
Bukan Rio dan Marcell namanya jika tidak membuat orang lain darah tinggi. Siapa lagi korbannya kali ini jika bukan Tao. Karena memang hanya dia yang selalu menjadi korban kejahilan si kembar.
Mereka dengan sengaja menyembunyikan pakaian Tao yang sedang mandi di kamar mandi samping dapur. Tao terpaksa mandi di kamar mandi lain karena kran di kamar mandinya mengalami kerusakan dan sedang diperbaiki.
Tao mandi sambil bersiul-siul. Dia begitu menikmati tetesan demi tetesan air yang menghujam tubuhnya, begitu menyegarkan. Tao begitu santai tanpa mengetahui satu fakta, jika pakaiannya tidak ada lagi di tempat dia meletakkan tadi.
Pria itu mematikan kran airnya lalu berbalik badan. Dia tampak kebingungan saat tak menemukan pakaiannya tergantung dibelakang pintu. Bukan hanya pakaiannya saja yang hilang, tapi juga handuknya.
"Tidak dikunci, perasaan saat masuk tadi aku menguncinya." Tao berpikir keras. Kedua matanya membulat sempurna saat dia menyadari satu hal, pakaiannya telah dicuri."RIO, MARCELL, CEPAT KEMBALIKAN HANDUK DAN PAKAIANKU!!" teriak Tao namun tidak ada sahutan.
Tao menjadi sangat panik. Bagaimana dia bisa keluar dengan keadaan seperti ini, Luis bisa langsung memecatnya jika sampai melihatnya keluyuran di rumah tanpa sehelai benang pun.
Kemudian dia melihat sebuah kardus bekas disamping pintu kamar mandi. Daripada keluar dalam keadaan bulat, dia masih bisa memanfaatkan kardus itu untuk menutupi senjata tempurnya yang Segede mentimun.
Tao tidak ingin ada pelayan yang sampai pingsan saat melihat senjata tempurnya yang super besar dan panjang. Awalnya milik Tao sangat kecil, tapi dia menggunakan minyak khusus yang bisa merubah bentuk dan ukurannya.
-
-
Luis menghentikan mobil mewahnya di parkiran sebuah gedung elit yang memiliki puluhan lantai. Itu bukan perusahaannya, melainkan gedung sekolah. Mulai hari ini Nathan akan bersekolah disekolah tersebut.
Jesslyn turun lebih dulu, diikuti Luis yang kemudian berjalan mengekor dibelakang mereka. Pandangan Nathan menyapu kesemua penjuru arah, sekolah ini jauh lebih besar dan berkelas dari sekolah lamanya.
Ketiganya menemui kepala sekolah, Kris sudah mengurus semuanya, jadi Luis tidak perlu melakukan apapun lagi, karena Nathan sudah tercacat sebagai salah satu murid di sekolah sebagai murid baru.
"Silahkan Tuan Qin, Nyonya Qin. Suatu kehormatan bagi sekolah ini, karena putra Anda bersekolah disini,"
"Aku tidak ingin ada perlakuan istimewa untuk putraku. Meskipun suami saya adalah donatur terbesar di sekolah ini, perlakukan dia seperti murid lainnya, jika dia bersalah, harap memberikan sesuai hukuman yang berlaku disini."
"Tentu saja, Nyonya. Sekolah kami tidak pernah membedakan anak didiknya, baik yang masuk jalur beasiswa ataupun bukan, semua diperlakukan secara sama."
"Bagus kalau begitu, kami bisa menitipkan Nathan disini dengan tenang." Ucap Luis menimpali.
"Nyonya dan Tuan bisa mempercayakan putra kalian pada kami. Para guru akan mendidiknya secara baik sesuai aturan,"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kami berdua permisi dulu. Nathan, nanti Paman Tao yang akan menjemputmu, baik-baik disekolah dan jangan membuat masalah." Nasehat Luis pada putranya.
"Hn, aku mengerti."
.
.
Saat pelajaran akan dimulai, seorang wali kelas memperkenalkan Nathan sebagai murid baru. Beberapa gadis langsung terpesona padanya, cool dan tampan. Sedangkan beberapa murid laki-laki menunjukkan sikap tidak suka.
"Baiklah, perkenalkan dirimu." Pinta wali kelas.
"Namaku Nathan, dan aku pindahan dari luar negeri." Singkat padat jelas, begitulah Nathan saat memperkenalkan dirinya.
"Nathan, boleh aku bertanya?" Seru seorang anak bertubuh jangkung dan bertelinga sedikit lebar. Nathan mengangguk. "Apakah kau berasal dari negara yang sangat jauh?" Tanya anak bertubuh tinggi, Aria
Nathan mengangguk. "Ya,"
"Apakah di sana juga ada musim salju seperti disini? Dan apakah di sana juga banyak bangunan-bangunan tinggi pencakar langit? Memangnya kau tinggal di negara mana?" Sahut seorang anak laki-laki yang duduk dibelakang Aria.
"Apakah London yang ada bunga Sakuranya?" Tanya anak itu lagi.
"Bukan, sakura adanya di Jepang."
"Lalu apakah L*ndon yang ada menara Eiff*l-nya?"
Lagi-lagi Nathan menggeleng. Tapi bukan dia yang menjawab pertanyaan itu, melainkan Dio. "Kalian berdua sangat bodoh. Jelas-jelas Menara itu adanya di Roma, masih saja tidak tau," sahut Dio.
"Kau juga sama bodohnya dengan mereka berdua. Menara Eiffel bukan di R*ma, tapi di Paris. Kalian bertiga sama payahnya!!" Cibir Nathan.
Ketiganya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehehe, kami asal menebak saja kok." Jawab ketiganya dengan kompak.
"Nah, Nathan. Kau bisa duduk disamping Aria. Anak-anak keluarkan buku kalian dan pelajaran akan segera kita mulai,"
"Baik!!"
__ADS_1
Ternyata sekolah di Seoul tidak buruk juga. Nathan baru saja menemukan tiga teman yang sangat menyenangkan. Dan mereka bertiga begitu antusias menyambut dirinya, mereka berempat bisa menjadi teman baik untuk kedepannya, Nathan sangat berharap.
.
.
"Nathan, kau ingin makan apa. Biar Mr.Dolar kita yang mentraktirnya."
Nathan dan ketiga teman barunya sedang berada di kantin. Mereka mengajak bocah laki-laki itu untuk makan siang bersama. Meskipun belum genap satu hari mereka berteman, tapi mereka sudah sangat akrab.
"Yakk!! Tiang listrik, kenapa malah aku yang harus traktir kalian. Bagaimana kalau dolarku nanti sampai habis?!" Sean melayangkan protesnya.
"Oh, ayolah. Kau itu jangan pelit-pelit Sean. Apa kau tidak pernah mendengar, jika orang pelit maka kuburannya sempit. Dan bagaimana kau bisa mendekati kakak kelas kita yang cantik itu jika mengeluarkan uang saja tidak mau!!" Ujar Aria sambil merangkul bahu Sean.
"Jangan hiraukan mereka berdua. Ayo pesan duluan, dan jangan harap Sean Hyung mau mentraktir kita. Dia pelitnya 7 turunan," anak bermata bulat itu lalu mengajak Nathan untuk memesan makanan terlebih dulu. Sean dan Aria masih sibuk berdebat.
Nathan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menganggukkan kepala. "Baiklah,"
Setelah memesan makanan, mereka berdua lalu berjalan menuju satu-satunya meja yang masih kosong. Tapi belum sampai 20 detik mereka duduk di sana, tiba-tiba tiga anak menghampiri keduanya.
"Minggir kalian berdua. Ini adalah tempat senior, dan hanya senior yang boleh duduk disini!!"
"Tidak!!" Nathan menjawab cepat. Dia mengangkat wajahnya dan menatap dingin ketiga anak laki-laki di depannya. "Kami yang lebih dulu duduk disini, jadi sebaiknya kalian yang pergi."
"Anak baru saja belagu, kau mau cari gara-gara dengan kami?!" Ucap anak yang berdiri di tengah.
"Aku~"
"Kecoa!!!" Teriak Aria sambil melemparkan beberapa ekor kecoa pada mereka bertiga.
Mata ketiganya membulat. Mereka sangat panik dan geli. Sambil teriak histeris, ketiganya berlari meninggalkan kantin. Semua anak yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Mereka bertiga adalah anak-anak nakal di sekolah ini. Sok berkuasa dan selalu saja membuat masalah.
Tapi anehnya mereka bertiga selalu takluk dengan Aria Cs. Karena mereka sama nakalnya dengan mereka bertiga, bukan nakal tapi jahil lebih tepatnya. Meskipun mereka baru kelas satu, tapi mereka sangat berani.
-
__ADS_1
Bersambung.