teriak Andru.


“Atu ambil cepeda dulu ya...” teriak Andru lalu. Bram teihat tersenyum sambil memberikan ibu jarinya. Dan teihat Andru berlari untuk mengambil sepeda kecilnya.


“Andru hati hati.” Teriak Nindya sambil berjalan meninggalkan halaman paviliun.


Nindya lalu berjalan masuk ke dalam rumah untuk bekerja, dia mengambil lap topnya lalu dia menuju ke ruang keluarga.


“Nin bagaimana kondisi keuangan perusahaan?” tanya ibu Murti


“Bu, kemarin mas Bram menyuruh mencairkan investasi atas nama Arum ternyata semua atas nama Arum sudah beralih ke atas nama Johan.” Jawab Nindya


“Dan Johan tidak bisa dihubungi.” Ucap Nindya kemudian


“Keterlaluan anak itu.” Gumam ibu Murti


“Padahal kemarin bapak bilang banyak tagihan suplier harus dilunasi.” Gumam ibu Murti lagi


“Iya Bu, pemasukan sangat minim, investasi mas Bram sudah dicairkan untuk menutup biaya operasional.” Jawab Nindya


“Iya investasi perusahaan juga sudah dicairkan lebih awal.” Ucap Ibu Murti


“Baiklah kamu lanjutkan kerja. Nanti aku bicarakan dengan bapak dan Bram.” Ucap Ibu Murti sambil bangkit berdiri


“Bapak hari ini juga kerja dari rumah.” Ucap Ibu Murti selanjutnya


“Baik Bu.” Jawab Nindya


Nindya kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pikiran berputar berpikir bagaimana cara mendapat dana segar. Biaya operasional harus terus keluar, banyak tagihan dari dari suplier meminta pelunasan, padahal pemasukan sangat minim.


“Kenapa juga Arum begitu percaya pada Johan.” Gumam Nindya dalam hati


“Ah mungkin juga tidak pernah tahu kalau ternyata suaminya seperti itu.” Gumam Nindya lagi


“Apa minta tolong papah ya, sapi papah kan bisa dijual besuk kalau perusahaan sudah membaik bisa diganti. Coba nanti minta pertimbangan mas Bram.”


Saat Nindya sedang bermonolog di dalam hati tiba tiba Arum datang mendekatinya.


“Mbak Nindya, Andru dimana?” tanya Arum. Nindya terhenyak namun dia bahagia karena Arum sudah mau berbicara sebab beberapa hari Arum hanya diam saja. Hingga Andru pun tidak berani berbicara pada Arum.


“O.. eh.. Dia main di depan paviliun katanya sambil nungguin ayahnya .” Jawab Nindya sambil tersenyum

__ADS_1


Arum kemudian berjalan meninggalkan Nindya dan keluar rumah sepertinya menuju ke tempat Andru berada.


__ADS_2