Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
163. Rintihan Nindya


__ADS_3

Waktu terus berlalu kehamilan Nindya tidak mengalami masalah besar. Mereka sangat menjaga janin di dalam kandungan Nindya. Hingga tidak terasa tiba di hari hari menjelang kelahiran juniornya Bram.


“Mas, aku kok takut ya..” ucap Nindya saat berdua dengan Bram di kamar setelah makan malam.


“Tenang saja, Kalau takut sakit apa operasi saja..?” ucap Bram sambil mengusap usap perut Nindya yang sudah membuncit dan terlihat sudah semakin turun ke bawah.


“Ada yang bilang kalau operasi sakitnya belakangan.” Ucap Nindya sambil menyandarkan tubuhnya di tubuh suaminya.


Namun tiba tiba Nindya merasakan perutnya melilit sakit.


“Mas.. sakit....” rintih Nindya sambil menggigit bibir bawahnya dan memegang perut dan pinggang dengan tangan kiri dan kanannya.


“Nin.. kamu mau melahirkan apa hanya mau beol kayak tempo hari?” tanya Bram sambil memeluk istrinya


“Sakit Mas.... sakit sekali....” rintih Nindya sambil meringis menahan sakit. Bram lalu mengendong istrinya untuk keluar kamar.


Namun saat sampai di pintu kamar dia tidak bisa membuka pintu karena mengendong Nindya dengan suasana hati yang panik. Sebab Nindya berulang kali merintih kesakitan.


“Tolooooong....tolonggggg" teriak Bram.


Bapak Bharata dan Ibu Murti yang sedang duduk di ruang keluarga lalu berlari menuju ke kamar Bram.


Bapak Bharata yang panik langsung membuka daun pintu dengan penuh semangat, tidak tahu kalau Bram yang sedang mengendong Nindya sudah berada di balik pintu. Dan akhirnya daun pintu tersebut mengenai kepala Bram. Hingga membuat Bram sedikit terhuyung kebelakang.


Ibu Murti yang berada di dekat bapak Bharata langsung menyelonong masuk dan menyangga pundak Bram untuk menjaga keseimbangan Bram.


“Bapak itu tidak hati hati" gumam Ibu Murti


“Aku tidak tahu kalau mereka sudah di belakang pintu.” Jawab bapak Bharata.


Sedangkan Bram tidak menghiraukan dahinya yang terbentur pintu. Setelah pintu terbuka lebar dia langsung membawa keluar istrinya.


“Sabar Nin...” ucap Bram sambil membawa Nindya berjalan menuju ke pintu rumah utama. Bapak Bharata dan ibu Murti berjalan di belakang mereka.

__ADS_1


“Bapak cepat berjalan keluar, siapkan mobil.” Perintah ibu Murti


“Iya...iya...” jawab bapak Bharata lalu beliau berjalan mendahului Bram karena tergesa gesa malah menyenggol pundak Bram, sehingga membuat Bram terhuyung lagi. Ibu Murti yang berada di dekat Bram cepat cepat menyangga tubuh Bram.


“Mak...Mak....” teriak Ibu Murti. Dan terlihat Mak berlari lari menuju ke Ibu Murti.


“Ini Bu.. sudah saya bawakan.” Ucap Mak sambil membawa travel bag yang berisi perlengkapan yang dibutuhkan untuk kelahiran. Mak sudah menyiapkan jauh jauh hari sesuai pesan ibu Murti, sewaktu waktu Nindya ke rumah sakit langsung di bawa.


Mobil sekarang sudah siap di depan teras. Bapak Bharata sudah membukakan pintu bagian belakang. Bram dengan hati hati memasukan tubuh istrinya dan selanjutnya dia juga masuk ke dalam.


Ibu Murti masuk ke dalam mobil di jok depan sambil membawa travel bag. Kemudian bapak Bharata memutari mobil dan berjalan menuju ke pintu bagian kemudi. Selanjutnya beliau menjalankan mobil menuju ke rumah sakit.


“Sakit.. Mas... sakit...” rintih Nindya terus menerus sambil ******* ***** paha Bram.


“Tahan dulu ya..” ucap Bram


“Mamah.. maafin Nindya ya Mah.. sakit...” ucap Nindya.. yang sekarang merasakan sakit mau melahirkan jadi mengingat perjuangan Mamahnya waktu melahirkan dirinya.


Ibu Murti yang mendengar Nindya menyebut Mamahnya jadi teringat untuk mengabari mamah Indah. Tetapi dia lupa tidak membawa hape.


“Tidak Bu, hape di meja.” Jawab Bapak Bharata sambil fokus pada kemudinya. Terlihat keringat di dahi juga mulai bermunculan. Karena Nindya yang terus merintih kesakitan ditambah jalanan macet.


“Semoga Mak sudah mengabari keluarga Mahendra.” Gumam Ibu Murti.


Sementara itu Nindya masih merintih kesakitan sedangkan Bram sibuk menenangkan sambil mengusap usap lembut perut Nindya sambil menahan sakit pahanya karena remasan tangan Nindya.


“Ibu maafin Nindya maafin mas Bram...” gumam Nindya diantara rintihan sakitnya.


“Iya Nin..sabar ya, yang kuat ya.” Ucap Ibu Murti sambil menoleh ke belakang untuk melihat kondisi Nindya.


“Apa sakit ini pengaruh kita sering main hos hos.. hiks...hiks...” ucap Nindya sambil terisak. Terlihat ibu Murti dan bapak Bharata saling pandang dengan ekspresi penuh tanya.


“Ibu maafin Nindya bapak maafin.. ya Allah ampunnnnni kami.... Mas maaf” ucap Nindya lirih kemudian dia sekarang hanya diam saja.. tangannya juga sudah tidak ******* ***** paha suaminya.

__ADS_1


“Nin... ..sabar Nin...” ucap Bram sambil menepuk nepuk pipi Nindya. Namun Nindya hanya diam saja..


“Pak tolong cepat bawa mobilnya.” Ucap Bram sedikit keras


“Iya ini macet dan lampu merah, kenapa tadi tidak telpon ambulance.” Jawab bapak Bharata yang juga tampak panik.


“Bu.. Nindya diam saja...” ucap Bram dengan nada suara panik


“Berdoa Bram... Semoga selamat ..” ucap ibu Murti dan beliau pun juga melantunkan doa..


Setelah lampu menyala hijau, mobil kembali melaju membelah jalan raya. Bapak Bharata menambah kecepatan lajunya. Dan tidak lama kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Bapak Bharata menghentikan mobil di depan pintu masuk. Lalu terlihat beliau dan ibu Murti turun dari mobil. Bapak Bharata berlari menuju ke tempat brankar dan ibu Murti membuka pintu bagian belakang membantu Bram.


Tidak lama kemudian bapak Bharata datang dengan petugas rumah sakit membawa brankar. Bram mengeluarkan Nindya dan dibantu petugas rumah sakit lalu membaringkan pada brankar dan mereka kemudian membawa Nindya masuk ke dalam rumah sakit. Bram terus mendampingi istrinya ditemani ibu Murti. Sedangkan bapak Bharata berjalan menuju ke tempat administrasi.


Nindya langsung dibawa petugas rumah sakit ke ruang periksa Tidak lama kemudian dokter kandungan yang biasa memeriksa Nindya terlihat berjalan menuju ke ruang pemeriksaan Nindya.


“Dok, selamatkan istri dan anak saya.” Ucap Bram saat dokter sudah berada di dekat mereka.


“Pasti Pak Bram.” Ucap dokter tersebut lalu masuk ke dalam ruang periksa. Sedangkan Bram dan Ibu Murti menunggu hasil pemeriksaan di luar ruangan.


Tidak lama kemudian bapak Bharata juga sudah menyusul mereka menunggu di luar ruang pemeriksaan. Terlihat Bram sangat kuatir tampak berkali kali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak merasakan dahinya yang membiru karena benturan pintu.


Tidak lama kemudian muncul Arum dan Johan. Terlihat Arum dan Johan membawa beberapa kantong berisi makanan dan minuman.


“Bagaimana Mas, keponakanku sudah lahir belum?” tanya Arum setelah mendekat. Bram terlihat tidak menjawab namun hanya berjalan mondar mandir.


“Bagaimana Bu?” tanya Arum kepada Ibu Murti


“Sedang diperiksa.” Jawab Ibu Murti


“Kamu bawakan hapeku tidak?” tanya ibu Murti


“Bawa.” Ucap Arum lalu memberikan hape ibu Murti dan bapak Bharata.

__ADS_1


“Keluarga Mahendra sudah ditelpon Mak, nanti akan segera datang.” Ucap Arum kemudian. Mereka semua lalu terlihat hening menunggu hasil pemeriksaan dokter. Bram masih berjalan mondar mandir.


__ADS_2