Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
148. Kecurigaan dua sahabat


__ADS_3

“Lek.. Lek.. hos ... hos... “ ucap Bali lagi sambil menoel noel tangan Nindya, dengan tubuh mungilnya yang bergerak gerak naik turun maju mundur. Namun Nindya hanya menganggukkan kepalanya saja pikirannya masih sibuk memikirkan Tedy dan Lilian.


“Lek.. Lek.. Hos.. hos.. “ ucap Bali lagi kali ini dia mencubit kecil tangan Nindya. Dan Nindyapun terlonjak kaget


“Hai... kamu cubit aku ya, kucubit pipimu nih” ucap Nindya sambil mencubit gemas kedua pipi Bali.


“Hos.. hos...” ucap Bali sambil menggerak gerakkan tubuh mungilnya


“Ooo mau digoyang goyang" ucap Nindya sambil mengoyang goyangkan kuda kudaannya. Terlihat Bali mengangguk mantap. Sekarang tampak dia tertawa tawa bahagia lagi. Namun tidak lama kemudian terlihat mamah Indah berjalan dari kamarnya menuju ke tempat mereka berdua berada.


“Nin sekarang giliranmu luluran, biar Bali aku jaga" ucap mamah Indah


“Dimana daddy dan mommynya?” tanya mamah Indah setelah mendekat


“Kak Alvin di ruang tamu sedang rapat on line dengan EO dan keluarga Bharata. Mommynya sedang ngecek belanjaan” jawab Nindya yang masih menggoyang goyang kuda kuda an Bali. Dan selanjutnya bangkit berdiri. Sekarang mamah Indah yang berada di dekat Bali.


“Mainannya bagus" ucap mamah Indah sambil memegang kuda kuda an Bali


“No... No... hos.. hos...” ucap Bali dengan mimik wajah marah sambil memeluk kuda kudaannya.


“Iya iya hos” ucap mamah Indah


“Hust.. hust....” ucap Bali kemudian dengan tangan mungilnya mengibas ngibas sebagai kode agar mamah Indah pergi, dan selanjutnya menutup hidungnya dengan tangan mungilnya. Mamah Indah yang merasa tubuhnya berbau jahe kencur karena habis pareman langsung tersenyum kecut. Gemes pengen mencium cucunya namun diurungkan niatnya karena pasti akan nangis kejer. Akhirnya mamah Indah berjalan mencari keberadaan menantunya.


Akhirnya Bali ditemani dengan Victoria sedangkan mamah Indah hanya bisa melihat keceriaan Bali sambil duduk di sofa agak jauh dari tempat Bali, sebab bila dekat sedikit saja sudah diusir sambil menutup hidungnya dengan tangan mungilnya.


Hingga sore hari Bali masih setia duduk di kuda kudaannya. Sedangkan Tedy dan Lilian juga belum sampai di rumah. Mamah Indah sedikit tenang karena tahu keberadaan mereka, namun tidak dengan Nindya dia masih berpikir pikir kenapa kakaknya dan Lilian pergi ke hotel.


Nindya yang sudah selesai luluran kembali menemani Bali. Bocah itu tidak mengusir Nindya dan tidak menutup hidungnya. Malah mencium cium aroma tubuh Nindya.


“Lek... Lek.... gut.. gut...” ucapnya sambil mengangguk angguk kan kepalanya.


Namun tiba tiba terdengar suara ketukan pintu depan. Semua kepala menoleh ke arah depan. Alvin yang sudah selesai rapat on line dan masih duduk di ruang tamu. Langsung membukakan pintu. Dan setelahnya tampak Tedy dan Lilian yang datang kemudian Alvin dan Tedy berpelukan dan terdengar suara Alvin dan Tedy saling sapa melepas rindu. Dan setelah Alvin berkenalan dengan Lilian.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ke ruang keluarga.

__ADS_1


Tedy dan Lilian langsung menemui mamah Indah meminta maaf lalu cium tangan. Dan sudah bisa dipastikan mereka berdua bersin bersin karena aroma jahe di tangan mamah Indah masih menyengat.


Setelah menyalami mamah Indah kemudian mereka menyalami Victoria. Dan selanjutkan Tedy dan Lilian jongkok di depan Bali.


“Hallo Bali.... a nice girl..” ucap Tedy sambil mengacak acak puncak kepala Bali dan tampak Bali tersenyum malu malu


“Itu Lik Tedy" ucap Alvin sambil menatap Bali dan Tedy bergantian


“Lek..Lek... “ ucap Bali sambil tersenyum


“Hello Bali... ini aunty Lilian” ucap Lilian sambil tersenyum pada Bali dan mengusap usap lembut kepala Bali


“An...ti... “ ucap Bali sambil tersenyum


“Wah.. kalau sama Lilian bIsa nyebut aunty" ucap Nindya


“An...... ti.....” ucap Bali sambil mengulurkan kedua tangannya pada Lilian. Lilian yang paham lalu meraih tubuh Bali dan mengendongnya. Tampak Bali menyandarkan kepalanya di dada Lilian.


“Milk....milk... clip...clip...” ucapnya pelan di dalam gendongan Lilian.


“Ha... ha... sana Li dibawa ke kamar" ucap Nindya


“Apa?” tanya Tedy kepo


“Bali minta milk clip Lilian" jawab Nindya


“Hei jangan Li... kasih ke mommy nya Li" ucap Tedy karena tahu istilah milk clip dari obrolan grub chatting keluarga


“Ini pasti karena tingkah daddynya jadi ditiru anaknya" ucap Tedy sambil menatap Alvin


“Enggak ya, dia tidur di box sendiri" jawab Alvin sambil menatap Victoria. Victoria yang ditatap terlihat malu kemudian berjalan untuk mengambil alih Bali dari gendongan Lilian.


“Li, ayo naik ke atas kamarku pindah di atas" ucap Nindya mengajak Lilian untuk beristirahat di kamarnya. Tedy yang mendengar kamar Nindya pindah di atas terlihat tersenyum. Dia senang berarti Lilian juga tidur di lantai dua, kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Bila ada keperluan tidak perlu naik turun.


Terlihat Lilian dan Nindya berjalan menuju ke lantai dua. Sedangkan Tedy tampak masih berbincang bincang dengan kakaknya Alvin dan mamah Indah untuk melepas rindu.

__ADS_1


“Kamar pengantin nih, ada tirai di tempat tidurnya. Kok jadi aku ikut tidur di sini Nin, kasihan mas Bram sudah aku pakai tempat tidurnya" ucap Lilian saat memasuki kamar baru Nindya


“Heleh itu ide Lik Marni katanya kuatir kalau diintip kak Tedy, karena kamar bersebelahan” ucap Nindya sambil menaruh tas Lilian.


“Kata mas Bram nanti setelah resepsi kami istirahat di hotel dekat gedung pertemuan tersebut. Keluarga mas Bram kan juga nginap di sana" ucap Nindya selanjutnya


“Btw kamu tambah cantik dech Nin seger kinclong tubuh berisi" ucap Lilian sambil duduk menatap Nindya


“Tambah gemuk ya Li?” tanya Nindya


“Bukan gemuk sih seger berisi, bagus kok" puji Lilian


“Habis luluran tadi, aku mandi dulu ya...” ucap Nindya


“Nin aku capek tiduran boleh ga, takutnya ngotori sprai pengantin” ucap Lilian sambil tersenyum


“Tiduran aja Li, santai saja” jawab Nindya. Sebenernya Nindya mau tanya Lilian capek kenapa, namun diurungkan karena ia keburu mau mandi.


“Capek karena perjalan apa capek karena apa dia" gumam Nindya dalam hati lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Karena tadi sudah dipesan mamah Indah untuk membantu Lik Marni menyiapkan makan malam.


Acara makan malam di keluarga Mahendra kali ini sangat meriah, mamah Indah dan papah Mahendra terlihat sangat bahagia semua anaknya ngumpul. Apalagi jika ada Bram pasti lengkap kebahagiaannya.


Setelah selesai makan malam dan acara berbincang bincang di ruang keluarga. Mereka membubarkan diri untuk pergi ke kamarnya. Namun Bali sudah tepar lebih dulu sejak setelah makan malamnya yang lebih awal.


Nindya dan Lilian tampak berjalan menuju ke kamarnya dan diikuti oleh langkah kaki Tedy yang berjalan di belakangnya.


“Li kalau kamu mau tidur, tidur duluan saja aku masih mau chattingan dengan mas Bram” ucap Nindya saat sudah masuk kamar, kemudian dia duduk di kursi sambil mengusap usap hapenya.


“Iya Nin" jawab Lilian lalu berjalan menuju ke tempat tidur.


Namun Lilian belum bisa tidur, dia berkali kali melihat Nindya yang masih asyik dengan hapenya.


“Nindya kok lama banget ga tidur tidur, apa dia mau video call an dengan mas Bram ya, nunggu semua orang tidur dulu.” Gumam Lilian dalam hati.


Sementara itu Nindya yang masih asyik berkomunikasi dengan Bram, sesekali melihat ke arah Lilian yang tampak Lilian belum tidur.

__ADS_1


“Lilian kenapa belum tidur ya, apa mau ketemuan dengan kak Tedy nunggu semua tidur dulu.” Gumam Nindya dalam hati


__ADS_2