Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
141. Disadap


__ADS_3

Mobil keluarga Bharata sudah memasuki halaman rumah. Mobil berhenti di depan teras rumah untuk menurunkan Bapak Bharata, ibu Murti dan Arum sebelum mobil diparkir oleh Bram.


“Bram" ucap Bapak Bharata yang duduk di samping Bram, beliau menoleh ke arah Bram sebelum turun dari mobil.


“Ya Pak" jawab Bram sambil menoleh menatap bapaknya.


“Mana hape mu" ucap Bapak Bharata sambil mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menengadah untuk meminta hape Bram.


“Buat apa Pak?” tanya Bram sambil memberikan hapenya kepada bapaknya


“Dua dua nya, aku tahu kamu pakai dua hape" ucap Bapak Bharata lagi


“Cuma satu Pak sekarang, itu dua kartu” ucap Bram


“Ooo bagus, aku pinjam sebentar. Sudah sana kamu parkir mobilnya” ucap Bapak Bharata lalu membuka pintu mobil dan selanjutkan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Arum dan ibu Murti sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Sementara itu setelah Bram memarkirkan mobilnya dia melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah. Sesampai masuk ke dalam rumah terlihat suasana sepi, nampaknya semua sudah masuk ke dalam kamarnya.


“Bapak kenapa juga meminjam hape ku sih, mau ngecek apa." gumam Bram sambil berjalan menuju ke kamarnya


“Padahal aku pengen menghubungi Nindya” gumamnya lagi. Lalu dia tidak jadi masuk ke kamarnya lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar bapaknya.


Tok... tok.. tok... tok..


Bram mengetuk pintu dengan pelan pelan agar Ibu Murti tidak marah karena terganggu.


“Pak....” ucapnya kemudian. Dan tidak lama kemudian pintu kamar tersebut terbuka dan nampak sosok bapak Bharata yang sudah memakai piyama tidur.


“Ada apa, menganggu saja kamu, aku mau istirahat" ucap Bapak Bharata sambil menatap Bram


“Hape ku Pak" ucap Bram sambil menengadahkan tangannya


“Hape apa, aku tidak membawa Hape mu. Buat apa aku membawa hapemu” ucap Bapak Bharata

__ADS_1


“Bapak, kan tadi meminta hape ku, jangan ngerjain Bram dong Pak" ucap Bram dengan ekspresi wajah memelas.


Namun tiba tiba ibu Murti yang duduk di meja rias sudah selesai membersihkan wajahnya dari make up bangkit berdiri lalu berjalan mendekati bapak Bharata.


“Bram... sini masuk" ucap Ibu Murti selanjutnya beliau berjalan lagi masuk ke dalam dan duduk di sofa panjang yang berada di dalam kamar tersebut. Bram dan bapak Bharata terlihat kaget, suatu hal yang sangat istimewa ibu Murti menyuruh Bram masuk ke dalam kamar privasi nya.


“Sana mau dapat wejangan (nasehat) kamu" ucap Bapak Bharata lalu beliau berjalan meninggalkan kamarnya.


Bram lalu berjakan masuk dan duduk di sofa yang sama diduduki ibu Murti.


“Bram" ucap Ibu Murti setelah Bram duduk di sampingnya


“Ya Bu" jawab Bram


“Kamu dan Nindya sekarang kan sedang masuk di masa pingitan. Kamu tidak boleh menemui Nindya sampai di hari H, termasuk kamu tidak boleh telpon apalagi video call an" ucap ibu Murti yang dengan suara pelan tetapi bagaikan petir mengelegar di telinga Bram. Bram yang sebelumnya menundukkan kepala sekarang berubah menjadi mendongak menatap wajah ibu Murti dia ingin protes.


“Bu, kenaoa telpon saja tidak boleh, jangan buat aturan yang aneh aneh dong Bu" protes Bram


“Ini demi kebaikan kalian, ibaratnya semacam puasa, nahan rindu, prihatin. Setelah kalian melewati masa pingitan kalian akan selalu bersama, agar kalian bisa mensyukuri kebersamaan dan kalian tidak menyia nyiakan setelah bisa tiap hari bertemu karena kalian sudah merasakan betapa beratnya menahan rindu.” Ucap Ibu Murti


“Bram, setelah kamu menahan rindu nah saat bertemu Nindya bapak harap langsung bres bres... dan munculkanlah cucu buat bapakmu ini" ucap Bapak Bharata dengan wajah tersenyum sambil berjalan masuk kamarnya lagi.


“Nih hape kamu, kamu jangan macem macem coba coba nelpon apalagi video call an dengan Nindya, sudah disadap. Kalau kamu melanggar hukumannya setelah nikah kalian dipingit lagi" ucap Bapak Bharata sambil menyerahkan hape kepada Bram. Tadi hape Bram sudah disetting Arum entah dikasih aplikasi atau disetting bagaimana bapak Bharata tidak begitu paham.


“Bram, ibu tahu ini sangat berat buat kalian apalagi kalian selalu bersama selama ini, tapi yakinlah nanti manis rasanya saat masa pingitan selesai dan kalian bertemu sudah resmi sebagai suami istri" ucap Ibu Murti.


“Bu, kalau kirim pesan text boleh kan?” tanya Bram


“Boleh” jawab Ibu Murti sambil tersenyum


“Pesan suara tidak boleh" ucap Bapak Bharata


“Sudah sekarang kamu tidur jangan mikir macem macem, semua urusan pernikahan kamu sudah ada yang ngurus, tugasmu kerja untuk Bharata Group dan jaga stamina tubuh. Dan mulai besok Mak akan membuatkan jamu buat kamu, harus diminum” ucap Bapak Bharata lagi dan ibu Murti tampak tersenyum. Sedangkan Bram terlihat menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Bram lalu pamit dan seterusnya bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kamar orang tuanya. Dia berjalan menuju ke kamar Arum, tujuannya ingin menanyakan tentang penyadapan hapenya.


“Rum...” ucap Bram sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Arum.


“Apa Mas" ucap Arum sambil membuka daun pintu


“Tumben cepet bukanya" gumam Bram


“Sudah tahu kalau mas Bram pasti mau nyari aku" ucap Arum sambil tertawa kecil


“Awas besok aku balas kalau kamu dipingit" ancam Bram sambil menatap Arum


“Mas aku cuma disuruh orang tua, hasil sadapan terkirim ke email bapak dan nomer bapak bukan ke aku" ucap Arum dengan ekspresi wajah sedikit takut. Dan jawaban dari Arum membuat Bram sedikit lega paling tidak bapaknya yang mendapatkan data sadapan.


“Ya sudah" ucap Bram lalu menutup daun pintu kamar Arum dan selanjutnya berjalan menuju ke kamarnya.


Setelah masuk ke dalam kamarnya Bram langsung mengusap usap hapenya dan kemudian mengetik pesan text


“Nin, selama masa pingitan kita tidak boleh telepon apalagi video call an"


“Hapeku disadap orang yang bernama Bharata Yuda Tama"


“I love you Nin.. i miss you....”


Ting.... tiga pesan teks terkirim ke nomer hape Nindya


Bram lalu meletakkan hapenya di meja. Selanjutnya dia menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur. Setelah selesai dan berganti baju rumah. Terdengar ada notifikasi pesan masuk di hape Bram. Bram tampak tersenyum senang.


“Ini pasti pesan balasan dari Nindya” gumam Bram dalam hati sambil cepat cepat menyambar hape nya yang berada di meja. Bram lalu mengusap usap hapenya dan membuka aplikasinya. Setelahnya dia tampak kaget dan kecewa sebab yang masuk adalah pesan dari bapaknya. Bram lalu membuka pesan dari bapaknya.


“I love you too mas Bram... i miss you ....”


Bram lalu menaruh hapenya lagi kemudian duduk di tepi tempat tidurnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


“Bapak” gumamnya dan kemudian Bram merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


__ADS_2