
Bram kembali duduk di sofa di dalam ruangan tersebut. Bapak Bharata yang masih di meja kerjanya sekilas melirik dan tersenyum. Bram mengambil hape nya lalu membuka aplikasi transport on line, selanjutnya memesan taxi on line, setelah mendapat driver. Bram mengambil tasnya lalu bangkit berdiri.
"Pak, Bram pamit pulang kost" ucap Bram sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bapak Bharata. Bapak Bharata mengulurkan tangannya, lalu Bram menjabat dan mencium tangan Bapaknya.
"Tumben kamu santun banget" ucap Bapak Bharata
"Mohon restu Pak, moga Nindya mau segera dilamar" ucap Bram sambil tersenyum
"Kamu pulang naik apa?" tanya bapak Bharata
"Taxi" jawab Bram lalu mulai melangkah menuju ke pintu
"Tidak naik bis?" tanya bapak Bharata sambil tersenyum menggoda.
"Sudah sore Pak, jalan ke halte jauh.. malam baru sampe kost belum ketemu Nindya sudah jam nya harus pulang rumah" jawab Bram sambil membuka pintu dan keluar, terdengar bapak Bharata tertawa kecil mendengar jawaban Bram.
"Bukannya kamu seneng jalan kaki Bram .. Bram.." ucap Bapak Bharata pada dirinya sendiri sambil geleng geleng kepala mengingat hobby Bram.
Sementara itu Bram berjalan menuju ke lantai satu terlihat taxi yang di pesan sudah masuk ke halaman kantor. Bram langsung berjalan menuju ke halaman, lalu masuk ke dalam taxi setelah taxi berhenti.
Bram menyandarkan punggungnya di sandaran jok. Lalu mengambil hape khususnya, dia melakukan panggilan pada Nindya. Sejak pagi belum melakukan komunikasi dengan Nindya begitupun tidak ada pesan masuk dan panggilan dari Nindya.
"Kok tidak diangkat sih" ucap Bram lirih yang terdengar oleh sopir taxi.
"Ada apa Pak?" tanya sopir taxi pada Bram
"Tidak apa apa, ini saya mencoba nelpon sesorang belum diangkat" jawab Bram
"Ooo" gumam sopir taxi
Bram beberapa kali melakukan panggilan tapi tetap tidak diangkat Nindya. Bram lalu melakukan panggilan pada nomer Lilian tapi sama saja beberapa kali tidak di angkat. Bram kembali melakukan panggilan ke nomer Nindya hasilnya sama saja.
",Apa mereka berdua pulang ke rumah Lilian" ucap Bram dalam hati
"Perjalanan sia sia bila mereka tidak di kost" ucap Bram lirih. Sopir taxi yang mendengar melihat Bram dari kaca spion depannya.
Bram nampak gelisah.
"Pak bisa tambah kecepatannya?" tanya Bram
"Bisa Pak, tapi jalan macet" ucap sopir taxi.
__ADS_1
Bram kembali lagi sibuk dengan hapenya beberpa kali melakukan panggilan pada Nindya dan Lilian secara bergantian namun tetap saja tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di depan warung Bu Sugeng. Setelah membayar taxi Bram turun tidak lupa dia sudah mengucapkan terimakasih dan memberi tip pada sopir taxi.
Bram langsung melangkah dengan cepat menuju ke kost Nindya, terlihat motor Lilian parkir manis di tempat parkir kost. Bram mengelus dadanya lega.
Bram berjalan menuju ke kamar Nindya terlihat tertutup rapat. Bram mengira Nindya tertidur, Bram menoleh ke arah kamar Lilian terlihat sama pintu tertutup rapat.
Bram mengetuk pintu pelan pelan, namun tidak ada perubahan yang terjadi pada pintu tersebut, masih tertutup rapat.
"Nin..Nin.." panggil Bram. Namun tidak ada jawaban.
"Mas Bram, mbak Nindya belum pulang sejak tadi" ucap tetangga kost Nindya pada Bram.
"Kalau mbak Lilian sudah pulang mungkin tidur" ucapnya lagi.
Bram nampak kuatir karena Nindya belum pulang dan tidak menjawab panggilan telponnya.
"Terimakasih" jawab Bram pada tetangga kost Nindya lalu Bram melangkah menuju ke kamar Lilian.
Sesampai di depan pintu kamar Lilian, Bram mengetuk pintu agak keras agar Lilian mendengar. Benar tidak berapa lama pintu Lilian terbuka nampak sosok Lilian dengan wajah terlihat habis bangun tidur.
"Mas Bram" ucap Lilian saat tahu yang di depannya Bram.
"Di mana Nindya?" tanya Bram
"Iya capek banget tadi kuliah full dan ada jadwal praktikum" jawab Lilian
"Nindya kenapa belum pulang?" tanya Bram lagi
"Masih ngasisten" jawab Lilian
"Jam berapa sekarang?" tanya Lilian yang ingat dia janji untuk menjemput Nndya. Terlihat Bram melihat jam di tangannya.
"Setengah enam lebih" jawab Bram
"Mas ku tinggal ya aku mandi dulu, aku janji jemput Nindya sebelum maghrip" ucap Lilian langsung berlalu menuju ke dalam kamar untuk bersiap mandi.
"Li, mana kunci motor mu, aku saja yang jemput" ucap Bram sedikit berteriak.
Lilian yang mendengar menghentikan langkahnya lalu berjalan menuju ke meja untuk mengambil kunci motornya.
__ADS_1
"Ini Mas" ucap Lilian sambil menyerahkan kunci motornya
"Mas Bram ga capek?" tanya Lilian
"Enggak, capek kalau nelpon berkali kali tidak ada yang ngangkat, capek hati" ucap Bram lalu membalikkan tubuhnya, berjalan menuju ke tempat parkir motor Lilian.
Lilian yang mendengar jawaban Bram paham lalu berjalan menuju ke mejanya dan melihat hape nya terlihat banyak panggilan tidak terjawab dari Bram. Lilian hanya bisa tersenyum. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Bram, setelah sampai di tempat parkir motor langsung menjalankan motor Lilian menuju ke kampus. Bram menjalankan motornya dengan kecepatan sedang selain jarak ke kampus tidak jauh jalanan menuju ke kampus tidak boleh ngebut.
Tidak lama motor sudah sampai di kampus, setelah memarkir motor, Bram langsung berjalan menuju ke laboratorium tempat Nindya bekerja. Nampak beberapa mahasiswa berjalan turun ke lantai bawah, mereka baru saja selesai praktikum. Beberapa mahasiswa yang berpapasan terlihat menatap Bram yang berjalan menuju ke lantai atas.
Tidak beberpa lama Bram sudah sampai di ruangan Nindya berada. Terlihat Nindya masih memakai jas lab nya yang berwarna putih, nampak Nindya sedang sibuk membereskan beberapa peralatan dengan dua orang teman sesama asisten dosen. Bram melihat dari luar pada ruangan yang berdinding kaca tersebut.
Sepertinya Nindya dan temannya tidak melihat keberadaan Bram. Bram lalu duduk di kursi di depan ruangan tersebut. Tidak berapa lama pintu kaca laboratorium terbuka nampak tiga orang berjalan keluar dari pintu teraebut.
"Mas Bram" teriak Nindya dengan nada kaget tapi dengan ekspresi wajah tersenyum senang.
"Nin aku duluan ya" pamit kedua teman Nindya karena terlihat Nindya ikut duduk di samping Bram.
"Iya iya.. hati hati ya.." ucap Nindya sambil melambaikan tangannya.
"Mas Bram kok sampai sini sih?" tanya Nindya
"Kangen pengen praktikum apa?" tanya Nindya lagi sambil terkikik
"Kangen praktikum gini nih..nih..." ucap Bram sambil memencet hidung Nindya dan menggoyang goyangkan pelan.
"Mas Bram...sakit..." teriak Nindya
Bram lalu melepas tangannya yang memencet hidung namun berpindah memeluk tubuh Nindya dari samping dan disandarkan pada tubuhnya.
"Capek ya?" tanya Bram sambil menepuk nepuk pelan lengan Nindya
"Kok tahu Mas?" tanya Nindya sambil pasrah di dalam pelukan Bram
"Tahu lah, aku nelpon kamu berjuta juta kali ga diangkat" ucap Bram
"He.. He maaf Mas dari pagi kegiatan sambung menyambung, maaf ya.." ucap Nindya menepuk nepuk paha Bram
"Ya sudah ayo pulang aku mau omong serius ke kamu" ucap Bram sambil melepas pelukannya di tubuh Nindya.
__ADS_1
"Omong apa sih, sekarang aja, aku kepo nih" ucap Nindya saat mereka sudah berdiri dan berjalan menuju ke lantai bawah. Dan Bram hanya diam saja sambil tersenyum dan mengandeng tangan Nindya.