
"Ahhh, lelahnya."
Jesslyn menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah diatas tempat tidur. Banyak sekali hal menyenangkan yang terjadi hari ini.
Awalnya Jesslyn hanya pergi bersama Nathan dan Luis saja, tapi di Lotte World mereka tidak sengaja bertemu dengan Tao dan si kembar.
Hal-hal menyenangkan terjadi selama mereka berada di Lotte World. Si kembar yang muntah-muntah setelah turun dari wahana ekstrim, Tao yang menerima hukuman dari Luis dengan ditemani si kembar.
Mereka masuk rumah hantu yang endingnya malah dikejar-kejar oleh mahluk dua alam, wanita jadi-jadian.
Rasanya perut Jesslyn agak sedikit kram karena terlalu lama ketawa tadi. Bahkan Jesslyn nyaris terkencing di celana akibat ulah mereka bertiga. Hal tidak terduga yang terjadi di Lotte World memberikan hiburan sendiri untuknya.
Jesslyn menggulirkan pandangannya mendengar suara decitan pintu di kamar yang dibuka dari luar, senyum di bibirnya mengembang lebar melihat siapa yang datang.
Wanita itu melompat turun dari tempat tidur dan langsung menerjang tubuh Luis. Kedua kaki Jesslyn melingkari pinggang prianya tersebut.
"Kau bahagia hari ini?" Ucap Luis yang segera dibalas anggukan oleh Jesslyn.
"Sangat, aku sangat bahagia. Apalagi hari ini penuh dengan kejutan, dan Nathan juga menikmati jalan-jalan kali ini." Ujarnya.
"Lain kali kita pergi lagi,"
"Harus!! Saat musim semi, bagaimana kalau kita pergi Busan, sekalian bulan madu, siapa tau setelah kembali dari sana Nathan langsung memiliki adik, bagaimana?" Jesslyn menatap Luis dengan begitu antusias.
"Bukan ide buruk. Baiklah, nanti kita pergi ke sana. Jika kau lelah, sebaiknya istirahatlah, aku mandi dulu." Luis mengecup kening Jesslyn lalu menurunkan wanita itu dari gendongannya dan pergi begitu saja.
Tanpa Luis minta pun, dia pasti akan istirahat. Kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kedua matanya terasa berat, hari ini benar-benar sangat menyenangkan tapi juga melelahkan.
Dan tidak sampai lima menit, Jesslyn sudah tertidur pulas. Wanita itu tidur sambil memeluk guling, benda mati itu dia peluk dengan erat, karena guling miliknya yang bernyawa sedang mandi.
-
-
Yuna sedang menikmati makan malamnya disebuah restoran mewah bersama teman-temannya.
Mereka baru saja pulang dari berbelanja, meskipun saat ini perusahaan suaminya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, tapi wanita itu tetap tidak peduli dan masih suka menghambur-hamburkan uang.
__ADS_1
Tak ada rasa iba sedikit pun di hati Yuna akan keadaan perusahaan suaminya yang saat ini berada diujung tanduk. Yang terpenting baginya adalah kesenangan dan foya-foya.
"Lihatlah ini, suamiku membelikanku berlian lagi saat kembali dari luar negeri," salah satu dari teman Yuna memamerkan sebuah cincin berlian. Dia mendapatkan cincin itu dari suaminya yang baru kembali dari luar negeri.
"Aku juga mendapatkan berlian dari suamiku. Ini adalah kado ulang tahun pernikahan kami yang ke 30. Cantik kan,"
Iri, tentu saja. Karena hanya Yuna yang tidak bisa memamerkan apapun seperti yang dilakukan oleh teman-temannya. Jangankan untuk membelikannya berlian, untuk hidup saja sangat sulit. Beruntung Yuna memiliki seorang simpanan yang bisa dia andalkan.
"Lalu bagaimana denganmu, Yun? Apa suamimu tidak membelikan apapun untukmu? Bukankah dia adalah orang yang sangat royal dan tidak mudah perhitungan,"
"Bukannya begitu. Dia baru saja membelikanku mobil baru dan satu set berlian Minggu lalu, masa setiap hari harus membelikanku barang mewah, itu namanya pemborosan." Ujar Yuna.
Tidak mungkin Yuna mengatakan pada mereka berdua seperti apa keuangannya saat ini, bisa-bisa mereka menghinanya habis-habisan dan Yuna akan kehilangan harga dirinya yang setinggi langit.
"Eric,"
Saat melihat ke luar jendela, tanpa sengaja mata Hazel Yuna melihat seseorang yang sangat dia kenal turun dari sebuah mobil mewah yang dia tau tidak murah harganya.
Tanpa menghiraukan kedua temannya, Yuna pun segera menghampiri orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Eric, suami pertamanya. Orang yang telah dia campakkan demi pria lain.
Yuna yakin, dia tidak mungkin salah mengenali orang. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, tapi Yuna masih mengingat betul wajah pria yang menjadi suami pertamanya, dan orang yang memberinya seorang putri.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Apa mungkin aku hanya salah lihat, tidak mungkin juga Eric memiliki mobil semewah itu. Dia hanya pria miskin yang tidak memiliki apapun." Yuna berbalik dan kembali ke dalam cafe.
-
-
"Bagaimana, Tuan. Apa Anda menyukai apartemen ini? Jika Anda menyukainya, kita bisa langsung mengurus pembayarannya."
Tuan Eric menggeleng. "Hunian ini terlalu mewah dan besar untukku. Lebih baik batalkan saja rencana untuk membeli satu hunian disini, aku lebih nyaman tinggal di rumah lamaku di pedesaan. Suasana lebih tenang,"
"Tapi, Tuan. Ini adalah permintaan Tuan Luis, atau mungkin kita cari rumah saja?" Usul Kris.
Lagi-lagi Tuan Eric menggeleng. "Tidak perlu, antarkan saja aku ke rumahku. Aku akan kembali ke sana dan bertani." Ujarnya.
Tuan Eric merasa tidak nyaman tinggal di kediaman Luis. Meskipun putri dan cucunya tinggal di sana, tapi dia lebih nyaman tinggal di rumah miliknya sendiri. Itulah kenapa Tuan Eric memutuskan untuk meninggalkan rumah menantunya.
__ADS_1
Luis sangat keberatan dengan keinginan ayah mertuanya. Dia ingin agar Tuan Eric tinggal bersamanya, Jesslyn dan Nathan. Tapi Luis juga tidak bisa mencegahnya pergi, dia menghargai keputusan ayah mertuanya.
"Baiklah, Tuan. Jika itu keputusan Anda, saya akan mengantarkan Anda ke pedesaan." Ucap Kris pada akhirnya. Kris tidak bisa membujuknya lagi, itu adalah keputusan Tuan Eric.
"Terimakasih, Kris. Maaf merepotkan." Sesal Tuan Eric.
"Tidak sama sekali, Tuan. Karena melayani keluarga Qin sudah menjadi tugas saya. Anda adalah ayah mertua, Tuan. Yang artinya Anda majikan saya juga, salah satu orang yang harus saya prioritaskan,"
Hidupnya benar-benar berubah 180°, tapi hal tersebut tak membuat Tuan Eric lupa diri. Dia justru masih hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.
-
-
"Kkkyyyaaaa!!!"
Gluduk... Gluduk... Gluduk...
GUBRAK...
Suara jeritan dan kegaduhan itu mengejutkan Jesslyn yang baru saja bangun. Wanita itu buru-buru berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan setibanya di luar kamar, dia langsung disuguhi semua pemandangan yang menggelitik perutnya.
Entah bagaimana ceritanya. Si kembar bisa jatuh terguling di tangga, sebelum akhirnya berakhir mengenaskan di lantai.
"Astaga, apa-apaan kalian berdua ini? Kenapa kalian malah rebahan disini, apa kalian bosan tidur di kasur empuk makanya memilih berbaring disini?" Tao menghampiri mereka berdua. Bukannya membantu, Tao malah mencibir dan mengomentari posisi mereka saat ini.
"Panda jelek, daripada kau ngomel-ngomel tidak jelas. Sebaiknya bantu kami berdiri. Huhuhu, pinggangku rasanya mau patah!!" Rio mengeluarkan jurus andalannya, yakni berpura-pura menangis.
"Mau patah bagaimana, dari tadi kau terus ada diatas tubuhku. Cepat menyingkir!! Huaa... Aku pengen pipis!!" Teriak Marcell histeris.
Masih menjadi misteri kenapa mereka berdua bisa berakhir mengenaskan seperti itu. Karena memang tidak ada yang tau bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Tapi setidaknya hal tersebut memberi hiburan untuk Jesslyn, ada saja kelakuan konyol mereka yang membuat orang lain sakit perut. Sungguh hiburan gratis yang sangat menyenangkan.
-
Bersambung.
__ADS_1