
Di layani seperti seorang Raja, bagi Tuan Eric adalah sesuatu yang tidak biasa. Bagaimana tidak, sepanjang hidupnya, baru kali ini dia diperlakukan secara istimewa seperti ini. Jangankan berkhayal, bermimpi saja dia tidak pernah.
Dan rasanya Tuan Eric masih tidak percaya jika menantunya adalah seorang yang sangat kaya raya. Dan ketika dia meminta Jesslyn untuk mencubit lengannya, ternyata sakit, yang artinya jika yang dia alami ini bukanlah mimpi.
"Pa, makan yang banyak. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri." Ucap Luis sambil mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Tentu, Nak." Tuan Eric mengangguk.
"Dad, Kakek masih berusaha menyesuaikan diri, dia belum terbiasa dengan lingkungan baru. Aku mengenal Kakek dengan sangat baik," ucap Nathan, dia mengerti betul keadaan kakeknya saat ini.
Hal semacam ini bukan pertama kalinya terjadi. Sikap yang sama Tuan Eric tunjukkan ketika Jesslyn mengajak mereka berdua pindah ke rumah baru, hunian yang mereka tempati setelah kepergian nenek Jesslyn.
Jesslyn tidak ingin ayahnya terlalu lama larut dalam kesedihan karena kepergian wanita yang telah melahirkannya. Itulah kenapa dia memutuskan untuk membeli rumah baru agar sang ayah merasa lebih baik.
"Tuan Qin, apa boleh saya ikut sarapan bersama kalian?" Amanda menghampiri Luis dan bertanya apakah dia boleh ikut sarapan bersama Luis dan yang lain.
"Tidak!!" Bukan Luis, tapi Jesslyn yang menjawab. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menatap Amanda dengan sinis. "Hanya keluarga yang boleh dan bisa ikut duduk disini, dan kau... Tidak diterima!!"
"Aku tidak bertanya padamu, tapi pada Tuan Luis. Dia yang punya rumah ini, jadi dia yang berhak mengijinkan aku boleh ikut atau tidak!!"
"Tapi aku adalah Nyonya di rumah ini, dan dia memberiku kekuasaan penuh untuk memutuskan apa yang boleh dan apa yang tidak. Jika aku mengatakan tidak, Luis pun akan mengatakan kata yang sama. Sekalipun aku mengatakan boleh, belum tentu dia mengijinkannya!!"
"Kau~!!"
"Pergilah, urus saja pamanku. Jika kau ingin sarapan, kau bisa bersama pelayan yang lain. Jangan sampai membuat istri, anak dan mertuaku tidak nyaman karena keberadaanmu!!"
Amanda mengepalkan tangannya. Dia mengangguk patuh, kemudian wanita itu beranjak dan pergi begitu saja. Sedangkan Jesslyn langsung mengukir senyum penuh kemenangan. Amanda pikir dia itu siapa, malah ingin bersaing dengannya, mimpinya terlalu tinggi.
-
-
"Tuan, Anda memanggil saya,"
__ADS_1
Kris menghampiri Luis di ruang kerjanya. Tao mengatakan jika sang majikan mencarinya. Itukah kenapa dia langsung datang menemui Luis.
"Segera urus kepemilikan saham itu. Sudah saatnya saham itu kembali pada pemiliknya, aku akan segera memberitahu Jesslyn mengenai saham tersebut. Mendiang Kakek memberikan saham itu pada sahabatnya, karena beliau sudah meninggal, berarti putranya lah yang berhak memilikinya, yakni ayah mertuaku."
"Saya pikir Anda akan memberikan saham itu pada, Nyonya,"
Luis menggeleng. "Jesslyn dan anak-anakku yang kelak akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga Qin. Jadi dia tidak membutuhkan saham itu. Beberapa aset pribadi yang aku miliki rubah atas namanya dan Nathan."
"Lalu bagaimana dengan saham milik Nyonya Elisabet, beliau tidak mau menerimanya."
"Aku sudah menemuinya dan berbicara dengannya. Dia ingin agar saham itu dicairkan dan disumbangkan pada yayasan sosial, panti asuhan dan panti jompo. Menurutnya, mereka lebih membutuhkan uang dibandingkan dirinya." Tutur Nathan.
Kris mengangguk. "Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kris membungkuk dan meninggalkan ruangan Luis begitu saja.
Selepas kepergian Kris. Amanda datang sambil membawa secangkir kopi untuk Luis. Wanita itu berdandan menor dan berpakaian minim, pakaian yang mampu membangkitkan gairah pria. Amanda yakin Luis tidak akan bisa menolaknya dengan pakaian haramnya itu.
"Mau apa kau datang kemari?"
"Tuan, saya membawakan kopi untuk Anda, silahkan diminum selagi masih panas."
Amanda mendekati meja kerja Luis, dia berdiri dibelakang pria itu lalu mulai melancarkan rencananya. Dia meraba tubuh Luis dengan gerakan sens*al, Amanda menyeringai melihat Luis menutup mata. Dia yakin jika usahanya akan berhasil.
"Aaahhh," tubuh Amanda tersungkur di lantai setelah mendapatkan dorongan keras dari Luis. Wanita itu mengangkat wajahnya. "Tuan,"
"Tao!!" Teriak Luis, tak berselang lama orang yang dia panggil datang. "Usir wanita ini dari sini, aku tidak ingin melihat batang hidungnya lagi. Kau... Dipecat!!"
"Apa?! Tuan, tolong ampuni saya. Saya tidak akan berbuat kurang ajar lagi, tapi jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan itu." Amanda memohon agar Luis tidak memecatnya. Tapi Luis tidak peduli dengan air matanya.
"Cepat bawa pergi dia dari sini,"
"Baik, Tuan. Ayo, dasar sampah beraninya menggoda Tuan dengan pakaian seperti ini. Kau pikir bodymu bagus dan wajahmu cantik, Tuan tidak akan terpengaruh olehmu!!"
"Diam kau Panda, lepaskan aku!! Aku tidak mau pergi!!"
__ADS_1
PLAKKK...
Tamparan keras mendarat mulus pada wajah Amanda, siapa lagi pelakunya jika bukan Jesslyn. Jesslyn sudah tau apa yang telah dilakukan oleh wanita itu. "Yakk!! Wanita sialan, berani sekali kau menam~"
PLAKKK...
Lagi-lagi tamparan mendarat mulus di pipi Amanda. Dan pelakunya masih orang yang sama. Jesslyn benar-benar muak dengan wanita satu ini.
"Kau, mur*han!! Tao, cepat bawa dia pergi dari sini. Untuk menghindari dia melakukan sesuatu pada keluarga Qin, sebaiknya kembalikan dia ke kantor polisi. Ternyata dia adalah buronan yang selama ini dicari oleh polisi, dia melarikan diri lalu bersembunyi disini."
"Tidak, aku tidak mau kembali ke sana. Yak!! Jangan menyeretku, wanita sialan aku pasti akan menghabisimu!! Panda, lepaskan aku!!"
"DIAM!!" bentak Tao lalu membuat Amanda tidak sadarkan diri. Agar dia lebih mudah membawanya pergi.
Jesslyn menghela napas panjang. Dia melangkahkan kakinya dan menghampiri Luis di ruang kerjanya. Pria itu terlihat begitu serius dengan laptopnya, bahkan ia tak terusik sedikit pun oleh suara keributan yang terjadi di luar tadi.
Tanpa mengatakan apapun, Jesslyn mengambil kopi buatan Amanda lalu membuangnya. Dia melihat wanita itu memasukkan sesuatu ke dalam kopi itu. Sepertinya Amanda berencana untuk menjebak Luis.
Luis mematikan laptopnya. Fokusnya sekarang sepenuhnya tercurah pada sang istri. Luis tersenyum lebar, dia mengulurkan tangannya lalu menuntun Jesslyn untuk duduk di pangkuannya.
"Aku menyelidiki tentang wanita itu, ternyata dia adalah buronan yang kabur dari penjara. Dan aku sudah meminta Tao untuk menyerahkannya ke kantor polisi."
"Selama ini aku buta, sehingga tidak tau siapa wanita itu sebenarnya. Sejak malam itu, aku mendedikasikan semua waktuku untuk bekerja dan bekerja, sehingga tidak sadar dengan hal-hal semacam itu."
Jesslyn memeluk leher Luis. "Bisa tidak usah membahasnya lagi, aku bosan, bagaimana kalau hari ini kita pergi keluar. Sudah lama aku tidak berkeliling kota, mungkin Nathan juga ingin tau seluk beluk tentang kota Seoul."
Luis mencium singkat bibir Jesslyn. "Baiklah, ganti bajumu ayo kita pergi." Wanita itu tersenyum lebar. Dengan semangat Jesslyn menganggukkan kepala. Ia beranjak dari pangkuan suaminya dan pergi begitu saja.
Luis mendengus geli. Menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan istrinya. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.