
Sore harinya perias teman mamah Indah sudah datang beserta asistennya. Nindya sudah mandi dan siap untuk dirias, demikian juga mamah Indah. Mereka berdua mendapat giliran pertama untuk dirias. Nindya dan mamah Indah di rias di kamarnya masing masing.
Tidak berapa lama kemudian Bu er te dan bu er we datang dengan membawa perlengkapan, mereka langsung berjalan menuju ke kamar mamah Indah.
"Bu, saya juga di rias di sini ya" ucap Bu er we yang nanti suaminya berperan sebagai wakil keluarga.
"Saya juga ya Bu" ucap Bu er te yang nanti suaminya berperan sebagai saksi.
Mamah Indah yang sedang dirias hanya bisa menganggukkan kepala. Sementara itu mbah Girah yang sedang berjalan di dekatnya mendengar permintaan bu er we dan bu er te hanya bisa mendengus...
"Benar perkiraanku pas giliranku dirias tiba tamu tamu sudah pulang, siapa yang akan melihat aku dengan tampilan riasan" gerutu mbah Girah sambil berjalan menuju ke dapur
"Ada apa tho mbah kok ngedumel?" tanya Mak yang mendengar sepengal gerutuan mbah Girah
"Giliranku di rias terakhir kalau tamu sudah pulang siapa yang lihat aku tampil cantik coba" ucap mbah Girah
"Ya mbah Karto to yang lihat" ucap Mak sambil tersenyum
"Atau jangan dihapus terus besok pagi ke pasar biar dilihat orang se pasar ha...ha......" ucap Mak sambil tertawa dan menepuk nepuk pundak mbah Girah
"Bener omongmu, ga apa apa dirias terakhir besok pagi pagi aku ke pasar dengan riasan" ucap mbah Girah sambil senyum merekah
"Wis mau mandi aku, semangat meskipun dirias terakhir buat tampil besok pagi malah banyak yang lihat tampilan cantikku" ucap mbah Girah lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Sementara itu di kamar Nindya sudah selesai riasannya tinggal memakai bajunya saja. Sekarang giliran Lilian yang akan di rias di kamar Nindya.
"Ini calonnya Tedy ya?" tanya perias yang sudah kenal dengan keluarga Mahendra. Nampak Lilian hanya tersenyum, dan selanjutnya Lilianpun dirias.
Beberapa saat kemudian mereka semua yang mempunyai peran penting dalam acara sudah selesai dirias dan giliran memakai baju. Nindya sudah selesai sudah tampil cantik dengan kebaya brokat putih bersulam benang perak dengan dilapisi furing putih kain sutra agar nyaman di tubuhnya. Nindya duduk manis sambil menunggu waktu dan yang lain selesai.
Tiba giliran Lilian akan memakai baju, dia baru teringat mempunyai dua baju seragam.
"Nin, pakai yang mana ya?" tanya Lilian sambil memegang dua baju nya. Nampak perias melihat apa yang dipegang Lilian.
"Mbak, kalau disesuaikan dengan riasannya cocok dengan yang ini warna salem, Sebab kemarin Bu Mahendra sudah menunjukkan ke saya costum yang akan dipakai warna salem, jadi make up saya sesuaikan" ucap perias sambil menatap Lilian. Dan nampak Nindya tersenyum senang. Akhirnya Lilianpun memakai baju seragam keluarga Mahendra, dan kalung beserta liontin pemberian Tedy pun sudah terpasang manis di tubuhnya. Terlihat berkali kali perias memuji kecantikan kalung dan liontin yang dipakai Lilian, nampak Lilian semakin pe de dengan penampilannya.
"Sudah ayo keluar dari kamar, semua sudah siap" ucap mamah Indah yang sudah tampil cantik berdiri di depan pintu kamar Nindya. Nampak di belakang mamah Indah ada sosok Tedy yang juga sudah tampil dengan kerennya. Tedy terlihat melongok longokkan kepalanya ingin melihat sosok Lilian. Nindya berjalan keluar dengan digandeng perias teman mamah Indah, saat Lilian berjalan di belakang Nindya perias menoleh ke arah Lilian
Waktu berlalu dan semakin mendekati jam acaranya, semua sudah siap tamu undangan sudah datang. Keluarga Bharata pun juga sudah datang, mereka semua terlihat dengan tampilan sempurnanya. Bram dengan jas putih yang serasi dengan kebaya putih Nindya.
Nampak Om Prabu datang dengan perempuan cantik dan seorang pemuda ganteng, ya mereka Tante Laras istri Om Prabu dan Erlangga anak semata wayang Om Prabu. Pada acara lamaran ini Om Prabu bertugas sebagai wakil dari keluarga Bharata.
Waktu yang dinanti pun tiba, MC alias pembawa acara sudah mulai menyampaikan kalau acara akan dimulai dan selanjutnya menyampaikan susunan acara. Acara diawali dengan lantunan doa yang dilantunkan oleh istri pak MC. Dan selanjutnya acarapun berjalan lancar, Om Prabu sebagai wakil keluarga Bharata yang menyampaikan maksud kedatangan keluarga Bharata yang berniat serius melamar Nindya akan dijadikan istri Bram keponakannya. Sedangkan dari pihak keluarga Mahendra, pak er we yang bertugas sebagai wakil keluarga menyampaikan kalau keluarga Mahendra menerima lamaran dari keluarga Bharata.
Dan selanjutnya sebagai simbolis kalau Nindya sudah ada keterikatan dengan Bram karena sudah sanggup akan menjadikan istrinya adalah pemasangan cincin lamaran di jari manis Nindya pemasangan cincin dilakukan oleh Ibu Murti, setelah memasang cincin di jari manis sebelah kiri Nindya ibu Murti mencium kening Nindya kemudian pipi kanan dan pipi kiri Nindya. Selain cincin, ibu Murti juga memasangkan kalung di leher Nindya. Selanjutnya mamah Indah yang berdiri di samping Nindyapun mencium kening Nindya kemudian cium pipi kiri kanan. Setelahnya antara keluarga Bharata dan keluarga Mahendra saling berjabat tangan.
Setelah pemasangan cincin, bapak MC yang merupakan teman papah Mahendra yang seorang pensiunan guru, menyampaikan pesan pesan kepada Bram dan Nindya pada intinya meskipun sudah lamaran tetapi mereka belum resmi sebagai suami istri jadi harus saling menjaga kehormatan, dalam artian dalam pacaran harus ada batas batasnya. Bram dan Nindya tampak menganggukkan kepala dan tidak lupa senyum bahagia tampak di wajah mereka. Dan pesan tambahan dari pak MC agar Nindya ngebut dalam menyusun skripsi nya dan semoga pernikahan resminya segera terlaksana. Semua yang hadir di acara itu mengamini harapan pak MC.
__ADS_1
Setelah acara inti terlaksana acara selanjutnya makan makan dan ramah tamah. Terlihat mbah Karto menoleh noleh mencari keberadaan istrinya namun tidak terlihat, hingga acara usai. Setelah acara selesai semua tamu pulang. Namun keluarga Bharata masih berada di tempat, mereka semua masih asyik berbincang bincang sesekali mencandai Bram dan Nindya.
Dan tiba tiba mbah Girah muncul dari belakang sudah tampil dengan riasannya. Mak yang melihat sosok mbah Girah berjalan mendekat langsung bergegas berjalan menuju ke tempat Bram duduk.
"Mas Bram" ucap Mak terlihat terburu buru saat berada di depan tempat duduk Bram
"Apa Mak" jawab Bram
"Tolong dipuji kecantikan mbah Girah ya, biar besok pagi tidak mengajak saya ke pasar, saya capek besok mau bangun siang" ucap Mak, yang lain yang mendengar ucapan Mak memgeryitkan dahi sedikit bingung.
Dan tidak lama kemudian mbah Girah sudah berada di antara mereka. Mbah Girah berjalan mendekat ke arah Bram dan Nindya lalu menyalami mereka.
"Aku pangling mbah, cantik banget sampeyan" puji Bram sambil tersenyum.
"Yang bener mas?" tanya mbah Girah sambil tersenyum. Bram menganggukkan kepala dan yang lainpun ikut memuji.
"Lumayan masih ada yang melihat kecantikanku" gumam mbah Girah lalu berjalan mendekati mbah Karto.
Sementara itu terlihat Tedy tidak mau jauh jauh dari Lilian, apalagi terlihat Erlangga sering mencuri curi pandang ke arah Lilian. Dan tidak lama kemudian nampak Erlangga bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tempat duduk Lilian.
"Mbak Lilian, sahabatnya mas Bram ya?" tanya Erlangga saat berada di dekat Lilian.
*****
__ADS_1
bersambung