Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
25. Bram kalah cepat


__ADS_3

Keesokan harinya Bram kembali bangun jam sembilan lebih, karena malam hari tidak bisa tidur nyenyak. Hari ini Bram memantapkan tekatnya untuk menyusul ke rumah Nindya, dari pada kedahuluan yang lain begitu pikirnya.


Setelah mandi dan sarapan seorang diri, Bram mengambil tas dan keluar mengambil motornya. Saat di tempat parkir dia melihat pak Man yang masih membersihkan taman.


"Pak" sapa Bram


"Mas Bram mau ke kampus?" tanya Pak Man


"Mau mengejar cinta Pak he .. he..."ucap Bram sambil terkekeh


"Gitu dong" ucap pak Man


"Kalau orang rumah nanya aku kemana bilang aja gitu ya Pak" pesan Bram pada pak Man


"Ngih Mas hati hati semoga sukses" kata pak Man sambil tersenyum.


Bram kemudian berlalu tujuannya ke stasiun kereta. Bram melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak berapa lama motor sampai di depan stasiun kereta api. Bram kemudian memasukkan motornya ke dalam stasiun menuju ke tempat parkir motor, setelah mendapat tiket parkir dari petugas, Bram mencari tempat yang sekiranya aman untuk motornya dari guyuran hujan atau teriknya matahari, setelah mendapatkan tempat Bram memarkirkan motornya.


Bram lalu berjalan menuju kedatangan penumpang, dia terus berjalan menuju tempat cek in. Setelah cek in, Bram masuk ke ruang tunggu, masih ada waktu beberapa menit lagi, Bram berjalan jalan mencari mini market di dalam ruang tunggu, setelah menemukan Bram mendorong pintu mini market dengan pundak kanannya. Kemudian berjalan mencari cari minuman dan beberapa makanan, sesaat matanya melihat deretan produk produk coklat, Bram memilih milih karena bingung Bram mengambil masing masing jenis satu pieces. Bram kemudian berjalan menuju kasir, saat di depan kasir dia terkejut ternyata ada lebih 10 pieces coklat.


"Cinta memang membikin bodoh diriku, milih coklat aja ga bisa" gumamnya dalam hati


Setelah membayar belanjaan Bram lalu berjalan keluar mini market tersebut. Bram lalu mencari tempat duduk untuk menunggu kereta api yang akan membawanya. Selama menunggu kereta Bram mengambil hape nya kemudian membuka media sosialnya dan membalas pesan pesan yang masuk.


Tidak berapa lama kereta api yang akan membawanya telah datang dan sudah berhenti di jalurnya. Bram kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju gerbong kereta nya, setelahnya Bram naik dan masuk ke gerbong dan mencari nomer tempat duduknya. Setelah mendapatkan tempat duduknya Bram mendudukkan pantatnya di kursi tersebut. Tidak berapa lama ada laki laki paruh baya berdiri di dekat tempat duduknya kemudian menatap Bram, Bram tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudia laki laki tersebut duduk di sebelah Bram. Setelah berbasa basi sejenak dengannya, lelaki paruh baya tersebut menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kereta dengan memejamkan matanya. Entah tidur atau berdoa. Tidak berapa lama kereta api berjalan.


Di sepanjang perjalanan Bram hanya sibuk dengan hape nya kadang kadang memandang ke luar jendela. Kejenuhan membuatnya matanya mengantuk akhirnya dia seperti penumpang di sebelahnya, menyandarkan kepalanya dan mata terpejam.


Hingga tak terasa kereta sudah sampai di stasiun tujuan Bram. Stasiun tujuan kota terakhir. Bram masih terpejam matanya, lelaki paruh baya tadi menepuk pelan paha Bram, dan Bram membukakan matanya.


"Sudah sampai Mas" kata laki laki paruh baya tadi


"Terimakasih Pak" ucap Bram dan laki laki paruh baya tadi menganggukkan kepala dan bangkit berdiri lalu berjalan menuju pintu keluar.


Bram menegakkan duduknya merenggangkan otot ototnya, kemudian mengambil tasnya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar kereta api. Bram turun dari kereta kemudian berjalan menuju pintu keluar. Tetapi sesaat dia teringat belum tahu alamat Nindya. Akhirnya dia mencari tempat duduk sebelum menuju pintu keluar. Bram mendapat tempat duduk di ruang tunggu kemudian mengambil hapenya, mencoba menghubungi Nindya, ada nada sambung tapi tidak diangkat. Berkali kali mencoba tetap gagal tidak terhubung.

__ADS_1


"Kenapa sih Nindya, aku juga tidak punya nomer Mamahnya dan Tedy" gumam Bram dalam hati. Kemudian dia ingat Lilian punya nomer Mamahnya Nindya, akhirnya Bram mencoba mendial nomer Lilian, tak berapa lama


"Halo" ucap Lilian


"Li, tolong kirim nomer kontak Mamahnya Nindya"


"Kenapa e Mas?" tanya Lilian


"Kirim dulu nanti aku omongi" ucap Bram kemudian sambungan diputus


Tidak berapa lama ada pesan masuk dari Lilian yang mengirim kontak Mamahnya Nindya. Tidak membuang buang waktu Bram langsung menghubungi


"Hallo" ucap perempuan di balik hape Bram


"Maaf benar ini Mamahnya Nindya" ucap Bram


"Iya benar, apa mau pesan salad buah?" tanya Mamah Indah yang sedang bersemangat menerima pesanan salad buah


"Maaf tante ini Bram" ucap Bram


"Owalah, maaf saya kira orang mau pesan salad buah, ada apa Bram" kata mamah Indah


"Oo dia sedang berkumpul dengan teman teman SMA reunian kecil kecilan, hape di kamarnya mungkin, gimana?"


"Tan, bisa minta tolong suruh Nindya angkat telponnya ya" pinta Bram


"Okey okey..." ucap mamah Indah. "Ninnn.." terdengar di hape Bram suara Mamahnya Nindya memanggil Nindya. Bram kemudian menutup sambungan telpon dengan Mamahnya Nindya.


Setelah beberapa saat Bram mulai menghubungi Nindya, nada sambung sudah terdengar


"Hallo " suara Nindya di hape Bram yang membikin nyes dan lega di hati Bram


"Share lokasi mu, ato kirim alamat rumahmu" kata Bram


"Emang kenapa?" tanya Nindya

__ADS_1


"Cepet ya kirim, kututup nih" ucap Bram lalu menutup sambungan telpon.


Tak berapa lama ada pesan dari Nindya yang mengirim alamat rumahnya. Bram kemudian memesan taxi on line lalu bangkit berdiri berjalan keluar dari stasiun. Tidak berapa lama taxi yang dipesan sudah ada di depannya. Kemudian Bram masuk dan taxi berjalan menuju lokasi tujuan.


Beberapa menit kemudian taxi berhenti di depan rumah. Setelah membayar ongkos Bram turun dari taxi. Bram berjalan menuju pintu pagar yang sedikit terbuka, Bram langsung masuk, terlihat ada beberapa motor terparkir di halaman. Bram berjalan menuju pintu masuk rumah, terdengar suara ramai di dalam rumah tawa dan canda terdengar di telinga Bram. Bram mengetuk pintu beberapa kali. Tidak berapa lama pintu terbuka seorang pemuda tetapi bukan Tedy nampak di balik pintu, suara canda dan tawa terdengar semakin keras.


"Cari siapa Kak?" tanya pemuda tersebut


"Nindya" jawab Bram


"O ya tunggu sebentar, Nindya sedang di belakang" ucap pemuda tadi kemudian berjalan masuk dan pintu masih tetap terbuka.


Tidak berapa lama Nindya muncul di pintu


"Mas Bram kok sampai sini" ucap Nindya dengan kaget


"Ayo mas masuk" ajak Nindya


"Nin, di teras dulu saja masih banyak tamumu" ucap Bram


"Ya sudah" ucap Nindya dan berjalan menuju kursi di teras, Bram mengikuti dari belakang. Kemudian mereka duduk di kursi teras berdampingan berjarak meja kecil.


"Kok bisa sampai sini?" tanya Nindya


"Ya bisa naik kereta dan taxi" ucap Bram


"Iya iya, aku masih kaget Mas, sebentar aku ambilkan minum ya, sekalian pamit teman teman aku nemuin mas Bram dulu" ucap Nindya, Bram hanya diam, Nindya kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Bram mencoba duduk dengan merilekskan tubuh dan pikirannya. Pandangannya menatap taman kecil di dekat tempat duduknya. Beberapa saat kemudian Nindya datang dengan nampan yang berisi secangkir kopi dan setoples makanan ringan. Kemudian Nindya menaruh nampan di meja kecil di samping Bram.


"Diminum Mas" ucap Nindya


"Hmm" gumam Bram, Lalu Bram mengambil tasnya dan membuka restletingnya dan mengeluarkan satu kantong coklat yang dibelinya. Lumayan berat juga kantong plastik tersebut. Bram menyerahkan pada Nindya.


"Oleh oleh" ucap Bram sambil mengulurkan kantong plastik dan Nindya menerimanya. Setelahnya Bram mengambil cangkir kopi dan akan meminumnya tetapi.....

__ADS_1


"Mas Bram i love you" ucap Nindya setelah mengintip isi kantong plastik itu lalu mendekap memeluk kantong plastik, tetapi Nindya langsung bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah.


Bram terlonjak kaget sampai kopinya tertumpah ruah.


__ADS_2