Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
91. Hari Sabtu yang dinanti 1


__ADS_3

Sementara itu di kamar kost Nindya, gadis cantik itu nampak sedikit gundah gulana perasaannya bercampur aduk antara senang, kuatir, bingung sampai telapak tangan berkeringat dan sedikit bergetar. Dia lalu mencari nomor kontak mamah Indah, kemudian melakukan panggilan telpon, dan tidak lama langsung terhubung.


"Hallo Nin, bagaimana kuliah mu?" sapa mamah Indah langsung dengan pertanyaan tentang studi anaknya.


"Lancar mah" jawab Nindya


"Mah..." ucap Nindya terhenti karena bingung bagaimana menyampaikannya


"Hmmm, mamah transfer nanti kalau papah sudah gajian" ucap mamah Indah menduga Nindya akan menanyakan transferan


"Iya mah, tabungan Nindya juga masih" ucap Nindya


"Mah, besuk sabtu ini orang tua mas Bram mau ke rumah" ucap Nindya selanjutnya


"Mau ke rumah siapa?" tanya mamah Indah


"Ke rumah kita Mah, mau nglamar" jawab Nindya selanjutnya


"Haits.. Kamu ga salah omong? kenapa mendadak ngelamar? kamu dan Bram ga macem macem kan? kamu ga melanggar pesan mamah papah kan? kamu ga melanggar hukum agama kan? Nindya awas kamu kalau tidak bisa menjaga kehormatanmu sendiri...." pertanyaan mamah Indah keluar dari bibirnya secara beruntun sambung menyambung kuatir jika Nindya dan Bram berpacaran melewati batas


"Mamah...., Nindya dan mas Bram baik baik, masih ingat pesan papah dan mamah" ucap Nndya


"Terus kenapa lamaran mendadak?" tanya mamah Indah dengan serius.


"Coba kamu tanya Bram lagi, atau mamah yang tanya Bram sendiri" perintah mamah Indah selanjutnya.


"Iya Mah, aku coba tanya mas Bram lagi, tadi waktu di kost sih tanyanya ke Nindya mau ga dilamar gitu" ucap Nindya


"Tanya lagi yang jelas" ucap mamah Indah lalu memutus sambungan telponnya, sambil ngedumel


"Ga jelas acara lamaran kok mendadak katanya keluarga ningrat kok acara lamaran srudak sruduk kayak aku saja" gumam mamah Indah pada dirinya sendiri. Untung papah Mahendra di ruangan lain yang tidak mendengar gerutuan mamah Indah.


Sementara itu Nindya mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mencari nomer kontak Bram dan melakukan sambungan telpon, tidak lupa menyiapkan bolpen dan kertas untuk mencatat agar tidak salah paham lagi. Bram yang masih duduk di ruang keluarga bersama bapak Bharata dan ibu Murti langsung menerima sambungan telpon dari Nindya.


"Hallo Nin, gimana?" sapa Bram saat menerima sambungan telpon dari Nindya.


"Mas, besuk itu acara nya apa? lamaran atau gimana?" tanya Nindya


"Aku juga tidak tahu he..he.." jawab Bram sambil tertawa kecil


"Mas Bram gimana sih, ini mamah marah marah katanya kok acara memdadak" ucap Nindya

__ADS_1


"Sebentar aku tanya Ibu, atau kamu langsung tanya ke ibu Murti ya.." jawab Bram lalu memberikan hape nya pada ibu Murti


"Nindya Bu" ucap Bram sambil menyerahkan hape nya pada ibu Murti, ibu Murti menerima hape Bram, terlihat bapak Bharata menatapnya lalu ikut mendekatkan dirinya di dekat istrinya.


"Hallo Nin, bagaimana?" tanya ibu Murti


"Maaf Bu, mau tanya besuk itu acaranya apa?" tanya Nindya dengan hati hati sambil tangan kanannya memegang bolpen untuk mencatat apa yang diomongkan Ibu Murti.


"Bapak dan Ibu berkenalan dengan orang tuamu Nin untuk membicarakan keseriusan hubunganmu dengan Bram" jawab Ibu Murti


"Untuk tahap tahapnya kita bicarakan nanti musyawarah dengan orang tuamu" ucap Ibu Murti selanjutnya


"Ooo baik Bu, terimakasih " ucap Nindya


"Sama sama Nin, mamah mu ga usah repot repot" ucap Ibu Murti selanjutnya karena paham ibu ibu pasti heboh bila kedatangan tamu jauh apalagi calon besan.


"Baik Bu" ucap Nindya


"Ada lagi yang perlu ditanyakan?" tanya ibu Murti


"Sementara sudah Bu, terimakasih" ucap Nindya. Ibu Murti lalu menyerahkan hape kepada Bram.


Sementara itu Nindya langsung menghubungi lagi mamah Indah dan menyampaikan apa yang diomongkan Ibu Murti.


"Oooo begitu" ucap mamah Indah di balik telpon Nindya saat Nindya sudah menyampaikan maksud kedatangan orang tua Bram


"Iya Mah, mungkin sekarang gantian mamah dan papah yang ditest pantas tidak jadi besannya keluarga ningrat" ucap Nndya


"Waduh Nin, mamah dan papah harus gimana donk? nanti kalau ga lulus gimana, kasihan anak mamah yang cantik" ucap mamah Indah


"Awas mamah jangan bercanda berlebihan, jangan kentut besar besar" ucap Nindya serius


"Mamah kentut besar cuma di dekat anak anak mamah aja ha...ha..." ucap mamah Indah sambil tertawa.


"Ya sudah aku tutup telponnya hari Sabtu tinggal sebenar lagi, meskipun ga boleh repot repot tetap harus menyiapkan Nin agar tidak mengecewakan tamu, apalagi tamu spesial... " ucap mamah Indah selanjutnya


"Pakai telur" ucap mamah Indah lagi lalu menutup sambungan telponnya dan selanjutnya sudah tentu memberi tahu pada papah Mahendra tentang berita bahagia.


Sedangkan Nindya meletakkan hapenya setelah sambungan telpon dengan Mamahnya terputus. Matanya menatap pada kalender yang terpasang di dinding kamar. Tidak lama lagi memang hari Sabtu, pantas mamah Indah bingung. Nindya lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya kemudian merebahkan tubuhnya untuk pergi ke alam mimpinya berharap semua berjalan lancar.


Namun tiba tiba ada suara pesan masuk di hapenya. Nindya kembali berjalan ke meja belajarnya dan mengambil hape lalu membuka aplikasi dan melihat ada pesan masuk dari Bram.

__ADS_1


"Nin, tiket pesawat sudah dipesankan, rencana kamu dijemput di kampus langsung ke bandara"


Nindya lalu mengetik jawaban


"Iya Mas, aku ga mandi mandi dulu"


ting pesan terkirim. Tidak lama kemudian ada tiga pesan balasan dari Bram


"Tidak usah, kamu tetap harum ha...ha..."


"Sudah ya selamat tidur... Aku tidak sabar menunggu hari Sabtu... week end bersama keluarga dan calon istri tercinta"


"Have a nice dream my dear"


Nindya lalu menaruh hapenya dan kemudian berjalan ke tempat tidur dan sekarang benar benar bisa tertidur.


***


Detik berganti detik menit berganti menit jam berganti jam, hari berganti hari. Hari Sabtu yang dinantipun tiba.


Nindya sajak pagi sudah menyiapkan semua yang akan dibawanya. Tidak lupa juga sudah menghubungi mamah Indah tentang kesiapan mamah dan papahnya.


Nindya berjalan ke kamar Lilian sahabatnya. Nampak Lilian sedang bersih bersih kamarnya.


"Nin, jadi nanti berangkat habis pengamatan?" tanya Lilian saat Nindya sudah berada di depan pintu


"Iya Li, mau dijemput di kampus" jawab Nindya sambil berjalan masuk ke kamar Lilian


"Aku deg deg an dech Li, gimana nanti ya aku kuatir kalau sikap mamah membuat orang tua mas Bram ilfil" ucap Nindya sambil duduk di tempat tidur Lilian


"Tenang aja Nin, ingat pesan ibu kost dulu kan?" tanya Lilian menenangkan Nindya


"Iya Li, doain ya semoga semua bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing masing " ucap Nindya


"Aaminnnn semoga berjalan lancar Nin" doa tulus Lilian pada sahabatnya


"Aku sebenarnya pengen ikut Nin tapi enggak enak lah meskipun aku sahabat kamu dan mas Bram tapi aku kan tetap orang luar bukan termasuk keluarga" ucap Lilian yang sudah duduk di samping Nindya


"Iya Li, besuk kalau lamaran resmi harus datang, ha...ha... Kemarin aku dan mas Bram itu ga tahu tahapannya, yang sekarang ini baru perkenalan melihat keluargaku" ucap Nindya sambil tertawa kecil


"O ya, besuk kalau lamaran resmi kak Tedy juga akan pulang, kamu dapat salam khusus dari kak Tedy, Li" ucap Nindya lagi sambil tersenyum menatap serius pada Lilian sahabatnya

__ADS_1


__ADS_2