Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
151. Hari Pernikahan 1


__ADS_3

Hari H yang dinanti pun tinggal menghitung jam. Meskipun acara di pihak pengantin perempuan dibuat secara sederhana dan diadakan di gedung pertemuan, namun di rumah keluarga Mahendra tetap memasang tenda dan menyediakan jamuan untuk menghormati teman kerabat handai taulan yang datang di rumah bila tidak bisa datang di acara resepsi yang diadakan di gedung pertemuan. Dan pula malam harinya diadakan acara doa menjelang pernikahan.


Semua keluarga Mahendra sudah siap untuk mengadakan acara doa menjelang pernikahan. Nindya sudah tampil cantik dan di sebelahnya Bali juga ikut tampil cantik setia duduk manis menemani.


“Mah keluarga Bharata juga ikut hadir di acara doa nanti?” tanya Nindya


“Mas Bram ikut datang tidak Mah?” tanya Nindya lagi, tampak Bali yang duduk di samping Nindya menatap Nindya antara kagum dengan kecantikan Lek nya dan kepo karena ada nama yang disebut dia belum tahu siapa.


“Iya, tapi Bram masih tidak boleh ketemu kamu, Bram mengadakan doa sendiri di hotel dengan kerabat keluarga Bharata yang ikut datang.” jawab mamah Indah. Jawaban mamah Indah membuat Nindya terlihat sedikit kecewa dia mengira Bram sudah boleh ikut datang.


Tidak lama kemudian keluarga Bharata datang juga kerabat dan tetangga yang diundang di acara doa. Acara doa pun terlaksana dengan lancar dan khusuk.


Setelah acara selesai Nindya disuruh segera istirahat tidur agar besok pagi tubuhnya segar, sebab harus bangun pagi pagi karena akan dirias di pagi hari.


Pagi hari harinya, semua orang rumah di keluarga Mahendra sudah sibuk dengan persiapannya masing namun tentu saja tidak dengan Bali, dia masih tidur dengan nyenyaknya padahal dia tidur sejak acara doa malam belum selesai dia sudah tidur lebih dahulu.


“Ayo Nin kamu dan Lilian kuantar ke gedung, perias sudah datang" ucap Tedy sambil membawa kunci mobilnya. Nindya dan Lilian yang sudah menunggu di ruang keluarga lalu bangkit berdiri.


“Aku sekalian Ted, kak Vi masih nunggu Bali bangun" ucap mamah Indah yang sedang keluar dari kamarnya.


Mereka berempat lalu berangkat menuju ke gedung pertemuan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saat mobil melewati hotel tempat menginap tamu dan keluarga Bharata dada Nindya berdebar.


“Mas Bram ada di situ” gumamnya dalam hati. Nindya menolehkan kepalanya terus melihat hotel tersebut berharap dia melihat sosok Bram namun hasilnya nihil.


“Sudah sampai gedung Nin, kok kamu menoleh ke arah hotel terus, pasti pengen melihat mas Bram kan" tebak Lilian yang meskipun duduk di depan menemani Tedy tapi dia bisa melihat Nindya yang duduknya di belakang Tedy.


“Betul he...he... kangen ku sudah di ubun ubun, aku tadi kok tidak pesan mas Bram biar berdiri di depan ha... ha....” ucap Nindya sambil membuka pintu mobil karena mobil sudah berhenti di parkiran gedung pertemuan.


“Heleh tinggal sebentar lagi kamu bisa selalu bersama Bram” ucap Mamah Indah yang juga membuka pintu mobil.


Mereka bertiga lalu turun menuju ke ruang rias pengantin perempuan di gedung tersebut. Sedangkan Tedy kembali menuju ke rumahnya untuk menjemput yang lain.

__ADS_1


Sementara itu keluarga Bharata yang menginap di hotel pun sejak pagi sudah sibuk dengan persiapannya. Para kaum hawa sudah siap dirias dengan perias yang disewa, mereka melakukan kegiatan rias merias di hotel. Namun untuk Bram akan di rias di gedung oleh perias pengantin yang sudah di pesan.


“Ayo mas Bram kuantar, mobil hotel sudah siap menunggu” ucap Johan


“Ayok" ucap Bram bersemangat yang sejak tadi sudah menunggu duduk di lobby hotel


“Hai.. Aku juga ikut" teriak Om Prabu sambil membuka pintu kamarnya.


Mereka bertiga lalu berjalan menuju ke mobil yang akan mengantar.


“Kalau aku tidak diharuskan diantar mobil, aku akan jalan kaki sejak tadi” ucap Bram


“Ha...ha... Sudah tidak sabar ya Bram, ibu mu pasti yang marah punya anak laki satu saja jadi pengantin ucul jalan kaki sendiri" ucap Om Prabu sambil menepuk pundak Bram.


Tidak lama kemudian mobil yang mengantar Bram sudah sampai di gedung. Bram dengan cepat turun dari mobil, matanya menyapu seluruh lokasi gedung.


“Ayo Mas ke sana.” Ajak Johan sambil menunjukkan arah ruangan untuk rias pengantin laki laki


“Tempat rias pengantin perempuan dimana?” bisik Bram pada Johan agar Om Prabu tidak mendengar


“Tuh bersebelahan” jawab Johan. Tampak Bram tersenyum senang, dia melangkahkan kaki lebih cepat dari Johan dan Om Prabu, tujuan langkah kakinya tidak ke ruang rias pengantin laki laki namun ke ruang rias pengantin perempuan.


Saat di depan pintu ruang rias pengantin perempuan Bram memutar handel pintu yang tertutup. Namun sebelum pintu terbuka tangannya sudah ditarik Om Prabu yang tadi ikut mempercepat langkahnya.


“Tidak ada alasan salah kamar" ucap Om Prabu


“Om... lihat sedikit saja” ucap Bram dengan wajah memohon


“Sabar Mas Bram tinggal sebentar lagi daripada dapat hukuman dari bapak” ucap Johan. Mendengar kata hukuman pingitan sesion dua, Bram mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang rias pengantin perempuan.


Waktu terus berjalan semua sudah selesai di rias. Dan acara ijab pun akan segera dilaksanakan yang juga di gedung tersebut. Bapak penghulu yang akan datang jadi mereka tidak perlu pergi ke kantor KUA.

__ADS_1


“Ayo pengantin perempuan menyiapkan diri dulu ke ruangan khusus di dalam sana" ucap salah satu orang EO nya.


Nindya akhirnya di dampingi dengan mamah Indah, Lilian, Victoria dan periasnya berjalan pelan pelan menuju ke dalam gedung. Saat berjakan menuju gedung Nindya terlihat kaget, sebab nampak terpampang foto foto besar dirinya dangan Bram. Di awali dengan foto saat pingsan digendong Bram, kemudian saat jalan jalan di kulon progo, lalu foto saat di air terjun, juga foto foto lain saat mereka berdua.


“Siapa yang buat Li?” tanya Nindya pada Lilian


“Panitia lah" jawab Lilian sambil mengandeng Nindya


“Bagus ya natural banget.” Ucap Lilian kemudian


“Iya bagus banget" ucap Nindya sambil tersenyum puas.


Mereka terus berjalan menuju ruang khusus untuk pengantin perempuan. Mereka melewati meja yang sudah disiapkan untuk acara ijab nanti.


Setelah pengantin perempuan sudah masuk ke dalam ruangan. Gantian pengantin laki laki yang berjalan masuk ke dalam gedung, sama seperti yang Nindya rasakan Bram kaget dan senang dengan foto foto yang terpampang di sepanjang jalan masuk.


Tampak para saksi, keluarga dan kerabat sudah duduk di tempatnya. Bram lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan tampak papah Mahendra dan juga bapak Bharata juga sudah duduk di tempatnya. Tidak lama kemudian bapak penghulu datang. Acara berjalan lancar. Dan setelah terdengar kata sah, Nindya kemudian diantar oleh pengiringnya berjalan keluar. Jantung Nindya berdegup kencang demikian juga Bram.


Bram menatap kagum pada Nindya yang berjalan anggun menuju ke arahnya.


“Kok bener yang bilang Mak ya, pangling bener aku pada Nindya, bener jadi semok seger ayu kinclong....” gumam Bram dalam hati sambil tersenyum. Sampai tidak sadar Nindya sudah berada di depannya.


“Ehm.. ehm...” deheman Om Prabu yang sejak tadi setia mendampingi Bram, menyadarkan Bram pada lamunannya. Bram lalu menyambut uluran tangan Nindya lalu mereka berjabat tangan dan Nindya mencium tangan Bram, lalu Bram mencium kening Nindya.


“I love you, i miss you" bisik Bram


“I...lop... yu... tu...” ucap Bali dengan suara lirihnya karena dia mendengar bisikan Bram, sebab Bali di gendong Victoria yang juga bertugas mendampingi Nindya.


*****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2