
Di tengah malam Luna terbangun karena merasa haus, melirik jam yang tergantung di dinding kamar dan waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Samar-samar dia mendengar suara orang mengobrol, di tajamkan pendengarannya dan mulai mengikuti instingnya. Luna menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian turun dan berjalan kearah balkon.
Dahinya berkerut melihat punggung tegap seorang pria yang tertutup rompi kulit hitam. Tangan kirinya bertumpu pada pagar sambil memegang gelas kristal yang berisi cairan kuning, tangan kanannya memegang benda tipis yang menempel pada telinganya.
"Aku tau, Ge. Dan aku telah memikirkan hal itu matang-matang, aku juga sudah menyiapkan cincin pernikahanku dengan, Luna."
Luna membekap mulutnya mendengar ucapan orang itu yang pastinya adalah Jordan, suaranya begitu berat dan tegas. Tidak ada kepalsuan yang Luna tangkap dari nada bicaranya, sayangnya dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Jordan saat mengatakannya.
Mata Luna terbelalak saat melihat Jordan tiba-tiba berbalik badan, buru-buru Ia bersembunyi agar pria itu tidak melihat keberadaannya. Jordan menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.
Luna menahan nafas dan debaran jantungnya yang tak karuan, entah kenapa dia begitu menyukai penampilan Jordan malam ini. Dia terlihat begitu tampan dan cool dalam penampilannya yang serampangan, jeans belel, kaos putih polos tanpa lengan yang di lapisi rompi kulit hitam, sepatu boots berleher tinggi, pierching dark silver di daun telinganya.
Rambut coklatnya di biarkan sedikit berantakan dengan bagian depannya menutupi sebagian wajahnya. Sungguh berbanding balik dengan Jordan Tang yang selama ini dia kenal, yang selalu memperhatikan penampilannya. Meskipun pierching tak pernah absen dari telinganya.
Jordan terlihat begitu serius mendengar suara orang yang ada di seberang sana, meneguk cairan kuning itu sedikit demi sedikit. Sebelum dia berjalan menuju sudut balkon kemudian meletakkan gelas itu di atas meja kecil yang ada di sana. Tangan kirinya merogoh saku rompinya lalu mengeluarkan sebungkus rokok + pemantiknya. Mengeluarkan satu batang kemudian menyulutnya.
"Lalu bagaimana dengan, Jimmy Tang?"
"Untuk sementara kita biarkan saja dulu mereka bersenang-senang dan menikmati kemenangan bayangan itu. Aku telah menyiapkan sedikit kejutan untuk mereka, dan aku juga telah mengurus beberapa hal. Termasuk menghubungi mereka."
"Mereka. Maksudmu apa Jordan?"
Jordan menghisap batang nikotinnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Menarik nafas panjang lalu menghelanya.
"Organisasi yang sengaja aku bentuk untuk melindungi keluarga kita, dan orang-orang itu hanya patuh pada perintahku juga orang-orang terdekatku seperti dirimu dan Kakek. Mereka sudah bekerja untukku selama lima tahun, melindungi keluarga Tang dari bayangan. Mereka adalah orang-orang yang sangat bisa diandalkan dan terpercaya, orang-orang pilihan."
"Tapi, Jordan, masalahnya ada pada Luna. Apakah dia akan menyetujui keputusanmu yang sangat mendadak itu?? Apalagi kalian belum membicarakannya."
" Aku tau." Jordan kembali menghisap nikotin nya, wajahnya mendongak menatap langit malam. " Aku akan meyakinkan dia, Ge. Lagipula aku tidak main-main, aku serius dengan hubungan ini. Aku sudah membeli sebuah rumah impian yang nantinya akan ku tinggali bersama Luna setelah kami menikah. Rumah itu aku beli sekitar 1 Minggu yang lalu. Lebih tepatnya setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku juga telah menyiapkan dana untuk masa depanku dengannya, aku tidak ingin Luna sampai kekurangan apa pun saat hidup denganku.." Tuturnya.
"Wow, kau sangat penuh kejutan, Adik. Lalu bagaimana dengan kuliahnya?"
__ADS_1
" Aku tidak akan meminta apalagi memaksa dia menghentikan kuliahnya, aku juga akan membuat Luna meraih impiannya untuk menjadi seorang Dokter. Sebagai seorang suami, aku akan mendukung apa pun keputusannya asalkan itu terbaik untuknya. Aku juga akan melindunginya, dan juga bertanggung jawab penuh atas hidup Luna." Ujarnya.
"Tapi, Jordan. Kau dan Luna masih terlalu muda untuk menikah. Apakah itu tidak jadi masalah?"
Jordan kembali menghisap rokoknya, posisinya kembali memandang langit malam dengan tangan kiri bertumpu pada pagar pembatas
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, Ge. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku rasa ini yang terbaik untukku dan Luna. Kami sama-sama saling menginginkan dan membutuhkan, aku membutuhkan Luna di sisiku, begitu pun dengannya. Dan kau tenang saja, aku pasti bisa mengontrol diri dan emosiku yang masih sangat labil ini. Aku akan membuat Luna merasa senyaman mungkin saat berada di sisiku."
"Aku bangga padamu, Jordan. Mereka pasti bangga melihatmu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang menjadi penuh tanggung jawab. Tapi, Jordan. Kapan kau akan melakukan pertemuan dengan para tetua?"
"Satu Minggu lagi, setelah aku resmi menjadikan Luna sebagai istriku. Usahakan untuk pulang bersama Nathan Gege dan juga orang tuanya, aku tidak ingin membuat Luna sedih di hari bahagianya tanpa kehadiran kakak dan orang tuanya."
"Memang kapan kau akan melangsungkan pernikahanmu dengan, Luna!"
"Lusa, saat ulang tahunnya." Jordan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya "Ge, aku lelah. Aku tutup telfonnya."
Jordan memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan benda tipis itu ke dalam saku celananya. Jordan menegakkan tubuhnya lalu melangkah meninggalkan balkon dan kembali ke dalam kamar Luna. Namun setibanya di dalam kamar, Jordan di kejutkan dengan Luna yang menangis tersedu-seduh di atas tempat tidurnya. Muncul perempat siku-siku di kening Jordan, melangkah lebih dalam dan menghampiri Luna.
Luna mengangkat wajahnya saat mendengar suara baritone yang sangat familiar masuk dan berkaur di telinganya, sosok tampan berdiri menjulang di hadapannya. Melihat sosok itu membuat tangis Luna semakin kencang.
"Ge," Tubuh Jordan terhuyung kebelakang karena terjangan Luna yang tiba-tiba, tangis Luna semakin pecah membuat Jordan terus bertanya-tanya.
"Luna, kau kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Jordan bingung.
Luna mengangkat wajahnya yang penuh air mata membuat onyx Jordan dan Hazel miliknya bertemu. Luna tidak mengatakan apa-apa, hanya suara tangisnya yang tertangkap telinga Jordan.
Jordan mengangkat tangannya untuk menyeka air mata Luna, menatap Hazel itu dalam "Kau kenapa, sayang? Apa kau bermimpi buruk?" Tanya Jordan yang di balas gelengan oleh Luna. "Lantas?"
"Aku hanya merasa bahagia." Lirih Luna dan kembali berhambur ke pelukan Jordan.
Jordan semakin bingung dengan sikap kekasih ini. Ia masih tidak mengerti alasan Luna menangis. Jordan melonggarkan pelukannya lalu menuntun Luna untuk duduk di tempat tidurnya. Dia menakup pipi Luna dengan tangan besarnya yang hangat. "Katakan." Pintanya lembut.
__ADS_1
Mata Luna bergerak liar, kedua tangannya memainkan resleting pada Leather Vest yang Jordan kenakan. " Apa kau benar-benar akan segera menikahi ku?" Luna menundukkan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat matang. Lalu tangan kirinya bergerak meraba dada Jordan yang tertutup kaos putih lengan terbukanya.
"Hm, jadi karena itu kau menangis? Apa kau mendengar pembicaraanku dengan, David?" Tanya Jordan, Luna mengangguk "Karena kau sudah mendengarnya. Aku rasa tidak perlu membicarakan lagi masalah ini denganmu, sekarang yang aku butuh hanyalah jawaban darimu. Apa kau bersedia menikah denganku, Luna.?" Tanyanya lagi.
Luna tergelak dengan pertanyaan Jordan, wajahnya merenggut menatap kesal kekasih tampannya ini. Luna nyaris saja tidak percaya, Jordan melamar dirinya dengan cara yang tidak romantis sama sekali. Sungguh jauh dari yang Luna bayangkan.
"Astaga, sebenarnya kau itu mau melamar gadismu apa bicara pada temanmu? Sungguh, kau itu tidak ada romantis-romantisnya sama sekali." Keluh Luna sambil menatap Jordan dengan kesal.
Jordan mendengus geli, dengan gemas dia menyentil kening Luna. "Luna, dengarkan aku. Aku tidak butuh kata-kata puitis untuk meminang dirimu, kau tau jika aku bukanlah tipe pria romantis yang memiliki sejuta kata-kata pujangga. Tapi memang seperti inilah diriku. Inilah Jordan Tang yang sebenarnya, yang memiliki cara sendiri untuk mencintaimu. Karena cinta tak cukup hanya dengan kata-kata, Sayang." Tutur Jordan sambil menyeka air mata Luna.
Mata Luna kembali berkaca-kaca. Mendengar apa yang baru saja Jordan katakan. "Ge," Gumam Luna dengan suara rendah. Jordan menarik tengkuk Luna. lalu mengecup singkat bibirnya.
Jordan tersenyum. Tangannya menyeka liur yang ada dibibir Luna, mata onyx nya menatap Hazel teduh Luna lembut. "Sejak malam itu, saat kau memutuskan untuk menyerahkan semuanya padaku. Sejak itulah kau telah menjadi bagian Tang, Luna. Secara tidak langsung kita telah bertunangan, Sayang. Kau ingat cincin yang aku berikan padamu puluhan tahun yang lalu?"
"Itu adalah bukti jika saat itu kita telah resmi bertunangan, mungkin ini terdengar konyol tapi hubungan kita telah mendapatkan restu dari para orang tua. Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah maju satu langkah yang lebih serius. Maka dari itu, aku Jordan Tang memintamu untuk menikahlah denganku, Luna Qin."
Jordan mengeluarkan kotak merah beludru dari dalam saku rompinya, yang telah Ia siapkan untuk Luna sejak dua hari yang lalu. Dia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya kemudian memakaikan pada jari manis Luna. Wanita itu tidak dapat menahan air mata harunya, Luna berhambur memeluk Jordan dengan erat. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir ranumnya, Luna benar-benar kehilangan kata-katanya. Tapi air mata bahagia dan senyum manisnya seolah menjawab segalanya.
Kembali, Jordan melumatt bibir Luna. Awalnya ciuman lembut penuh cinta,yang semakin lama semakin penuh gairah dan hasrat untuk memiliki. Berakhir dengan pertarungan lidah hingga saling bertukar saliva.
"Berbaringlah di sini, Luna." Jordan menepuk lengannya, bermaksud agar Luna berbaring dan menjadikan lengan kekarnya sebagai bantalan kepalanya "Mulai malam ini dan seterusnya kita akan tidur bersama, dan mulai besok malam kau akan pindah ke kamarku. Kita tidak perlu lagi tidur di kamar yang terpisah."
"Eehhh," Luna mengangkat wajahnya memandang Jordan bingung.
"Ada yang salah? Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi suami-istri. Sudah jangan banyak berpikir, cepat tidur." Jordan menuntun kepala Luna menuju dada bidangnya, menjadikan kepala berhelaian coklat itu sebagai tumpuan dagunya.
Kedua tangannya memeluk Luna tidak terlalu erat, namun cukup protektif. Jordan tidak ingin jika Luna sampai kehabisan nafasnya karna pelukannya yang terlalu erat.
Jordan tidur tanpa mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya, Ia terlalu lelah dan malas berganti pakaian. Tidur dengan pakaian lengkap, hanya sepatu boots nya yang Ia tanggalkan dari kakinya. Bahkan Ia tidak melepas rompi kulitnya, masih tetap membiarkan kain itu melekat di tubuh atletisnya.
xxx
__ADS_1
Bersambung