
Setelah memarkirkan mobilnya, Jordan dan Luna berjalan beriringan menghampiri orang-orang yang berkumpul di satu titik. Beberapa dosen dan kedua sahabat Luna, juga ada di sana. Luna dan Jordan saling memandang, lalu mengangkat bahu tanda jika mereka sama-sama tidak tau.
"Tiff, apa yang terjadi?" tanya Luna di dekat Tiffany.
Tiffany menoleh saat merasakan tepukan pada bahunya, dan mendengar suara Luna masuk kedalam pendengarannya "Luna!!' Bukannya menjawab pertanyaan Luna, dia malah histeris lalu memeluk gadis itu. "Luna. Aku sangat merindukanmu." Tiffany memeluk sahabatnya itu sangat erat.
"Sakit bodoh, kau membuat tulang-tulang ku remuk." Luna berontak dalam pelukan Tiffany yang memeluknya dengan sangat erat. Saking eratnya sampai-sampai membuat Luna kesulitan bernapas.
Tiffany tersenyum lalu melepaskan pelukannya sambil tersenyum tiga jari. "Maaf, aku terlalu bersemangat." Ucapnya penuh sesal.
"Masalah besar?"
Perhatian para gadis teralihkan oleh perbincangan dua pria yang tak jauh dari Luna dan Tiffany serta teman-temannya yang lain. Ya, mereka adalah Jordan dan Martin Oh. Beberapa pasang mata itu kini beralih pada keduanya.
"Mereka semua adalah tim inti, selama beberapa bulan ini mereka selalu berlatih keras untuk pertandingan basket hari ini. Tapi usaha mereka sia-sia karena ada yang menyabotase dan berusaha untuk mencurangi mereka. Jika pertandingan kali ini gagal lagi, maka ini akan menjadi kekalahan telak untuk kampus kita." Tutur Martin panjang lebar.
"..." Jordan diam dan tidak memberikan respon apapun. Otaknya sedang berpikir keras.
"Kita harus mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tidak ingin jika kampus ini kalah lagi dan membuat reputasi kampus ini dalam bidang olah raga semakin bu---.?"
"Hubungi Dean, Minho, Key dan Ren. Red Devil yang akan mengambil alih pertandingan ini." Sahut Jordan memotong ucapan Martin.
Pupil mata Martin membulat sempurna. "Jordan, kau serius?" Tanya Martin memastikan.
"Hn." Martin tersenyum lebar. Wajahnya berseri, kedua matanya berbinar.
"Segera di laksanakan. Aku akan segera menghubungi mereka dan aku akan sampaikan kabar baik ini pada kakek Aryan, kakek tua itu pasti akan sangat bahagia." Dengan perasaan yang tak dapat di gambarkan, Martin meninggalkan Jordan dan menemui Aryan.
Jordan hanya bisa menghela nafas melihat sikap kekanakan sahabatnya itu. Namun tiba-tiba Ia berhenti, Martin membalikkan tubuhnya "Karin, aku mencintaimu." Teriak Martin dengan cengiran khasnya.
"Martin Songsaenim." Karin buru-buru menundukkan wajahnya yang sudah memerah, Martin benar-benar membuatnya malu.
"Ckk, si bodoh itu." Gumam Jordan sambil menatap sahabatnya itu dengan sebal.
Luna mengangkat wajahnya saat merasakan genggaman hangat pada telapak tangannya. "Tidak apa-apakan jika aku meninggalkanmu di sini?" ucap Jordan memastikan,
Luna menggeleng. "Tentu saja." Jawabnya.
Luna memejamkan matanya saat tangan besar Jordan menarik kepalanya ke depan Detik berikutnya Luna merasakan benda lunak dan sedikit basah menyentuh jidatnya, lama. Hangat, pikir Luna.
"Aku pergi dulu." Ucap Jordan di balas anggukan oleh Luna.
__ADS_1
Sementara itu, Karin terlonjak saat menolehkan kepalanya, teman-temannya menatapnya seolah berkata 'Kami butuh penjelasan'. Karin memutar permata hitamnya. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Karin kebingungan.
"Berikan kami penjelasan Karin, apa maksudnya Martin Songsaenim tiba-tiba berteriak dan mengatakan jika dia mencintaimu?" Tanya Tiffany layaknya seorang polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
Karin mendengus kasar. "Memangnya salah ya, jika seorang kekasih melakukan hal semacam itu pada gadisnya? Seperti kalian belum bernah mengalami saja." Sewot Karin dengan tatapan sebalnya.
"Ehh?? Apa kau bilang? Kekasih?" ucap Tiffany penasaran.
Lagi-lagi Karin memutar bola matanya malas. "Apa masih belum jelas? aku tegaskan ya, K.e.k.a.s.i.h." ucap Karin, sedangkan Tiffany dan yang lainnya masih me loading ucapan Karin.
50 %
70 %
80 %
100 %
"A-APA?? KEKASIH?! JADI KAU DAN MARTIN SONGSAENIM SUDAH RESMI PACARAN?!" Teriak Luna dan Tiffany serempak setelah loading completed.
Karin mendesah panjang, membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan teriakan teman-temannya. Tidak, bukan kelasnya. Karena Karin tidak akan masuk kelas hari ini, Ia tidak akan melewatkan pertandingan basket yang akan segera berlangsung.
xxx
Pria berambut putih bermata hitam dengan gigi ompong dua itu tersenyum puas, ya memang Ia dalang di balik peristiwa yang terjadi pagi ini. Ia menyewa seseorang dan memintanya untuk memasukkan obat pencuci perut kedalam makanan dan minuman tim inti dari S.N.U.
Tujuan utamanya adalah untuk membuat kampus itu kalah, namun apa yang Ia lakukan justru akan menjadi kuburan untuk dirinya sendiri. Karena tanpa Ia sadari, kejutan kecil sedang menanti dirinya dan teman 1 timnya.
"Aku jadi tidak sabar melihat kekalahan mereka, pasti akan sangat menyenangkan membuat tim mereka tumbang tanpa perlawanan." Sahut pria yang duduk di samping pria berambut merah itu.
"Tentu saja Yuki, dan kita akan membantai mereka dan mempermalukannya di depan semua orang. Dan buktikan pada kampus ini jika kampus kita jauh lebih baik dari segi mana pun terutama olah raga."
"Aku bangga memiliki kapten seperti dirimu di tim ini Boy, selain cerdik. Tenyata kau juga licik, dan aku menyukai itu." Boy menyeringai, Ia senang dengan pujian yang di berikan sahabat besarnya itu.
"Hahaha kau memang yang paling bisa membuatku bahagia Juga, baiklah anak-anak segera persiapkan diri kalian. Kita bantai tim mereka dan segera bawa pulang kemenangan."
xxx
"KKYYYYYAAAAAAAAA..."
Para gadis menjerit histeris saat melihat beberapa pria tampan baru saja keluar dari mobil masing-masing, ke 4 pria tampan itu adalah Minho, Key, Dean dan Ren. Tak ketinggalan Molly yang berjalan di samping Kiba.
__ADS_1
Mereka ber 4 adalah alumni S.N.U, mereka ber 4 tergabung dalam satu geng yang di sebut Red Devil yang di ketuai langsung oleh Jordan. Membahas soal Red Devil, perlu sedikit menengok ke masa lalu, lebih tepatnya 7-8 tahun yang lalu.
Red Devil adalah geng yang paling di takuti dan di segani, mereka tidak hanya memiliki wajah yang luar biasa tampan dan terlahir di tengah-tengah keluarga yang kaya raya.
Seperti namanya 'Red Devil' selalu membuat keributan di mana-mana, meski usia mereka pada saat itu masih tergolong masih sangat muda. Karena Jordan cs masih duduk di bangku menengah pertama, tak hanya membuat keributan di sana-sini.
Mereka juga merajai jalanan malam, hobi balap liar, mabuk-mabukan dan jangan lupakan soal tawuran. Karna hampir setiap hari mereka selalu terlibat perkelahian dengan kelompok lain, 1 minggu mereka pernah di tahan di kantor polisi.
Tapi hukuman itu tak lantas membuat mereka merasa jerah, karna setelah keluar. Kenakalan mereka kian bertambah. Jordan cs berhasil membuat sekitar 40 masuk rumah sakit, 25 meregang nyawa dan sekitar 35 orang mengalami luka-luka.
Dan parahnya, insiden berdarah itu mereka lakukan kurang dari 1 jam. Dan mereka semua adalah gabungan dari beberapa kelompok yang memiliki dendam dengan Red Devil.
Mereka adalah para remaja yang kejam, bringas dan sangat berbahaya. Tidak hanya di luar, namun juga saat berada di lingkungan sekolah. Ada saja korban dari kenakalan mereka setiap harinya, bahkan para guru pun menjadi sasaran kenakalan mereka. Bisa di hitung tangan, berapa kali dalam satu bulan mereka datang.
Namun sejak beberapa tahun belakangan ini Red Devil tak pernah terlihat lagi keberadaannya, mereka tiba-tiba saja lenyap bagaikan di telan bumi.
Apakah mereka bubar? Jawabannya tidak, mungkin lebih tepatnya vakum sementara. Banyak desas-desus beredar mengenai keberadaan mereka. Banyak yang menduga jika mereka telah tertangkap polisi namun keluarganya ingin agar penangkapan itu tak sampai ketelinga media masa, namun ada juga yang mengatakan jika Red Devil di bubarkan secapa paksa.
Tapi semua asumsi itu tidak ada yang benar, karena Red Devil tidak pernah bubar. Dan hari ini mereka telah kembali, bukan sebagai biang rusuh yang selalu membuat onar. Tapi mereka kembali sebagai tim pengganti dalam pertandingan basket antar kampus menggantikan tim inti.
"Huaaa lama sekali aku tidak datang ke kampus ini, banyak yang berubah ternyata." Seru Minho di tengah-tengah langkahnya.
"Ngukkkkk .." Minho tersenyum mendengar sahutan Molly, Minho mengusap punggung Anjing kesayangannya penuh sayang.
Molly adalah satu-satunya mahluk yang paling mengerti dirinya karena itulah Minho sangat menyayanginya dan selalu memanjakannya, dan menurut Minho tak ada satupun gadis yang mampu merebut hatinya seperti Molly merebut hatinya.
"Tapi di mana di bodoh itu? Bukankah dia yang meminta kita untuk datang," Dean memandang Key dan Minho bergantian, keduanya hanya mengangkat bahu tanda tak tau.
"Yang pasti ada di kampus ini, dan tugas kita sekarang adalah menemukan keberadaannya." Sahut Ren dengan senyum palsunya.
"Masalahnya kampus ini terlalu luas untuk kita mencari keberadaannya." Dean menggeram frustasi.
"Aku malas mencari mereka."
Tak lama menjelang. Langkah ke 4 pria tampan itu di hentikan oleh kehadiran beberapa gadis yang langsung mengerumuni mereka.
"Kyyyyaaaaaa. Kalian tampan sekali." Jerit gadis-gadis itu penuh kekaguman.
Mereka berempat berjalan dengan bangga.Ternyata mereka sangat popular. Dan hal tersebut membuat mereka sangat gembira. Memiliki wajah tampan memang sangat menguntungkan, begitulah yang mereka pikirkan. Demi menjaga image, mereka bersikap acuh meskipun sebenarnya hatinya bersorak bahagia
xxx
__ADS_1
Bersambung.