
Luna hanya memutar matanya jengah melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh Martin dan Karin. Tiffany dan Devan yang kebetulan baru bergabung bersama mereka.
Hanya dirinya satu-satunya yang tidak berpasangan di sini, jika hal ini terjadi 7 bulan yang lalu mungkin tidak masalah bagi Luna karena pada saat itu Ia adalah gadis yang cuek dan tidak peduli soal percintaan. Tapi kali ini lain lagi ceritanya, Ia telah menikah dan bersuami. Rasanya ada yang berbeda saat Jordan tidak ada di sampingnya.
"Sudahlah, Luna. Berhenti memasang wajah cemberut seperti itu. Bukankah di rumah kau masih bisa bertemu suami tampanmu itu!" bujuk Tiffany melihat Luna yang terus-terusan menekuk wajahnya.
"Aku tau," sahutnya ketus.
"Ayolah, Luna. Kau semakin jelek kalau cemberut begitu!" Kata Karin. Luna hanya memutar matanya jengah.
"Kalian semua menjengkelkan, setidaknya jangan umbar kemesraan di depan umum. Itu sangat memalukan," Luna mencibir tiga pasangan itu lalu beranjak dan pergi begitu saja.
"Luna, kau mau kemana?" Key mendongak melihat wanita itu bangkit dari duduknya
"Toilet!" Jawabnya acuh tak acuh.
"Mao, aku ikut!" Seru Tiffany dan segera menyusul Luna.
"Hei tunggu aku!" Teriak Karin "Sunny, mau ikut tidak?" Karin berhenti lalu menoleh pada Sunny.
Gadis itu pun segera berdiri "Tunggu, Karin. Aku ikut," Karin tersenyum seraya mengangguk. Tanpa menghiraukan para pria, kedua gadis itu pun bergegas menyusul Luna dan Tiffany yang pergi lebih dulu
Tak lama setelah keempat wanita itu pergi ke toilet. Jordan datang dengan style kasualnya, jeans panjang hitam, kaus hitam ketat lengan pendek di padukan vest v neck abu-abu tanpa kancing serta syal hitam bergaris merah menggantung di lehernya.
"Rusa!" Jordan melambaikan tangannya pada Jordan saat melihat kedatangan sahabatnya itu.
Jordan mendengus, Ia tidak tau kenapa sahabatnya ini selalu berisik di mana pun dan kapan pun "Heeee, Rusa? Apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa sampai di perban begitu?" baru saja duduk, Jordan langsung di berondong banyak pertanyaan oleh Martin.
"Terjadi sesuatu?" Kry menepuk bahu Jordan dan menatapnya cemas.
"Hm,"
"Seberapa para? Bisa kita bertiga melihatnya?"
"Tidak!" Jordan menolak cepat.
"Oh ayolah, Rusa. Jangan pelit begitu, kita kan hanya cemas padamu. Jadi cepat buka perbannya dan tunjukkan seberapa parah lukanya!" Martin merajuk memaksa Jordan agar mau membuka perban di pipinya dan menunjukkan lukanya.
Jordan mendesah. Dengan enggan Ia membuka simpul plaster yang merekatkan perban di pipinya, luka melintang di tulang pipi kanannya sepanjang jari kelingking menghiasi wajah putih Jordan. Luka itu cukup dalam sehingga bagian dagingnya sedikit terlihat.
"Puas?" Jordan berucap dingin dan merekatkan kembali perbannya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka yang lumayan parah seperti itu? Apa kau terlibat perkelahian dengan seseorang?" Tanya Key.
"Tidak," Jordan menjawab singkat. "Hanya kecelakaan kecil!" lanjutnya.
"Pasti si jelek akan sangat khawatir jika melihatnya. Tapi lebih baik dari pada dia harus histeris saat melihat lukanya secara langsung. Apalagi luka itu masih basah dan terlihat merah. Bukan hanya histeris tapi juga pingsan di tempat!" papar Key panjang lebar.
"Apa luka itu ada kaitannya dengan seseorang yang baru saja kau temui?" tanya Martin. "Em maksudku James Williams. Kau sudah bertemu dengan belut itu bukan?" lanjutnya.
Jordan menghela nafas, dengan enggan Ia mengangguk. "Ya,"
"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Jordan?" Tanya Martin dengan mulut penuh dengan makanan.
"Ckk," Jordan berdecak kesal melihat kelakuan jorok sahabatnya itu. "menjijikkan, seharusnya telan dulu makanan di mulutmu itu, bodoh!" cecar Jordan. Sahabatnya itu benar-benar menghancurkan moodnya. "Aku heran, kenapa Karin itu bisa tahan dengan pria sepertimu!"
"Itu karena aku unik dan langka, Rusa." Martin nyengir kuda menampilkan deretan gigi putihnya."Ngomong-ngomong kenapa para wanita itu lama sekali? Jangan-jangan mereka ketiduran di toilet!"
"Bisa jadi, mungkin saja mereka kelelahan setelah berjam-jam mengelilingi mall ini." Sahut Key yang segera di sambut anggukan oleh Martin.
"Beruntung sekali kau, Rusa. Memiliki Istri seperti Luna di antara mereka bertiga cuma dia yang tidak gila belanja. Lihat saja belanjaan istrimu, paling sedikit. Eit, bukan dan Karin ku berada di posisi kedua. Karena Tiffany dan Sunny sudah jangan di tanya lagi. Mereka seperti kesetanan kalau sudah mendengar kata sale!" Tutur Martin panjang lebar.
Pletakk ... !!
"Sakitt"
Martin menjerit histeris setelah jitakan mendarat mulus di kepalanya. Tak terima segera Ia berdiri dan membalikkan badan, berniat membuat perhitungan dengan orang-orang yang baru saja menjitaknya.
__ADS_1
"Apa?"
Nyali Martin menciut seketika saat melihat seorang wanita menatapnya garang "Heheheh!" Pria dengan tiga garis di kedua pipinya hanya nyengir Kuda
"Sudah bosan hidup, eo!" Karin mengepalkan kedua tangannya seperti ingin menghajarnya.
Jordan menggeleng kuat "Tidak, aku tidak serius, Sayang. Tadi itu hanya bercanda saja. Tiffany, percayalah padaku. Ayolah, aku hanya main-main saja!" Ucap Martin meyakinkan. Tiffany juga menatapnya dengan pandangan lapar.
"Aku mendukung kalian, aku bantu persiapkan pemakaman untuknya!"sahut Jordan
"Sialan kau, Rusa!"
"Ge??"
Bruggg ,,,!
Tubuh Jordan terhuyung kebelakang karena terjangan Luna yang sangat tiba-tiba. "Hei, ada apa?" Jordan membalas pelukan Luna.
Wanita itu menggeleng dalam pelukan suaminya."Tidak, aku hanya merasa bahagia kau datang kesini!" Luna mengangkat wajahnya, matanya terbelalak saat melihat ada perban yang membalut pipi kanan suaminya. "Ini kenapa?" Luna menatap Jordan cemas.
Bungsu Tang itu melepaskan pelukan Istrinya lalu menggeleng. "Tidak apa-apa, sayang. Hanya luka kecil saja. Tidak perlu cemas!" Jordan berkata lembut dan mencium singkat bibir Luna.
"Hei." Karin berteriak keras melihat live kiss antara Luna dan Jordan.
"Cari hotel, Rusa. Jangan sampai kau menunggangi Luna di sini," seru Martin dan mendapat hadiah pukulan pada perutnya. "Uggghhhh, Lu..Luna, kau kejam!" Martin merintih sambil memegangi perutnya yang baru saja di pukul telak oleh Luna.
"Kerja bagus, Sayang!" Jordan menyeringai setan.
"Kalian benar-benar pasangan yang kompak. Termasuk dalam upaya penyiksaan!"
"Bagus kau tidak aku buat impoten, Songsaenim. Sekali lagi kau mengatakan yang tidak-tidak, jangan salahkan aku jika sampai kupotong alat kelamiinmu supaya kau tidak bisa memberi keturunan pada Karin!" ancam Luna membuat semua mata terbelalak, tapi detik berikutnya semua tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata.
"Sialan kalian semua!" Martin mengumpat kesal.
"Martin, tidak apa-apa?" Karin menatap cemas sang kekasih yang terus merintih sambil memegangi perutnya. Martin tersenyum lalu menggeleng "Aku baik-baik saja, Sayang!" ucapnya meyakinkan.
Luna menoleh pada suaminya kemudian mengangguk "Ya, kebetulan aku juga sudah sangat lelah!" Luna mengambil tas bahunya lalu beralih pada barang belanjaannya sebelum ada tangan lain yang mengambilnya lebih dulu. "Biar aku saja yang membawanya," ucapnya. Luna tersenyum dan mengangguk.
"Semuanya, kami pulang dulu!" pamit Luna pada teman-temannya.
Tiffany dan Karin berdiri lalu memeluk singkat sahabatnya itu. "Hati-hati di jalan, jangan merepotkan suamimu. Berhenti bertingkah kekanakan!" Luna tersenyum lalu mengangguk.
"Tentu!" katanya singkat.
"Kita duluan!" Jordan merangkul bahu Luna dan mereka berjalan beriringan meninggalkan teman-temannya.
.
.
Langit mulai mengeluarkan semburat jingga saat Luna dan Jordan tiba di rumahnya. Wanita itu mengambil dua kantung belanjaan dan membawanya ke dapur, sedangkan ketiga kantung lainnya Ia biarkan diatas meja.
Luna mengeluarkan semua barang belanjaannya yang terdiri dari buah, daging dan sayur-sayuran segar yang baru saja Ia beli kemudian menatanya di kulkas sesuai jenisnya. Setelah selesai, Luna menghampiri Jordan dengan secangkir kopi pahit tanpa gula. Luna tau jika sang suami tidak menyukai makanan atau minuman manis sama sekali.
"Ge, apa kau tidur?" tanya Luna, dia meletakkan cangkir kopinya di atas meja kemudian duduk di samping Jordan yang sedang memejamkan kedua matanya.
"Tidak, aku hanya menutup mata." Jawabnya.
"Aku buatkan kopi, sebaiknya di minum dulu!" ucap Luna
"Hm, nanti saja."
"Kalau nanti-nanti, kopinya keburu dingin."
Jordan membuka matanya dan menghela napas, dia mengambil cangkir kopi yang Luna berikan padanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Kau terlihat lelah. Sebaiknya istirahat di kamar saja!" pinta Luna
"Tidak perlu. Aku hanya merasa sedikit pusing saja," ucapnya. Jordan tersenyum tipis, sangat tipis sambil membelai wajah Luna.
__ADS_1
"Perlu aku ambilkan obat?" tawar Luna, Jordan menggeleng. "Tidak usah, temani saja aku di sini!" pintanya.
Luna tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah!"
Jordan merebahkan kembali tubuhnya dan menjadikan paha Luna sebagai bantalan kepalanya. Mata mereka saling mengunci dan menyelami keindahan mutiara masing-masing, tangan Jordan bergerak meraih tengkuk Luna dan mengarahkan wajah wanita itu untuk lebih dekat padanya.
Dia sedikit memiringkan wajahnya hingga akhirnya bibir mereka berdua bertemu. Luna memejamkan matanya ketika bibir Jordan mulai menginvasi bibir merah mudanya, Ia dapat merasakan bibir Jordan yang terus memberikan kecupan-kecupan ringan di wajahnya, terutama bibir merah mudanya yang setiap hari Ia lumatt tanpa rasa bosan.
Kemudian Jordan merubah posisinya dan mengurung tubuh mungil Luna di bawahnya. Ciuman itu turun menuju lehernya. Jordan mengecup, menjilat dan sesekali menghisap lembut leher jenjang Luna, membuat wanita cantik itu mengeram rendah.
Jordan menggigit leher itu dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Jordan semakin mengunci tubuh Istrinya, dan memberikan ciuman yang lebih dalam setelah merasakan ciuman balasan dari Luna.
Tangan Jordan bergerak membuka resletiing pada dress dan menanggalkan kain berharga mahal itu dari tubuh Luna. Bibir Jordan terus menjelajahi leher jenjangnya, kemudian turun ke bukit kembar Luna yang masih tertutup braa hitamnya. Dengan lihai, jari-jari besar Jordan melepaskan pengaitnya lalu membuangnya begitu saja hingga terlihat sepasang bukit kembar menggoda milik sang dara
"Aaaahhhhh!" lengkuh kenikmatan meluncur begitu saja dari bibir itu saat ujung lidah Jordan memainkan puntiingnya sebelum meraup dan mengullumnya dengan rakus selama beberapa kali, berulang-ulang lalu ciuman itu turun ke perut rata milik Luna.
"Ge, hentikan. Ahh, aku...basah!" Luna terus merancau memanggil nama suaminya, ketika lidah Jordan bermain di pussarnya.
Tangannya meremas helaian coklat sang suami, menikmati kenikmatan yang dia berikan. Tanpa Luna sadari, tangan kiri Jordan sudah berada di pahhanya. Diusapnya pahaa mulus sang Istri dengan gerakan ringan yang membuat tubuh Luna seakan melayang. Jordan menarik turun celanaa dallam hitam berenda milik wanita itu, tapi tiba-tiba....
Ting Tong,, Ting Tong ..
"****," Jordan mendesis kesal.
Ia memberi kode pada wanitanya, agar Luna pergi ke kamar mereka dan memperbaiki penampilannya. Dengan enggan, Jordan bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju pintu. Dalam hatinya Ia terus mengumpati siapa pun tamunya yang sudah merusak acaranya. Demi apa pun, dia merasa dongkol, berjalan dengan berbagai umpatan. Di saat Ia dan sang Istri hendak membuat keturunan, tiba-tiba saja datang tamu tidak di undang.
Cklekkk ... !! "Adikku yang dingin, Gege tampanmu ini datang!" seru David setelah pintu terbuka dan mendapati Jordan berdiri di balik pintu dengan tatapan membunuh. Pria itu merentangkan kedua tangannya dan bersiap untuk memeluk Jordan yang masih menatapnya sebal.
Bruggg ... !
Bukannya sebuah pelukan hangat. David malah jatuh dengan tidak elitnya saat Jordan menolak menghindari pelukannya. Hidungnya berciuman dengan lantai marmer yang dingin dan keras. Membuat ujung hidung David memerah karena ulah adiknya.
"Jahat, kenapa kau menghindari pelukanku, Adikku sayang?" David merajuk sambil memanyunkan bibirnya. Jordan hanya memutar matanya jengah melihat tingkah kekanakan kakaknya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Jordan tak bersahabat.
"Haaa?" David hanya bisa menganga mendengar pertanyaan sang adik "Sopan Lah sedikit, Jordan. Bagaimana pun juga aku adalah Kakakmu yang paling tampan," ucap David kesal.
"Ckk, percaya diri sekali kau. Masuklah!" Jordan membuka lebar pintu rumahnya, dan mempersilahkan David untuk masuk.
"Kau memang Adik yang terbaik, Jordan." Ucapnya memuji
Jordan menghela nafas, dengan enggan Ia kembali ke kamarnya untuk memberi tau Luna jika David datang berkunjung.
Saat ini mereka bertiga tengah duduk di ruang tamu, Jordan langsung mendapatkan berbagai pertanyaan dari David perihal perban yang ada di pipi kanannya. Dengan terpaksa dia menceritakan pada sang kakak dan Luna yang sebenarnya terjadi termasuk pertemuannya dengan James Williams.
David hanya bisa mengangga mendengar cerita rincinya, Ia tidak berfikir bila Jordan akan bertindak sejauh itu. Tapi Ia bangga karena memiliki adik yang jauh lebih baik darinya.
"Sudah kuputuskan, lusa aku bergabung bersamamu di perusahaan. Mari kita beri kejutan pada mereka, Ge!" ucap Jordan dengan keputusannya.
David menepuk bahu Jordan sambil tersenyum."Tentu," Sulung Tang itu tersenyum lebar menyetujui keputusan sang adik.
"Aku akan menyiapkan makan malam, setelah ini kita makan malam bersama!" Luna bangkit dari duduknya sebelum ada tangan kekar yang menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu, sayang. Kita memiliki koki hebat disini, Gege akan memasak makanan lezat untuk kita. Bukankah begitu, Ge?" Jordan menyeringai pada sang kakak.
"Tentu!"
David menjawab cepat. Ia memasang wajah sumringah dengan senyum lebar. Masih belum memahami smrik Jordan, sampai akhirnya matanya terbelalak setelah sadar dengan ucapan Jordan
"APA?!"
.
.
Bersambung
__ADS_1