Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Hari ini, setelah dirawat di rumah sakit selama satu Minggu akhirnya Nathan sudah diijinkan untuk pulang. Jesslyn dan Luis tidak ikut menjemputnya karena mereka harus ke luar kota untuk menjemput Tuan Eric. Dia sudah semakin tua dan Jesslyn tidak tega jika harus membiarkan ayahnya tinggal sendirian tanpa ada yang merawatnya.


Vivian sedang berkemas, sedangkan Nathan masih di kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Keadaan Nathan juga sudah baik-baik saja, bahkan dia tidak terganggu sedikit pun dengan perban yang masih setia membebat mata kanannya hingga satu atau dua Minggu ke depan.


Vivian menoleh ke belakang mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Suaminya keluar dari kamar mandi dengan pakaian berbeda, bukan lagi pakaian rumah sakit seperti yang dia pakai selama beberapa hari ini. Kemeja hitam lengan terbuka dan celana berwarna hitam pula.


"Sudah siap?" Nathan mengangguk.


"Biar aku saja yang membawanya." Ucap Nathan lalu mengambil alih tas berukuran sedang di tangan Vivian. Keduanya kemudian berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit.


-


Jantung Rio berdecak kencang saat melihat Silvia berjalan menghampirinya sambil mengurai senyum lebar.


Silvia melambaikan tangannya pada laki-laki itu, Rio datang untuk menjemput Silvia yang baru kembali dari luar negeri.


Pertemuan singkat mereka di pernikahan Nathan dan Vivian diam-diam menumbuhkan benih cinta di hati masing-masing.


Menurut Silvia, Rio sangat lucu dan dia selalu memiliki cara untuk menghibur orang lain. Sedangkan bagi Rio, mendapatkan perempuan cantik dan pintar seperti Silva seperti mendapatkan rejeki nomplok yang tidak terduga-duga.


"Sudah lama menunggu?"


"Aku baru saja tiba, apa hanya ini barang yang kau bawa?" Rio menunjuk sebuah koper ditangan Silvia. Perempuan itu mengangguk.


Keduanya kemudian meninggalkan bandara. Dan jika mereka berdua memang benar-benar berjodoh, Rio akan segera melamarnya sebelum di dahului oleh orang lain. Dia harus gentle sebagai laki-laki.


-


"Apa kau melamar ku?" Nyonya Rossa menatap Kris yang sedang berlutut sambil membawa sebuah cincin bertahtakan berlian di atasnya.


Kris sengaja meminta cuti pada Luis untuk menemui Nyonya Rossa. Kris sudah jatuh hati padanya dan begitupula sebaliknya. Lagi-lagi di pernikahan Nathan dan Vivian. Dan sepertinya pernikahan mereka membawa berkah bagi mereka yang masih melajang.


"Ya, apakah kau bersedia menikah denganku? Rossa, aku sungguh-sungguh menyukaimu dan ingin membina rumah tangga yang serius denganmu."


Nyonya Rossa menutup mulutnya dan sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menyeka air matanya lalu mengambil cincin itu dari tangan Kris. "Ya, aku mau dan bersedia menikah denganmu." Kris tersenyum lebar dan langsung memeluk Nyonya Rossa.


Setelah pencarian panjangnya yang begitu melelahkan. Akhirnya Kris menemukan tambatan hatinya. Orang yang kelak akan selalu ada disisinya, dan menemaninya di masa tua yang indah.


-


Vivian jatuh dipangkuan Nathan. Pemuda itu menatap istrinya dengan seringai yang tercetak di sudut bibirnya. Membuat Vivian menjadi gugup dan salah tingkah. "Jangan menatapku seperti itu apalagi menyeringai, kau membuatku merinding."


Nathan terkekeh. "Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka jika aku tatap seperti ini, hm?" Ucap Nathan tanpa mengakhiri kontak matanya dengan Vivian.


Gadis itu menggeleng. "Bukannya tidak suka, tapi tatapanmu selalu membuatku lemah dan gugup setengah mati." Jawabnya.

__ADS_1


"Ingin melakukannya?" Tawar Nathan.


"Tapi matamu masih sakit, apa tidak masalah melakukannya dengan sebelah mata tertutup perban begitu? Apa itu tidak mengganggumu?"


"Mengemudi saja aku mampu apalagi cuma bercocok tanam. Lagipula yang sakit mata kananku, bukan senjata tempurku. Bagaimana? Cuaca hari ini cukup dingin dan rasanya tak nyaman jika tidak saling menghangatkan."


Vivian tersenyum lebar. "Kalau begitu apalagi yang mau ditunggu, ayo kita lakukan!!"


Nathan mengangkat tubuh Vivian bridal style dan membawanya menuju kamar mereka yang berada di lantai dua. Nathan tentu tidak akan menyia-nyiakan malam ini. Apalagi sudah satu minggu senjata tempurnya di-anggurkan, dan hal itu membuatnya tersiksa setengah mati.


.


.


"Nathaaann.. inihh nikmathhh... ahhhhhh, " Vivian meracau dan ia merasa bahwa miliknya basah berkedut-kedut dan sudah mulai gatal ingin mengeluarkan hasratnya.


Nathan mel*mat bibir Vivian dan memanjakan dada mungilnya dengan tangan hangatnya. Ia mer*mas, mencubit dan memilin-milin put*ngnya gemas..


"Nghhh.. Oh Goddd..ghh~ ini sangathhh enakhh.."


Vivian mend*sah tak karuan karena dua titik sensitifnya sedang dimanjakan oleh Nathan. Vivian akui jika suaminya ini adalah seorang pemain yang sangat hebat. Dan dia sangat menyukainya.


"Ohh..ja..jarimu~ ahhh...kithhh~ mhhh...hhhh..ma..u..keluarhhh..ahhhh"


Vivian berkata dengan susah payah. Nathan yang merasakan bahwa v*gina gadis itu berkedut-kedut, lalu menghentikan gerakan jarinya di lorong milik Vivian.


"Sabar, Sayang, sebentar lagi kau akan merasakan hal yang lebih nikmat dari yang tadi" kata Nathan yang sekarang mengecupi seluruh bagian wajah istrinya.


Nathan sudah mulai memasukkan jarinya yang kedua diiringi pekikan pelan dari istrinya dan vagin*nya yang mengetat lagi.


"Rileks, Baby, kalau kau tidak rileks, ini akan terasa sakit.." Ujar Nathan sambil mengelus-elus paha dalam Vivian.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!!"


Vivian yang sudah tidak bisa menahannya lagi lalu mendorong Nathan hingga pemuda itu terpelanting ke atas tempat tidur. Dengan cepat Vivian naik ke atas tubuh suaminya lalu memasukkan senjata tempurnya ke dalam dirinya yang lain.


Des*han dan erangan memenuhi setiap inci dalam ruangan tersebut. Dia anak manusia yang sedang dimabuk cinta tengah berperang menyalurkan kenikmatan dan kehangatan yang tiada banding.


-


Gio menghampiri Sania yang sedang duduk termenung di sebuah jembatan yang melintang di atas sungai Han. Dan kedatangan Gio yang tidak terduga tentu saja mengejutkan Sania.


"Gio, sedang apa kau disini?"


Pemuda itu mengangkat bahunya. "Tidak ada, hanya ingin menikmati suasana kota saja. Kemudian aku melihat seorang gadis diam termenung di sini jadi aku pikir dia akan bunuh diri." Ucapnya.


Sania berdecak sebal. "Siapa juga yang mau bunuh diri. Aku hanya ingin menikmati sungai dari jembatan ini. Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk melakukannya."

__ADS_1


Gio terkekeh. "Mau jalan-jalan bersama? Sendirian tidak enak,"


Sania kemudian mengangguk. "Boleh." Dan keduanya akhirnya jalan bersama. Gio menemukan kenyamanan saat berada di dekat Sania, dan begitupun sebaliknya. Namun tidak ada yang spesial dalam hubungan mereka saat ini. Karena mereka hanya saling mengisi.


-


Hari-hari berlalu dengan cepat. Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.


Rasanya baru kemarin mereka bertemu dan akhirnya membuat kontrak nikah. Tapi siapa yang menduga jika puluhan tahun telah berlalu dan anak-anak juga sudah tumbuh dewasa.


Luis menghampiri Jesslyn dan Lovely yang sedang menyiapkan makan malam di dapur. Hari ini istrinya itu sangat sibuk menyiapkan perayaan ulang tahun pernikahan mereka.


Sebenarnya dia tidak melakukannya sendiri karena ada Vivian, Silvia dan Sania yang membantunya, tapi Vivian hilang entah kemana, mungkin saja sedang di culik oleh suaminya. Sedangkan Sania dan Silvia pergi ke taman untuk memetik bunga bersama Mia.


"Sayang, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Luis pada sang istri.


"Sambut saja tamu kita, mungkin sebentar lagi mereka datang."


"Baiklah."


Jesslyn mengundang semua orang terdekat termasuk teman-teman Nathan dan Jesslyn. Nyonya Rossa sedang dalam perjalanan, mereka sangat terkejut saat tau jika dia dan Kris diam-diam telah menikah.


Disaat Jesslyn dan yang lain tengah sibuk. Vivian justru menjadi tawanan suaminya. Nathan mengurungnya di dalam kamar dan tidak mengijinkannya untuk pergi kemana pun. Dan tentu saja itu membuat Vivian kesal setengah mati.


"Nathan, biarkan aku pergi. Aku harus membantu mama dan yang lainnya." Rengek Vivian memohon.


Nathan menggeleng. "Tidak, Sayang. Mama sudah ada yang membantunya sedangkan aku sendirian disini,jadi kau harus menemaniku. Apalagi suamimu ini masih sakit, apa kau tidak kasihan padaku."


Vivian berdecak sebal. Lagi-lagi Nathan menggunakan keadaan matanya sebagai alasan. Padahal sudah bisa melihat dengar normal tapi dia masih belum mau melepaskan perbannya, sepertinya Nathan sengaja memanfaatkan kondisinya untuk mendapatkan perhatian dari sang istri.


"Huft, baiklah. Dasar manja." Nathan tersenyum lebar. Dia tau jika Vivian tidak mungkin bisa menolaknya.


.


.


Suasana kekeluargaan yang penuh kehangatan begitu terasa di kediaman Qin. Semua orang terdekat sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun pernikahan Jesslyn dan Luis. Nyonya Rossa bahkan jauh-jauh dari London untuk mengucapkan selamat pada mereka.


Kebahagiaan begitu lengkap dan sempurna. Apalagi dengan hadirnya Tuan Eric disisi pasangan harmonis tersebut, dan Vivian sebagai anggota keluarga baru yang melengkapi kebahagiaan mereka. Tak ada raut kesedihan, selain kebahagiaan.


"Semuanya, ayo berkumpul dulu kita foto bersama." Seru si kembar dan Tao dari ruang tamu. Kemudian mereka pergi ke halaman untuk berfoto bersama. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini harus diabadikan.


-


The End.


Hallo riders, jangan sedih ya karena novelnya udah tamat. Karena kisah Vivian dan Nathan tetap dilanjut di new Novel yang jadi sekuel 'ISTRI KEDUA CEO LUMPUH' ini ya. Yang nunggu kapan mereka punya anak bisa ditunggu di novel barunya ya.

__ADS_1


Nanti kelanjutan kisah cinta Gio-Sania, Rio-Silvia bisa di baca di sekuelnya. Dan novelnya insya Allah di up besok pagi ya riders 🤗🤗🤗. Sampai jumpa di novel berikutnya. 😘😘😘


__ADS_2