Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
53 Bohong


__ADS_3

Ketiga motor memasuki halaman rumah pak Dukuh. Bram mencoba mengetuk pintu beberapa kali tidak terbuka pintu rumah pak Dukuh. Dito juga ikut mencoba mengetuk ngetuk pintu tersebut, namun sama saja pintu masih tertutup rapat. Lalu Bram mencoba memutar perlahan handel pintu dan mendorong pintu tersebut, dan pintu bisa terbuka.


Lalu Bram membuka daun pintu dengan lebih lebar.... Astaga semua temannya terlihat tertidur nyenyak di kursi tamu dengan segala macam posisi tidurnya. Ada yang meringkuk, ada yang bersandar dengan kepala menengadah di sandaran kursi, ada yang bersandar dengan kepala terkulai, ada yang membujur di kursi panjang, etc..


"Bangun...bangun. ..bangun" teriak Bram setelah mendekat. Mereka semua yang tertidur akhirnya terbangun karena kaget. Lebih kaget lagi dengan penampilan Bram dan Dito yang acak acakan, ditambah legam legam dan luka di wajah Bram dan legam benjol di kepala Dito.


"Kalian...." ucap mereka semua setelah tersadar mereka terlihat kaget melihat penampakan Bram dan Dito yang diantar beberapa orang warga


"Kalian itu teman celaka malah tidur nyenyak, pintu tidak di kunci" ucap Bram


"Iya mas kalau tidur pintu dikunci, waspada mas meskipun di desa banyak juga maling" ucap salah satu warga yang mengantar


"Kami tadi maksudnya menunggu Bram dan Dito, tapi ketiduran semua" jawab Leon membela diri dan teman temannya


"Kalian kenapa?" tanya Leon sambil menatap Bram dan Dito secara bergantian.


"Ya sudah mas kami pamit, sudah ngantar sampai masuk rumah" ucap salah satu warga yang mengantar.


"Baik Pak, terima kasih banyak " ucap Bram dan Dito secara bersamaan, sambil mengantar sampai di depan pintu. Lalu Bram menutup pintu dan menguncinya.


Tidak berapa lama Pak Dukuh, Bu Dukuh dan Avanti melangkah masuk ke dalam ruang tamu dari ruang belakang tempat kamar mereka. Mereka terbangun karena ada suara beberapa motor di halaman rumahnya, dan terdengar ribut ribut mahasiswa KKN yang menginap di rumahnya.


"Ada apa Mas?" tanya pak Dukuh pada mereka semua


"Itu pak, Bram dan Dito baru pulang katanya kecelakaan" jawab Leon sambil menunjuk Bram dan Dito dengan pandangannya.


"Ooo dimana mas?" tanya Bu Dukuh sambil menatap Bram dan Dito bergantian demikian juga pak Dukuh dan Avanti


"Ti, ambilkan sesuatu untuk mengompres dan mengobati mereka" ucap Bu Dukuh menyuruh Avanti anak gadisnya. Lalu Avanti masuk ke ruang belakang


Bram dan Dito sudah duduk di kursi sambil mengelus ngelus bagian tubuhnya yang memar, sambil menceritakan kejadiannya pada mereka semua.


Tidak lama kemudian Avanti datang dengan peralatan kompres dan obat obatnya. Avanti mendekat pada Bram dan Dito. Avanti terlihat akan mencoba mengompres bagian tubuh Bram yang memar dan bu Dukuh mencoba untuk membantu mengompres benjol nya Dito.

__ADS_1


"Maaf biar kami kompres sendiri saja" ucap Bram dan terlihat Dito dan Bram saling pandang. Avanti dan bu Dukuh lalu menyerahkan alat alat pppk pada mereka.


"Baiklah kalau begitu kami masuk ke dalam mas" ucap pak Dukuh


"Iya Pak, terima kasih" ucap mereka bersamaan


Lalu Pak Dukuh bangkit berdiri dan berjalan masuk ke ruang belakang dan diikuti oleh anak istrinya.


"Kalian itu kalau jalan bareng temen itu yang dilihat lihat temennya, kalau lama ga sampai disamperin, kok malah tidur semua" ucap Bram sambil mengompres luka memarnya.


"Maaf Bram, aku kira ya ga ada kejadian apa apa, sudah sini aku kompres" ucap Leon lalu mengambil alat kompres yang dipegang Bram. Begitupun diikuti oleh salah satu teman yang lain untuk mengambil alih alat kompres yang dipegang Dito. Lalu Leon mengompres luka Bram.. dan salah satu temennya mengompres Dito. Namun beberapa detik kemudian...


Waudoooh" teriak Bram dan Dito bersamaan dan menarik lagi alat kompresnya masing masing.


"Kira kira donk mending aku kompres sendiri" ucap Bram


Akhirnya mereka hanya melihat Bram dan Dito mengompres lukanya, dan lama lama tertidur semua di kursi ruang tamu.


"Kenapa sih itu orang, apa hape nya jatuh, kok sajak kemarin sore ga online" gumam Nindya dalam hati.


Namun tiba tiba status pesan berubah warna menjadi biru, Nindya buru buru melakukan panggilan video pada Bram.


***


Dilain tempat Bram yang sudah terbangun dari tidurnya di kursi langsung membuka tasnya dan mengambil hape nya. Seperti biasanya pesan Nindya yang pertama dilihat. Mendadak ada panggilan video dari Nindya. Bram sedikit bingung antara diterima atau tidak, diterima kondisi wajahnya yang berantakan tidak diterima takut terjadi kesalahpahaman.


Dengan menguatkan hati sekuat besi Bram menggeser tombol hijau. Nampak wajah cantik Nindya yang sudah segar di pagi hari menjadikan mood boosternya.


"Mas Bram kenapa wajahnya seperti itu?" tanya Nindya dengan ekspresi kaget dan kuatir


"Iya jatuh dengan Dito" jawab Bram, Dito yang merasa namanya disebut langsung terbangun dan mendekat pada Bram. Hingga Nindya juga melihat wajah Dito.


"Kok wajah mas Bram ada luka, Dito cuma benjol satu" ucap Nindya sambil mengamati dua wajah di layar hape nya.

__ADS_1


"Iya aku jatuh tengkurap, Dito jatuh miring" jawab Bram bohong


"Aku menguasai jurus jatuh dari motor Nin" saut Dito


"Bram hanya menguasai jurus jatuh dari hati" ucap Dito selanjutnya namun kaki nya mendapat sepakan dari Bram


"Kok bisa jatuh?" tanya Nindya masih penasaran


"Jalan licin Nin" jawab Bram


"Ya sudah diobati ya.. lain kali hati hati ya mas" ucap Nindya dengan perhatiannya


"Iya sayang" jawab Bram dengan senyum malu, sebab pasti akan diledek Dito. Benar saja terlihat bibir Dito sudah nyengir mengejek.


"Ya sudah mas aku tutup ya.. bye.." ucap Nindya lalu menutup sambungan telponnya.


Bram lalu menaruh kembali hapenya ke dalam tas. Dia mau bangkit berdiri mau ke kamar lalu akan membersihkan diri. Namun tubuhnya terasa sakit. Dia lalu masih terduduk lagi.


"Sakit ya Bram?" tanya teman lainnya yang terlihat baru bangun.


"Sudah tahu tanya" saut Dito yang juga terlihat menahan sakit benjolnya.


"Eh Bram, kok kamu bohong ke Nindya, katanya suatu hubungan tidak boleh ada bohong nya?" tanya Dito


"Bohong putih Dit, bohong demi kebaikan, aku takut Nindya cemas dan kuatir kalau aku omong yang sebenarnya sekarang" jawab Bram


"Aku akan omong yang sebenarnya nanti pada saat yang tepat, saat nanti masalah sudah tertangani" ucap Bram selanjutnya.


Dito yang mendengar omongan Bram hanya mengangguk angguk demikian juga teman teman yang lain. yang sudah terbangun juga dengan seksama mendengarkan omongan Bram. Sedang yang masih tidur sudah jelas mereka tidak mendengar.


Bram terlihat mengurut urut kaki dan tangannya yang sedikit kaku kaku, untung dia mendapat ilmu urut mengurut dari pak Man tercinta.


Tidak berapa lama Avanti dan Bu Dukuh datang dengan membawa nampan berisi gelas gelas kopi dan teh. Teman yang masih tertidur langsung ada yang membuka matanya entah karena aroma kopi atau aroma wangi Avanti. Namun ada juga yang masih terlelap, dan seketika mendapat tepukan keras dari teman yang sudah bangun.

__ADS_1


__ADS_2