
Setelah selesai melakukan pertarungan manisnya Bram tertidur pulas sambil memeluk istrinya. Namun tidak demikian dengan Nindya, dia belum bisa tidur karena pikirannya masih berkutat di permasalahan keuangan.
Nindya lalu pelan pelan melepas tangan suaminya yang memeluk pinggangnya. Nindya lalu bangkit dari tidurnya dan tangannya meraih hape yang tidak jauh dari jangkauan tangannya.
“Siapa ya yang bisa dimintai bantuan.” Gumam Nindya dalam hati sambil mengusap usap layar hape melihat lihat nama nama di kontaknya.
“Kak Tedy dan Lilian tidak mungkin, Lilian dosen muda belum banyak gajinya, usaha kak Tedy juga terimbas wabah. Tabungan Kak Tedy dan Lilian sudah buat nikahan, beli rumah dan beli keperluan mereka.” Gumam Nindya lagi
Nindya masih terus mengusap usap hapenya melihat lihat nama kontak yang sekiranya bisa dimintai bantuan. Kemudian matanya menangkap nama Bison di group chatting teman teman SMA nya.
“Dia mungkin bisa dimintai tolong, orang tuanya kaya, tapi.....” Gumam Nindya lagi dia lalu mengusap usap layar hapenya lagi. Tidak ingin dia mengatasi masalah malah muncul banyak masalah.
Sesaat matanya menangkap ada notifikasi status.
“Siapa malam malam buat status, ga bisa tidur kayak aku apa ya...” Gumam Nindya lalu dia ngecek di menu status, ternyata Lilian yang update status. Nindya lalu membuka. Terlihat Lilian memposting foto amplop hasil usg. Nindya lalu menghubungi Lilian.
“Li.... selamat ya...” ucap Nindya saat sudah terhubung dengan Lilian.
“Terima kasih Nin, sore tadi aku baru dapat hasil usg dan benar positif.” Ucap Lilian sambil menitikkan air mata haru
“Harus bener bener dijaga Li, agar selamat sampai lahiran.” Ucap Nindya
“Iya Nin, kak Tedy jadi posesif banget.” Ucap Lilian
“Kok kamu belum tidur...” ucap mereka bersamaan.
“Ha.... ha....” tawa merekapun pecah secara bersamaan. Benar benar sahabat yang kompak. Namun mereka kemudian terdiam agar suaranya tidak menganggu yang sedang tidur.
“Aku pengen mie instan Nin.. pengen banget. Nunggu kak Tedy dan Lik Marni tidur baru bisa buat. Mereka ga ngebolehin.” Jawab Lilian dengan suara pelan.
“Jangan banyak banyak Li, makan dikit aja hanya untuk obat pengen.” Ucap Nindya memberi nasehat.
“Iya iya... Kamu sendiri kenapa belum tidur...” tanya Lilian
“O ya Nin, tadi mamah bilang kamu katanya sedang dalam kesulitan keuangan.” Ucap Lilian selanjutnya
“Mamah kok ...” gumam Nindya
“Tadi kan aku ngabari Mamah tentang hasil usg, terus mamah cerita tentang kamu...”
“Iya Li, perusahaan butuh dana segar buat bayar tagihan.”ucap Nindya
__ADS_1
“Nin kalau kamu dan mas Bram mau, aku punya emas hadiah dari Nenek. Lumayan banyak bisa kamu jual atau gadaikan. Harga emas kan sedang melambung tinggi Nin...” ucap Lilian
“Kalian pakai dulu aku belum membutuhkan.. Dulu kata nenek kalau perlu untuk beli rumah atau mobil. Tapi Kak Tedy sudah bisa beli rumah dan mobil meskipun sederhana aku dan kak Tedy sudah senang dan bahagia...” ucap Lilian selanjutnya
“Li... “ ucap Nindya dengan suara tertahan karena menangis terharu
“Sudah jangan nangis...” ucap Lilian
“I love you Li... Kamu baik banget... i love you....”
Namun tiba tiba...
“Nin.. kamu telpon siapa kok pakai i love you.. i love you... “ ucap Bram yang terbangun lalu mengambil hape yang masih di tangan Nindya.
“Mas Bram... Aku belum selesai omongnya.” Ucap Nindya sambil berusaha mengambil lagi hapenya yang sudah dipegang Bram.
“Sudah ditutup.” Ucap Bram sambil menatap layar hape
“Lilian... ada apa? Kok matamu berair kamu menangis, ada apa dengan Lilian..?” ucap Bram setelah ngecek dengan siapa istrinya habis berbicara.
“Menangis bahagia Mas, Lilian hamil....” jawab Nindya
“Mas Bram, keuangan kita masih bermasalah mas Bram santai banget.” Ucap Nindya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Rencana mas Bram apa coba untuk mendapatkan dana segar?” tanya Nindya kemudian.
“Mencoba nagih pelunasan buyer meskipun itu sangat sulit, ngenjot penjualan di dalam negeri.” Jawab Bram.
“Aku dan bapak sebenarnya ada niat untuk menjual rumah Arum tetapi masalahnya Johan sudah membuat akta kuasa menjual atas nama Johan. Bapak sedang mengurus pembatalan akta kuasa menjual itu.” Ucap Bram sambil mengusap kasar wajahnya
“Lagi pula kalau menjual rumah di kondisi seperti saat ini sangat sulit, paling yang cepat ya buat jaminan pinjaman.” Ucap Bram kemudian
“Oooo, sertifikat rumahnya dimana Mas, apa sudah di tangan Johan?” tanya Nindya sambil menatap suaminya.
“Untung masih aman di safe deposit box. Sepertinya Johan tidak menyangka akan segera ketahuan jadi belum sempat mengambil sertifikat itu.” Jawab Bram
“Syukurlah...” ucap Nindya
“Mas...” ucap Nindya
“Hmmmm”
__ADS_1
“Ada kabar bahagia lainnya dari Lilian.” Ucap Nindya kemudian
“Apa?” tanya Bram
“Lilian dapat hadiah emas dari Neneknya waktu nikahan katanya banyak. Boleh kita pinjam dulu. Boleh dijual atau digadai.” Jawab Nindya
“Kalau Mas Bram setuju nanti aku hubungi Lilian lagi.” Ucap Nindya kemudian
“Emasnya dimana?” Tanya Bram
“Kalau di Jakarta minta tolong Kak Tedy yang mencairkan.” Ucap Bram selanjutnya
“Aku belum tanya Lilian, kalau emasnya masih di Yogya kita tidak enak sama orang tua Lilian...” jawab Nindya
“Benar juga nanti dikira kita memaksa Lilian.” Ucap Bram
“Ya sudah, sekarang tidur besok tanya Lilian lagi.” Ucap Bram
“Tidak bisa tidur Mas...” ucap Nindya
“Mau bermain hos hos lagi ya?” tanya Bram sambil tersenyum
“Mas Bram kok bisa santai sih.. aku kepikiran masalah keuangan..” ucap Nindya sambil menepuk pundak Bram.
“Nin... mungkin kamu dari lahir terbiasa hidup dengan pendapatan orang tua yang pasti setiap bulan. Dan selama jadi istriku baru saat ini ada permasalahan keuangan dan itupun secara mendadak.” Ucap Bram.
“Aku sejak lahir hidup dalam keluarga pebisnis. Dan beberapa kali usaha bapak juga pernah bermasalah. Tapi memang masalah yang terbesar saat ini. Masalah besar, mendadak, ditambah pengkhianat anggota keluarga sendiri. Untung bapak kuat. Mungkin karena sudah teruji dengan masalah masalah yang dulu dulu Nin.. jadi tidak stres. Aku belajar dari Bapak.” Ucap Bram kemudian
“Kalau stres dan sakit jantung kasihan anak istri. Harus tenang tapi tetap berpikir dan berusaha.” Ucap Bram lagi.
“Sudah jangan terlalu dipikir, aku bersyukur punya istri kamu yang ikut berpikir keras, tapi jaga kesehatan juga.” Ucap Bram sambil memeluk Nindya yang sekarang sudah membaringkan tubuhnya di samping Bram.
“Iya Mas, ada tawaran dari Lilian aku juga sedikit tenang cuma masih mikir untuk menambah pemasukan, untuk biaya operasional, gaji karyawan, bayar tagihan, bayar pinjaman, biaya hidup.... Mengandalkan penjualan dalam negeri minim Mas.” Ucap Nindya
“Ya sudah besok kita pikirkan, aku juga sudah menyuruh bagian pemasaran ********* penjualan.” Ucap Bram sambil membelai rambut Nindya
“Kemarin aku kan bercabang pikiran karena membantu Om Prabu. Bapak juga pikirannya bercabang mengurus pengkhianat.”
“Nin.. Nin... “ ucap Bram memanggil Nindya. Namun tidak ada reaksi dari Nindya.
“Ah sudah tertidur gantian aku yang tidak bisa tidur.” Gumam Bram
__ADS_1