
Di malam hari yang cerah bintang bintang bertabur di langit daerah beautiful hill dan udara dingin menerpa kulit. Di malam ini keluarga Mahendra plus Bram berada di ruang tamu.
Tedy bangkit dari tempat duduknya berjalan membuka pintu rumah dan melihat langit bertabur bintang terlihat bintang di sini lebih terang dari pada di langit kota sebab kalah saingan dengan lampu kota.
"Bro sini keluar" ajak Tedy pada Bram. Dan Bram pun bangkit berdiri berdiri berjalan mendekati Tedy.
"Bagus ya" gumam Bram pada Tedy. Mereka kemudian duduk di teras rumah.
"Mah ada yang bisa dibakar bakar ga biar hangat nih" teriak Tedy pada mamah Indah
"Tanya lik Marni sana" ucap mamah Indah.
"Tot kamu tanya lik Marni" perintah Tedy pada Nindya adiknya. Nindya kemudian berjalan menuju ke kamar belakang di mana lik Marni berada. Dan tidak lama mereka berdua keluar dengan membawa jagung manis dan perlengkapan barbeque alias bakar membakar.
"Nih" ucap Nindya meletakkan barang barang yang dibawa.
"Bantuin donk" ucap Tedy sambil menerima semua barang barang tersebut lalu menaruh di suatu tempat untuk bakar membakar. Bram pun datang mendekat.
Mereka berempat sibuk membakar jagung manis, aroma jagung bakar yang manis gurih sampai ke ruang tamu akhirnya mamah Indah dan papah Mahendra ikut bergabung bersama mereka.
"Pah lebih gurih lagi bila sapi papah yang dibakar" ucap Tedy saat melihat papah Mahendra mengambil jagung bakar yang sudah matang dan menikmatinya. Papah Mahendra tidak menjawab hanya memandang kesal ke anak lelakinya.
Terlihat Bram dan Nindya rukun dan damai dengan tugasnya, Bram mengipas ngipas bara arang sedangkan Nindya membolak balik jagung yang sedang dibakar.
Sedangkan Tedy sibuk mengambil jagung bakar yang sudah matang sambil memakannya entah sudah berapa jagung bakar yang dimakan segala rasa sudah dimakan mulai dari yang keju, coklat, pedes, etc..
"Lumayan memperkerjakan orang yang sedang jatuh cinta tiada lelah bekerja" ucap Tedy. Dan seketika lengannya diolesi margarin oleh Nindya, sedangkan Tedy hanya tertawa.
"Buat air minum sana ke belakang" ucap Nindya pada Tedy kemudian
"Sebentar" jawab Tedy
"Kakak sudah makan banyak banget, yang ini untuk aku jangan diambil" ucap Nindya sambil membolak balik jagung rasa keju pedes.
Tedy kemudian masuk ke dalam rumah, dan tidak berapa lama dia kembali dengan membawa air minum. Kemudian masuk lagi ke dalam.
"Ted ambil gitar" perintah mamah Indah.
"Mamah mau ngitar" ucap Tedy sambil kepalanya melongok dari balik pintu
"Mau nyanyi " jawab Mamah Indah
"Emang mamahmu bisa nyanyi?" tanya Bram pada Nindya dengan suara berbisik
"Bisa tapi fals" jawab Nindya yang suaranya terdengar mamah Indah kemudian Nindya dilempar dengan sebutir jagung.
Tidak lama Tedy keluar dengan membawa gitarnya.
"Nih Mah" ucap Tedy sambil memberikan gitar pada Mamahnya
__ADS_1
"Kamu yang main, mamah request lagu favorit mamah" ucap mamah Indah Sambil mendorong gitar yang disodorkan Tedy
"Apa lagu favorit mamahmu?" tanya Bram kepo. Nindya tidak menjawab sebab mulutnya masih mengunyah jagung.
Tedy pun mulai memetik gitarnya sambil melantunkan lagu favorit mamah dan papahnya.
^^^^
Di bening malam ini
Resah rintik gerimis datang
Menghanyutkan sinar rembulan
Buram kaca jendela
Semuram waktu yang berlalu
Sedang kumasih menunggu
Ungkapan rasa dari keinginan baikku
Untuk bersama menempuh jalan hidup
Tak usahlah kau ingat
Diri tanpa sutradara
Relakan niat tangan
Menghapus noda kehidupan
Dirimu di hadapanku
Tetaplah putih
Demi keinginan baikku
Untuk bersama menempuh jalan hidup
*
Ku ingin slalu dekat mu
Sepanjang hidupku
Membawamu ke puncak bahagia
Ku ingin slalu dekat mu
__ADS_1
Nikmati mentari
Mendekapmu di bawah cahayanya
^^^^^
Tedy selesai memainkan dan menyanyikan lagu kesukaan mamah Indah tetapi kalau selesai mamah Indah meminta Tedy memainkan lagi hingga sampai berkali kali.
"Sudah Mah capek" ucap Tedy saat mamah Indah meminta nya lagi. Tedy pun akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Bagus Nin lagunya judulnya apa?" tanya Bram pada Nindya
"Dirimu, lagunya Gank Pegangsaan" jawab Nindya
"Oooo" Ucap Bram
"Kamu suka ga lagu itu" tanya Bram sambil menatap Nindya
"Jadi suka lah sejak aku dalam kandungan denger itu lagu" jawab Nindya.
Setelah Tedy masuk ke dalam rumah, mamah Indah dan papah Mahendra pun masuk ke dalam rumah. Kemudian diikuti lik Marni juga bangkit berdiri namun sebelum melangkahkan kaki
"Nin diberesi besuk saja, kamu nanti tidur di kamar belakang sama aku, Mas Bram di kamar depan sama Tedy" ucap Lik Marni kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Bram kemudian bangkit berdiri berjalan mengambil gitarnya Tedy. Lalu dia memainkannya lagu yang tadi di mainkan Tedy.
"Kok mas Bram sudah bisa?" tanya Nindya di sela sela alunan musik Bram. Bram tidak menjawab namun terus memainkan sambil menatap wajah Nindya dengan tatapan mata yang penuh lampu mengalahkan gemerlap nya bintang bintang di langit saat ini.
Bram selesai memainkan satu lagu namun tiba tiba pintu terbuka dan terdengar suara tepuk tangan dan muncul sosok mamah Indah, papah Mahendra dan lik Marni.
"Bagus Bram petikan gitarmu sangat menyentuh hatiku" ucap mamah Indah sambil tersenyum.
"Sudah malam, ayo masuk, besuk pagi pagi kita pulang" ucap papah Mahendra. Kemudian Nindya dan Bram bangkit berdiri lalu berjalan masuk ke dalam rumah setelah memberaihka. diri lalu mereka masuk ke dalam kamar sesuai aturan lik Marni.
Bram masuk ke dalam kamar Tedy terlihat Tedy sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur tapi terlihat belum tertidur.
"Ada celana dan baju training di lemari itu Bram, kamu bisa pakai, dingin nanti kalau menjelang dini hari" ucap Tedy
'Ini sudah ada selimut" jawab Bram sambil mengambil selimut tebal yang terletak di tempat tidur.
"Terserah, awas kalau kamu ndusel ndusel (desak desak) aku" ucap Tedy lalu meringkukkan tubuhnya
Bram lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur di sampingnya Tedy meringkuk menghadap dinding. Bram tidak bisa memejamkan matanya, dia sangat bahagia. Lalu Bram meraih hape nya yang di taruh di dekat tubuhnya. Dia mengusap usap hape nya membuka galery di lihat foto foto.nya tadi saat bersama Nindya dia tersenyum senyum sangat mengingat kejadian di air terjun. Saking bahagianya dia spontan memeluk Tedy. Dan tentu saja Tedy yang sedang mau terlelap langsung terlonjak kaget.
"Sialan kamu Bram aku tuh masih normal" teriak Tedy sambil mata melotot ke arah Bram. Tedy bener bener emosi karena perjalanan menuju mimpinya tergganggu.
"Aku juga masih normal kakak ipar" teriak Bram tidak kalah keras.
"Awas kalau peluk peluk aku lagi" ucap Tedy sambil menaruh guling di samping Bram sebagai pembatas mereka.
__ADS_1