
"Mbak Lilian ya?" tanya Erlangga lagi sebab Lilian hanya diam saja
"Lupa ya aku Erlangga" ucap Erlangga sambil mengulurkan tangannya ke depan tubuh Lilian namun tiba tiba
"Aku Tedy" ucap Tedy sambil menyaut tangan Erlangga untuk berjabat tangan, sebelum Lilian menyambut tangan Erlangga. Dan Tedy tidak melepas tangan Erlangga. Nampak Erlangga menatap wajah Tedy dengan pandangan mata yang sulit diartikan sedangkan Tedy nampak tersenyum. Lalu mereka melepas jabatan tangannya.
"Aku dulu yang mengantar mas Bram ke kantor polisi saat mengurus kecelakaan temannya yang di gunung itu kita pernah ketemu... " ucap Erlangga kemudian sambil menatap Lilian
"Iya saya ingat, sudah jangan dibahas lagi masalah itu" ucap Lilian dengan ekspresi wajah murung
"Ehmmm maaf" ucap Erlangga kemudian
"Btw mbak Lilian tambah cantik, dan maaf kalung dan liontinnya sangat menarik, kalau boleh lihat coba dibalik liontinnya aku pengen lihat simbolnya" ucap Erlangga berusaha mengalihkan pembicaraan yang tidak disukai Lilian. Lilian nampak menunduk sambil memegang liontinnya dan membalikkan liontin tersebut, karena dia sendiri tidak tahu jika ada simbol di belakang liontinnya sehingga dia juga merasa ingin tahu simbol apa.
"Jangan dekat dekat kamu melihat liontinnya" ucap Tedy posesif pada Lilian sambil mendorong pelan dada Erlangga
"Maaf mbak Lilian dapat dari mana kalung dan liontin ini, kalau melihat simbolnya ini kalung limited edition hanya orang orang tertentu bisa mendapatkannya?" tanya Erlangga setelah melihat simbol di belakang liontin Lilian. Dan nampak Tedy senyum dikulum.
"Dari Nindya" jawab Lilian
"Mbak Nindya?" tanya Erlangga sambil mengeryitkan dahinya, dan nampak Lilian hanya mengangguk
"Dari mana mbak Nindya mendapatkan kalung dan liontin ini?" gumam Erlangga
"Memangnya kenapa?" tanya Lilian
"Mungkin Nindya beli atau dikasih mas Bram" ucap Lilian kemudian
"No... its impossible, ini sangat mahal ini dibuat hanya untuk pameran saja yang bisa mendapatkan barang ini hanya orang orang kalangan atas atau kalau tidak orang orang terdekatnya Angel si designer, Bram dan Nindya belum kenal dengan Angel" ucap Erlangga
"Mungkin mas Bram yang membelikan" ucap Lilian lagi
"Ach mas Bram baru pebisnis pemula, aku kira dia masih pikir pikir untuk beli ini he..he... ya sudah lah nanti aku tanya mas Bram" ucap Erlangga ambil tersenyum sedangkan Lilian malah penasaran dengan kalung dan liontin yang dipakainya kalau memang sangat mahal kenapa Nindya kasih ke dia. Sedangkan Tedy hanya menyimak pembicaraan mereka sambil terus waspada. he...he..
__ADS_1
"Mbak Lilian boleh aku minta nomer kontak mbak Lilian?" tanya Erlangga dengan hati hati
"Buat apa?" saut Tedy
"Ehm.. kalau tidak boleh tidak apa apa, aku bisa minta pada mas Bram" ucap Erlangga sambil tersenyum.
"Okay aku kembali ke kursiku, senang bisa bertemu dengan kalian" ucap Erlangga kemudian lalu bangkit berdiri. Nampak Lilian dan Tedy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap Erlangga yang sudah melangkah meninggalkan mereka. Sementara itu Lilian ingin segera menemui Nindya untuk bertanya perihal kalung dan liontinnya namun terlihat Nindya masih sibuk berbincang bincang dengan keluarga Mahendra dan keluarga Bharata.
"Kenapa kok sepertinya gelisah, tertarik pada Erlangga?" tanya Tedy sambil menatap Lilian yang nampak duduknya terlihat gelisah
"Acaranya masih lama apa Kak?" jawab Lilian dengan berganti bertanya
"Lilian sudah pengen ganti baju" ucap Lilian kemudian
"Acara sudah selesai, cuma masih menghormati keluarga Bharata kita masih di sini, sabar ya" ucap Tedy
"Mau minum lagi atau pengen makan apa aku ambilin" ucap Tedy menawarkan bantuan. Nampak Lilian hanya menggelengkan kepalanya.
Namun tiba tiba mereka semua yang berada di ruangan tersebut tertawa terbahak bahak karena melihat tingkah lik Marni dan mbah Girah yang sedang tik tok an. Lilian dan Tedy pun akhirnya mengarahkan pandangannya pada tingkah mbah Girah dan lik Marni. Mau tak mau Lilian dan Tedy pun tertawa melihat tingkah kocak mbah Girah.
"Iya mbah bisa dilihat seluruh dunia, tidak hanya orang se pasar ha... ha... ha..." ucap Bram menggoda
"Ayo mas Bram kita tik tok an berdua" ajak Mbah Girah sambil menarik tangan Bram, dan yang lain tertawa melihatnya.
"Ayo Ni mana hape mu" pinta mbah Girah, namun lik Marni tidak memberikan hapenya pada mbah Girah
"Nanti aku dimarahi Nindya, mbah Girah tik tok an sama mbah Karto saja, aku pinjam hape ku" ucap lik Marni
"Yo gak opo opo, ayo mbah Karto kita tik tok an berdua" ajak Mbah Girah yang sekarang menarik tangan mbah Karto.
Waktu terus bergulir hingga malam tiba akhirnya keluarga Bharata mohon diri, mereka semua akan kembali ke hotel untuk istirahat sekaligus mohon diri karena besok akan kembali ke rumahnya masing masing. Kecuali Bram yang akan ikut pulang dengan rombongan Nindya dan Mak, Sebab Mak tetap ingin naik kereta api, meskipun dijelaskan panjang lebar tetap takut jika naik pesawat terbang.
"Aku nginap di hotel, tapi besok kembali ke Yogyakarta kita sama sama naik kereta api" pamit Bram pada Nindya. Nindya mengangguk dan tersenyum bahagia sebab besok kembali ke Yogyakarta ditemani kekasih hati.
__ADS_1
Setelah mobil hotel yang menjemput keluarga Bharata menghilang dari pandangan mata mereka, mereka berjalan menuju ke kamarnya masing masing.
Nindya berjalan menuju ke kamarnya tanpa memakai sandal hak tingginya, karena sudah lelah kakinya. Tidak lama kemudian Lilian menyusul Nindya, Lilianpun berjalan tanpa alas kaki, sandal hak tingginya ditenteng dengan tangan kirinya. Padahal Tedy sudah siap siap akan mengandeng tangannya lagi. Terlihat ekspresi kecewa di wajah Tedy.
"Capek ya Nin?" tanya Lilian saat sudah memasuki kamar Nindya. Terlihat Nindya sudah membongkar riasannya.
"Lumayan tapi puas Li, acara berjalan lancar" jawab Nindya
"Nin boleh aku tanya" ucap Lilian serius sambil menatap wajah Nindya di pantulan cermin rias.
"Boleh lah apa sih yang ga boleh buat Lilian tersayang" jawab Nindya sambil masih sibuk membongkar riasannya
"Apa kamu atau mas Bram kenal sama designer kalung dan liontin ini?" tanya Lilian sambil memegang liontin yang masih menempel di tubuhnya.
"Ehmmm, emang kenapa?" jawab Nindya balik bertanya
"Kamu itu tidak menjawab malah balik bertanya" ucap Lilian lalu duduk di tepi tempat tidur Nindya, sekarang Lilian ikut membongkar riasannya.
"Kalau kenal kenapa kalau tidak kenal kenapa ha...ha...?" tanya Nindya lagi sambil tertawa menatap Lilian
"Ini kalung dan liontin spesial Nin, kenapa kamu kasih ke aku" ucap Lilian
"Karena kamu juga spesial Li" ucap Nindya yang sekarang sudah bangkit berdiri di depan Lilian sambil menoel kedua pipi Lilian.
"Kata Erlangga tidak mungkin kamu atau mas Bram bisa mendapatkan kalung dan liontin ini" ucap Lilian kemudian dan nampak Nindya terkejut dengan apa yang diucapkan Lilian.
"Kok bisa begitu" gumam Nindya
"Nah kamu malah tidak tahu kan, seperti yang ku bilang tadi ini barang spesial limited edition hanya untuk pameran harganya mahal" ucap Lilian
"Kamu dapat dari mana?" tanya Lilian kemudian sambil menatap Nindya
"Li, kalau aku jujur siapa yang ngasih kalung dan liontin ini apa kamu masih menyukai barang ini dan tidak menolak pemberiannya?" tanya Nindya menghadap wajah Lilian sambil memegang kedua pundak Lilian. Lilian hanya diam saja sambil berpikir menduga duga siapa yang memberi kalung dan liontin yang dipakainya, kemungkinan yang disampaikan Erlangga adalah orang kalangan atas atau teman dekat Angel si designer. Lilian nampak berpikir pikir lalu...
__ADS_1
"Yang ngasih tulus tidak pamrih kan Nin?" tanya Lilian pelan