
Akhir pekan, adalah waktu yang paling tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Itu pula yang dilakukan oleh pasangan suami-istri satu ini. Jesslyn dan Luis mengajak Nathan pergi ke pedesaan untuk mengunjungi Tuan Eric.
Dari kemarin Nathan mengatakan jika dia sangat merindukan kakeknya. Karena sudah masuk sekolah, jadi Jesslyn dan Luis hanya bisa membawanya bertemu Tuan Eric ketika akhir pekan saja.
Mereka tidak hanya pergi bertiga saja, karena sudah pasti si kembar dan Tao ikut pergi juga. Luis juga membawa Kris untuk ikut, dia juga butuh refreshing.
Sebenarnya Luis sudah menyarankan supaya Kris mengambil cuti dan pergi berlibur. Tapi dia sendiri yang menolaknya, menurut Kris itu tidaklah penting dan hanya membuang-buang uang dan waktu saja.
Tak jauh dari majikannya. Kris adalah seorang workaholic. Dia pria yang gila kerja, dan hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk bekerja dan berkerja, makanya sampai detik ini Kris belum memiliki pasangan hidup.
"Mi, berapa jauh lagi kita baru sampai di rumah kakek?"
"Em, sekitar 30 menit lagi. Kenapa, apa kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya?" Tebak Jesslyn 100% benar.
Sejak kecil Nathan tidak pernah tinggal terpisah dari kakeknya, jadi wajar jika mereka berdua begitu dekat. Apalagi Tuan Eric selalu memanjakan cucu tunggalnya itu, dan apapun yang Nathan inginkan, selama itu masuk akal, pasti akan langsung Tuan Eric kabulkan.
Ini pertama kalinya Nathan dan Tuan Eric tinggal terpisah. Sebenarnya Luis dan Jesslyn sudah memintanya untuk tetap tinggal di Mansion Qin, tapi Tuan Eric menolaknya dan lebih memilih untuk tinggal di rumah lamanya.
"AYO KITA PERGI PIKNIK... (AYO)"
"SIAPA TAU KETEMU GADIS CANTIK..."
"PIKNIK.. (PIKNIK) PIKNIK.. (PIKNIK) PIKNIK.. (PIKNIK) AYO KITA PIKNIK."
Kehebohan terjadi di mobil berwarna silver yang dikemudikan oleh Tao. Mereka bertiga bernyanyi sambil bergoyang heboh di dalam mobil. Saking semangatnya, sampai-sampai beberapa kali kepala Rio terbentur langit-langit mobil.
Sementara itu... Di dalam mobil Luis yang dikemudikan oleh Kris. Begitu tenang dan hening, tak ada kehebohan sama sekali, karena mereka yang ada di mobil itu masih normal semua. Apalagi Nathan, bocah itu tak banyak bicara dan hanya beberapa patah kata saja yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Nathan bukanlah tipe anak yang banyak bicara. Dia hanya akan bicara jika perlu saja, selebihnya dia lebih banyak diam dan menjawab ketika ditanya saja.
.
.
"Jadi disini Kakek tinggal? Tempat ini sangat nyaman dan udaranya sangat sejuk. Pantas saja jika Kakek lebih memilih tinggal disini dari pada di kota."
"Sebelum bertemu dan menikah dengan Daddy-mu, Mami juga tinggal disini. Kakek dan Mami suka berkebun, kami menanam sayuran dan juga buah-buahan segar," Tutur Jesslyn.
"Saat liburan nanti, aku ingin tinggal disini dan menemani kakek. Jujur saja, hidup di pedesaan seperti ini lebih nyaman dari pada hidup di kota besar." Ujar Nathan.
Dan setelah menempuh perjalanan selama 1jam 20 menit, mereka tiga di tempat tujuan. Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu-tunggu oleh Tuan Eric. Nathan turun lebih lebih dulu dan langsung berlari menghampiri kakeknya.
Padahal baru dua hari mereka tidak bertemu, tapi Nathan sudah sangat merindukannya, dan begitu pula sebaliknya. "Ayo masuk, pasti kalian semua lelah," tuan Eric mempersilahkan semuanya untuk masuk, kecuali Jesslyn yang sudah nyelonong terlebih dulu.
"Paman, apa disini ada tempat untuk bersenang-senang? Seperti mini bar misalnya,"
"Kau dungu ya, jelas-jelas ini adalah pedesaan, mana ada tempat semacam itu. Jika kau ingin mencari hiburan, pergi saja kelapangan bola, setiap malam ada layar tancap!!" Jawab Jesslyn menimpali.
"Hah, apa itu layar tancap? Aku belum pernah mendengarnya," Tao tampak kebingungan.
"Hiburan orang di desa ini, setiap malam saat akhir pekan, pasti warga berkumpul di tanah lapang lalu memutar drama disebuah layar besar yang kemudian ditonton bersama-sama." Jelas tuan Eric.
"Kedengarannya sangat menyenangkan. Kakek, apa ada gadis-gadis cantik yang menonton juga," kini giliran Rio, dia bertanya dengan antusias.
"Tentu saja ada, bahkan bunga desa pun akan datang dan berkumpul di sana, termasuk mahluk paling Tuhan yang paling seksi, bentuknya sama persis yang mengejar kalian bertiga di Lotte World Minggu kemarin." Sahut Jesslyn menimpali.
__ADS_1
"Idih, amit-amit tujuh turunan jika harus bertemu dengan yang begituan lagi. Lebih baik bertemu nenek-nenek dari pada harus bertemu dan berurusan mahluk dua alam seperti itu!!" Marcell merinding sendiri membayangkannya.
Seketika kediaman Tuan Eric menjadi sangat ramai. Apalagi dengan adanya Tao dan si kembar yang selalu mampu mencairkan suasana. Ternyata ada gunanya juga membiarkan mereka untuk ikut. Rencananya mereka akan bermalam selama 2 hari.
"Jess, aku ke kamar dulu." Ucap Luis lalu memisahkan diri dari Jesslyn dan yang lainnya. Luis sangat lelah dan dia ingin istirahat sebentar.
.
.
Luis membuka jendela di kamar itu lebar-lebar. Udara sejuk khas pedesaan langsung menyeruak masuk ke dalam setiap rongga dadanya. Udara disini masih sangat sejuk dan alami, sangat berbanding balik dengan udara kota yang telah tercemar.
Ini pertama kalinya Luis menginjakkan kakinya di rumah ini setelah 7 tahun berlalu. Begitu banyak kenangan di rumah ini, dulu saat masih berstatus sebagai suami kontrak Jesslyn, waktunya lebih sering dia habiskan di tempat ini bersama wanita itu.
Sudut bibir Luis tertarik keatas. Dia tidak pernah menyangka jika akan kembali lagi ke tempat ini dengan status yang lebih jelas, rasanya semua yang terjadi seperti mimpi.
"Hayo, melakukan apa?" Tegur Jesslyn yang entah kapan masuknya tiba-tiba sudah ada di kamar dan memeluk Luis.
Luis menoleh, jari-jari besarnya menggenggam jari-jari lentik Jesslyn yang memeluk perut sixpack-nya. "Tidak ada, hanya mengenang masa lalu kita. Banyak kenangan yang dulu kita tinggalkan di tempat ini, dan rasanya aku masih tidak percaya jika kita akhirnya kembali lagi ke tempat ini." Jawabnya.
Jesslyn melepaskan pelukannya lalu pindah dan berdiri disamping Luis. Kepalanya bersandar pada dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja putih itu.
"Aku juga, aku pikir tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini. Bukankah rencana Tuhan sangat indah?!" Jesslyn mengangkat wajahnya, sepasang mutiara Hazel-nya mengunci manik dingin Luis, sudut bibirnya tertarik ke atas.
Luis mengangguk. Diraihnya tengkuk Jesslyn, kedua mata wanita itu refleks tertutup saat merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu permukaan bibirnya. Bukan ciuman panjang dan memabukkan, hanya ciuman singkat namun penuh makna. Ciuman yang menggambarkan perasaan masing-masing.
-
__ADS_1
Bersambung.