
Nathan memarkir mobil sport kesayangannya di tempat parkir sebuah cafe yang cukup terkenal di kota itu. Cafe yang menjadi rekomendasi Vivian.
Meskipun terlihat sederhana dan biasa saja. Tapi jangan salah, karena makanan dan minuman khas restoran bintang lima dijual di sana dengan harga yang jauh lebih murah serta rasa yang jauh lebih lezat.
Nathan tidak pernah mengunjungi cafe ini sebelumnya, karena cafe tersebut buka belum terlalu lama. Sementara dirinya berada di luar negeri selama 5 tahun. Jadi Nathan tidak terlalu paham. Dia hanya menuruti apa yang Vivian sarankan.
"Ayo," ajak Vivian. Kemudian gadis itu turun dan diikuti Nathan. Keduanya berjalan beriringan memasuki cafe tersebut.
Jauh dari pikiran Nathan. Meskipun dari luar terlihat biasa saja dan sederhana. Tapi penampakan di dalam sungguh mengejutkan. Cafe ini begitu luas, memiliki indoor dan outdoor juga. Banyak sekali anak muda yang datang ke cafe ini untuk makan malam atau hanya sekedar nongkrong doang.
Tempat yang Vivian pilih adalah outdoor. Karena dari sana, mereka bisa melihat bintang secara langsung. Malam ini langit sangat cerah dan bersahabat, benar-benar bersih tanpa tertutup awan sedikit pun sehingga mereka bisa menikmati keindahan langit malam ini.
"Kau sering datang kesini?" Tanya Nathan memecah keheningan.
"Ya, aku dan Sania sering menghabiskan waktu disini. Entah itu untuk makan malam atau hanya untuk nongkrong saja. Tempat ini sangat luas dan bersih, itu yang membuatku merasa nyaman lama-lama disini." Ujarnya.
Nathan memperhatikan sekeliling. Beberapa pasang mata melihat kearahnya dan Vivian. Dan dia tidak suka melihat tatapan lapar para pria saat melihat gadis yang datang bersamanya ini. Mereka menatap gadis itu dengan tatapan lapar.
Tiba-tiba pemuda itu bangkit dari kursinya lalu meminta bertukar tempat dengan Vivian. Vivian yang kebingungan hanya menurut saja. Dan sekarang yang terlihat oleh mata mereka hanya punggung Vivian yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Tak lama pesanan mereka datang. Keduanya menyantap makan malamnya dengan tenang. Dan makan malam itu disertai obrolan-obrolan kecil. Tak banyak yang mereka bahas, hanya obrolan ringan saja.
"Oya, bagaimana kabar Bibi Jesslyn?"
"Mami baik, lain kali aku akan membawamu menemuinya. Dia pasti senang, apalagi Mami juga merindukanmu."
"Benarkah? Aku pikir Bibi Jesslyn sudah melupakanku. Apa putranya hanya kau saja? Maksudku berapa anak Bibi Jesslyn sekarang?"
"Aku memiliki seorang adik perempuan bernama Lovely. Dan sekarang dia berusia 14 tahun." Jawab Nathan.
__ADS_1
Dan setelah itu. Tak ada obrolan lagi. Mereka kembali diselimuti keheningan, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan. Dan usai makan malam, mereka memutuskan untuk jalan-jalan menikmati keindahan Seoul saat malam hari.
.
.
Nathan dan Vivian sedang menikmati Banpo Bridge. Meskipun bukan air terjun alami yang terbesar atau terpanjang di dunia. Namun air terjun pelangi ini berhasil menyabet gelar jembatan air terjun di dunia.
Banpo Bridge adalah air terjun buatan yang ada di kota Seoul, Korea Selatan. Air terjun ini terkenal karena keindahan pancaran air terjunnya yang berwarna-warni seperti pelangi. Air terjun ini merupakan atraksi malam yang dicari oleh banyak pasangan di Seoul karena nuansa romantis yang ditimbulkannya.
Keunikan air mancur yang berdiri di atas aliran sungai Han ini terletak pada semburan airnya yang diterangi 10.000 lampu LED yang berderet hingga lebih dari seribu meter. Air mancurnya sendiri bersumber dari air sungai Han.
"Alangkah baiknya jika kita pergi kesini bersama pasangan. Pasti suasananya lebih romantis." Ucap Vivian memecah keheningan.
"Aku rasa juga begitu,"
"Aku tidak punya kekasih!!" Jawab Nathan cepat. "Lalu bagaimana denganmu sendiri?"
"Dia tidak ada disini, sudah dua tahun lebih kami putus kontak. Dan aku sendiri tidak tau sekarang dia ada dimana, masih hidup atau sudah mati." Jawab Vivian.
"Kekasihmu?" Tebak Nathan penuh selidik.
Vivian mengangguk. "Ya, hubungan kami dimulai tiga tahun yang lalu. Satu tahun hubungan kami berjalan dan semua baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar dua tahun yang lalu. Aku sudah mencarinya, bertanya pada teman-temannya, dan ada yang bilang dia pergi untuk menikah dengan orang yang dipilihkan oleh keluarganya." Jelas Vivian.
Ada rasa tidak nyaman pada perasaan Nathan saat tau ternyata Vivian sudah memiliki kekasih. Memangnya apa yang salah dengan hal tersebut? Toh tidak ada ikatan istimewa diantara mereka berdua, dia dan Vivian hanya sebatas teman masa kecil, tidak lebih.
Tidak ada janji-janji manis seperti di drama dan telenovela ketika dua teman kecil berpisah, hanya janji untuk bertemu lagi ketika dewasa dan tidak saling melupakan. Tapi kenapa rasanya begitu aneh ketika Nathan tau jika Vivian pernah memiliki kekasih, bukankah dirinya juga pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Bukankah itu adalah hal yang wajar dan lumrah?!
"Lalu apa kau masih berharap dia kembali?"
__ADS_1
Vivian mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Menunggu kepastian selama dua tahun terkadang membuatku lelah dan ingin menyerah. Ya, memang aku berharap bertemu dengannya meskipun hanya sebentar, karena aku hanya ingin tau apa alasan dia tiba-tiba pergi dan meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa." Ujarnya.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu padanya saat ini?"
"Aku sendiri tidak tau. Mungkin karena terlalu kecewa, perasaan itu perlahan hilang dan tersapu oleh angin malam."
"Kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu untuk yang lain saja. Bukankah banyak sekali yang mengejarmu dan ingin menjadi kekasihmu? Mungkin salah satu dari mereka bisa membuatmu melupakan dia,"
Vivian menggeleng. "Membina dan memulai sebuah hubungan tidaklah sesederhana itu. Harus ada cinta, ketulusan dan saling percaya. Dan sebuah hubungan akan berjalan baik jika dua belah pihak saling jujur dan tidak ada rahasia. Kenyamanan, itu juga penting. Jadi bagaimana aku bisa memulai hubungan dengan seseorang hanya berlandaskan perasaan sesaat saja." Ujar Vivian panjang lebar.
Penuturan Vivian membuat Nathan terdiam. Benar apa yang gadis itu katakan. Landasan hubungan yang sebenarnya adalah cinta, kenyamanan, kasih sayang dan saling terbuka. Karena tanpa empat hal itu, bagaimana hubungan bisa berjalan dengan baik.
"Sudah malam, aku antar kau pulang." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
.
.
Usai mengantar Vivian pulang. Nathan tidak langsung pulang, dia menghentikan mobil besarnya di tepi sungai Han. Pemuda itu mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik dari saku celananya.
Pemuda itu hanya diam melihat air Sungai yang mengalir dengan tenang. Tidak ada yang menarik sama sekali, semua terlihat sama. Nathan membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu masuk ke dalam mobilnya.
Mobil sport keluaran terbaru itu perlahan meninggalkan sungai Han. Dan melaju kencang pada jalanan malam yang legang.
-
-
Bersambung.
__ADS_1