
Di sebuah dapur yang tidak terlalu besar namun sangat terawat. Terlihat Jesslyn yang sedang sibuk menyiapkan makan malam dengan di bantu beberapa pelayan.
Jesslyn sudah melupakan apa yang terjadi diantara dirinya dan Luis tadi. Justru ada penyesalan dihatinya karena telah menampar suami kontraknya itu. Dan Jesslyn sengaja memasak banyak makanan kesukaan Luis sebagai permintaan maafnya.
Cklekkk...!!!
Decitan suara pintu terbuka menyita perhatian Jesslyn dan dua pelayan yang membantunya. Terlihat Roona berjalan menuju dapur sambil sesekali menguap.
"Di mana, Kak Luis?" tanyanya tanpa basa basi.
"Dia sedang tidur di kamar." jawab Jesslyn sedikit datar.
"Aroma apa ini? Sebenarnya makanan apa yang sedang kalian masak? Aromanya sangat menyengat, rasanya aku mau bersin dan perutku tiba-tiba terasa mual." kata Roona sambil menutup hidung dan memegang perutnya.
Jesslyn mendecih, menatap gadis itu tidak suka. Roona memang memiliki wajah yang cantik, tapi sayangnya dia memiliki hati yang buruk. Dan Jesslyn sangat yakin jika gadis itu akan sangat merepotkan karena sikapnya yang manja dan tidak memiliki sopan santun.
Mengabaikan Ronna yang masih ngomel-ngomel tidak jelas. Jesslyn kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
Tepat setelah Jesslyn hampir menyelesaikan pekerjaannya, Luis muncul masih dengan pakaian yang sama seperti yang ia pakai tadi. Celana hitam dan kemeja putih dan Vest V-Neck berwarna hitam pula.
Luis membuka lemari pendingin lalu mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya. Lalu ia meletakkan botol itu di atas kulkas.
Merasa tertarik dengan aroma makanan yang di masak oleh Jesslyn, Luis menghampiri gadis itu dan berdiri tepat di belakangnya."Apa yang sedang kau masak?" tanya Luis tiba-tiba.
Suaranya begitu dekat di telinga Jesslyn hingga membuat darah dalam tubuh gadis itu berdesir pelan, Jesslyn kemudian berbalik badan namun tiba-tiba. "Aahhh..." kaki kirinya tergelincir tetesan minyak di lantai.
Dengan sigap Luis menahan pinggang istri kontraknya ini sebelum gadis itu jatuh menyentuh lantai. Tangan kiri Jesslyn mengalungi leher Luis, sedangkan tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan pria itu. Mata mereka saling mengunci. Saling menatap, menyelami keindahan mata masing-masing.
Lagi-lagi jantung Jesslyn tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari sebelumnya, melakukan kontak mata dengan Luis membuat perasaan Jesslyn tidak karuan. Begitu pun sebaliknya, Luis merasakan debaran aneh setiap kali menatap mata hazel itu.
"Ekhemmm."
Buru-buru Jesslyn melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Luis mendengar deheman dari arah belakang. Terlihat Rio dan Marcell menghampiri mereka sambil cengar-cengir tidak jelas.
__ADS_1
"Ka..li..an mengejutkanku? Se..se..baik...nya ka..li..an makan malam duluan saja, a..k..u mau membersihkan diri dulu." kata Jesslyn dan berlalu begitu saja, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Kita makan malam sama-sama," kata Luis datar. Jesslyn merapatkan bibirnya kemudian mengangguk.
Di waktu bersamaan, Roona muncul dengan pakaian yang berbeda dan sebuah tas kecil yang menggantung di bahu kirinya. "Kak, temani aku makan malam di luar, makanan-makanan itu membuatku tidak berselera sama sekali." kata Roona sambil memeluk lengan Luis.
"Bibi, kau mau kemana?" tegur Rio melihat Jesslyn meletakkan sendok dan garpunya lalu bangkit dari duduknya.
"Aku lupa untuk mengerjakan sesuatu. Kalian makan malam duluan saja," tandasnya, tapi lagi-lagi langkahnya di hentikan oleh Luis.
"Memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk pergi? Duduk kembali, kita makan malam sama-sama." kata pria itu tegas.
Lagi-lagi Jesslyn hanya mengangguk patuh, sementara itu Roona tampak kesal melihat perhatian Luis untuk Jesslyn. "Duduklah, kita makan malam di rumah." Roona mendengus, dengan kesal gadis itu menarik kursi di samping kiri Jesslyn.
"Hoek, makanan apa ini?" Roona memuntahkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya. "Yakk... sebenarnya kau itu bisa masak tidak? Makanan sampah seperti ini bisa-bisanya kau hidangkan padaku. Apa kau ingin meracuniku?" amuk Roona pada gadis yang duduk di samping kanannya 'Jesslyn'.
"Memangnya apa yang salah dengan makanannya? Masakan Bibi Jesslyn baik-baik saja. Buktinya aku, Rio dan Paman Luis baik-baik saja memakan masakannya. Kami tidak apa-apa." sahut Marcell yang seakan tidak terima dengan penghinaan Roona pada masakan Jesslyn.
"Itu karena lidah kalian sudah mati rasa, jelas-jelas rasa makanan ini sangat buruk." tegas Ronna tidak mau kalah.
"Kau saja yang terlalu melebih-lebihkan." sahut Jesslyn menimpali.
"Kalau kau memang tidak ingin memakannya ya sudah tidak usah dimakan, begitu saja repot. Tidak usah memfitnah jika makananku rasanya inilah, itulah. Drama mu terlalu murahan Nona!!" Balas Jesslyn menimpali.
Brakkk...!!!!
Semua makanan-makanan yang semula tertata rapi di atas meja kini berserakan di lantai karena ulah Roona. Roona menarik ujung taplak pada meja makan dengan sengaja.
Melihat tindakan Roona yang sudah sangat keterlaluan membuat Luis mengeram marah. Dia menatap adik angkatnya itu dengan dingin dan tajam. "ROONA QIN." auranya begitu mengerikan, matanya berkilat tajam.
"Kenapa, Kak?! Dan kenapa kau jadi menyalahkanku? Aku bersikap seperti ini karena tidak ingin kalian bertiga mati keracunan oleh makanan sampah ini." ujar Roona mencoba membela diri.
"Inilah yang paling aku tidak suka darimu. Tidak bisakah kau menghargai orang lain tanpa melukai perasaannya?"
"Memangnya berapa mahal harga dirinya?? Aku akan membelinya."
__ADS_1
"ROONA...." Bentak Luis emosi.
Jesslyn menarik nafas panjang dan menghelanya. Gadis itu tidak merasa marah ataupun tersinggung dengan tindakan Roona. Ia paham betul dengan sikap gadis itu, Roona adalah nona muda yang selalu di layani dan di perlakukan layaknya seorang Putri oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Itulah kenapa sifatnya menjadi sangat tidak terpuji.
"Sudahlah, hanya hal sepele saja. Tidak perlu di besar-besarkan." ucap Jesslyn sambil memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai, juga semua makanan yang terbuang sia-sia. Tanpa diperintah, Rio dan Marcell menghampiri Jesslyn lalu membantu gadis itu.
"Ahhh..." namun pecahan beling itu tanpa sengaja menusuk jari telunjuk Jesslyn. Darah dengan cepat mengalir dari lukanya.
Luis menarik jari telunjuk Jesslyn yang terluka lalu menghisap darahnya dan meludahkannya."Dasar ceroboh, selalu saja membuat dirimu sendiri terluka." ucap Luis lalu menutup luka itu dengan plester.
Roona menghentakkan kakinya kesal. Melihat perhatian Luis untuk Jesslyn membuat hatinya terbakar cemburu. Berbalik badan, dia melenggang pergi.
.
.
Luis menghampiri Jesslyn yang sedang duduk termenung di depan jendela yang terbuka. Tepukan pada pundaknya mengalihkan perhatian Jesslyn, Luis berdiri dibelakangnya.
"Pasti kau terluka oleh sikap, Roona."
Jesslyn menggeleng. "Tidak sama sekali, aku sudah terbiasa menghadapi sikap orang seperti Roona. Terlalu dimanjakan sejak kecil, membuat dia tidak tau sopan santun dan tata Krama. Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengoreksi cara keluarga Qin mendidik orang-orangnya, tapi aku hanya mengatakan kebenaran." Ujar Jesslyn.
"Tidak perlu minta maaf, apa yang kau katakan memang benar. Dia memang selalu dimanjakan sejak kecil. Roona bukanlah putri dari keluarga ini. Mama mengadopsinya dari panti asuhan, untuk menggantikan posisi adikku yang meninggal karena tenggelam. Dia selalu dimanjakan dan disayangi, makanya sikapnya jadi seperti itu." Tutur Luis.
Jesslyn melihat goresan kecil di pipi Luis. Sepertinya itu tidak sengaja tergores oleh kukunya saat Jesslyn menamparnya tadi. Tanpa mengatakan apa-apa. Jesslyn bangkit dari duduknya lalu mengambil plester luka.
"Maaf, karena sudah menamparmu tadi." Sesal Jesslyn sambil menempelkan plester itu pada tulang pipi kanan Luis.
Laki-laki itu menggeleng. "Tidak apa-apa. Sudah malam, sebaiknya kau segera tidur." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.
"Baiklah,"
-
__ADS_1
-
Bersambung.