Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
138. Kegelisahan Tedy


__ADS_3

Sore harinya segala persiapan sudah selesai. Ruang tamu dan teras rumah induk sudah terhampar tikar menutup seluruh permukaan lantai. Kursi kursi di taruh rapi di halaman rumah. Sedangkan ruang keluarga tetap dengan sofa yang sudah ada di tambah dengan beberapa kursi.


Mereka semua kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk mengikuti acara nanti malam.


“Li nanti kamu ngisi acara hiburan ya.” Ucap Nindya yang nebeng mandi di kamar Lilian sebab kakaknya Tedy mandi sejak tadi tidak selesai selesai. Nindya heran juga tidak biasanya kakaknya berlama lama di kamar mandi kok sekarang lama sekali di kamar mandi.


“Aku lama ga latihan Nin." Jawab Lilian sambil menyiapkan baju yang akan dipakai.


“Kamu kan sudah biasa genjreng genjreng dan nyanyi nyanyi, lagian yang datang kan hanya orang orang kita." Jawab Nindya lalu masuk ke kamar mandi.


Waktu yang dinanti pun tiba. Selepas maghrib Nindya sudah tampil cantik dan sudah berada di rumah induk dengan orang tuanya dan ibu kost.


Konsumsi yang di pesan sudah datang makan malam, snack dan air mineral sudah dikemas dalam satu kotak kardus yang besar. Tetapi teman teman teman kostnya membantu membuatkan minuman teh hangat.


“Nin teman teman kost mu baik baik ya." ucap mamah Indah yang duduk di sofa ruang tengah


“Iya Mah mereka baik baik." jawab Nindya sambil menoleh menatap teman kostnya yang sedang sibuk mengatur gelas gelas di meja makan.


“Nindya juga baik Bu.” ucap Ibu kost yang menemani orang tua Nindya duduk di sofa ruang tengah. Mamah Indah dan papah Mahendra tampak tersenyum


“Mbak Nindya sering belikan snack kami Tan" ucap salah satu teman kost Nindya dari ruang makan yang tidak jauh dari ruang keluarga. Karena ruang makan dan ruang keluarga tanpa skat.


“Juga bantuin kalau kami kesulitan buat tugas he... he...” ucap teman kost yang lain yang merupakan adik tingkat Nindya.


“Kan memang harus saling bantu." ucap Nindya sambil menoleh ke arah mereka

__ADS_1


“Saya jadi merasa kehilangan banget nich kalau mbak Nindya sudah tidak kost lagi di sini" ucap adik tingkat Nindya


“Aku masih kost di sini sebelum resmi jadi istri mas Bram he... he... kalau aku sudah nikah kamu bisa main ke rumah mas Bram” jawab Nindya sambil tertawa kecil.


Sementara mereka masih berbincang bincang muncul sosok Tedy dengan penampilan kerennya namun parfum nya sudah tidak over dosis lagi. Semua mata memandang ke arah Tedy apalagi teman teman kost Nindya yang sedang berada di ruang makan.


“Sayang aku terlambat lahir....” ucap dari salah satu mereka dengan nada suara rasa penyesalan


“Kenapa orang kan sudah punya waktu masing masing he... he...?” tanya Nindya sambil menoleh pada teman kost Nindya


“Iya mbak, tapi karena aku lahir belakangan jadi masuk kost di sini belakangan sudah kalah dulu dengan mbak Lilian ha.... ha....” jawabnya sambil tertawa. Tedy yang merasa jadi omongan terlihat tersenyum senang.


“Jangan besar kepalamu" ucap papah Mahendra sambil menatap Tedy dan spontan Tedy memegang kepalanya dengan kedua tangannya sambil tersenyum.


Nindya ditemani orang tuanya dan ibu kost menyambut kedatangan tamu tamunya. Sedangkan Tedy masih di dalam ruang keluarga memainkan hapenya sambil gelisah menunggu kedatangan Lilian yang belum muncul muncul.


Beberapa menit kemudian terlihat mobil keluarga Bharata sudah berhenti di depan rumah ibu kost. Setelah pintu terbuka tampak Bram keluar dari mobil kemudian diikuti oleh Bapak Bharata, ibu Murti dan Arum. Terlihat Bram membawa kardus besar, sedangkan Arum kedua tanganya terlihat membawa paper bag besar besar.


Mereka berjalan menuju ke rumah induk ibu Kost setelahnya kedatangan mereka disambut oleh Nindya dan orang tuanya juga ibu kost.


“Nin di bagasi mobil masih banyak bawaan kami, bisa teman temanmu membantu" ucap Bram pada Nindya. Ucapan Bram tersebut terdengar oleh Ibu ibu club ngrumpi


“Kami siap membantu Mas" ucap salah satu dari mereka sambil bangkit berdiri tidak lupa menatap Bram dengan senyum genitnya.


“Terimakasih Bu, biar teman teman Nindya saja" jawab Bram. Nindya lalu terlihat melambaikan tangannya pada teman teman kostnya agar membantu membawakan barang bawaan keluarga Bharata. Mereka membawa beberapa jenis makanan untuk menambah jamuan di acara syukuran Nindya. Ibu ibu club ngrumpi terlihat kecewa karena tidak boleh membantu membawa, namun selanjutnya terlihat bahagia karena banyak makanan yang dibawa keluarga Bharata, mereka memupuk harapan akan mendapat banyak makanan juga.

__ADS_1


Orang tua Nindya dan keluarga Bharata kemudian masuk ke dalam dan langsung masuk ke ruang keluarga yang dipandu oleh ibu kost. Kehadiran keluarga Bharata tentu saja menjadi bahan obrolan ibu ibu club ngrumpi.


“Mbak Nin apa acara sudah bisa dimulai?” tanya salah satu teman kost Nindya yang bertugas sebagai pembawa acara.


“Sudah Dik" jawab Nindya. Lalu teman kost Nindya yang bertugas sebagai pembawa acara terlihat berjalan menuju ke ruang tamu, untuk memulai acara. Nindya, Bram dan Arum pun kemudian mengikuti langkahnya.


Sedangkan Tedy yang masih duduk di ruang keluarga terlihat masih gelisah menunggu Lilian, Lilianpun ditelpon tidak diangkat. Lalu terlihat Tedy mohon diri pada keluarga Bharata kemudian dia berjalan meninggalkan ruang tamu tujuannya ke kamar Lilian dia berjalan lewat pintu belakang rumah induk.


“Pak, kita ngobrol ngobrol rencana pernikahan anak kita saja. Ini acara hanya syukuran kecil kecilan untuk teman teman Nindya” ucap papah Mahendra setelah keluarga Bharata duduk di sofa ruang tengah. Terlihat Bapak Bharata dan ibu Murti menyetui usulan papah Mahendra. Mereka lalu membicarakan rencana waktu pernikahan Nindya dan Bram dan juga konsep pernikahan anak mereka. Mereka membicarakan dengan berbincang bincang santai.


Sedangkan Tedy melangkah dengan rasa kuatirnya menuju ke kamar Lilian terlihat kamar Lilian tertutup. Tedy lalu mengetuk ngetuk pintu kamar tersebut. Namun tidak ada jawaban atau reaksi dari pintu tersebut.


Suara ramai acara syukuran Nindya di ruang tamu bisa terdengar di telinga Tedy.


“Apa Lilian tertidur dan tidak mendengar ketukan pintu.” Gumam Tedy. Tedy lalu memperkeras suara ketukan pintunya.


“Li.... “ ucap Tedy di sela sela ketukan pintunya.


“Li.....” ucap Tedy lagi sambil memperkeras suara sambil mengetuk ngetuk pintu namun kerasnya tidak seperti ketukan pintu ibi ibu club ngrumpi yang mengagetkan dirinya tadi. Karena pintu tidak dibuka buka, akhirnya Tedy memutar pelan handel pintu dan mendorong pelan daun pintunya.


“Ternyata tidak dikunci" ucap Tedy. Dan Tedy lalu membuka pintu lebih lebar dan setelah pintu terbuka lebar betapa kagetnya dia saat melihat di dalamnya.


*******


bersambung

__ADS_1


__ADS_2