
Bram menggeser tombol hijau dengan malas.
"Hallo, Tuan Bram saya sangat memyesal, saya minta maaf untuk kejadian tadi malam" ucap Jecklyn di hape Bram
"Iya Nona Jecklyn" jawab Bram singkat
"Terimakasih Tuan Bram, proposal penawar tepung pisang kami tunggu secepatnya" ucap Jecklyn selanjutnya
"Baik nanti saya kirim lewat email" jawab Bram
"Okey, sekali lagi terimakasih, selamat pagi" ucap Jecklyn lalu menutup sambungan telponnya.
Bram menaruh hapenya lalu dia membuka lap topnya lalu sibuk dengan pekerjaannya. Terlihat dia sangat serius sampai lupa membuka hape khususnya, dan Nindya juga tidak melakukan panggilan sebab dia juga sibuk dengan kegiatannya di kampus.
Tidak terasa waktu istirahat tiba. Ibu Murti sudah masuk ke dalam ruangan bapak Bharata. Ibu Murti duduk di sofa yang digunakan untuk meja kerja Bram.
"Pak, apa tidak dikasih saja meja kerja khusus Bram?" tanya Ibu Murti pada bapak Bharata
"Tidak perlu, dia nanti duduk di sini menggantikanku" ucap Bapak Bharata yang masih setia duduk di kursi kerjanya.
"Kalau sudah kuanggap dia mampu, kalau diberi meja kerja sekarang dia keenakan tidak berusaha menempati tempatku ini" ucap Bapak Bharata kemudian
"Dan selanjutnya aku yang duduk di sofa sambil mengamati Bram dan momong cucu he.. he.. " ucap Bapak Bharata selanjutnya. Namun kalimat terakhir membuat Bram buyar dengan konsentrasi kerjanya, lalu menutup lap topnya.
Tidak berapa lama petugas pantry datang dan Sisi bangkit dari kursinya akan melayani Bosnya untuk makan siang.
"Si, bawa makanan ke balkon lantai tiga, aku ingin makan di sana dan ngobrol dengan Ibu dan Bram" perintah bapak Bharata
"Baik Pak" ucap Sisi, lalu teihat Sisi dan petugas pantry ke luar ruangan sambil membawa makan siang Bosnya.
Terlihat ibu Murti dan Bram menatap bapak Bharata, dan terlihat bapak Bharata sudah memberesi pekerjaannya dan siap untuk bangkit berdiri.
"Ayo, Bu, Bram kita ke atas" ajak bapak Bharata. Mereka bertiga lalu berjalan keluar ruangan menuju ke lantai tiga, terlihat Bapak Bharata berjalan dan sesekali merangkul pundak ibu Murti.
Sesampai di balkon terlihat makan siang sudah tersaji. Mereka bertiga secara bergiliran mencuci tangan ke washtafel yang berada di balkon tersebut. Saat mencuci tangannya Bram tersenyum, teringat dia bercanda dengan Nindya saat mencuci tangan di situ.
"Bu.. " ucap Bapak Bharata saat mereka sudah selesai makan.
__ADS_1
"Ya Pak" jawab Ibu Murti dengan suara yang lembut nan anggun
"Ibu sudah serius setuju kalau Nindya jadi mantu kita kan?" tanya bapak Bharata sambil tersenyum dan menatap ibu Murti. Sedangkan Bram menatap Ibu Murti dengan penuh harap mendapat restu yang sungguh sungguh.
"Iya Pak, anaknya sopan dan baik masih polos juga" jawab Ibu Murti, dan jawaban ibu Murti membuat Bram lega dan tersenyum, di bawah meja tangannya mengepal sambil berkata... yesss... Namun sangat pelan terdengar hanya desisan saja.
"Bagaimana kalau kita datang ke rumah orang tuanya untuk melamarnya Bu?" tanya bapak Bharata yang menjurus pada ajakan.
"Ibu setuju, itu juga sebagai wibawa keluarga Bharata jangan sampai anak kita dianggap hanya mempermainkan Nindya" ucap Ibu Murti menanggapi pertanyaan bapak Bharata.
"Pak, Bu, tapi takutnya Nindya belum boleh menikah karena kuliahnya belum selesai" ucap Bram takut orang tuanya kecewa bila sudah jauh jauh ke rumah Nindya tapi ditolak.
"Kamu tanya Nindya dulu, andai belum langsung menikah kan bisa pertunangan lebih dulu" ucap Ibu Murti
"Iya Bram, nanti kita bicarakan dengan orang tuanya Nindya" ucap Bapak Bharata
"Kita main main ke sana dulu saja Pak, jangan langsung melamar" ucap Bram lagi penuh kuatir
"Hei, kamu itu sebenarnya serius dengan Nindya tidak?" bentak bapak Bharata
"Haduh kalau setiap detik mikir Nindya bagaimana kamu bisa mikir pekerjaan" ucap Bapak Bharata sambil melotot ke Bram, namun kemudian beliau tersenyum.
"Tenang saja Bram, kami orang tua sudah punya cara sendiri" ucap Ibu Murti sambil menatap wajah Bram yang nervous.
"Tugasmu hanya omong ke Nindya kalau kamu tidak bisa omong ke Nindya bawa Nindya ke rumah biar Bapak dan Ibu yang omong" ucap Bapak Bharata.
"Baik Pak" ucap Bram antara bahagia dan deg deg an.
Setelah mereka selesai acara makan siang dan obrolannya mereka kembali ke lantai dua di ruang kerjanya masing masing untuk melanjutkan pekerjaanya. Petugas pantry yang memberesi perlengkapan makan mereka.
Setelah sampai di tempat duduknya Bram membuka lap topnya lalu mengirim email pada kolega bisnis nya, tidak lupa mengirim penawaran tepung pisang ke Alfa Company.
Setelah selesai mengirim email. Bram mengambil hape khususnya, lalu mengirim beberapa pesan text pada Nndya termasuk tentang obrolan di makan siang tadi dengan bapak Bharata dan ibu Murti.
Status pesan text untuk Nindya centang dua tapi belum dibaca. Sepertinya Njndya masih sibuk di kampusnya.
Waktu terus bergulir hingga tiba saatnya sore hari. Terlihat Sisi sudah mulai mengemasi beberapa pekerjaannya, tinggal nunggu perintah dari bapak Bharata.
__ADS_1
Brampun juga sudah menutup lap topnya dan memberesi dokumen dokumennya. Melihat dokumen dokumen di depan Bram sudah diberesi, Sisi sigap bangkit berdiri lalu berjalan mengambil dokumen dokumen tersebut dan menaruh ke dalam almari dokumen.
"Si, kamu boleh pulang" ucap Bapak Bharata setelah Sisi selesai menaruh dokumen ke almari dokumen.
"Baik Pak" jawab Sisi. lalu dia berjalan ke.mejanya mengambil tas.nya lalu pamit pada bapak Bharata dan Bram.
"Pak, saya juga pamit pulang ya?" ucap Bram dengan menatap harap pada bapak Bharata
"Pulang ke mana?" tanya bapak Bharata menggoda
"Kalau diijinkan ke kost" jawab Bram sambil tersenyum
"Aku ijinkan ke kost sampai jam delapan setelah itu pulang ke rumah" ucap Bapak Bharata
"Kamu ke kost menemui Nindya sampaikan rencana lamaran kita, dan nanti malam aku tunggu kabarnya" ucap Bapak Bharata selanjutnya.
"Baik Pak" jawab Bram dengan semangat. Dia lalu bangkit berdiri. Namun sesaat dia teringat kalau tadi berangkat diantar sopir. Lalu dia berjalan ke meja Sisi untuk menelpon sopir kantor. Sebelum menellon, bapak Bharata memanggilnya
"Bram" ucap Bapak Bharata
"Iya Pak" jawab Bram
"Kamu ingin nelpon sopir kantor?" tanya bapak Bharata
"Iya Pak, tadi kan saya diantar sopir" jawab Bram
"Tapi saat ini tidak ada sopir kantor nganggur" ucap Bapak Bharata
"Sopir yang ngantar kamu tadi masih ngantar Ibu ke bank dan belum pulang mungkin ibu sedang mampir belanja" ucap Bapak Bharata lagi
"Sopir yang lain Pak?" tanya Bram
"Coba aja kamu telpon, seperti nya semua ada jadwal keluar" jawab bapak Bharata. Bram mencoba menelpon ternyata benar semua sedang di luar.
"Kamu ke kost naik bus" ucap Bapak Bharata dengan senyuman menggoda
"Pasti Bapak sengaja" ucap Bram pelan sambil mengusap kasar wajahnya. Lalu meletakkan ganggang telpon dengan mantap dan meninggalkan meja kerja Sisi
__ADS_1