Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
62. Week end 3


__ADS_3

"Pelan pelan minumnya ga ada yang akan merebut he...he." ucap Bram pelan sambil membelai lembut salah satu pipi Nindya dengan salah satu punggung jarinya. Perlakuan Bram malah membuat Nindya grogi, tidak mau tersedak lagi Nindya menaruh minumannya.


"Tuh mas sudah mulai filmnya" ucap Nindya sambil menepis tangan Bram. Bram menatap Nindya sambil tersenyum lalu pandangan matanya beralih pada layar lebar.


Mereka berdua mulai menikmati sajian film di depan nya. Berkali kali Nindya dan Bram tertawa lepas saat melihat adegan yang terlalu lucu. Berkali kali juga Bram mengacak rambut Nindya sebagai pelampiasan gemasnya.


"Mas... Bram.. lihat rambutku" ucap Nindya sedikit keras mengalahkan tawa Bram saat menyadari rambutnya sudah sangat teramat berantakan. Seketika Bram menoleh ke arah Nindya, namun spontan Bram malah memegang kepala Nindya dan mencium pipinya dengan gemas karena melihat hasil karyanya.


Dan tentu saja mendapat deheman peringatan dari penonton di sebelah belakangnya.


Bram lalu menoleh ke belakang pada penonton yang memberi deheman


"Maaf bukan mesum hanya gemes aja" ucap Bram lalu kembali menghadap ke wajah Nindya. Terlihat Nindya mulai merapikan rambutnya.


Bram menatap Nindya sambil tersenyum


"Untung film komedi kalau film horor aku tadi menjerit histeris kaget melihat seperti tadi di sampingku ha ha...." ucap Bram sambil tertawa


"Ihhh ... " ucap Nindya sambil mencubit lengan Bram


"Kan hasil kelakuan mas Bram" ucap Nindya kemudian


Mereka lalu kembali menikmati film yang ditonton namun Nindya memegang erat tangan Bram sebagai perlindungan terhadap rambut indahnya.


Hingga tak terasa film yang ditonton selesai, lampu gedung bioskop mulai menyala. Bram menoleh menatap pada wajah Nindya


"Apa" ucap Nindya sambil menatap Bram


"Ga apa apa he...he... rambut rapi" ucap Bram sambil merapikan rambut Nindya yang sudah rapi.


"Yuk.." ajak Bram sambil menganggukkan kepala. Akhirnya mereka berdua bangkit berdiri dan berjalan menuju keluar gedung.


Bram selalu menggandeng tangan Nindya kuatir terlepas dan terjarak oleh para penonton lain yang juga mulai berjalan keluar gedung.


Sesampai di.luar gedung bioskop di tempat yang lumayan lenggang


"Mau ke mana kita selanjutnya?" tanya Bram sambil menoleh ke arah Nindya dengan masih melangkahkan kaki keduanya.


"Pulang aja ya mas" jawab Nindya


"Ga pengin jalan jalan?" tanya Bram lagi


"Mas Bram pengen kemana?" ucap Nindya balik bertanya

__ADS_1


"Kemana aja, asal sama kamu" jawab Bram sambil mengeratkan genggaman tangannya


Mereka sudah berjalan semakin menjauh dari lokasi gedung bioskop sekarang mereka berjalan di depan area toko toko pakaian bermerk.


"Masuk yuk Nin" ucap Bram saat berada di depan toko baju wanita


"Mau beliin siapa?" tanya Nindya sebab dia tidak ada rencana beli baju


"Ada dech..." jawab Bram sambil sedikit menarik tangan Nindya untuk masuk ke toko tersebut


Nindya hanya mengikuti langkah Bram, Nindya berjalan tanpa ekspresi dia tidak melihat lihat pakaian yang berada di toko tersebut malah melihat Bram yang sepertinya sedang mencari sesuatu.


Saat berada di depan baju yang nampak cantik, elegan dan sopan Bram berhenti di depan baju tersebut. Teihat Bram memegang megang seperti melihat lihat bahannya


"Bagus ga Nin?" tanya Bram tidak lepas matanya mengamat amati baju tersebut.


"Bagus" jawab Nindya malas


Bram merasakan nada suara Nindya kemudian Bram menoleh ke arah wajah Nindya, dilihatnya Nindya malah mengusap usap hape tidak melihat baju tersebut.


"Kamu ga lihat kok bisa bilang bagus" ucap Bram sambil menutup layar hape Nindya dengan tangannya.


"Mas Bram ini baru balas chattingan Lilian" ucap Nindya dengan menarik hape nya agar aman dari gangguan tangan Bram.


"Apa menurut mas Bram, bajuku yang sudah ada tidak layak untuk menemui orang tua mas Bram" ucap Nindya dengan suara dingin


"Bukan begitu maksudku Nin" ucap Bram sambil memegang punggung Nindya. Bram terlihat bingung bagaimana menjelaskan


Sejenak nampak kedua anak manusia itu mematung diam tak bersuara. Nindya lalu nampak menyibukkan diri dengan hapenya lagi.


Sesaat dengan itu nampak pelayan toko mendatangi mereka berdua, sepertinya bertanya apa memerlukan bantuannya.


"Nin"


"Hmmm"


"Kalau kamu ga suka ya sudah" ucap Bram seperti nya ucapannya terdengar oleh pelayan toko, hingga pelayan toko menawarkan model baju yang lain, pelayan tersebut terlihat tangannya menunjukkan beberapa baju model yang lain.


"Aku ga ada dana buat beli baju ini" ucap Nindya kemudian.


"Tapi kamu mau?" tanya Bram penuh harap. Dan dijawab dengan anggukan pelan oleh Nindya karena Nindya tidak tega melihat ekspresi wajah Bram.


"Tapi aku ga enak mas" ucap Nindya pelan

__ADS_1


"Santai aja, anggap sebagai hadiah kamu nginjak nginjak tadi ha...ha...' ucap Bram


"Ya udah aku injak injak tiap hari ya" ucap Nindya kemudian dan dijawab tawa oleh Bram.


Selanjutnya setelah mengepas baju dan mendapatkan yang sesuai mereka berjalan keluar toko dan tentunya setelah membayar.


"Kapan kamu mau pakai baju ini untuk ke rumahku?" tanya Bram sambil berjalan


Nindya hanya diam saja sambil melangkahkan kakinya di samping Bram. Sejujurnya Nindya merasa takut untuk bertemu dengan orang tua Bram, terutama ibunya Bram yang menurut cerita Lilian ibunya Bram termasuk jenis orang sulit.


"Denger enggak sih?" tanya Bram sambil menoleh ke arah Nndya


"Ga tahu" jawab Nindya


"Nanti malem apa?" tanya Bram


"Jangan sekarang mas, aku perlu menyiapkan mental dan batin he..he.." jawab Nindya berusaha menyembunyikan ketakutannya


"Santuy aja... kayak biasanya kamu ke rumahku ketemu Mak dan pak Man" ucap Bram


"Ya tetep beda donk" jawab Nindya dan mereka masih terus berjalan berdampingan.


Tak terasa mereka sudah berada di pintu keluar mall.


"Nin, terus kemana kita?" tanya Bram


"Pulang aja ya mas, ke kost" jawab Nindya.


Mereka lalu berjalan menuju ke tempat parkir motornya. Lalu mereka berdua melaju di atas motornya menuju ke tempat kostnya.


Hari sudah mulai sore mereka sampai di kost, setelah mengantar Nindya, Bram menuju ke kostnya. Mereka berdua membersihkan diri di tempat nya masing masing.


Menjelang makan malam, Bram berjalan menuju ke kost Nindya, setelah mendapat pesan undangan makan malam dari Nindya.


Mereka berdua makan di teras kamar Nindya dengan makan malam masakan Nindya. Setelah makan malam selesai terlihat Ibu kost menghampiri mereka berdua.


"Nin" sapa ibu kost saat sudah mendekat dengan Nindya yang duduk di sebelah Bram


"Ya Bu, ada apa?" ucap Nindya dengan sedikit kuatir


"Kalau kalian mau ayok ngobrol ngobrol di dalam, ibu hanya sendiri anak anak ibu tidak pulang" ucap Ibu kost itu kemudian. Ya ibu kost Nindya suaminya sudah meninggal sedangkan anak anaknya sudah berkeluarga tinggal di luar kota, yang terkadang pulang menjenguk ibunya saat week end.


Terlihat Nindya memandang ke arah Bram untuk meminta persetujuan, dan dijawab anggukan kepala oleh Bram. Mereka bertiga lalu berjalan menuju ke rumah induk, dan terlihat memasuki ruang keluarga.

__ADS_1


__ADS_2