Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kepulangan Vivian


__ADS_3

Vivian sedang berkemas saat tuan Xia masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Tuan Xia masih sangat merindukan putrinya ini dan dia meminta Vivian untuk tinggal lebih lama lagi, tapi gadis itu menolak karena sudah banyak ketinggalan materi.


Ketika Tuan Xia memintanya untuk pindah kampus, Vivian menolaknya. Dia mengatakan jika sudah nyaman kuliah di kampusnya saat ini, apalagi dia memiliki teman dan sahabat yang sangat baik padanya.


"Vi, apa tidak bisa tinggal satu malam lagi di rumah? Papa masih sangat merindukanmu, kau pergi selama beberapa tahun dan pulang cuma satu Minggu. Mama sama Papa sudah tua, tapi kalian berdua malah tinggal jauh terpisah dari kami."


Vivian memeluk ayahnya dengan erat. "Maaf, Pa. Sebenarnya Vivian juga tidak ingin meninggalkan kalian berdua. Tapi Vivian menemukan kenyamanan di sana, suatu saat Vivian akan kembali pada kalian berdua, tapi tidak sekarang. Biarkan putri Papa ini mengejar impian yang selama ini ku impikan. Dan jika saatnya sudah tiba Vivian pasti akan kembali kesisi kalian berdua." Ujar Vivian panjang lebar.


"Hiks, Papa sedih dan juga bangga. Sedih karena harus berpisah lagi denganmu, dan bangga ternyata putri Papa sudah tumbuh dewasa. Dimana pun kau berada, doa Papa dan Mama akan selalu menyertaimu."


"Terimakasih, Pa. Kalian memang orang tua terbaik di dunia ini. Aku bangga menjadi putri kalian."


"Papa juga bangga menjadi ayahmu, Nak. Kalau begitu jalan lama-lama, kau bisa ketinggalan pesawat jika tidak bergegas." Vivian mengangguk.


Sebenarnya Vivian sendiri tidak tega meninggalkan ayah dan ibunya. Tapi mau bagaimana lagi, dia memiliki impian yang harus dikejar dan diwujudkan. Apalagi Vivian menemukan sebuah kenyamanan di tempatnya saat ini. Teman-teman yang baik, lingkungan kampus yang menyenangkan. Dan dia lebih dihargai di sana.


Dan ada satu alasan lagi yang membuat Vivian sangat berat untuk menetap saat ini. Yang Vivian sendiri tak tau apa maknanya, yang jelas Vivian selalu merasa nyaman ketika berada disisinya.


-


-


Lovely menghampiri kakaknya yang sedang duduk termenung di beranda mansion mewah mereka. Gadis itu tersenyum jahil, sudah satu Minggu kakaknya selalu seperti ini. Melamun dan termenung, lebih tepatnya setelah Vivian pergi ke London satu Minggu yang lalu.


Perhatian pemuda itu teralihkan. Nathan menoleh dan mendapati sang adik yang sedang tersenyum jahil padanya. "Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila? Apa kau salah minum obat pagi ini?!"


"Hayo, Kakak kangen sama kak Vivian ya?" Tebak Lovely.


"Ck, apa yang kau bicarakan?! Memangnya anak kecil tau apa? Pergi sana jangan menganggu Kakak. Sebaiknya kau bantu Mami daripada usil dan mengganggu terus."


"Hahaha... Kakak sangat lucu, aku ingin tau bagaimana saat pemuda dingin seperti Kakak jatuh cinta sampai bucin pada pasangan. Pasti lucu!!"


Nathan menatap Lovely dengan jengkel. Satu Minggu terakhir ini dia suka menganggunya. Mengatakan ini dan itu, terkadang sampai membuat Nathan uring-uringan sendiri. Bukannya merasa bersalah, Lovely malah tertawa dengan keras.

__ADS_1


.


.


"Selamat pagi Om, Tante."


Luis dan Jesslyn saling bertukar pandang saat rumahnya kedatangan gadis asing berambut merah sebahu. Luis bangkit dari duduknya, dia seperti tidak asing dengan wajah gadis itu. Ya, gadis itu sama persis dengan mantan kekasih Nathan ketika dia berkuliah di New York.


Jesslyn menghampiri gadis itu yang pastinya adalah Karina. "Maaf, kau mencari siapa ya?"


"Nathan, benarkan ini rumah dia? Saya Karina, kekasih Nathan." Jawab gadis itu.


"Kekasih Kakak?! Rasanya tidak mungkin kakak punya kekasih modelan sepertimu!! Rambut merah mirip api. Hidung, lidah, alis sampai pusar pun ada antingnya. Tidak mungkin Kak Nathan kencan dengan gadis sepertimu!!" Sahut Lovely menimpali ucapan Karina.


Karina menggerakkan tangannya. Dia mencoba menahan emosinya karena ucapan Lovely yang begitu menyebalkan. "Kakak mengatakan yang sebenarnya, adik kecil. Kakak ini memang kekasih kakakmu." Karina mencoba meyakinkan. Dia bicara semanis mungkin dengan Lovely.


"Ya, itu memang benar. Tapi dulu, dan hubungan itu sudah berakhir sejak beberapa bulan yang lalu!!" Sahut Nathan. Pemuda itu menghampiri ibunya lalu berdiri disamping Jesslyn.


"Karina, sudah jelas apa yang Nathan katakan. Jadi silahkan keluar, aku tau siapa kamu. Sebelum aku memanggil bodyguard untuk menyeretmu keluar, jadi silahkan keluar dengan hormat!!"


Karina menatap Luis marah. Apa dia tidak salah dengar. Pria setengah baya itu baru saja mengusirnya. Karina yang kesal dan marah langsung memaki Luis sambil melemparkan kata-kata tajam padanya. Dan sikapnya itu menunjukkan jika Karina bukanlah gadis baik-baik.


"Usir gadis ini keluar, dan jangan ijinkan dia datang lagi kemari!!"


"Baik, Tuan."


-


-


Seorang gadis terlihat meninggalkan bandara sambil menyeret sebuah koper berukuran sedang di tangan kanannya. Setibanya diluar bandara, gadis itu menghentikan sebuah taksi.


Kepulangannya tak diketahui oleh siapa pun termasuk Sania dan Nathan. Vivian ingin memberikan kejutan pada mereka berdua. Ditengah perjalanannya, Vivian mengirim pesan singkat pada Nathan.

__ADS_1


"Hei, Rusa China, bagaimana kabarmu? Kau merindukanku tidak?"


Ting...


Selang beberapa detik, sebuah pesan balasan masuk ke dalam ponselnya. Vivian buru-buru membuka lalu membaca pesan singkat tersebut.


"Ck, begini-begini aku lebih tua 6 bulan darimu, jadi jangan sembarangan memanggilku Rusa!! Lagi pula untuk apa aku merindukan gadis bar-bar sepertimu?!"


Vivian mempoutkan bibirnya, pesan balasan dari Nathan benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Lalu Vivian kembali mengetik pesan untuk Nathan yang ia kirimkan dengan cepat.


"Sungguh?! Tapi aku lihat status di media sosial teman-temanmu yang otaknya tidak beres itu kau selalu galau. Kau melamun dan termenung, ngaku saja kalau kau merindukanku!!"


Ting...


Pesan balasan kembali masuk ke dalam ponsel Vivian. Kali ini sedikit mengejutkannya. Isi pesan itu membuat jantung Vivian berdegup kencang. Kali ini Vivian tidak membalas lagi dan malah menyimpan ponselnya. Muncul rona merah dikedua pipinya.


"Eh, kenapa lewat jalan ini? Tapi rumahku bukan lewat jalan sini," ucap Vivian pada supir taksi yang membawanya.


Supir taksi itu menyeringai. Dia menoleh pada Vivian sambil mengacungkan sebuah senjata api padanya. "Maaf, Nona. Tapi harga jual gadis secantik dirimu sangat mahal, jadi aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mendapatkan banyak keuntungan dari Bos!!"


"Oh, rupanya sindikat perdagangan manusia dengan kedok supir taksi ya?! Maaf sekali, tapi kau sudah berurusan dengan orang yang salah!!" Dengan cepat Vivian merebut pistol itu dari tangan supir taksi tersebut lalu balik menodongnya.


"Arahkan ke jalan yang benar jika kau tidak ingin kepalamu aku pecahkan!!" Ancam Vivian bersungguh-sungguh. Supir taksi itu pun menjadi sangat ketakutan. Bahkan keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.


Dia sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Ternyata Vivian tidaklah selemah gadis yang sudah menjadi korbannya. Dan tidak sedikit gadis yang berhasil dia culik dengan profesinya sebagai supir taksi, tapi sepertinya karirnya sebagai salah satu sindikat perdagangan manusia harus berakhir disini.


Taksi itu bukannya berhenti di rumah Vivian melainkan di kantor posisi. Supir taksi ini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan biar polisi sendiri yang mengungkap tentang perdagangan manusia tersebut. Tugasnya hanya mengantar penjahat ke tempat seharusnya dia berada.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2