
Nindya langsung memonopoli Bali, digendong dan langsung dibawa ke kamarnya, dan untungnya Bali menurut dan terlihat sangat senang digendong oleh Nindya.
Nindya lalu menaruh Bali di tempat tidurnya diambilkan semua boneka yang dimiliki Nindya. Terlihat mereka berdua asyik bermain main. Namun tiba tiba Bali merengek rengek..
“Milk.. Milk...” ucap Bali sambil menarik narik baju Nindya
“Milk.. Milk...Milk...” ucap Bali lagi semakin erat dia menarik narik baju depan Nindya
“Ayo aku buatkan" ucap Nindya lalu menggendong Bali karena menurut perkiraan Nindya keponakannya itu sedang haus dan butuh susu.
Namun Bali berusaha meronta ronta tidak mau digendong.
“Milk.. milk... clip... clip....” ucap Bali masih meronta ronta dan memegang dada Nindya
“Iya ayo kita ambil milk" ucap Nindya memaksa Bali untuk digendong. Namun tiba tiba Bali menangis kejer.
“Huaaaa..... huaa..... huaaaaaaa.... Milk.... Milk... clip.... clip....” tangis Bali terdengar sangat keras. Nindya pun bingung tidak tahu harus berbuat apa.
Suara tangisan Bali terdengar sampai di ruang tamu, yang mana keluarga Mahendra masih asyik berbincang bincang melepas rindu di ruang tamu.
“Vai.. Bali nangis” ucap Alvin memberitahu pada istrinya. Dan tampak Victoria lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar Nindya. Langkah kakinya dikuti oleh mamah Indah dan lik Marni.
“Diapakan itu cucuku, ,baru disuruh latihan jadi ibu malah bikin kejer anak saja" gumam mamah Indah sambil berjalan cepat mendahului Victoria.
Mamah Indah langsung cepat cepat membuka pintu kamar Nindya. Terlihat Nindya menggendong Bali tapi Bali meronta ronta tangannya satunya terulur menunjuk tempat tidur satunya memegang dada Nindya dan menarik narik baju Nindya.
“Kamu apakan sih Nin?” tanya mamah Indah berusaha untuk mengambil alih Bali dari gendongan Nindya
“Huaaaa.... huaaaa... huaaa. ...No... No... “ suara tangis Bali malah makin kejer saat mamah Indah mengulurkan tangannya
Victoria lalu terlihat mendekat dan mengulurkan tangannya pada Bali. Namun Bali geleng geleng kepala
“Bali mau apa?” tanya Victoria dengan lembut
“Milk... clip... clip...” ucap Bali. Dan tampak Victoria tersenyum lalu berjalan mendekat ke tempat tidur dan selanjutnya duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
“Sini” ucapnya kemudian namun Bali tetep geleng geleng kepala
“Lek... milk...clip...hiks..hiks...” ucap Bali sambil terisak isak..
“Maunya apa sih?” tanya Nindya yang masih menggendong Bali
“Mau tiduran sambil ngempeng, sini ...” jawab Victoria sambil menepuk nepuk kasur di tempat tidur yang diduduki. Namun Bali tetap geleng geleng kepala.
“Lek.. lek.. Milk...clip...” ucap Bali sambil menatap Nindya
“Ha... ha... Mau ngempeng kamu Nin” ucap Victoria dan lik Marni bersamaan
“Hais no... no... tidak boleh ini segelnya belum dibuka ha...ha...” ucap Nindya sambil tertawa lalu menciumi pipi keponakannya itu.
“Masih minum Asi apa Vi?” tanya mamah Indah pada Victoria menantunya
“Dua bulan terakhir ini minum Asi hanya kalau mau tidur Mah" jawab Victoria
“Lek.... Milk.. Milk... clip...” ucap Bali lagi tetapi sekarang sambil tersenyum lebar karena dia sudah tahu semua orang tahu maksudnya
“Mungkin punyamu lebih besar dari punya Victoria, Nin" bisik Lik Marni di dekat Nindya
“Ha... ha...iya... iya...” ucap Victoria sambil tertawa
“He... He....He....” Bali pun ikut menanggapi dengan tawa nya.
“Ini aja milk nya Oma" ucap mamah Indah sambil memegang dadanya dan ditunjukkan pada Bali
“No.. no... “ ucap Bali sambil geleng geleng kepala
“Itu sudah tidak berproduksi sudah kehabisan bahan ha...ha...” ucap Lik Marni
“Nin kamar mu tukaran dengan Alvin ya, kalau Bali di atas bahaya kalau tahu tahu dia nyelonong lari lari dan turun tangga" ucap mamah Indah
“Sudah dibersihkan kamarnya Alvin sudah didesain kamar pengantin” ucap Lik Marni
__ADS_1
“Terus lik Marni tidur mana?” tanya Nindya
“Sementara tidur di kamar Tedy dulu, besok kalau Tedy sudah pulang Lik Marni tidur di kamarku, papah biar dengan Tedy" jawab Mamah Indah.
“Ayo Ni kita keluar saja milk kita ga laku" ucap mamah Indah selanjutnya lalu menarik tangan Lik Marni diajak untuk keluar kamar.
“He.. he... He... He... He...” Terlihat Bali tertawa terkekeh kekeh lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Mereka bertiga lalu bercengkrama di atas tempat tidur. Sementara mamah Indah dan lik Marni bergabung pada papah Mahendra dan Alvin membahas tentang rencana pernikahan Nindya. Alvin sudah siap bersedia mengurus segalanya dia yang akan berkomunikasi dengan EO yang sudah dipesan juga yang akan berkomunikasi dengan panitia keluarga Bharata.
Setelah hadirnya Bali di rumah benar Nindya terhibur dan sedikit lupa dengan kerinduannya pada mas Bram. Seharian Nindya sibuk bermain dan membantu mengurus Bali. Tidak seperti dua hari lalu yang sebentar bentar melihat hape dan mengirim pesan teks pada Bram. Setelah hadirnya Bali, Nindya belum sempat memegang hape. Hal ini justru membuat Bram sangat kuatir.
Sore hari Bram nampak gelisah, berbeda dengan bapak Bharata yang duduk tenang di kursi kerjanya, beliau tenang karena tidak banyak suara notifikasi pada email dan nomer hapenya.
Bram terlihat mengambil hapenya dilihat aplikasi tidak ada pesan teks dari Nindya.
“Apa Njndya sakit ya?” gumam Bram dalam hati. Lalu Bram terlihat mengetik ngetik pesan teks buat Nindya dan setelah lah pesan terkirim. Dan spontan terdengar suara notifikasi di hape bapak Bharata. Bapak Bharata melihat hapenya, lalu dia melirik ke arah Bram.
“Kenapa Bram, gelisah tidak ada pesan dari Nindya?” tanya bapak Bharata
“Iya Pak, Tidak biasanya dia sampai sore ga kirim pesan, biasanya kalau mau jam makan siang juga kirim pesan. Apa dia sakit ya Pak" ucap Bram.
“Coba kamu miss call dia” ucap Bapak Bharata
“Boleh Pak" ucap Bram dengan mata berbinar
“Hanya miss call" ucap Bapak Bharata, terlihat Bram kecewa. Namun karena pesan teks nya juga belum dibaca oleh Nindya. Maka Bram melakukan panggilan buat Nindya dengan catatan hanya miss call. Beberapa kali Bram melakukan panggilan buat Nindya namun hasilnya nihil, tidak diangkat oleh Nindya dan pesan teks nya masih belum dibaca oleh Nindya.
“Bapak tidak membuat aku dan Nindya tidak bisa terhubung kan?” tanya Bram pada bapak Bharata karena curiga setelah hape nya disadap membuat ulah yang lainnya.
“Kamu kok berpikir negatif pada bapakmu sendiri hem" jawab bapak Bharata sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ini aku miss call berkali kali tidak ngaruh Pak" ucap Bram sambil menunjukkan hapenya.
“Mungkin Nindya sedang tidur" jawab bapak Bharata. Dan selanjutnya terlihat bapak Bharata melakukan sambungan telpon dan setelah terhubung bapak Bharata hanya menjawab iya.. iya dan baik baik, hanya dua kosa kata itu yang keluar dari mulut bapak Bharata.
__ADS_1
“Sudah kamu pulang saja sekarang, tenang kan hati dan pikiranmu, Nindya baik baik saja, nanti malam saja kamu komunikasi dengan Nindya mungkin sekarang dia seperti kamu pagi hingga malam.sibuk dengan kegiatannya" ucap Bapak Bharata