Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
173. Masih Penasaran


__ADS_3

Bram masih serius mencermati data data Om Prabu. Namun tiba tiba hape miliknya berdering. Bram meraih hape nya yang tidak jauh dari jangkauan tangannya. Nampak kontak Nindya yang melakukan panggilan video.


“Baru mau dihubungi dia sudah menghubungi.” Gumam Bram sambil menggeser tombol hijau. Namun dia kaget ternyata yang muncul di layar wajah Andru anaknya


“Andru belum bobok sayang?” tanya Bram


“Beyum ayah..” jawab Andru dengan suara nyaring


“Ayah... ayah.....” ucap Andru dengan semangat memanggil ayahnya


“Hmmmm..” jawab Bram sambil menatap anaknya di layar hapenya.


“Atu liat dong picang ajaib ayah.” Ucap Andru dengan wajah memohon


“Pisang ajaib apa?” tanya Bram dan terdengar suara lirih tawa Nindya


“Picang ajaib utuk buwat adik.” Jawab Andru serius


“Kata bunda dicimpan ayah.” Ucap Andru selanjutnya dan Bram paham yang dimaksud.


“Pisang ajaib nya hanya bunda yang boleh lihat. Kalau dilihat orang lain jadi tidak ajaib.” Jawab Bram


“Oooo.” Gumam Andru panjang sambil bibirnya membulat.


“Atu juga ga boweh liat yah?” tanya Andru masih kepo dan berusaha untuk melihat pisang ajaib


“Atu tan anak ayah bunda.” Ucap Andru pantang menyerah


“Kamu dulu sudah lihat waktu bayi sekarang ganti adik bayi yang lihat.” Jawab Bram


“Ooooooo...” gumam Andru panjang dengan bibir membulat sambil wajahnya nampak berpikir


“Yah.. yah.... talo teto ajaib ayadin di celita telual acap.” Ucap Andru yang ingat cerita Aladin di buku cerita yang dibacakan Bapak Bharata


“Picang ajaib ayah telual apa?” tanya Andru lagi


“Andru besok ke toko buku sama Eyang saja ya... minta dicarikan buku pisang ajaib.” Jawab Bram melimpahkan pertanyaan Andru ke Bapak Bharata.


“Lengkap nanti ceritanya di buku.” Ucap Bram lagi


“Oooo iya iya yah.” Ucap Andru sambil mengangguk angguk antusias. Bram tersenyum dalam hati.


“Andru sekarang bobok ya, ayah mau bicara sama bunda.” Ucap Bram kemudian


“Iya yah becuk atu miting cama bos cepuh.” Ucap Andru dengan nada serius


“Muuuuuach.. .” cium jauh Andru buat ayahnya kemudian dia menyerahkan hape kepada bundanya. Dan selanjutnya membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka jerapahnya.


Bram lalu menceritakan tentang pertemuannya tadi dengan Om Prabu. Dia belum menanyakan tentang laporan keuangan Arum. Menunggu Andru tidur nyenyak dulu, sebab kalau mendengar kata Arum nanti otaknya akan aktif lagi dan bertanya tanya lagi sebab Andru termasuk dekat dengan Arum. Apalagi Arum belum punya adik bayi nanti Andru bisa bertanya lagi tentang pisang ajaibnya.

__ADS_1


Nindya dengan setia mendengarkan cerita Bram sambil membelai kepala Andru. Dan akhirnya Andru tertidur nyenyak.


“Nin, Andru sudah tidur?” tanya Bram


“Sudah nafasnya sudah teratur, bonekanya sudah terlepas dari jari jarinya.” Jawab Nindya yang masih membelai kepala Andru.


“Aku mau tanya apa temuanmu yang membuat laporan Arum tidak selesai selesai.?” Tanya Bram kemudian


“Ehmmmm... Tapi Mas Bram jangan tanya ke Arum ya. Aku sudah laporkan ke Bapak, bapak pun tidak tanya ke Arum. Tadi bapak sedang menemui temannya untuk menyelidiki kasus ini.” Jawab Nindya dengan hati hati.


“Iya cepat katakan.” Ucap Bram tidak sabar


“Mutasi keluar ke rekening atas nama Arum, tapi rekening itu tidak ada di data perusahaan.” Jawab Nindya kemudian.


“S***.” Umpat Bram


“Yang berurusan dengan bank itu Arum, Ibu, Johan dan asisten pribadi Arum.” Ucap Bram kemudian.


“Iya, maka bapak diam diam menyelidikinya tidak enak kalau ribut ribut dengan orang orang dekat.” Ucap Nindya


“Berdoa Mas semoga masalah bisa diselesaikan dengan baik baik.” Ucap Nindya kemudian.


“Kalau Arum yang melakukan dia buat apa, semua keinginannya dituruti Ibu.” Ucap Bram


“Iya.. sudah mas Bram fokus dengan pekerjaannya saja.” Saran Nindya.


“Iya, Arum juga bilang akan tanggung jawab.” Ucap Bram kemudian dan terlihat Nindya menganggukkan kepala sambil menyibakkan rambutnya ke belakang hingga leher jenjangnya terlihat oleh Bram.


“Hmmmmm..”


“Pisang ajaibku bereaksi nich lihat lehermu.” Ucap Bram sambil tersenyum


“Ya ampun Mas, terus gimana.” Ucap Nindya


“Aku bersolo karier kamu bantu lewat video call ya.” Ucap Bram sambil berlari ke kamar mandi. Karena hanya kamar mandi yang tidak ada kamera CCTV yang terhubung dengan Om Prabu.


“Mas, nanti Andru terbangun.” Ucap Nindya


“Kamu ke sofa, volume dikecilin seminim mungkin.” Ucap Bram sambil masuk ke dalam kamar mandi.


“Kamu buka dikit aja, aku lihat milk clipmu.” Ucap Bram yang nafasnya sudah mulai memburu.


Nindya akhirnya menuruti kemauan suaminya, dia bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ke sofa.


***


Sementara itu di rumah Tedy. Setelah dia menerima telpon dari Bram lalu berjalan menuju ke ruang kerja Lilian. Tampak Lilian masih serius di depan lap topnya dan beberapa buku tebal di dekatnya.


“Lilian my darling....” ucap Tedy sambil berjalan mendekat ke kursi Lilian.

__ADS_1


“Kamu belum selesai?” tanya Tedy sambil memegang pundak Lilian dari belakang.


“Tinggal buat pertanyaan untuk diskusi Kak.” Jawab Lilian


“Bram sudah sampai di Jakarta.” Ucap Tedy sambil menarik sebuah kursi lalu duduk di dekat Lilian.


“Iya tadi Nindya sudah ngabari.” Ucap Lilian sambil jari jarinya masih memencet mencet tuts keyboard lap topnya.


“Besok, jamunya mau dikirim.” Ucap Tedy sambil ikut menatap layar lap top Lilian.


“Iya, tapi kata Nindya aku harus ke dokter dulu kalau mau minum jamu.” Ucap Lilian


“Bulan ini aku juga belum haid tapi entahlah isi beneran atau hanya terlambat haid biasa.” Ucap Lilian kemudian.


“Besok kita ke dokter ya...” ucap Tedy sambil berdiri lalu membelai lembut kepala Lilian.


“Aku nunggu Mamah aja Kak.” Jawab Lilian


“Aduh ... darling kenapa tidak mau daku antar.” Ucap Tedy dengan ekspresi wajah kecewa.


“Habis Kak Tedy nanti tanya ke dokternya tip jitu buat baby.” Ucap Lilian sebab saat periksa dulu hasilnya negatif kemudian Tedy malah asyik konsultasi tip jitu bikin bayi.


“Aku kan malu.” Ucap Lilian kemudian


“Kenapa malu sayang, kan untuk kebaikan kita, aku kan tanya ke ahlinya.” Ucap Tedy.


“Aku ingin tahun ini sudah sukses. Aku kalah taruhan dengan adik ipar.” Ucap Tedy kemudian.


“Kak Tedy taruhan apa?” tanya Lilian sambil menoleh ke arah Tedy dengan ekspresi kaget.


“Tahun pertama muncul junior pertama.” Jawab Tedy sambil tersenyum kecut sebab dia kalah.


“Bram menang dia tahun pertama dapat junior pertama. Aku kalah.” Ucap Tedy kemudian.


“Aduh Kak Tedy dan mas Bram aneh aneh saja.” Ucap Lilian kemudian menutup lap topnya karena sudah selesai pekerjaannya menyiapkan materi kuliah besok pagi.


“Yang buat taruhan apa? Duit atau apa?” Tanya Lilian sambil membereskan buku bukunya.


“Bukan duit bukan barang.” Jawab Tedy sambil membantu Lilian menaruh buku buku di rak.


“Apa hayo...” tanya Lilian kepo


“Aku bilang ke Nindya kalau kak Tedy ga omong.” Ancam Lilian


“Jangan dong. Tidak merugikan kalian berdua pokoknya.” Ucap Tedy.


“Kalau Nindya tahu nanti dia bilang mamah, mampus aku, pasti diceramahi dan dihukum aku. Apa kamu tega suamimu dihukum oleh mamah.” Ucap Tedy sambil menepuk jidatnya pelan.


“Makanya bilang aku kak Tedy.” Ucap Lilian sambil memeluk pinggang suaminya dengan gemas.

__ADS_1


“Ngomongnya di kamar ya say...” ucap Tedy sambil mengendong Lilian dengan pelan pelan lalu dibawa menuju ke kamar mereka. Meskipun Lilian tidak mau periksa dan test pack, mereka hati hati menjaga kandungan Lilian, waspada kalau kalau ada janin di dalamnya.


__ADS_2