Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
94. Persiapan di rumah Nindya


__ADS_3

"Cat baru Mas" ucap Nindya sambil pandangan matanya menyapu penampakan rumahnya


"Iya tapi ada yang lainnya" kata Bram sambil berjalan mengandeng Nindya menuju pintu pagar. Terlihat Nindya membukakan pintu pagar yang tidak digembok, sebab Bram berusaha membukakan namun tidak bisa karena belum terbiasa.


"Oooo tanaman tanaman baru Mas, dan kayaknya juga gorden baru he...he..." ucap Nindya sambil berjalan menuju ke pintu rumah. Terlihat di halaman terparkir mobil papah Mahendra.


"Bagus bagus Nin bunganya" ucap Bram yang berdiri di samping Nindya di depan pintu, sambil matanya mengelilingi halaman kecil rumah Nindya yang banyak bunga bunga bermekaran.


"Mungkin Mamah beli tanaman baru" ucap Nindya di sela sela mengucap salam dan mengetuk ngetuk pintu.


Tidak lama kemudian pintu rumah terbuka namun yang muncul bukan mamah Indah atau papah Mahendra melainkan sosok lik Marni dengan senyum merekahnya..


"Nindya... Bram... selamat datang" ucap lil Marni sambil membentangkan tangannya lalu memeluk Nindya. Dan selanjutnya menjabat tangan Bram dengan erat.


"Bram mana bakpia kering sekardusnya?" tanya lik Marni setengah berbisik saat berjabat tangan dengan Bram. Namun suaranya terdengar oleh Nindya.


"Bakpia kering? lik Marni kok tahu oleh oleh yang dibawa padahal masih di hotel" tanya Nindya heran


"Tahu lah ini adalah konspirasi antara aku dan Tedy" ucap lik Marni dengan polosnya


"Haduh apalagi yang dilakukan kak Tedy?" ucap Nindya sambil menepuk jidatnya


"Ga apa apa, santai saja" ucap Bram sambil merangkul Nindya dari samping lalu mereka berjalan masuk ke ruang tengah.


"Mamah di kamar Nin" ucap lik Marni sambil berjalan ke belakang


Bram duduk di sofa sedangkan Nindya masih berdiri sambil matanya mengitari isi ruangan. Dia masih merasakan suasana berbeda saat mulai masuk di halaman hingga sekarang di ruang tengah.


"Cat baru ya Nin?" tanya Bram sambil memandang Nindya yang berdiri mematung hanya kepala dan matanya yang mengelilingi ruangan.


"Iya Mas, dan bunga potong hidup di atas meja dan di sudut sudut ruangan, harum bau bunga sedap malam" ucap Nindya sambil tersenyum karena ruangan tidak beraroma cat baru tapi beraroma harum bunga sedap malam


"Ya sudah kamu temui mamah dan papah dulu" ucap Bram lalu duduk di sofa dengan santai sambil menyandarkan punggungnya. Tidak lama kemudian lik Marni datang dengan membawa nampan berisi minuman. Setelah menyilahkan pada Bram, lik Marni mengajak Nindya untuk menuju ke kamar mamah Indah.


Nindya berjalan mengikuti lik Marni tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam kamar mamah Indah. Nindya heran melihat mamah Indah tidur tengkurap hanya terbungkus sarung.

__ADS_1


"Mamah habis luluran lik?" tanya Nindya pada lik Marni. Karena tadi di telpon mamah nya bilang akan luluran tapi kenapa baunya tidak harum tapi bau aroma jahe dan kencur.


"Iya luluran bumbu dan sudah kupijetin sekarang tertidur tuh.. banguni aja" jawab lik Marni.


"Kamu bangunin mamahmu, aku ke atas bangunin papah dan mbah Karto mereka semua kecapekan terus tidur habis makan siang tadi" ucap lik Marni lalu berjalan ke.luar dari kamar mamah Indah menuju ke lantai atas untuk membangunkan papah Mahendra dan mbah Karto yang tidur di kamar Tedy.


Nindya mendekati mamah nya semakin dekat aroma jahe dan kencur semakin menyengat terlihat di tubuh mamah Indah nampak parutan jahe dan kencur yang sudah mengering.


"Mah..." ucap Nindya sambil menepuk nepuk pundak mamah Indah. Nampak mata mamah Indah sedikit terbuka


"Nin..." ucap mamah Indah setengah sadar


"Mamah bangun itu ada mas Bram" ucap Nindya kemudian


"Ha? mereka sudah datang" ucap mamah Indah kaget lalu berusaha untuk bangun dengan membalikkan tubuhnya. Namun tiba tiba...


"Hadohhh hadohhh hadohhh haaadohhh" teriak mamah Indah Sambil memegang pinggangnya


"Mamah kenapa?" tanya Nindya sambil membantu mamah Indah duduk dari tidur tengkurapnya.


"Keseleo Nin" ucap mamah Indah setelah berhasil duduk dengan sempurna, dan membenarkan letak sarung agar menutupi tubuhnya.


"Ambilkan daster Mamah" perintah mamah Indah pada Nindya. Nindya lalu berjalan ke lemari untuk mengambil daster Mamah Indah dan membantu mamah Indah memakai pakaiannya.


"Mamah kok bisa keseleo sih?" tanya Nindya


"Kamu ga lihat apa cat rumah baru, taman baru semua ruangan rapi bersih cling...siapa coba yang kerjakan?" tanya mamah Indah sambil membenarkan dasteran.


"Cari tukang ga ada, akhirnya kita berempat yang kerja" ucap mamah Indah


"Bagus ga sekarang rumahnya?" tanya mamah Indah sambil tersenyum bangga


"Bagus sih Mah, tapi kok pink sih?" ucap Nindya saat melihat rumahnya sekarang bernuansa warna pink dan putih, dan bersyukur warna nya pink lembut bukan pink norak.


"Lha kalau kelahiran bayi perempuan kamar bayi warna pink, sekarang kan kamu sudah bukan bayi tapi calon pengantin perempuan ya warna rumah nya yang pink...Ha...Ha..." ucap mamah Indah sambil tertawa.

__ADS_1


"Pasti karena mamah yang kepengen warna rumah pink sejak dulu" ucap Nindya


"Ayo Mah, nemuin mas Bram, aku juga pengen tahu Mamah masak apa buat nanti malam, mereka bawa oleh oleh banyak banget loh Mah" ucap Nindya sambil menarik tangan mamah nya.


"Iya iya.. hati hati Nin.. ini pinggang masih sakit" ucap mamah Indah lalu berjalan keluar kamar


"Kamu kira hanya kamu yang kuatir kedatangan orang tua Bram, mamah juga kuatir... begini rasanya punya anak gadis akan kedatangan keluarga pacarnya" gumam mamah Indah yang berjalan di dekat Nindya karena Nindya mengandeng tangan mamah nya.


Tidak lama kemudian Mamah Indah dan Nindya sudah berada di ruang tengah nampak papah Mahendra juga sudah berada di ruang tengah menemui Bram. Nindya lalu menjabat tangan papah Mahendra dan mencium tangan papah Mahendra dan seterusnya terlihat papah Mahendra mencium kening Nindya. Sedangkan Bram terlihat menjabat tangan mamah Indah dan mencium tangan mamah Indah, namun tiba tiba...


"Haaaaaaaa... haaaaaaa... hacinggg" terdengar suara Bram bersin...


"Maaf" ucap Bram lalu mengambil sapu tangan di saku celana dan mengusap ingusnya


"Hiiii...hi....hi..." suara Nindya terkikik


"Yang harus minta maaf itu Mamah, itu pasti karena lulur bumbu mamah masih menempel di tangan" ucap Nindya dan terlihat Bram menatap Nindya dengan ekspresi penuh tanya.


"Iya Bram, maaf" ucap mamah Indah Sambil mencium tangan nya sendiri yang memang beraroma jahe dan kencur.


"Ya sudah Bram ngobrol ngobrol sama papah, ayo Nin ke belakang bantuin lik Marni" ucap Mamah Indah lalu bangkit berdiri diikuti oleh Nindya yang masih terkikik.


Teihat lik Marni di dapur sibuk membuat persiapan jamuan makan malam nanti, aroma harum masakan menguar.


"Masak apa lik?" tanya Nindya saat sudah berada di dapur


"Ini rawon" jawab lik Marni


"Eh kalian sudah makan siang belum?" tanya mamah Indah


"Sudah Mah tadi dapat makan di pesawat" jawab Nindya


"Ada salad buah di kulkas, kalau mau kamu ambilin juga Bram" ucap Mamah Indah. Lalu Nindya berjalan menuju ke kulkas nya, saat membuka kulkas matanya terbelalak sebab isi kulkas full nampak banyak buah buah segar dan makanan pencuci mulut


"Hmmm mamah is the best" ucap Nindya sambil tersenyum puas. Lalu Nindya mengambil dua cup besar salad buah untuk dia dan Bram tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2