
Mobil terus melaju meninggalkan stasiun kereta api. Nampak Mak sangat bersemangat menceritakan acara lamaran Nindya dan perjalanan selama di dalam kereta pada pak Sopir, dan pak sopirpun juga sangat antusias mendengarkan cerita Mak, berkali kali pak Sopir menanggapi dengan berbagai pertanyaan sehingga semakin seru cerita Mak.
“Mak...” panggil Nindya
“Apa mbak Nindya?” jawab Mak sambil menoleh ke arah Nindya yang duduk di jok belakang pak Sopir
“Kita nih kayak triple date lho...” jawab Njndya sambil tertawa kecil
“Apa itu mbak?” tanya Mak sambil masih menoleh pada Nindya
“Kencanan tiga pasang kekasih ha...ha...” saut Bram sambil tertawa Dan menoleh ke arah Tedy dan Lilian yang duduk di jok paling belakang. Dan selanjutnya pundaknya Bram mendapat tonjolan dan Tedy.
“Lah kalau Mak dan pak Sopir pasangan yang tidak serasi he... he...” ucap Mak lalu kembali pandangan matanya ke arah depan dan melanjutkan ceritanya, dan mobil pun terus melaju.
Dan beberapa menit kemudian saat pandangan matanya Nindya melihat papan nama foto studio yang berada beberapa meter di depannya, Nindya mempunyai sebuah ide.....
“Pak berhenti di depan foto studio itu ya" pinta Nindya pada pak Sopir
“Baik mbak" jawab pak Sopir sambil menganggukkan kepalanya
“Mau apa sih Nin?” tanya Bram sambil menoleh ke arah Nindya
“Belum puas apa foto fotonya tadi" ucap Lilian dan Tedy bersamaan
“Ihhh kompak amat pasangan kekasih di belakang he...he...” ucap Nindya sambil tertawa kecil dan selanjutnya pundaknya mendapat dorongan dari tangan Lilian.
Mobil lalu menepi di depan gedung foto studio. Nampak Nindya membuka pintu mobil secara pelan pelan, demikian juga Bram ikut turun dari mobil . Tidak lama kemudian Lilian dan Tedy pun ikut turun dari mobil.
“Mak tunggu di mobil saja ya sama pak Sopir tapi jangan pacaran he...he...” ucap Tedy sambil berdiri di dekat jendela Mak.
“Pacaran opo Mas, bisa diantemi istrinya pak Sopir aku nanti” ucap Mak dan Tedy hanya terlihat tersenyum
“Bercanda Mak" jawab Tedy lalu melangkahkan kaki mengikuti langkah Lilian yang sudah lebih dulu menyusul Nindya dan Bram yang sudah masuk ke gedung foto studio.
Saat Tedy memasuki pintu gedung tersebut bersamaan pula Nindya dan Bram berjalan menuju keluar gedung.
“Kak, tunggu di dalam sama Lilian ya, aku sudah orderkan dan sudah aku bayar, eh mas Bramku yang bayar” ucap Nindya saat berpapasan dengan Tedy
__ADS_1
“Kalian mau kemana?” tanya Tedy sambil menatap Nindya dan Bram secara bergantian
“Ke toko oleh oleh sebelah, kita ga bawa oleh oleh buat keluarga Lilian semua oleh oleh yang dibeliin Mamah kan dikirim cargo biar kita ga repot bawa, eee tahunya Mas Bram ngajak langsung ke rumah Lilian" jawab Nindya
“Aku kan tanggung jawab untuk belikan oleh oleh mereka, ayok jalan nutupi orang mau lewat kalau kita lama ngobrol di sini" ucap Bram lalu menggandeng tangan Nindya dan mereka berdua berlalu untuk menuju ke toko oleh oleh yang kebetulan tidak jauh dari gedung foto studio tersebut. Dan untung juga toko oleh oleh tersebut menyediakan makanan khas dari berbagai kota di Indonesia. He..he.. jadi tidak terlihat kalau beli oleh olehnya di Yogyakarta.
Sementara itu Tedy memasuki gedung foto studio dan pandangan matanya tertuju pada Lilian yang sedang duduk dengan anggunnya di kursi ruang tunggu . Tedy terus melangkahkan kaki nya menuju kursi tempat Lilian duduk lalu dia mendudukkan pantatnya di samping kursi Lilian .
“Nindya pesan apa sih?” tanya Tedy dengan nada suara yang lembut sambil menatap Lilian
“Enggak tahu Kak, aku masuk sudah selesai order dianya, terus mereka berdua menyuruh aku nunggu di ruang tunggu sementara mereka membayar di tempat kasir" jawab Lilian sambil menoleh ke arah Tedy tetapi pandangan matanya tertuju ke tempat lain, dia tidak berani beradu pandangan dengan tatapan mata Tedy apalagi dalam jarak yang sangat dekat.
“Jadi mereka berdua tidak melakukan pemotretan di sini?” tanya Tedy lagi
“Sepertinya tidak, kalau melihat mereka begitu cepat melakukan orderan" jawab Lilian
Mereka berdua kemudian terdiam sibuk dengan pikirannya masing masing. Dan tidak lama kemudian pegawai foto studio memanggil pemesanan atas nama Lilian dan Tedy sudah jadi. Lilian dan Tedy lalu bangkit berdiri berjalan menuju ke tempat pengambilan barang pesanan. Sesampai di depan tempat pengambilan barang tampak petugas menyerahkan sebuah pigura foto yang sudah terbungkus rapat dengan ukuran yang lumayan besar. Tedy mengira ngira itu foto di dalamnya ukuran 24 R atau sekitar 60 cm kali 80 cm.
Tedy lalu menerima barang tersebut dari petugas. Lalu mereka berdua berjalan keluar gedung foto studio tersebut dan tidak lupa sudah mengucapkan terimakasih kepada pegawai foto studio tersebut.
“Nin kamu order apa sih?” tanya Lilian saat Nindya sudsh berada di dekatnya
“Masuk mobil dulu aja, kasihan Mak dan pak Sopir menunggu lama” jawab Nindya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil.
Selanjutnya Nindya menawarkan sebagian makanan dan minuman yang dibelinya untuk dinikmati mereka yang di dalam mobil.
Sedangkan Tedy dan Lilian masih penasaran dengan pigura yang di pesan Nindya.
“Ini foto kalian ya?” tanya Tedy yang masih memegangi barang pesenan Nindya
“Kakak lihat saja, dirobek kertas pembungkusnya tidak apa apa, daripada kalian penasaran" jawab Nindya sambil berusaha membuka bungkus makanan asin asin kesukaannya.
Tedy lalu membuka pelan pelan kertas pembungkus pigura tersebut. Nampak Lilian yang penasaran mengamati dengan seksama karena ingin segera melihat foto apa yang ada di dalamnya. Sedangkan Bram dan Nindya terlihat senyum senyum dan tidak lupa tangan Bram yang tidak memegang makanan memgacak ngacak pucuk rambut Nindya.
Setelah kertas bungkus pigura terbuka meskipun baru sedikit mereka berdua sudah tahu foto siapa, betapa kagetnya Lilian dan Tedy, sebab pigura besar itu berisi foto mereka berdua.
__ADS_1
“Nin kok kamu buatin ini?” tanya Lilian.
“Iya itu nanti dipasang di kamarmu, kalau perlu di ruang tamu agar teman teman bapak ibumu tahu kalau kamu sudah punya pacar, jadi tidak sibuk mau jadiin kamu sebagai menantunya" jawab Nindya dengan suara pelan sambil menoleh ke arah Lilian
“Tapi ingat" ucap Nindya lagi
“Apa?” tanya Lilian dan Tedy secara bersamaan
“Jangan ditaruh di gudang beras ibumu” saut Bram dengan nada suara serius
“Tikus tikus lari ha.....ha....” lanjut nya kemudian sambil tertawa
“Malahan bebas tikus di gudang" jawab Lilian
“Li... Jangan dong, aku kan serius kalau di taruh di gudang siapa coba yang ngelihat foto mesra kalian?” ucap Nindya kemudian.
Mereka terus saja bercanda dan bersendau gurau hingga tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah Lilian.
“Kok kayaknya sekarang lebih dekat ya Li rumahmu" kata Nindya sambil turun dari mobil
“Sekarang hatimu bahagia, jadi perjalanan terasa singkat" jawab Lilian sambil ikut turun dari mobil.
Nampak pintu rumah Lilian bagian depan sudah dibuka dan tidak lama kemudian muncul sosok orang tua Lilian dan kedua adiknya. Mereka saling memberikan salam lalu mereka semua masuk ke dalam rumah Lilian. Namun beberapa menit kemudian Pak Sopir mohon diri dan akan menjemput mereka besuk pagi. Karena mereka akan menginap di rumah Lilian termasuk Mak sudah mendapat ijin dari ibu Murti untuk ikut menginap di rumah Lilian.
Mereka semua duduk di kursi ruang tamu rumah Lilian, terlihat Bram dan Nindya memberikan oleh oleh yang mereka bawa kepada kedua adik Lilian. Mereka sangat senang dan mengucapkan terimakasih.
“Nga ada oleh oleh spesial dari mbak Lilian loh" ucap Nindya sambil menatap Rangga adiknya Lilian
“Apa mbak?” tanya Rangga, Astri adik bungsu Lilian yang masih malu malu terlihat wajahnya juga menatap Nindya dengan ekspresi kepo.
“Ini nih...” ucap Nindya sambil menarik pigura foto besar yang masih dibawa Tedy. Terlihat pembungkus kertasnya belum terbuka sempurna. Nindya lalu membuka semua kertas yang membungkus pigura tersebut. Terlihat ekspresi wajah keluarga Lilian kaget dengan sempurna saat melihat foto ysng berada di dalam pigura tersebut. Mereka yang selama ini tahunya Lilian masih jomblo kok ada foto besar berdua dengan laki laki, dan laki laki yang berada di dalam foto tersebut sekarang berada di depan mata mereka. Setelah kaget menatap foto besar di dalam pigura tersebut, sekarang pandangan mata mereka beralih menatap ke wajah Tedy dengan tatapan penuh tanya.
“Pacarnya mbak Lilian ya?” tanya Astri secara spontan dengan senyum senangnya sambil menatap wajah Tedy. Tampak Tedy menjawab dengan anggukan kepala penuh keyakinan, terlihat kedua adik Lilian nampak senang dan masih memandang sosok Tedy penuh kekaguman. Tetapi berbeda dengan kedua orang tua Lilian yang tatapan mata mereka beralih kepada wajah anak sulungnya, untuk meminta kepastian dari Lilian.
*****
bersambung
__ADS_1