
Malam yang sangat indah, setidaknya menurut Jesslyn. Dia sedang menikmati terangnya sinar rembulan sambil memandangi sungai Thames yang terlihat berkilauan, tidak hanya sendiri karena dia bersama seseorang yang sangat spesial.
Usai makan malam. Luis membawa Jesslyn jalan-jalan keluar menikmati keindahan kita London, mereka hanya berdua saja. Baik Luis maupun Jesslyn, mereka sama-sama membutuhkan banyak waktu berdua untuk saling melepaskan rindu.
"Apa kau tau, apa yang selalu aku impikan selama 7 tahun ini?"
Luis menoleh. Pertanyaan itu membuatnya menatap Jesslyn penuh rasa penasaran. Dua pasang mata berbeda warna itu saling bersirobok dan menatap selama beberapa saat, saling mengunci dan berusaha menyelami keindahan mata masing-masing.
Kemudian kelopak mata itu tertutup. "Aku selalu bermimpi bisa berdiri di tempat ini bersamamu. Aku berharap kau akan datang kemudian memelukku saat mulai merasa kedinginan. Tapi aku sadar, jika itu hanyalah sebuah angan-angan saja. Karena kau tidak mungkin datang." Ujarnya.
Luis maju satu langkah lebih dekat. Kemudian dia menarik Jesslyn ke dalam pelukannya dan mendekap tubuh itu dengan erat.
"Bukankah sekarang aku sudah ada disini, dan aku akan selalu memelukmu seperti ini sampai kita sama-sama menua. Selamanya, aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi dari pelukanku." Bisik Luis seraya menutup matanya.
Hangat dan nyaman...
Pelukan Luis masih sehangat dulu. Meskipun 7 tahun telah berlalu, namun Jesslyn masih bisa merasakan pelukan pria ini. Detak jantung Jesslyn yang berdetak cepat, seolah menjadi pertanda, betapa besar cinta yang dia miliki untuk orang yang memeluknya.
Luis melonggarkan pelukannya. Matanya kembali terkunci pada Hazel milik Jesslyn, sudut bibir Luis terangkat naik. "Kau tidak pernah berubah sedikit pun, Jess. Kau tetap secantik dulu," ucap Luis tanpa mengakhiri kontak matanya.
Jesslyn meninju pelan dada Luis. "Jangan mengatakan omong kosong, jika aku memang cantik mana mungkin aku menjanda selama 7 tahun!!" Kemudian dia terkekeh dan kembali memeluk Luis. Dia tidak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya saat ini.
"Eo," Jesslyn memiringkan kepalanya saat melihat sesuatu menyembul dari balik kemeja lengan pendek yang Luis pakai. Kemudian dia melepaskan pelukan pria itu. "Apakah ini tribal?" Jesslyn mengangkat wajahnya dan mengunci manik mata Luis.
Tak ada jawaban, Luis menggulung naik lengan kemeja pendeknya, terlihat jelas sebuah tribal menghiasi lengan berotot tersebut. "Sungguh tribal?! Kapan kau membuatnya?" Jesslyn menatap Luis penasaran.
"Tak lama setelah kau pergi, saat itu aku benar-benar kehilangan arah. Aku merusak diriku sendiri selama satu tahun lebih, mabuk-mabukan, membuat keributan dengan orang lain, membuat tatto dan tindik. Dan masih banyak kegilaan yang aku lakukan saat itu." Tutur Luis.
"Itu artinya kau mengkonsumsi obat-obatan juga?"
__ADS_1
Luis menggeleng. "Kecuali benda terkutuk itu!!"
"Lalu sampai dimana kau membuat tribal semacam ini? Tapi kenapa aku tidak melihat di lengan kirimu?" Jesslyn benar-benar tertarik dengan tribal itu. Karena menurutnya pria bertatto itu keren.
"Aku akan menunjukkannya padamu, tapi tidak sekarang!!" Luis menjawab.
Tak lama setelah kepergian Jesslyn, hidup Luis benar-benar hancur. Kepergian wanita itu dari sisinya membuatnya kehilangan arah, dan Luis baru menyadari besarnya arti kehadiran Jesslyn setelah dia pergi.
Dia memang pernah hancur saat Anna mengkhianatinya, tapi dia lebih hancur ketika Jesslyn pergi dari hidupnya.
Nyaris saja dia terjebak di dalam dunia hitam, namun Kris menariknya keluar, dan dia pula yang membuatnya sadar. Kris yang sudah menganggap Luis sebagai saudaranya sendiri tentu tidak ingin jika pria itu sampai salah jalan.
"Oya, Lu. Bagaimana kabar Anna sekarang? Apa dia masih tetap di rumah sakit jiwa?!" Jesslyn tiba-tiba teringat pada Anna, dan dia penasaran dengan keadaannya.
"Sekarang dia tinggal bersama orang tuanya. Lima tahun yang lalu orang tuanya datang dan memohon supaya aku mengijinkan mereka membawa Anna, meskipun dia telah menyakiti mereka. Tapi sebagai orang tua mereka tetap menyayangi putrinya yang durhaka itu." Tutur Luis.
Jesslyn menghela napas panjang. "Mereka sungguh orang tua yang bertanggung jawab. Terkadang aku iri pada orang lain, mereka memiliki keluarga yang utuh, sementara aku.. Tanpa aku jelaskan pun kau pasti sudah tau jawabannya. Aku sempat merasa jika hidup ini tak adil padaku."
Jesslyn menutup matanya dan membalas pelukan Luis. "Aku sungguh beruntung memiliki kalian bertiga di sisiku. Terimakasih telah datang dan membawa kebahagiaan yang pernah hilang, Luis. Aku mencintaimu, Lu, sangat-sangat mencintaimu." Bisik Jesslyn sambil mengeratkan pelukannya pada Luis.
"Aku juga mencintaimu, Jess. Sangat-sangat mencintaimu."
-
-
"Paman, kenapa kalian para orang dewasa sangat payah. Bagaimana bisa kalian menghadiri acara pernikahan dengan pakaian warna-warni seperti ini?! Kalian ingin ke pertunjukan sirkus?!"
Tao dan si kembar langsung mendapatkan komentar pedas dari Nathan perihal pakaian yang rencananya akan mereka pakai di acara pernikahan orang tuanya akhir pekan ini. Bukannya setelan jas yang sesuai acara, mereka malah memilih pakaian dengan warna-warna ngejreng yang membuat sakit mata.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Prince. Bukankah ini sangat bagus ya? Lihatlah kemeja ini, berkilau dan jasnya juga sangat cerah." Ucap Rio yang kemudian disusul anggukan oleh Marcell dan Tao.
Nathan memutar matanya jengah. "Tapi masalahnya pakaian kalian itu pantasnya di pakai untuk menonton pertunjukkan sirkus. Jangankan orang, ayam saja pasti akan tertawa melihat penampilan kalian bertiga yang sangat menggelikan!! Orang dewasa memang susah dimengerti," Nathan menggelengkan kepala dan melenggang pergi.
Nathan menghentikan langkahnya saat melihat Kris yang sedang mengobrol dengan kakeknya. Tuan Eric baru kembali dari memancing sekitar 30 menit yang lalu. Lalu pandangan Nathan bergulir pada Rio, Marcell dan Tao. Kris memang tidak bisa dibandingkan dengan mereka bertiga.
Dari segi sikap dan penampilan. Kris terlihat lebih dewasa dan bijaksana. Pantas saja dia menjadi tangan kanan ayahnya. Nathan mengangkat bahunya, bocah itu melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamarnya.
-
-
"Apa! Proyek mu gagal lagi?!"
Yuna berseru keras setelah mendengar jika proyek suaminya gagal lagi. Perusahaan mereka gagal mendapatkan suntikan dana dari beberapa investor luar negeri, campur tangan Luis membuat perusahaan pria itu berada di ujung tanduk.
"Aku kekurangan dana, dan pihak bank baru saja mengirim surat peringatan. Jika kita tidak segera mengembalikan yang telah telah dipinjam, maka mereka akan menyita perusahaan."
Yuna menggeleng. "Tidak, aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak akan melepaskan perusahaan itu apapun alasannya. Ini semua karena putramu itu, jika saja dia bersedia membantumu. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi!!"
"Bisamu hanya marah-marah dan menyalahkan saja. Sebaiknya bantu aku cari cara untuk menyelesaikan masalah ini. Dan jika sudah tidak ada jalan keluar lagi, aku akan menjual rumah ini!!"
Mata Yuna kembali membelalak. "Kau gila?! Jika rumah ini sampai di jual, lalu kita akan tinggal dimana?! Tidak, aku tidak setuju dan sampai kapanpun tidak akan ku lepaskan rumah ini, titik!!" Yuna mendorong suaminya dan pergi begitu saja.
"AARRRKKHHH!! Sial, kenapa semuanya jadi kacau. Luis Qin, kau benar-benar seorang bajingan yang tidak berhati!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.