Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
178. Pertunjukan Dadakan


__ADS_3

Bram masuk ke dalam mobil Tedy. Lalu dia mengambil hapenya niat untuk menghubungi Arum diurungkan. Padahal nama kontak Arum sudah terpampang di layar hapenya.


Bram lalu jarinya mencari nama kontak sekretaris pribadi Arum. Setelah menghubungi sekretaris pribadi Arum, Bram menyuruhnya untuk segera menemui Arum dan menemani Arum. Rumah sekretaris pribadi Arum tidak jauh lokasinya dari rumah Arum. Memang dibuat seperti itu agar bila perlu sewaktu waktu bisa segera datang.


Setelah dipastikan sekretaris pribadi Arum sudah otw ke rumah Arum. Bram baru melakukan sambungan telpon ke Arum. Bram tidak ingin jika Arum dalam kondisi emosi hanya seorang diri atau hanya dengan asisten rumah tangga yang terkadang masih sibuk di belakang.


“Halo Mas.” Sapa Arum.


“Rum, aku mau bicara dengan Johan.” Ucap Bram


“Mas Bram mau ngeprank aku.” Ucap Arum


“Tidak, beneran Rum aku pengen bicara dengan Johan.” Ucap Bram dengan nada serius.


“Mas Bram, bukannya mas Bram yang memanggil mas Johan untuk menemui Mas Bram katanya ada hal urgen yang harus dibicarakan.” Ucap Arum


“Oooo.. “ gumam Bram, dia jadi paham kalau Johan berbohong pada Arum dengan memakai namanya.


“Coba sekarang kamu hubungi Johan lewat video call.” Ucap Bram pada Arum.


“Okey aku tutup dulu akan ada hal panting yang harus aku lakukan.” Ucap Bram kemudian.


Setelah sambungan telpon dengan Arum sudah terputus. Bram lalu turun dari mobil Tedy. Terlihat Tedy sudah menutup kap mesin mobil.


“Sudah beres Bro.” Ucap Tedy yang masih berdiri setelah menutup kap mesin mobil.


“Sialan anak itu Bro, ayo kita ikuti dia ke dalam.” Ucap Bram saat sudah berada di dekat Tedy


“Ayo, kita parkir mobil di tempat parkir restoran biar mobil ku tidak diderek.” Ucap Tedy lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya juga diikuti oleh Bram.


Tedy menyalakan mesin mobilnya, benar mobil sudah beres bisa berjalan normal. Tedy menjalankan mobilnya menuju ke tempat parkir restoran. Setelah mobil terparkir mereka berdua turun dan berjalan masuk ke dalam restoran.


“Sabar ya Bro, ingat pesan bapak Bharata jangan pakai kekerasan.” Ucap Tedy sambil merangkul pundak Bram.


“Nanti kalau aku emosi kakak ipar ingatkan aku ya.” Ucap Bram.


Mereka berdua sudah memasuki restoran. Bram berjalan menuju ke sekuriti dia menunjukkan id card nya dan berkata pada sekuriti kalau dia akan menjebak penipu dengan tidak membuat keributan. Setelah sekuriti menyetujui dan siap membantu. Bram lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang tadi dilihatnya. Namun nihil dia tidak menemukan.


“Kok tidak ada Bro.” Gumam Tedy.

__ADS_1


“Coba kita naik ke lantai atas.” Ucap Bram yang sudah pernah berkunjung ke restoran tersebut.


Bram dan Tedy lalu berjalan menuju ke pintu lift. Setelah masuk di dalam lift Bram memencet tombol nomer tiga.


“Kenapa langsung lantai tiga Bro?” tanya Tedy.


“Hanya fillingku saja dia di sana.” Ucap Bram.


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan menunjukkan sudah berada di lantai tiga. Bram dan Tedy kemudian berjalan keluar.


“Yang ini lantai Vip ya Bro?” tanya Tedy sambil kagum melihat interior indah di restoran lantai tiga tersebut.


“Itu orangnya di meja sana.” Ucap Bram saat sudah menangkap sosok yang dicarinya.


“Kita ambil meja yang tidak jauh dari mereka tanpa mereka sadari.” Ucap Bram sambil terus berjalan menuju ke meja yang tidak jauh dari meja Johan.


“Bro jadinya tidak jadi ke kedai kopi.” Ucap Tedy sambil tersenyum. Bram hanya diam saja.


“Jangan banyak bicara biar tidak menarik perhatian mereka.” Ucap Bram kemudian.


Setelah mereka berdua duduk tidak lama kemudian pelayan restoran mendatangi mereka berdua. Setelah memesan menu. Tampak Tedy yang duduk menghadap ke meja Johan merekam dengan kamera miliknya secara diam diam. Sedangkan Bram tampak menulis pesan teks untuk Arum menanyakan apa sudah menghubungi Johan. Dan dijawab Arum, Johan tidak bisa dihubungi katanya sedang meeting penting dengan Bram dan beberapa kolega.


“Aku mau mulai ke sana, kakak tetap di meja sini.” Ucap Bram lalu bangkit berdiri.


“Siap Bro.” Ucap Tedy.


Bram berjalan pelan pelan menuju ke meja Johan.


“Selamat malam, saking asyiknya kalian tidak melihatku berada di belakang kalian.” Ucap Bram saat sudah berada di dekat mereka berdua.


“Mas Bram.” Ucap Johan dan perempuan yang tidak lain adalah Devina. Terlihat mereka berdua tampak kaget melihat Bram di depannya.


“Sekarang kamu mau bilang apa?” tanya Bram sambil menatap Johan


“Perusahaan sedang bermasalah kamu malah melarikan diri dan berbohong pada istri.” Ucap Bram sambil menatap tajam Johan sebenarnya tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran. Namun dia benar benar menahan emosinya.


“Mas, aku ....” ucap Johan yang berusaha mencari alasan.


“Tidak perlu mencari cari alasan.” Potong Bram.

__ADS_1


“Mas... aku dan Johan tidak sengaja tadi ketemu di depan aku sedang mau menunggu Om Tony.” Ucap Devina sambil berdiri dan memegang pundak Bram. Bram langsung menepis tangan Devina dengan kasar. Terlihat Devina meringis menahan sakit. Lalu dia kembali duduk sambil mengusap usap sendiri tangannya.


“Kalian berdua ya sudah tega mengkhianati istri dan sahabat sendiri.” Ucap Bram yang cukup keras sehingga menarik perhatian pengunjung lainnya.


Dan tiba tiba..... terdengar suara tepuk tangan tiga kali, dan terlihat Tedy bangkit berdiri setelah bertepuk tangan. Lalu....


“Mohon sedikit perhatiannya sodara sodara semua lihatlah wajah mereka berdua jangan sampai ya berurusan dengan mereka berdua para penghianat.” Ucap Tedy selanjutnya dengan tangan masih memegang kameranya untuk merekam mereka.


Tampak Johan mau berdiri, namun tubuhnya langsung didorong Bram untuk didudukkan lagi.


“Akan aku laporkan pencemaran nama baik.” Ucap Johan


“Silahkan kalau berani aku akan laporkan kamu sudah menyalahgunakan wewenang” ucap Bram kemudian sambil menatap Johan dengan tatapan membunuh. Terlihat Johan mau mengatakan sesuatu namun...


“Apa, aku sudah mengetahui perbuatan dan pengkhianatanmu.” Ucap Bram sebelum Johan mengeluarkan kata kata.


“Bukti bukti sudah ada.” Ucap Bram kemudian.


“Mas..” ucap Johan tidak berlanjut.


“Ayo turun dan bayar semua pesenanku” Saut Bram.


“Aku arak kalian berdua agar semua pengunjung restoran ini tahu.” Ucap Bram kemudian


“Ayo jalan dan bayar dulu semua.” Ucap Tedy sambil mendorong Johan dan Devina.


“Mas.. maaf..” ucap Johan sambil bangkit berdiri


“Tergantung Bapak dan Arum apa langkah selanjutnya. Yang jelas sekarang kamu harus bayar dan turun dan kakak ipar yang akan mengatur pertunjukan.” Ucap Bram sambil menyuruh Tedy terus merekam dan mulutnya terus mengumumkan kepada pengunjung telah menangkap dua orang pengkhianat.


Mereka turun tidak lewat lift namun lewat tangga, sehingga semua pengunjung bisa melihat mereka. Tampak Devina dan Johan jalan menunduk namun selalu diingatkan oleh Tedy agar tidak menunduk.


Setelah sampai di halaman restoran Tedy semakin keras suaranya dalam mengumumkan. Mereka terus berjalan sampai di tempat parkir. Dan ternyata Johan dan Devina masuk di dalam satu mobil yang dikemudikan oleh Johan. Jadi memang benar benar mereka berdua sudah janjian tidak seperti yang diomongkan Devina.


Bram mengusap wajahnya dengan kasar setelah mobil yang dikendarai Johan berjalan. Sedangkan Tedy masih merekam jalannya mobil Johan.


“Sudah Bro.” Ucap Bram sambil menepuk pundak Tedy.


“Pertunjukan dadakan usai.” Ucap Tedy sambil senyum menyeringai.

__ADS_1


"Iya nanti kita laporkan kepada Bapak dan Arum, biarlah mereka yang melanjutkan urusannya." ucap Bram kemudian dan tampak mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil Tedy.


__ADS_2