Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Aksi Nathan


__ADS_3

Tak seperti malam sebelumnya, malam ini sangatlah kosong. Tak ada satupun bintang yang menghiasi langit malam. Yang ada hanyalah langit mendung berselimut awan hitam.


Kosong…


Sama seperti hatinya…


Walau begitu, Jesslyn akan berusaha mengisi kekosongan tersebut. Hidupnya tak lagi sama, semua terasa berbeda semenjak dia memutuskan untuk pergi malam itu tujuh tahun yang lalu.


Sebenarnya Jesslyn tidak pernah ingin pergi. Tapi jika dia tetap berada disisinya, hal itu justru akan membuat mereka sama-sama terluka, dan perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mereka saat itu.


Kini Jesslyn tengah duduk termenung di depan jendela kamarnya yang terbuka, memandang langit tak berbintang diatas sana. Dinginnya malam tak membuatnya merasa takut akan sakit. Karena hatinya jauh lebih sakit daripada tubuhnya.


Jesslyn menunduk…


Lelehan kristal bening mengalir dari pelupuk matanya yang kemudian jatuh membasahi wajah cantiknya. Bibirnya mengukir senyum hambar. Ternyata mencintai dan merindukan seseorang rasanya sesakit ini.


Sejak awal Jesslyn sudah mengerti, sesuatu yang diawali dengan kebohongan pasti akan berakhir tidak baik, termasuk hubungan mereka. Dan siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini? Dirinya sendiri, atau mungkin Luis? Bukan keduanya, tapi takdir yang telah mempertemukan mereka.


Karena jika mereka tidak pernah bertemu dan kemudian membuat perjanjian bodoh, pasti semua tidak akan berakhir seperti ini.


"Mi, aku pikir kau sudah tidur. Ini ponselmu, aku sudah selesai."


"Letakkan saja diatas meja, Sayang."


"Apa yang sedang Mami pikirkan? Kenapa Mami terlihat sedih dan tidak bersemangat, apa Mami salah minum obat pagi ini?!" Nathan memicingkan mata.


Jesslyn berdecak sebal. "Jangan mulai lagi, Mami sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kau ini sebenarnya anak Mami atau bukan sih, tapi kenapa suka sekali menindas Ibumu sendiri!!" Ucap Jesslyn sambil menjitak pelan kepala coklat putranya.


"Ck, jangan sembarangan menjitakku, Mi. Bagaimana kalau otak jeniusku ini sampai rusak karena kebiasaan burukmu ini!!" Protes Nathan sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh sang ibu.


"Kau semakin pandai bicara saja ya. Sudah malam, cepat tidur sana. Mami juga mau tidur," ucap Jesslyn lalu mencium kening putranya.


"Baiklah, Mami juga cepat tidur. Good Night," Nathan mencium pipi ibunya dan pergi begitu saja.


Sudut bibir Jesslyn tertarik keatas. Senyum tipis menghiasi bibir ranumnya. Nathan sudah berusia 6 tahun, bukan hanya wajahnya yang mirip dengan Luis, tapi sifat dan kebiasaannya pun menurun pada putra mereka.


Jika saja Luis tau mereka telah memiliki anak. Apakah dia akan bahagia atau malah sebaliknya. Dan salah satu alasan kenapa Jesslyn tidak pernah memberitahu Luis tentang Nathan karena dia takut, Jesslyn takut Luis akan mengambil anak itu dari sisinya.


Nathan adalah sumber kebahagiaannya. Sejak dia lahir, Jesslyn seperti menemukan kembali sesuatu dalam dirinya yang telah lama menghilang, jadi mana mungkin dia akan membiarkan orang lain membawanya, meskipun orang itu adalah ayah kandungnya.


-


Ting...


Suara denting pada ponselnya memaksa Luis untuk membuka matanya yang terasa berat. Pria itu meraba nakas kecil disamping tempat tidurnya. Pria 32 tahun itu memicingkan matanya melihat nomor asing dan kode negara asing tertera dilayar ponselnya yang menyala terang.

__ADS_1


Penasaran dengan isi pesan singkat itu. Luis pun segera membuka pesan tersebut dan membacanya.


"Datanglah ke Inggris, ada seseorang yang ingin sekali bertemu denganmu!!"


Begitulah kira-kira isi dari pesan itu. Tak ingin mati penasaran, Luis mencoba menghubungi nomor tersebut tapi tak ada jawaban. Dia menyibak selimutnya kemudian melenggang keluar meninggalkan kamar mewahnya.


Luis menghampiri Kris yang sedang berbincang dengan Tao di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi panas. Mereka pun segera berdiri dan membungkuk saat melihat kedatangan Luis.


"Tao, selidiki nomor ini. Kris, persiapkan keberangkatanku ke Inggris pagi ini juga!!" Perintah Luis pada kedua laki-laki tampan itu.


"Baik, Tuan."


Tak ingin mati penasaran. Luis pun memutuskan untuk terbang ke Inggris pagi ini juga. Dia sangat penasaran dengan sosok misterius yang telah mengirim pesan padanya, dan dia juga penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya.


Sambil menyelam minum air. Luis berharap bisa bertemu dengan wanita itu meskipun hanya satu detik saja. Meskipun mustahil, tapi tidak ada yang tidak mungkin.


-


Setelah menempuh perjalanan panjang selama 12 jam lebih 3 menit. Luis akhirnya tiba di Inggris.


Saat tiba di bandara, dia dijemput oleh salah seorang anak buahnya yang berada di negara ini. Luis tidak langsung menemui pengirim pesan misterius itu, melainkan langsung pergi ke Mansion-nya untuk istirahat.


Tidak hanya di Korea, Luis juga memiliki sebuah mansion mewah di kota London. Itu adalah Mansion peninggalan mendiang Ibunya, dan Luis selalu tinggal di Mansion itu setiap kali berkunjung ke Inggris.


Tanpa mengatakan apapun dia pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Kebetulan sekali tubuhnya terasa tidak nyaman karena selama 12 jam lebih tidak tersentuh air.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Luis memutuskan untuk pergi keluar mencari angin segar. Mungkin itu bisa mengurangi lelahnya akibat perjalanan jauh.


"Siapkan mobil untukku," perintah Luis pada seorang pria yang berdiri di depan pintu utama.


"Baik, Tuan."


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Luis. Dari nomor yang sama. Orang itu menanyakan apakah dia sudah tiba di London? Dan dia mengajaknya bertemu. Luis pun menyetujuinya, dia sudah sangat penasaran dan ingin tau siapa pengirim pesan misterius itu sebenarnya.


-


"Aku sudah tiba, ayo kita bertemu!!"


Seringai tipis tersungging di sudut bibir Nathan. Rencananya berhasil dan berjalan seperti yang dia inginkan. Bocah laki-laki itu segera pergi ke kamar ibunya untuk memintanya bersiap-siap. Jesslyn sudah setuju untuk pergi ke luar.


Saat tiba di kamar ibunya, ternyata dia sudah siap. Jesslyn tampak anggun dalam balutan dress merahnya. Rambut panjangnya dia biarkan terurai, Nathan tak bisa pungkiri jika ibunya memang sangat cantik.


"Baby Boy, kau sudah siap, Sayang?" Seru Jesslyn sambil menghampiri putranya itu.

__ADS_1


"Ck, aku bukan anak kecil lagi, Mi. Jadi berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan seperti itu!!"


"Ups, maaf. Mami sudah terbiasa soalnya, ya sudah ayo berangkat." Bocah laki-laki itu mengangguk.


.


.


Mereka tiba di Nora cafe. Nathan ngotot ingin makan di sana, padahal mereka sudah makan malam di rumah dan Jesslyn menyetujuinya. Mereka memilih meja dekat jendela agar bisa melihat pemandangan Kota London yang menakjubkan.


Disaat Jesslyn sibuk memilih menu dan mencari makanan kesukaan putranya. Nathan justru sibuk mencari orang yang ingin sekali dia temui. Sampai mata coklatnya melihat sosok tampan dalam balutan celana hitam, kemeja putih lengan pendek yang dibalut rompi berleher tinggi berwarna putih juga.


Nathan menatap sosok itu tanpa berkedip. Dia begitu tampan dan berwibawa, dan jauh lebih tampan dari yang ada difoto, ada sisi cantiknya juga ketika diperhatikan. Nathan pun segera menjalankan rencananya.


"Mi, aku ke toilet sebentar ya."


"Oke, jangan lama-lama." Nathan mengangguk.


Posisi duduk Jesslyn memunggungi, sehingga dia tak menyadari keberadaan Luis begitupun sebaliknya. Bukannya ke toilet seperti yang dia katakan, Nathan pergi menemui Luis.


"Paman, aku yang mengirim pesan singkat padamu." Tanpa basa-basi Nathan langsung mengatakan pada Luis jika dialah yang mengirim pesan singkat itu.


Luis memicingkan matanya. Dia menatap bocah laki-laki berusia 6 tahun itu dengan pandangan tak terbaca. Dia memperhatikan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bocah ini seperti photo kopinya ketika masih kecil dulu.


"Jadi kau yang memintaku untuk datang, siapa kau ini sebenarnya, Nak?!" Tanya Luis penasaran.


"Aku adalah kecebong yang pernah kau tanam di rahim ibuku. Aku, adalah putra kandungmu!!" Jawab Nathan dan membuat Luis memicingkan matanya.


"Maksudmu?!" Dia benar-benar tidak mengerti.


"Menolehlah dan perhatikan baik-baik wanita yang duduk di dekat jendela. Dia adalah mamiku dan kau mengenalnya dengan baik, dia bernama, Asteria Jesslyn,"


Deg...


Jantung Luis seakan berhenti berdetak detik itu juga setelah dia mendengar nama yang disebut oleh anak laki-laki itu. Luis pun langsung berdiri dan mengikuti arah tunjuk bocah laki-laki itu. Meskipun yang terlihat adalah adalah punggungnya, tapi Luis mengenali betul sosok itu.


Nathan pun segera mengambil tindakan dan melanjutkan rencananya. Dengan keras dia berseru dan memanggil ibunya. "MAMI!!" Jesslyn pun menoleh, dan saat itulah matanya bersirobok dengan sepasang mata dingin seorang laki-laki yang berdiri tepat disamping putranya.


"Jesslyn..."


"Luis..."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2