Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kesadaran Karina


__ADS_3

Vivian berjalan dengan santai menuju kelasnya di lantai dua, seperti biasa semua memberi jalan saat ia lewat. Tak sedikit juga yang menyapanya ketika sedang berjalan di koridor dan hanya dibalas dengan senyuman yang mampu membuat semua terpesona.


Sekarang Vivian telah sampai di kelasnya dan langsung duduk manis di bangku yang terletak nomor dua dari depan, mata Hazel-nya memandang sekelilingnya. Sepi, tak ada seorang pun disini.


Sampai derap langkah kaki seseorang tertangkap oleh indera pendengarannya. Vivian menoleh dan mendapati seorang pemuda serampangan berjalan menghampirinya. "Selamat pagi," sapa Vivian dengan senyum terbaik tersungging di bibir ranumnya.


"Pagi, kenapa tidak menungguku?" Tanya orang itu yang pastinya adalah Nathan.


"Maaf, aku tadi mengantar Sania ke rumah sakit dulu. Dia mengalami diare dari semalam, dan sekarang dia harus rawat inap di sana." Jelas Vivian.


Nathan menepuk kepala coklat Vivian sambil menatap langsung ke dalam manik Hazel-nya yang jernih. "Lain kali kita berangkat bersama, bagaimana pun juga sekarang kita adalah sepasang kekasih. Dan biarkan aku melakukan tugasku sebagai kekasihmu," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.


"Baiklah," gadis itu tersenyum lebar.


"Kau sudah sarapan?" Vivian menggeleng. Dia belum sempat sarapan. "Ayo ke kantin, kebetulan aku juga belum sarapan." Nathan mengulurkan tangannya pada Vivian yang dengan senang hati disambut olehnya.


Kemudian keduanya meninggalkan kelas dan pergi ke kantin untuk sarapan. Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang menatap mereka berdua dengan berbagai ekspresi. Baik Nathan maupun Vivian sama-sama tidak peduli, toh mereka juga punya mata jadi bebas.


Sementara itu... Karina yang baru saja tiba di kampus dan melihat kebersamaan Nathan dan Vivian terbakar api cemburu melihat pemuda itu menggandeng gadis lain yang parasnya sangat cantik dan anggun. Karina mempercepat langkahnya dan menghampiri mereka berdua.


"Nathan tunggu!!" Seru Karina. "Siapa gadis ini? Dan kenapa kau bersamanya?" Tanya Karina sambil menunjuk Vivian.


"Dia Vivian, kekasihku. Minggir, kau menghalangi jalan."


"Apa kau bilang, kekasihmu?! Kau memutuskanku secara sepihak lalu sekarang berkencan dengan gadis ini, lalu apa artinya aku bagimu selama ini?!" Teriak Karina.


"Kau tanya apa artimu bagiku?! Kau tidak ada artinya sama sekali, hubungan kita sejak awal memang tidak didasari cinta dan ketulusan. Kita hanya saling menguntungkan saja. Kau yang membutuhkan seseorang untuk dipamerkan pada teman-temanmu, dan aku yang butuh teman untuk mengisi kesepian. Begitulah hubungan kita yang sebenarnya."


"Nathan, kau~"

__ADS_1


"Kembalilah ke New York, tempat ini tidak cocok untuk gadis bebas sepertimu. Dan sebaiknya buka hatimu untuk Andrew, dia benar-benar tulus padamu dan bisa menerimamu apa adanya. Jangan sampai terlambat dan menyesal dikemudian hari." Nathan menepuk bahu Karina dan pergi begitu saja.


Karina terdiam selama beberapa saat. Andrew, benar apa yang Nathan katakan, kenapa dia tidak pernah melihat ketulusannya. Selama ini Andrew sudah banyak berkorban untuknya tapi Karina tidak pernah bisa melihat ketulusannya. Mungkin belum terlambat untuk dia pergi padanya.


Gadis itu menoleh pada Nathan dan Vivian yang sudah semakin menjauh. Karina kemudian mengejar mereka berdua untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Nathan, tunggu!!" Seru Karina. Karina menghampiri Nathan lalu memeluknya. Disampingnya terlihat Vivian yang menekuk wajahnya.


"Karina, lepaskan!!" Nathan mendorong Karina namun pelukan gadis itu malah semakin erat.


"Terimakasih sudah menyadarkanku. Selama ini aku terlalu egois dan menutup mata akan ketulusan seseorang yang benar-benar mencintaiku. Aku akan kembali ke New York, aku harap masih belum terlambat."


Kemudian Karina melepaskan pelukannya lalu pandangannya bergulir pada Vivian. Gadis itu tersenyum lebar.


"Kau mendapatkan kekasih yang sangat cantik, Nathan. Aku harap kau bisa menjaga dan selalu melindunginya, jangan pernah menyakiti hati dan perasaannya karena yang diinginkan seorang perempuan adalah cinta dan ketulusan dari kekasihnya."


Vivian meraih tangan Karina. "Saat kau datang lagi ke kota ini. Kau bisa langsung mencariku, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu. Dan bisakah kita menjadi teman mulai sekarang?"


"Aku akan pergi sekarang. Aku tidak bisa membuat dia menungguku terlalu lama."


"Kalau begitu kami berdua akan menemanimu ke bandara. Kau membawa mobil kan?" Nathan mengangguk. "Ya sudah, tunggu apa lagi, ayo pergi sekarang."


"Kau tidak perlu pergi kemana pun, Karina. Karena aku ada disini," sahut seseorang dari belakang. Terlihat seorang pemuda berkaca mata dengan style rapinya berdiri di belakang Karina.


Gadis itu menoleh. Karina menyeka air matanya lalu berlari dan memeluk pemuda itu yang pastinya adalah Andrew. Sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan. Vivian menoleh saat merasakan seseorang memeluk pinggangnya.


"Ayo pergi, biarkan mereka menyelesaikan urusan hatinya." Ucap Nathan. Vivian tersenyum dan mengangguk.


Vivian dan Nathan meninggalkan mereka berdua. Nathan tau jika Karina sebenarnya baik, hanya saja dia salah pergaulan saja. Dan mungkin hanya Andrew yang bisa merubahnya menjadi gadis yang lebih baik.

__ADS_1


-


-


Tatapan penuh kebencian mengiringi setiap langkah Marissa. Sejak hari itu, semua teman satu kampusnya memandangnya dengan sebelah mata. Berbagai umpatan dan kata-kata tajam sering kali membuat telinganya terasa panas. Namun Marissa tak menghiraukannya sama sekali.


Gadis itu masuk ke dalam kelas dan melihat sebuah pemandangan yang membuatnya muak. Dimana Mario yang sedang tersenyum manis padanya.


"Marissa, aku sudah menunggumu dari tadi. Lihatlah apa yang aku bawakan untukmu. Ini adalah gaun koleksi terbaru Dior, aku sengaja membuka tabunganku untuk membeli gaun ini."


Marissa mengambil gaun itu lalu membuangnya ke tempat sampah. "Kau pikir aku akan menyukaimu dan menerimamu hanya karena kau membelikanku sebuah gaun berharga puluhan juta?! Jangan bermimpi, karena sampai kapanpun aku tidak sudi memiliki kekasih sepertimu!!"


"Marissa, kenapa kau tega sekali berbicara seperti itu padaku. Padahal aku sangat tulus padamu,"


"Lalu kenapa kalau kau tulus padaku? Kau pikir itu berpengaruh padaku?! Simpan saja cintamu dan cari orang lain. Berhenti mengejar ku!!" Marissa mendorong Mario dan pergi begitu saja.


Arya, Sean dan Dio menghampiri pemuda itu."Hei, kawan. Wanita di dunia ini bukan hanya dia saja. Modelan seperti itu tidak layak diperjuangkan, tapi jika aku jadi dirimu. Aku pasti akan memberikan pelajaran yang berharga padanya supaya dia tdiak bisa semena-mena lagi. Apalagi kabur darimu."


Mario mengangkat wajahnya dan menatap Arya penasaran. "Caranya?"


Arya menyeringai. "Hamili dia, dengan begitu dia akan terikat padamu dan jika benaran hamil. Marissa pasti mencarimu untuk meminta pertanggung jawaban." Ucap Arya setengah berbisik.


Mario langsung terdiam setelah mendengar saran yang diberikan Arya. Tapi saran itu tidak buruk juga. Jika cinta, apapun pasti akan dia lakukan untuk mendapatkannya.


"Baiklah, aku terima saranmu. Dengan begitu Marissa tidak akan lepas dariku!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2