
"HA!! AKU BOSAN, BOSAN, BOSAN, BOSAN."
Martin berteriak dan memandang bosan acara televisi yang sedang tayang. Hari ini Ia benar-benar merasa bosan, Ia tidak memiliki teman yang bisa Ia ajak berbincang. Dean sedang pergi bersama gadis bernama Maria ke pameran lukisan. Karin dan seluruh keluarganya pergi keluar negeri untuk pembukaan cabang Kim corp yang baru.
Minho dan Key sibuk dengan kesibukan masing- masing, sementara Jordan akan pergi ke bandara bersama Luna untuk menjemput orang tua wanita itu yang kembali dari luar negeri. Hanya ada Ia dan Ren yang bisa berkumpul di vila milik Ren itu, tapi bersama Ren sama saja dengan tidak memiliki teman karena dia akan menghabiskan hari liburnya untuk tidur dan bermalas-malasan.
"Fyuuuu." Martin menghembuskan nafas hingga pipinya menggembung. Dia mencoba meratapi nasibnya yang mengenaskan. Dari layar televisi, pandangan Martin bergulir pada pintu utama vila. Berharap pintu itu akan terbuka kemudian datang teman-temannya, namun itu mustahil. Dia kembali mendesah.
"AKU SANGAT BOSANNNNNN." Teriak Martin dengan frustasi.
"Diam lah, rubah. Kau menganggu tidurku saja." Omel Ren yang sedang berbaring sambil menutupi mukanya dengan majalah.
Martin mendecih, memandang sebal Ren yang baru saja mengomelinya. Ia lebih memilih bersama si pangeran es aka Jordan dari pada harus bersama si jenius namun malasnya luar biasa ini. Jika bersama Jordan, Martin bisa berceloteh panjang lebar meskipun Ia selalu merasa kesal karena dia merespon ocehan panjangnya dengan kata ambigu yang menjadi ciri khasnya.
"Hei bocah, rubah." Ren menurunkan majalah dari wajahnya kemudian bangkit dan memandang Martin yang menunjukkan tatapan tak bersahabat
"Apa?" Ucapnya.
Ren memutar matanya jengah, pria tampan nan cantik itu menutup majalahnya lalu melemparkan majalah itu pada Martin. "Baca ini."
"Apa ini?" Tanyanya sambil menatap malas Ren.
"Apa kau bodoh, tentu saja majalah."
"Kau yang bodoh, tentu saja aku tau." Martin mendecih menatap sebal sahabatnya itu.
Martin bukankah orang bodoh yang tidak tau jika itu adalah majalah, yang menjadi pertanyaannya adalah maksud Ren memberikan majalah itu padanya. Tapi bukan Martin namanya yang tidak kesulitan menyampaikan maksudnya dalam kalimat yang efektif.
"APA!! Jimmy Tang, mengatakan pada publik jika Ia adalah ketua keluarga Tang yang baru." Pekik Martin dengan suara menggelegar "Bagaimana bisa? Bukankah si balok es itu mengatakan jika Ia akan maju dan mengambil alih posisi, David Gege? Lalu apa maksudnya artikel ini?" Pekiknya sambil nunjuk-nunjuk artikel itu.
"Kenapa kau tidak pintar-pintar juga, Rubah jelek?" Ucap Ren yang gemas sendiri dengan kebodohan Martin. "Berapa lama kau mengenal si bocah Tang itu? Bukankah kau satu-satunya yang paling dekat dengan dia? Tapi kenapa kau masih belum memahami dia juga." Ren berbicara dengan gemas, ingin rasanya Ia menendang bokong Martin karena kebodohannya itu.
Martin nyengir Kuda "Aku masih tidak paham." Ucapnya polos.
"MARTIN." Buru-buru Martin menutup telinganya mendengar teriakan Ren. "Kenapa orang bodoh sepertimu malah menjadi seorang dosen di sebuah universitas ternama di negeri ini? Aku benar-benar heran pada orang yang menerimamu saat itu."
__ADS_1
"Yakkk, muka plastik, apa kau ingin membuatku tuli eo? Dan apa-apaan ucapanmu itu? Meskipun aku bodoh tapi aku juga pintar, begini-begini aku juga memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang dosen" ujar Martin marah.
"Tapi aku tetap saja heran, bagaimana orang bodoh sepertimu bisa menjadi dosen. Sebenarnya apa yang ada di otakmu sampai-sampai kau tidak bisa memahami ucapanku. Dengar ya, Rubah. Jordan, itu bukanlah orang bodoh yang akan bertindak sembarangan tanpa sesuatu yang terencana. Dia memang akan muncul, tapi bocah itu masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi mereka semua sebuah kejutan. Nah, apa sekarang kau paham?" Tanya Ren menahan emosinya.
Martin memiringkan wajahnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tidak." Jawabnya polos.
"MARTIN!!"
xxx
"
"Ge, cepat turun. Sarapan sudah siap." Luna sedikit berteriak memanggil seseorang yang masih betah berlama-lama di kamarnya.
Tapp .. Tapp .. Tapp ..
Samar-samar dia mendengar derap langkah kaki yang sedang menuruni tangga, sudut bibir Luna tertarik keatas melihat kedatangan Jordan.
Pagi ini Jordan terlihat segar dan tampan dengan jeans panjang, kemeja hitam yang lengannya telah di gulung sampai siku. Di lapisi coatvest berwarna gelap yang panjangnya di atas lutut. Rambutnya di tata sedikit berantakan.Dia benar-benar terlihat sangat menawan.
Luna tersenyum kemudian berbalik badan, posisinya dan Jordan kini saling berhadapan. Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher Jordan, sedikit berjinjit untuk membalas morning kiss sang Adonis.
"Pelayan di rumahku yang menyiapkannya, tadi sopir yang mengantar kemari. Tidak masalah bukan? Dan tenang saja, soal rasa tidak perlu diragukan lagi." Ujar Luna.
Jordan menggeleng. "Hm, tidak masalah." Jawabnya. Jordan menarik lengan Luna agar duduk di sampingnya, mereka mulai menyantap sarapannya dengan tenang tanpa ada perbincangan. Jordan bukan tipe pria yang suka berbicara saat sedang makan, begitu pula dengan Luna.
30 menit setelah mereka menyelesaikan sarapannya, Luna dan Jordan segera pergi ke bandara untuk menjemput kepulangan kedua orang tua Luna. Seharusnya Nathan yang pergi menjemput mereka, tapi dia sangat sibuk. Luna sudah tidak sabar untuk segera bertemu Jesslyn dan Luis, sudah beberapa bulan Ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.
Namun di tengah perjalanan, mereka di hadang dua mobil yang sejak awal memang membuntuti mobil Jordan. Jordan dan Luna masih tetap bergeming saat melihat beberapa pria keluar dari mobil itu sambil membawa senjata.
"Cihh." Jordan mendecih memandang orang-orang itu tidak suka, namun bukan Jordan namanya jika tidak memiliki cara untuk keluar dari masalah kecil ini. Pandangannya lalu digulirkan pada Luna."Pasang sabuk pengamanmu." Perintah Jordan lalu pandangannya kembali ke depan.
Tatapannya tertuju pada orang-orang itu yang sedang menggedor-gedor kaca mobilnya. Untungnya Jordan melengkapi mobilnya dengan pengaman khusus, terutama pada kaca mobilnya, hingga kaca itu tidak muda di hancurkan.
Jordan menyeringai, di hidupkan kembali mesin mobilnya. Dia juga telah menyiapkan senjata untuk menghalangi mereka untuk bisa menyusulnya.
__ADS_1
Luna menutup matanya saat Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa orang yang mencoba menghalanginya terpental karena tertabrak mobil Jordan. Ada juga yang jatuh karena coba menghindar, Jordan membuka kaca mobilnya dan melepaskan beberapa tembakan yang Ia arahkan pada roda-roda mobil itu.
Doorrrr ... !!
Doorrrr ... !!
Doorrrr ... !!
"Shittt." Beberapa pria yang selamat mengumpat marah sambil menendang roda mobilnya yang telah kempes karna terjangan peluru yang Jordan lepaskan.
"Ge, kau hebat, itu sangat seru. Kau sangat mengagumkan." Luna menjerit sambil mengacungkan dua jempolnya pada Jordan.
Jordan terkikik geli melihat tingkah kekasihnya. Padahal beberapa saat lalu dia menjerit histeris karena ketakutan, tapi beberapa menit kemudian dia histeris bukan karna takut tapi karna senang.
"Kau ini." Jordan mengacak gemas rambut coklat milik Luna sebelum kembali fokus pada jalan yang di laluinya.
xxx
Bandara International Seoul selalu sesak penuh dengan orang-orang seperti biasa, orang-orang yang akan datang maupun pergi. Ini adalah musim panas yang cukup terik, tak sedikit orang yang memilih berada di rumah karna takut kulitnya akan terbakar oleh paparan sinar matahari yang menyengat.
Dari kejauhan Luna melihat dua orang berbeda gender dengan warna rambut yang berbeda berjalan di bandara sambil menyeret koper yang lumayan besar. Mereka berdua segera melambaikan tangannya saat melihat keberadaan dua orang yang akan menjemput kedatangan mereka Berdua. .
"Mama, Papa," seru Luna sambil berlari menghampiri mereka berdua. Kemudian mereka bertiga berpelukan dan saling melepas rindu. "Ma, Pa, aku kangen kalian." ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.
"Kami juga merindukanmu, Sayangku." Balas Jesslyn sambil mengusap punggung Luna naik turun.
Luis melepaskan pelukannya lalu menggulirkan pandangannya pada Jordan, pria itu tersenyum lebar."Jordan, maaf harus merepotkan mu."
Jordan menggeleng. "Sama sekali tidak, Paman. Kalian berdua pasti lelah sebaiknya kita pulang sekarang," ucap Jordan dan dibalas anggukan oleh mereka berdua.
Luna mengabaikan Jordan begitu saja, iya terus menempel pada ibunya. Luna benar-benar merindukan Jesslyn setelah beberapa bulan tidak bertemu, wanita cantik itu berceloteh panjang lebar dan menceritakan banyak hal, termasuk tentang hubungannya dengan Jordan. Para pria yang berjalan di belakang mereka hanya menjadi pendengar setia.
xxx
Bersambung.
__ADS_1