
Dua hari sudah Nindya di rumah menjalani masa pingitannya. Kegiatannya membantu mamah Indah melakukan pekerjaan rumah tangga, membaca artikel artikel tentang keluarga, merawat diri, mainan hape. Komunikasi dengan Bram lebih banyak dilakukan saat malam hari karena pagi hingga sore Bram bekerja di kantor dan diawasi oleh Bapak Bharata. Kebiasaan Nindya yang sebelumnya banyak kegiatan di kampus membuatnya dia sudah mulai merasa jenuh.
“Mah, aku boleh keluar ga bentar aja Mah, pengen jalan jalan pengen ketemuan sama teman teman SMA, pengen lihat juga gedung yang akan dipakai besok saat nikahan, pengen....”
“Tidak boleh" saut Mamah Indah sebelum kalimat Nindya berlanjut.
“Kamu itu kalau nanti ketemuan dengan teman teman SMA nanti Bison ikut, awas nanti kamu dibawa lari Bison kayak cerita di novel novel itu" ucap mamah Indah selanjutnya menakut nakuti Nindya
“Itu kan hanya cerita novel Mah, halu....” ucap Nindya masih berusaha ingin minta ijin untuk keluar bersama teman temannya
“Sudahlah sebentar lagi kakakmu Alvin dan juga Lik Marni akan datang.”
“Kamu tenang saja tidak usah mikir masalah persiapan pernikahan semua urusan pernikahan sudah ada yang ngurus, dan selanjutnya nanti Alvin yang akan berurusan dengan EO nya” ucap mamah Indah selanjutnya
“Sudah sekarang kamu bantuin Mamah ini buat makanan buat Bali, kamu sekalian belajar buat makanan untuk anakmu besok. Meskipun suamimu kaya jangan hanya mengandalkan semua dengan uang, masakan yang dibuat sendiri dengan cinta itu istimewa, semakin mempererat cinta dalam keluarga" ucap Mamah Indah panjang kali lebar seperti biasanya.
“Mah aku besok kalau sudah nikah kerja apa di rumah saja kayak Mamah ya?” tanya Nindya sambil mengambil bahan bahan untuk membuat makanan batita.
“Kalau keinginan mamah sih kamu kerja karena mamah dan papah sudah kuliahkan kamu apalagi kamu pinter, tapi semua tergantung pada suamimu Nin" jawab mamah Indah
“Mamah... aku jadi inget mas Bram..” ucap Nindya lalu meninggalkan Mamahnya dia berjalan keluar dari dapur dan mamah Indah hanya bisa geleng geleng kepala.
Nindya berjalan menuju ke kamarnya, selanjutnya mengambil hapenya kemudian mengusap usap hape tersebut yang dilakukan adalah melihat foto Bram dan kemudian mengetik pesan teks buat mas Bram nya. Meskipun dia tahu Bram hanya membaca dan membalasnya nanti malam dia tidak masalah yang penting sudah bisa mengungkapkan perasaannya.
“Biar saja bapak Bharata membaca, beliau kan juga pernah muda he..he..” gumamnya dalam hati. Dan setelah selesai mengirim pesan teks dia kembali lagi menuju ke dapur untuk membantu Mamahnya, namun sekarang dia membawa hapenya dan tetap berharap mendapat balasan dari mas Bram nya.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian terdengar suara ketukan di pintu rumah.
“Nin, buka pintu sepertinya mereka sudah datang” perintah mamah Indah untuk Nindya. Nindya lalu berjalan cepat menuju ke pintu depan sudah tidak sabar untuk melihat keponakannya yang selama ini hanya bisa dilihat di layar hapenya.
Nindya dengan cepat membuka pintu, dan setelahnya membuka lebar lebar daun pintu tersebut. Namun betapa kagetnya dia sebab yang muncul bukan wajah imut keponakannya, tetapi wajah Lik Marni dengan senyum lebarnya.
“Kamu baru dipingit dua hari saja sudah begitu kangen aku ya Nin" ucap Lik Marni lalu memeluk Nindya. Nindya pun membalas pelukan Lik Marni namun dengan pelukan yang agak malas.
“Aku kira Bali yang datang, sudah pengen nyium pipinya yang ngemesin” ucap Nindya lalu mengurai pelukannya.
“Kalau ini bukan ngemesin tapi ngembosin he... he...” ucap Nindya kemudian sambil mengambil tas travel Lik Marni dan membawanya masuk ke dalam.
“Semua kalau sudah tua ya ngembosi Nin... mulai keriput sana sini ngembos tidak kenceng lagi.” ucap Lik Marni sambil melangkah masuk. Dan selanjutnya sudah bisa dipastikan sibuk ngobrol dan bekerja dengan mamah Indah dan Nindya.
Mamah Indah berjalan paling depan kerinduan pada cucu pertama yang selama ini berada jauh di benua lain sudah tidak terkira, beliau membuka pintu dengan cepat dan langsung membuka lebar daun pintu. Namun yang dirasakan sama seperti Nindya tadi, cuma bedanya sekarang yang muncul bukan sosok Lik Marni tapi papah Mahendra.
Papah Mahendra justru kaget karena ada tiga orang yang membukakan pintu.
“Kalian kenapa, aku tidak bawa oleh oleh" ucap papah Mahendra langsung menyelonong masuk sebab ketiga orang yang membukakan pintu terlihat berekspresi kecewa, sampai sampai papah Mahendra mengulurkan tangan saja dibalas dengan salim lemas tak bertenaga.
“Papah kok pulang lebih awal" gumam mamah Indah.
“Papah juga ingin segera ketemu cucu" ucap papah Mahendra yang mendengar gumaman istrinya.
“Sudah kita tunggu di teras saja Mah" usul Nindya lalu berjalan keluar dan duduk di kursi teras. Kemudian Mamah Indah dan Lik Marni mengikut langkah kaki Nindya. Mereka bertiga duduk di teras sesekali kepala nya menoleh ke arah jalan, apalagi jika ada mobil lewat mereka selalu berharap yang ditunggu datang.
__ADS_1
Dan benar beberapa menit kemudian terlihat mobil berhenti, lalu pintu mobil terbuka tampak seorang laki laki muda tampan turun dari mobil dengan hati hati karena mengendong seorang anak perempuan kecil berumur dua tahun berwajah bule, dan selanjutnya muncul seorang perempuan muda cantik berwajah bule.
“Mah... Mereka datang...” teriak Nindya lalu berlari menuju ke pintu pagar. Dan selanjutnya mamah Indah dan Lik Marni pun ikut berlari menuju ke pintu pagar.
“Mamah" ucap Alvin saat sudah memasuki pintu pagar yang sudah dibuka oleh Nindya. Alvin lalu menjabat tangan mamah Indah dan mencium tangan mamah Indah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bali dan Victoria istrinya. Mamah Indah pun memeluk mereka untuk melepas kerinduannya.
“Bali ini Oma” ucap mamah Indah berusaha untuk mengendong Bali, namun Bali tidak mau. Padahal Alvin dan Victoria sudah berusaha membujuk agar mau digendong oleh mamah Indah.
“Ini Grand ma .... Bali ...” ucap Lik Marni sambil tersenyum lebar dan mengulurkan kedua tangan nya berusaha untuk mengendong Bali
“Glen ma... glen ma..” ucap Bali sambil mengulurkan kedua tangannya tampak dia mau digendong Lik Marni. Dengan senang hati dan merasa menang dari mamah Indah, Lik Marni langsung mengendong Bali. Dan dibawanya berjalan masuk. Sedangkan Nindya mengikuti dari belakang dan berusaha untuk ikut mengendong Bali.
“Itu Lik Nindya” ucap Lik Marni sambil menunjuk pada Nindya. Tampak Bali tertawa bahagia
“Lek... lek... “ ucap Bali sambil tertawa tawa
“Iya Lik Nindya “ ucap Lik Marni lagi sambil memberikan ibu jarinya pada Bali.
“Lek... lek...”ucap Bali lagi sambil tertawa tampak ekspresi wajahnya terlihat senang
“Aduh Bali... ini aunty” ucap Nindya sambil menoel pipi Bali, namun Bali sudah terlanjur suka memanggilnya Lik.
“Lek.. lek... “ ucap Bali lagi sambil mengulurkan kedua tangannya minta digendong Nindya
“Ya sudah ga apa apa panggil Lik yang penting mau kugendong" ucap Nindya lalu merebut Bali dari gendongan Lik Marni. Lalu dibawa masuk ke kamar nya. Ah... pasti disamakan boneka saja engkau Bali oleh Lik Nindya.
__ADS_1