
Waktu terus berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Semua sibuk dengan kegiatan dan persoalannya masing masing.
Bram berusaha agar produk tepung pisang nya bisa dieksport. Bukan hal yang mudah bagi seorang Bram yang mengawali karier di dunia bisnis, meskipun bekerja di perusahaan keluarga. Saat mengajukan proposal untuk pengadaan alat mesin baru, proposalnya ditolak oleh bagian keuangan Bharata Group, sebab menurut analisa tidak memberi keuntungan bila kuota eksport masih kecil. Bram tidak putus asa, dia melakukan penawaran produk ke beberapa rekan bisnisnya agar kuota bisa bertambah, mengajukan proposal ke rekan bisnis yang akan membantu, mengajukan proposal ke beberapa investor. Semua dilakukan demi mengejar obsesi dan memenuhi syarat untuk meminang kekasih hati. Akhirnya usahanya pun membuahkan hasil, meskipun baru tahap awal.
Demikian pula dengan Nindya, yang sudah pasti Bram setiap waktu menyuruhnya untuk lekas menyelesaikan kuliahnya dia pun juga ingin cepat lulus. Kecerdasan yang dimilikinya ditambah rajin pun juga rajin dalam ibadah dan menuruti nasehat orang tua, menjadikan studi Nindya lancar. Posisinya sebagai asisten dosen mendapat penawaran khusus untuk ikut di proyek penelitian dosen yang bisa dia gunakan sebagai penelitian tugas akhirnya. Bagai mendapat durian runtuh Nindya langsung menerima tawaran tersebut. Penelitianpun berjalan lancar, hingga tinggal menyusun skripsinya. Dan rencana KKN Nindya pun sudah di depan mata. Seperti kesepakatan dua keluarga beberapa waktu lalu, sebelum Nindya KKN akan dilakukan acara lamaran.
"Pah..." ucap mamah Indah pada papah Mahendra yang duduk di sampingnya
"Hmmmm" jawab papah Mahendra yang tatapan matanya fokus pada layar lap top mengecek email jawaban dari murid muridnya.
"Nindya tadi ngabari dia sudah akan KKN" ucap mamah Indah sambil ikut menatap layar lap top papah Mahendra sekilas
"Baguslah, akhirnya cepat selesai juga. Tedy juga sudah lulus, kalau Nindya juga sudah lulus kewajiban kita memberi pendidikan yang layak pada anak anak kita selesai. Nanti kalau mereka ingin meneruskan S2, S3 biar mereka membiayai dirinya sendiri atau cari beasiswa" ucap papah Mahendra panjang lebar dan pandangan matanya tetap fokus pada pekerjaan lemburnya.
"Papah lupa apa pura pura lupa?" tanya mamah Indah dengan bibir cemberut namun papah Mahendra tidak melihatnya.
"Ya tidak lah Papah belum pikun, papah ingat janji papah kalau anak anak sudah lulus semua kita bulan madu kedua ke pulau Bali, malah papah ingin kasih bonus pada mamah kita juga pergi ke pulau Lombok" ucap papah Mahendra
"Gimana setuju tidak?" ucap papah Mahendra kemudian melepas pandangan matanya dari lap top dan menoleh menatap istrinya.
Dilihatnya mamah Indah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang didudukinya. Nampak wajahnya masih cemberut.
"Kok masih cemberut, apa masih kurang bonusnya?" tanya papah Mahendra sambil tersenyum
"Papah ini pasti pura pura lupa" ucap mamah Indah sambil menimpuk pundak suaminya dengan bantal sofa
"Ha... ha... apa sih Mah?" ucap papah Mahendra sambil memeluk istrinya dari samping
__ADS_1
"Nindya Pah, papah sudah janji sebelum Nindya KKN diadakan lamaran resmi" ucap mamah Indah.
"Iya apa?" tanya papah Mahendra menggoda, lalu dijawab dengan cubitan di lengannya oleh mamah Indah.
"Ya sudah besuk kalau aku libur kita ke Yogya, nengok Nindya sekalian silaturahmi ke keluarga Bharata memberikan kabar kalau Nindya sudah akan KKN" ucap papah Mahendra.
"Lalu kita nunggu respon mereka Mah, mosok kita yang menyuruh mereka melamar kok sepertinya tidak etis kita sebagai pihak calon mempelai perempuan " ucap papah Mahendra selanjutnya.
"Iya Pah, mamah nurut aja bagaimana menurut Papah baiknya" ucap mamah Indah sambil tersenyum.
Sementara itu di rumah keluarga Bharata pun sedang membicarakan tentang Nindya yang akan KKN. Bram yang mendapat kabar kalau Nindya akan KKN tentu saja dengan semangat empat lima langsung memberi kabar bahagia itu pada bapak Bharata dan ibu Murti.
"Tidak disangka ya Bu, Bram bisa berjuang untuk mengekport tepung pisang dan Nindya juga bisa cepat studinya" ucap Bapak Bharata sambil menyesap kopi di cangkirnya. Mereka berdua sedang duduk di ruang keluarga.
"Iya Pak, cinta mereka memotivasi mereka melakukan hal yang baik" ucap Ibu Murti sambil ikut menyeruput teh hangatnya.
"Ibu tidak menyangka Bram yang suka bertualang lupa rumah, akhirnya jadi bocah ndalan (anak bener). Bisa lulus kuliah tidak molor, hasil penelitiannya juga bermanfaat dan cinta pada satu gadis tidak mempermainkan anak orang, kerja juga bersemangat" ucap Ibu Murti dengan mata berkaca kaca, lalu tangannya terangkat dan satu jarinya memgusap air mata yang akan jatuh.
"Terus bagaimana rencana lamaran kita ke Nindya?" tanya bapak Bharata kemudian.
"Coba Bapak menghubungi bapak Mahendra, dibicarakan baik baik" saran Ibu Murti pada bapak Bharata.
"Kalau sudah ada pembicaraan dan penentuan waktu, nanti Ibu yang menyiapkan segala keperluannya, kalau persiapannya matang kan lebih baik" ucap Ibu Murti selanjutnya.
"Sekarang apa ya Bu menghubungi pak Mahendra?" tanya bapak Bharata sambil memegang hape nya.
"Kuatir nanti bapak Mahendra tidak berkenan" ucap Bapak Bharata kemudian nampak terlihat beliau berpikir pikir.
__ADS_1
"Bapak kok lebih percaya diri kalau menelpon urusan bisnis daripada urusan melamar anak orang he..he..." ucap Bapak Bharata lagi sambil tertawa kecil.
"Maklum Pak, baru pertama kali bapak akan melamar anak orang, ya dicoba saja Pak" ucap Ibu Murti memberi saran.
Selanjutnya nampak bapak Bharata mengusap usap hape nya untuk menghubungi papah Mahendra. Tidak lama kemudian nampak sudah terhubung selanjutnya bapak Bharata terlihat berbincang bincang akrab dengan papah Mahendra lewat sambungan telponnya.
"Bagaimana Pak?" tanya ibu Murti setelah bapak Bharata selesai menghubungi papah Mahendra.
"Kebetulan Bu, mereka mau ke Yogya week end ini, mau nengok Nindya sama mampir ke rumah kita, jadi nanti kita bisa kita bicarakan rencana lamaran Nindya" jawab Bapak Bharata sambil tersenyum. Ibu Murti juga nampak tersenyum bahagia mendapat jawaban kabar baik dari suaminya. Namun tiba tiba muncul sosok Mak dari belakang sambil membawa nampan berisi pisang rebus.
"Pak, Bu saya ngrebus pisang gerimis gerimis kok pengen pisang rebus, mungkin bapak dan ibu juga mau" ucap Mak sambil menaruh piring berisi pisang rebus di meja.
"Wah cocok buat teman kopi Mak" jawab bapak Bharata lalu mengambil satu pisang rebus.
"Pak Bu, maaf saya tadi dengar kok mau ngelamar mbak Nindya?" tanya Mak yang masih duduk jengkeng (duduk di atas kaki) di dekat meja.
"Mak nguping ya?" tanya bapak Bharata dan terlihat Ibu Murti hanya tersenyum
"Tidak Pak, saya tidak nguping, tapi bener bener kuping saya mendengar" jawab Mak
"Iya Mak" jawab Ibu Murti dengan nada suara anggunnya
"Saya besuk ikut ya Bu" pinta Mak sambil tersenyum malu
"Dirembug aja belum sudah daftar Mak..Mak.." ucap Bapak Bharata sambil menaruh kulit pisang rebus di piring.
"Iya Pak, daftar peserta pertama, he...he..." ucap Mak sambil tertawa
__ADS_1
"Terus mas Bram nya dimana Bu, kok tidak terlihat?" tanya Mak kemudian pada ibu Murti
"Habis makan malam dia pamit ke kamar katanya masih ada pekerjaan" jawab Ibu Murti