
Dua pasang suami istri tersebut sudah berangkat menuju ke beautiful hill. Bapak Bharata yang sebenarnya ingin segera melihat sapi namun harus meredam keinginannya karena kemauan istrinya yang begitu menggebu untuk segera melihat kebun bunga.
Sedangkan Nindya dan mbah Girah berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Terlihat Bram berjalan menuju kamar yang dulu ia tiduri dengan Tedy. Bram membuka pintu kamar akan berjalan masuk ke dalam kamar, namun niatnya diurungkan. Dia kembali menutup pintu lalu berjalan menuju ke dapur. Dilihatnya Nindya dan mbah Girah sedang sibuk menyiapkan segala hal yang akan dimasak sambil berbincang bincang dan bercanda.
"Aku bantuin Nin" ucap Bram saat sudah berada di depan pintu dapur mengagetkan mereka.
"Mas Bram itu disuruh tidur, aku ga mau kejadian kayak tadi terulang lagi, sudah bersyukur banget kita selamat" jawab Nindya sambil menoleh ke arah Bram sedangkan tangannya masih tetep mengiris iris sesuatu.
"Aku tadi sudah tidur di mobil dengan nyaman he..he.., cuma aku males ikut mereka kalau ga ada kamu, kenapa juga harus masak kan bisa beli makan siangnya" ucap Bram sambil berjalan lebih mendekati Nindya dan mulai ikut memegang megang bahan masakan. Mbah Girah terlihat tangannya juga sibuk dengan bahan masakan namun wajahnya menatap Bram dengan senyuman.
"Mbah Girah sudah terlanjur belanja banyak dan panen daun daun ini untuk disayur" ucap Nindya sambil menunjukkan daun singkong di dekatnya
"Ya biar mbah Girah saja yang masak dibantu Tole tadi he.. he..." ucap Bram sambil tertawa kecil dengan tangan mengusap lembut punggung mbah Girah yang berada tidak jauh dari tempatnya.
Mbah Girah yang diusap lembut punggungnya oleh Bram menoleh ke arah Bram sambil tersenyum
"Lha Tole setelah membawa satu bungkus oleh oleh tadi langsung lari pulang ke rumahnya, mas Bram yang ganteng dewe" ucap mbah Girah dengan senyum merekah.
"Sudah sudah sana Mas Bram tidur, lagian bisa bantu apa paling malah mengganggu " usir Nindya pada Bram sambil telapak tangan kirinya mengibas ngibas sebagai kode mengusir
"Kamu itu belum tahu ya? aku tuh bisa bantu apa saja, pengalaman naik gunung tuh sangat bisa diandalkan, masak air bisa, masak nasi bisa, masak mie instan bisa he...he..., cari air bisa.. mau disuruh cari air ke telaga okey... asal kita berangkat berdua ha...ha..." ucap Bram sambil tangannya ikut membersihkan daun singkong dari tangkainya.
"Lah kalau mas Bram dan mbak Nindya ke telaga ambil airnya, mereka pulang dari kebun bunga belum mateng Mas" ucap mbah Girah
"Kalau Mas Bram bisa apa saja berarti mas Bram itu namanya apa itu multi telenan" tanya mbah Girah selanjutkan
"Iya mbah telenan ini loh he...he..." jawab Bram sambil tangannya menunjuk pada telenan di dekat Nindya
__ADS_1
"Sudah sudah sana.. Ini nanti buat rendang kesukaan mas Bram" usir Nindya lagi sambil merebut daun daun singkong.
"Iya Mas Bram, nanti rendangnya tidak alot mbak Nindya sudah saya beri tahu rahasianya" ucap mbah Girah
"Ga bisa tidur" ucap Bram beralasan
"Kalau ga bisa tidur ya rebahan rebahan aja sana" ucap Nindya lagi sambil tangan masih cekatan menyiapkan bahan masakan.
"Iya sana tho Mas, mbah Girah itu pengen ngomongi mas Bram, kalau mas Bram ikut di sini omongan terhenti" ucap mbah Girah sambil mendorong tubuh Bram untuk keluar dari dapur.
"Ealah ternyata hanya karena mau ngomongi aku he...he..." ucap Bram sambil terkekeh lalu melangkahkan kakinya keluar dari dapur. Namun Bram masih berdiri di dekat pintu dapur, dia kepo mereka berdua mau ngomongin apa.
Terlihat Bram tersenyum saat mendengar mbah Girah memuji muji dirinya, namun tiba tiba terdengar suara langkah kaki anak kecil mendekat, nampak Tole berjalan menuju ke pintu dapur. Bram lalu berjalan meninggalkan dapur.
"Cari siapa Le?" tanya Bram dengan ramah
Sesampai di ruang tamu Bram mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di ruang tamu tersebut. Bram lalu mengambil hape yang berada di sakunya. Lalu mengirim pesan text pada bapak Bharata.
"Pak, nanti bicara serius ya, tadi malam Jecklyn menelpon katanya proposal disetujui tapi harus datang ke kantor pusat Alfa Company Indonesia"
ting pesan terkirim dengan status centang dua. Belum dibaca oleh Bapak Bharata. Sambil menunggu jawaban bapak Bharata, mata Bram menatap mengelilingi isi ruangan matanya tertuju pada boneka beruang berwarna pink, Bram tersenyum karena teringat Nindya, pasti itu boneka Nindya, anak perempuan satu satunya keluarga Mahendra. Bram bangkit berdiri akan meraih boneka yang nangkring manis di atas buffet. Tetapi langkahnya terhenti mendengar suara pesan masuk di hapenya. Bram lalu membuka aplikasi ternyata pesan balasan dari bapak Bharata
"Nanti kita bicarakan, kamu bisa datang ke Alfa Company dengan Prabu. Sekarang kamu tidur"
Setelah membaca pesan bapak Bharata, Bram sedikit lega. Lalu bangkit berdiri menuju ke dapur
"Nin.." ucap Bram saat di depan pintu dapur
__ADS_1
"Heleh belum tidur malah ke sini lagi" jawab Nindya sambil menatap Bram gemas
"Itu yang di depan bukan boneka roh kan?" tanya Bram sambil tersenyum namun selanjutnya memasang mode serius
"Ya enggak lah...boneka mainan biasa" jawab Nindya. Bram lalu tersenyum dan kembali melangkah ke ruang depan.
"Boneka roh opo tho?" terdengar suara mbah Girah di dalam dapur.
Sementara itu Bram yang sudah di ruang depan lalu meraih boneka beruang warna pink tersebut dan membawanya ke kamar. Bram lalu merebahkan diri di tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya sambil memegang boneka beruang pink tersebut, sambil membayangkan Nindya kecil bermain boneka tersebut. Lama lama Bram tertidur nyenyak sambil memeluk boneka beruang pink.
Beberapa jam kemudian mereka yang pergi ke kebun bunga sudah datang. Mamah Indah dan ibu Murti masuk ke dalam rumah, sedangkan papah Mahendra dan bapak Bharata berjalan menuju ke kandang sapi.
"Bram mana Nin?" tanya mamah Indah setelah selesai mencuci tangan dan kaki, sambil melihat kesiapan masakan di dapur.
"Kayaknya tidur Mah" jawab Nindya sambil melakukan finishing masak memasaknya
"Ya sudah kamu lanjutkan itu lalu di atur di meja makan, aku bangunkan Bram, papah sudah kupesan tidak lama lama bercanda dengan sapi" ucap mamah Indah lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Saat mau meninggalkan ruang makan berpapasan dengan ibu Murti.
"Saya bantu mbakyu" ucap Ibu Murti menawarkan bantuan.
"Sudah selesai Jeng, ayo duduk saja di depan" jawab mamah Indah sambil mengandeng tangan ibu Murti untuk diajak kembali ke ruang depan.
Ibu Murti lalu kembali duduk di ruang tamu. sedangkan mamah Indah berjalan menuju ke kamar yang ditiduri Bram untuk membangunkan Bram.
Mamah Indah membuka pelan pelan pintu kamar namun saat pintu sudah terbuka mamah Indah terlonjak kaget sambil berteriak
"
__ADS_1