
Arum dan Bram sudah berada di depan ruang bayi. Mereka berdua berada di depan box yang berisi anaknya dengan tersekat oleh dinding kaca ruang bayi. Sedangkan Johan dan beberapa orang yang mengikuti juga berdiri di belakang mereka.
“Andaru Lukito Branindyo" gumam Arum membaca papan nama di box yang berisi anaknya Bram
“Bagus kok Mas nama yang ngasih bapak.” Ucap Arum kemudian sedangkan Bram hanya diam sambil memandangi anaknya yang ekspresi wajahnya tersenyum sambil tangan mungilnya bergerak gerak.
“Oooo mau lihat namanya.” Ucap Johan yang sekarang paham kenapa Arum dan Bram berjalan tergesa gesa.
“Oooo... bagus namanya cocok dengan anaknya wajahnya selalu tersenyum bercahaya, andaru kan artinya cahaya keberuntungan.” Ucap salah seorang ibu yang tadi mengikuti Johan berlari lari.
“Terimakasih Bu.” Ucap Bram sambil tersenyum menoleh pada ibu yang memuji anaknya dan menjelaskan arti nama andaru.
“Semoga menjadi anak yang sholeh berbakti pada orang tua, berguna bagi keluarga dan masyarakat.” Doa tulus ibu tadi
“Aaminnnnn... Terimakasih doanya.” Ucap Bram dan Arum bersamaan.
“Ya sudah mas, mbak kami balik saya kira tadi ada sesuatu yang membahayakan kok terlihat jalan berlari lari.” Ucap seorang yang lain.. Setelah Bram meminta maaf kemudian mereka yang mengikuti berbalik lagi menuju ke tempatnya menunggu pasien keluarga mereka.
Sementara itu terlihat Arum sibuk memotret motret keponakannya.
“Aku tuh sebenernya kepengen keponakan cewek, bisa diajak main game barbie.. Bisa diajak ngemall makai baju dan asesoris lucu lucu pasti langsung ngehits kalau diposting.” Ucap Arum sambil masih sibuk memotret motret keponakannya itu.
“Tapi ternyata Andaru juga lucu banget.. tuh lihat ekspresinya baru beberapa jam lahir aja sudah pinter bergaya di depan kamera, inipun masih tersekat dinding kaca.” Ucap Arum lagi sementara Bram masih mengamati anaknya rasanya tidak puas puasnya memandang.
“Rum jangan kamu posting posting dulu foto anakku, awas kamu aku laporkan kalau nekat.” Ucap Bram dengan mata masih fokus memandang anaknya.
“Iya iya...” jawab Arum dan masih sibuk motret motret keponakannya dari berbagai sudut yang dapat dia ambil. Namun tiba tiba hape miliknya berdering.
“Kok nomer dari luar negeri yang nelpon.” Gumam Arum sambil melihat layar hapenya ada sederet nomer asing
“Tidak usah diangkat.” Ucap Bram dan Johan bersamaan.
“Iya.” Jawab Arum namun nomer tersebut terus melakukan panggilan di hape Arum. Arum terus saja memencet tombol menolak. Dan selanjutnya ada pesan text masuk ke hape Arum. Arum melihat ternyata nomer asing tersebut mengirim pesan text. Kemudian Arum membuka pesan text tersebut.
“Arum, ini Victoria answer dong, aku call Bram dan Nindya tidak bisa. Info dari mamah Indah Nindya melahirkan. Phone mamah dan papah off juga.”
Setelah membaca pesan text tersebut tampak Arum tersenyum. Sebenarnya tangannya gatal ingin mengirim foto foto keponakannya kepada Victoria tetapi dia ingat pesan Bram, jadi dia menahan jari jarinya untuk mengirim foto foto keponakannya.
__ADS_1
Tidak berapa lama hape berdering lagi. Nampak layar hape Arum muncul nama kontak Victoria sebab Arum sudah menyimpan nomer Victoria. Arum lalu menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan video Victoria. Tampak wajah cerah Bali di layar hape Arum.
“Bebi... bebi... bebi..“ ucap Bali dengan kerasnya. Bram lalu menoleh dan sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekat ke layar hape Arum setelah mendengar suara Bali.
“Bali...” sapa Bram dan Arum secara bersamaan.
“Bebi Lek lihat.” Ucap Bali lagi
“Hai, Bali sudah pinter bahasa.” Ucap Bram. Terlihat di layar hape Arum, Victoria dan Bali saling berebut untuk melihat anaknya Bram.. Arum akhirnya mengarahkan layar hape nya ke posisi anak Bram.
“Handsome..” gumam Victoria
“Andaru...” gumam Victoria lagi karena matanya sempat membaca papan nama di box bayi anak Bram.
“Andru.... bebi Andru... “ suara kecil Bali terdengar.
“Bram, dimana Nindya?” tanya Victoria kemudian
“Di kamar perawatan masih tidur.” Jawab Bram.
Namun terdengar suara tangis Bali.
“Mommy .. bebi Andru.. mommy go Indo.. go Indo mommy...” suara Bali masih terdengar dan di layar hape Arum tampak Bali menangis sepertinya masih ingin melihat anaknya Bram dan bahkan ingin datang ke Indonesia. Terdengar Victoria membujuk Bali dan akhirnya berhasil memutus sambungan telponnya.
Terlihat Arum tersenyum dan nampak gemes dengan Bali.
“Pengen aku bungkus Bali.” Gumam Arum lalu dia berjalan mengikuti Bram dan Johan yang sudah lebih dulu meninggalkan ruang bayi menuju ke kamar perawatan Nindya. Setelah Victoria menanyakan Nindya, Bram jadi ingin menemui istri nya kuatir kalau sudah terbangun dan mencari keberadaannya.
Sesampai di kamar perawatan terlihat Nindya masih tertidur. Bram lalu duduk di tepi tempat tidur penunggu di samping bapak Bharata.
“Bagus kan nama yang kuberikan pada cucuku.” Ucap Bapak Bharata sambil menepuk nepuk pundak Bram. Tampak Bram menganggukkan kepala.
“Pak tapi bisa direvisi tidak?” tanya Bram dengan hati hati
“Tidak bisa kamu mau revisi apa?” jawab bapak Bharata ganti bertanya
“Kalau Andaru Lucky Pratama bagaimana?” tanya Bram
__ADS_1
“Tidak, andaru keberuntungan, lucky juga keberuntungan dua kata arti yang sama boros, lukito itu artinya welas asih baik hati.” Ucap Bapak Bharata
“Sudah bagus nama pemberian bapakmu Bram, kita tinggal berdoa dan sungguh sungguh mendidik dia agar harapan kita menjadi anak yang baik hati dan membawa keberuntungan menjadi nyata.” Ucap Ibu Murti sambil menatap Bram. Namun tiba tiba Nindya membuka matanya dan berusaha bangkit dari tidurnya.
“Anakku kenapa?” tanya Nindya sambil berusaha menyandarkan punggungnya namun terlihat kesusahan. Bram dan Ibu Murti lalu terlihat mendekat untuk membantu Nindya.
“Dia baik baik saja, sudah diberi nama sama Bapak.” Jawab Bram sambil menyetel tempat tidur Nindya agar bisa bersandar.
“Ooh siapa namanya?” tanya Nindya
“Andaru Lukito Branindyo, artinya anak laki lakinya Bram dan Nidya yang baik hati dan membawa keberuntungan.” Jawab bapak Bharata
“Bagus Mas, kita bisa panggil Andaru atau Luki.” Ucap Nindya sambil tersenyum
“Bali memanggilnya Andru.” Ucap Bram
“Bali sudah tahu? Bagus juga dipanggil Andru he...he... ikut Bali aja aku.” Ucap Nindya sambil tertawa kecil ingat tingkah lucu Bali.
“Kalau direvisi jadi Andaru Lukito Branindyo Bharata Mahendra, bagaimana itu lebih lengkap anak laki laki Bram dan Nindya cucu keluarga Bharata dan keluarga Mahendra.” Ucap Bram sambil memandang Nindya, Ibu Murti dan menoleh ke arah bapak Bharata.
“Mas.... kalau panjang panjang kasihan anaknya.” Ucap Nindya
“Kenapa keberatan nama?” tanya bapak Bharata
“Itu Pak, kalau nanti ujian teman temannya sudah mengerjakan soal sampai nomer sepuluh, Andru belum selesai menulis namanya.” Jawab Nindya. Bram tampak tersenyum mendengar penjelasan Nindya lalu dia mengacak acak rambut di puncak kepala Nindya.
“Benar juga.” Gumam bapak Bharata
“Sudah fix tetap mantap nama pemberianku tidak ada revisi lagi.” Ucap Bapak Bharata sambil tersenyum puas.
Tidak lama kemudian pintu terbuka tampak Johan yang membuka pintu kamar perawatan Nindya dan bersamaan dengan itu muncul sosok Mamah Indah dan papah Mahendra yang tergopoh gopoh masuk.
“Nin... dimana cucuku yang berdarah ungu?” ucap mamah Indah dengan jalan cepatnya langsung mendekat ke tempat tidur Nindya. Mamah Indah lalu memeluk dan menciumi kening, pipi kanan kiri Nindya.
“Mamah...” gumam Nindya karena merasa tidak enak dengan mertuanya kalau Mamahnya bercanda menyebut anaknya dengan berdarah ungu. Ibu Murtipun tampak mengeryitkan dahinya mendengar mamah Indah menyebut cucu berdarah ungu.
Sementara itu papah Mahendra terlihat memberi salam selamat kepada Bram, selanjutnya memberi salam kepada bapak Bharata terlihat mereka berdua saling peluk tampak terlihat bahagia. Apalagi bapak Bharata yang sudah sukses melabeli lebih dahulu cucunya.
__ADS_1