Ini Bukan Love Bombing

Ini Bukan Love Bombing
126. Ke Rumah Lilian 1


__ADS_3

Mereka berlima berjalan menuju ke dalam stasiun. Nampak Mak berjalan di barisan paling depan, kadang di dekati oleh Nindya dan Lilian agar tidak merasa dicuekin oleh kedua pasangan muda mudi tersebut, meskipun satu pasangannya masih merupakan pasangan pura pura.


“Nin, kapan ceritanya?” tanya Bram yang berjalan di samping Nindya.


“Nanti ya Mas, saat kita di dalam kereta saja" jawab Nindya sambil menoleh ke arah Bram dan tidak lupa memberikan senyum termanisnya.


“Bikin penasaran saja, apa mereka berdua sudah jadian?” tanya Bram lagi dengan suara yang lebih pelan


“Dibilang nanti ya nanti he..he...” jawab Nindya sambil tertawa kecil. Bram lalu terlihat merangkul bahu Nindya dan sambil berjalan mengikuti langkah Mak, Tedy dan Lilian.


Saat mereka sudah berada di dalam bangunan stasiun bagian depan. Nindya mempunyai ide untuk mengambil foto mereka.


“Mak, foto foto dulu yuk sebelum kita cek in" ajak Nindya.


“Cocok mbak Nindya, tapi nanti juga ya saat di dalam. Kemarin kan kita sampai di sini malam Mak sudah ngantuk jangankan mikir foto foto, mata diajak terbuka aja terasa berat" jawab Mak.


Mereka akhirnya berfoto foto ria sebagai kenang kenangan.


“Aku fotoin dong berdua sama mas Bram, kalau hasilnya bagus bisa sekalian untuk foto pre wedding he...he..” pinta Nindya lalu mengulurkan hapenya pada kakaknya Tedy


Nampak Nindya dan Bram berpose romantis dan Tedy siap siap akan memotret mereka berdua.


“Bro kamu tetap bawa tas ransel Nindya, ga di taruh dulu itu tas?” tanya Tedy


“Sudah biarin begini apa adanya” jawab Bram.


Tedy lalu melakukan memotret motret Bram dan Nindya dengan beberapa pose. Setelah selesai Nindya mendekati Tedy lalu terlihat membisikkan sesuatu pada Tedy, dan nampak Tedy mengangguk anggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui meskipun dengan sedikit ekspresi malu. Dan setelahnya Nindya berjalan menuju ke tempat Lilian dan juga membisikkan sesuatu, ekspresi yang samapun terlihat pada wajah Lilian setelah mendapat bisikan dari Nindya. Nindya lalu menoleh ke arah kakaknya Tedy yang mana Tedy juga mengamati apa yang dilakukan Nindya. Nindya lalu menganggukkan kepalanya sebagai kode agar Tedy mendekat. Setelah Tedy mendekat sekarang justru Nindya menjauhi mereka berdua. Dan setelahnya nampak Tedy dan Lilianpun berdekatan dan Nindya mengarahkan kamera hapenya pada mereka berdua. Nampak Bram dan Mak yang berdiri secara berdekatan tersenyum melihat mereka.

__ADS_1


“Kak Tedy jangan kaku dong, Lilian sudah okey dia terlihat rileks" ucap Nindya sebelum memencet tombol kamera hape nya. Nampak Tedy mengambil nafas agar terlihat lebih rileks.


“Santai saja Bro jangan tegang yang nampak saja tegang apalagi yang tidak tampak he... he..., baru juga foto berdua" ucap Bram sambil tersenyum.


Nindya lalu terlihat mengambil beberapa jepretan. Dan setelahnya dia melihat lihat hasilnya lalu terlihat memencet mencet dan mengusap usap hape nya dan mengirim foto yang nampak paling bagus ke hape Tedy dan Lilian.


“Kalau sudah ayok masuk cek in" ajak Bram. Lalu mereka semua berjalan menuju ke tempat cek in. Sedangkan Nindya sibuk meminta hape Tedy dan Lilian, dan terlihat Nindya sibuk memencet mencet dan mengusap usap hape Tedy dan Lilian secara bergantian.


“Kamu itu jalan sambil menunduk sibuk dengan hape, untung aku gandeng" ucap Bram sambil berjalan dengan tangan kiri menggandeng lengan atas Nindya sedang tangan kanannya menarik kopernya yang tidak besar.


“Iya ini sudah selesai sekarang wallpaper mereka sudah sama dengan gambar foto mereka berdua" jawab Nindya. Lalu terlihat memberikan hape Tedy dan Lilian.


“Jangan diganti ya.. “ pesan Nindya saat memberikan hape mereka berdua.


“Bener mereka sudah jadian Nin, kamu dan kakak ipar pakai jurus apa sampai berhasil meluluhkan hati Lilian?” tanya Bram yang masih penasaran sedangkan Nindya hanya menoleh ke arah Bram sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai cek in, lalu mereka langsung masuk ke dalam kereta sebab kereta sudah siap berada di jalurnya. Namun sebelumnya Nindya harus memenuhi permintaan Mak untuk foto di depan kereta api.


“Mak ini sampingnya juga kita pesan jadi Mak bisa lebih nyaman dua kursi untuk Mak sendiri” ucap Bram yang berdiri di samping kursi Mak.


“Iya Mas" jawab Mak sambil mengatur tasnya.


Setelahnya Bram duduk di samping Nindya.


“Sudah sekarang ceritakan" perintah Bram pada Nindya


“Nunggu kereta apinya jalan dulu”.jawab Nindya. Bram yang sudah tidak sabar lalu menoleh ke arah Nindya dan selanjutnya mencubit gemas kedua pipi Nindya.

__ADS_1


“Aku bilang sekarang ya sekarang, apa tidak aku lepas pipi ini" ucap Bram yang masih memegang gemas pipi Nindya. Nindya yang kaget sedikit berteriak minta dilepasin. Tedy dan Lilian yang duduk di depan mereka nampak menoleh sebentar mendengar sedikit keributan di belakang tempat duduknya.


“Iya iya aku cerita" ucap Nindya sambil tertawa. Setelah Bram melepas pipi Nindya, lalu Nindya menceritakan masalah Lilian yang akan dijadikan menantu teman ibunya sampai kesepakatan mereka pacaran pura pura.


“Oooo begitu, kalau begitu kita langsung ke rumah Lilian saja setelah kita sampai Yogya" ucap Bram setelah mendengar cerita Nindya.


“Kan jauh Mas ke rumah Lilian” ucap Nindya


“Hemat waktu aku dan kakak ipar, kita harus segera kerja Nin, dan juga biar masalah juga cepat selesai” ucap Bram


“Aku hubungi sopir biar nanti jemput kita di stasiun terus ngantar ke rumah Lilian, paling tidak orang tua Lilian sudah melihat pacar pura puranya Lilian, mumpung orangnya di sini” ucap Bram


“Ya sudah aku bilang Lilian agar dia ngabari ibunya" ucap Nindya yang seterusnya dia menoel noel pundak Lilian yang duduk di depannya. Selanjutnya Nindya mengatakan kalau setelah sampai Yogya langsung menuju ke rumah Lilian, nampak Lilian sedikit kaget namun selanjutnya mengangguk anggukan kepalanya.


“Untung kan mereka sudah punya foto berdua bisa untuk bukti orang tua Lilian he..he...” ucap Nindya sambil menoleh ke arah Bram.


“Foto mereka berdua saat acara lamaranmu kan ada" ucap Bram kemudian


“Belum dishare sama tukang fotonya Mas” jawab Nindya


“Ya sudah, bobok sini.....” ucap Bram sambil menepuk nepuk salah satu pundaknya di samping Nindya. Nampak Nindya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Bram sambil pandangannya melihat arah luar kereta api.


“Dulu kita dilarang kak Tedy bersampingan saat di kereta, sekarang kita malah menfasilitasi mereka berdekatan” ucap Nindya mengingat ingat masa lalu. Bram menjawab dengan menepuk nepuk pelan paha Nindya.


“Lihat Mas, mereka berdua sedang apa?” ucap Nindya sambil menoleh ke arah Bram


“Sudah biarin saja” jawab Bram yang masih setia menepuk nepuk paha Nindya Dan lama kelamaan Nindyapun tertidur dengan lelap.

__ADS_1


Waktu terus berjalan kota demi kota telah dilalui kereta api yang mereka tumpangi. Saat siang hari jam waktunya makan yang tertidur terbangun sebab perut minta diisi. Mereka lalu membuka bekal makanan yang sudah di belinya di stasiun tadi. Setelah perut terisi mata pun kembali ingin terpejam lagi demikian yang dirasakan oleh Nindya perut dan hatinya terasa nyaman berada di samping Bram, akhirnya dia pun terlelap lagi.


Dan akhirnya kereta sampai di Yogya, mereka semua turun dari kereta dan selanjutnya berjalan menuju ke pintu exit. Dan nampak mobil yang menjemput sudah menunggu mereka. Selanjutnya mereka masuk ke dalam mobil jemputan dan kemudian mobil berjalan tujuannya ke rumah Lilian. Mak duduk di depan terlihat sangat senang selain acara jalan jalan masih berlanjut dia sekarang juga sudah punya teman bersebelahan dan teman ngobrol dengan sopir kantor yang sudah dia kenal baik.


__ADS_2