
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Jesslyn melahirkan Lovely, namun siapa yang menduga jika sekarang dia telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan penuh pesona. Usia lovely di tahun ini genap 20 tahun, dan rencananya Luis serta Jesslyn akan membuat perayaan ulang tahun untuk putrinya tersebut. Namun itu baru rencana dan belum final.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Lovely yang sedang berias di kamarnya. Gadis cantik itu menoleh dan mendapati sang ibu menghampirinya.
"Lovely Sayang, Kau sudah mau berangkat?" tanya Jesslyn dan di balas anggukan oleh Lovely.
"Mi, aku memiliki satu permintaan untukmu dan kau harus mengabulkannya." Lovely menatap sang ibu dengan serius.
Jesslyn memicingkan matanya dan menatap Lovely dengan penasaran. Memangnya permintaan apa sampai-sampai dia harus memasang ekspresi yang begitu serius. "Katakan saja, Sayang. Jika permintaanmu tidak aneh-aneh pasti Mami akan mengabulkannya," jawab Jesslyn.
"Mi, jangan memanggilku dengan sebutan Lovely lagi! Sekarang Aku sudah besar, dan panggilan itu terlalu mengerikan untuk gadis seusiaku." Ujar Lovely mengeluh.
'Lalu kau ingin Mami memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Jesslyn memastikan.
"Tentu saja panggil aku dengan nama asli, bukan panggilan sayang!?" jawab Lovely menegaskan.
Ya, Lovely adalah panggilan sayang yang di berikan oleh Jesslyn pada Lovely ketika dia masih bayi dulu. Dan nama Asli Lovely adalah Luna, sekarang Lovely ingin di panggil dengan nama aslinya, bukan nama panggilan masa kecilnya.
Jesslyn menghela napas. Rupanya putrinya sudah dewasa, Jesslyn putrinya masih anak-anak. bisanya begitu cepat waktu ini berlalu. Sepertinya baru kemarin dia melahirkan Lovely , bukan...tapi Luna. Tapi sekarang dia sudah dewasa dan usianya hampir dua puluh tahun.
"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang terusnya Mama akan memanggilmu dengan panggilan Luna, bukan Lovely." Ucap Jesslyn membuat senyum di bibir lovely mengembang lebar.
"Nah, begitu dong. Kan lebih enak di dengar." Ucap Lovely sambil tersenyum lebar. Akhirnya dia di panggil dengan nama aslinya , bulan nama panggilan kecil. Dan memang itu yang Luna harapkan. "Oya, Ma. Ini sudah siang, aku pergi dulu ya." Luna mencium pipi Jesslyn dan pergi begitu saja.
Luna tidak ingin terlambat di hari pertamanya kuliah. Dia datang sebagai mahasiswi baru, atas desakan Jesslyn akhirnya Luis setuju untuk memindahkan Luna ke Korea. Satu tahun dia berada di luar negeri dan itu membuat Jesslyn sangat merindukannya.
"Setidaknya minum susumu dulu!!" seru Jesslyn dengan suara sedikit meninggi.
Luna menggeleng. "Maaf, Mi. Sudah tidak sempat, bisa terlambat tiba di kampus jika menundanya lagi." Jawab Luna di tengah langkahnya. Dia sudah menunda banyak waktu dan Luna tidak bisa menundanya lagi.
Jesslyn hanya bisa menghela napas. dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya. Yang dewasa hanya usianya, bukan sikapnya. Karena sikap Luna masih saja kenakalan seperti itu. Dan di mata Jesslyn, Luna tetaplah gadis kecilnya yang sangat imut dan menggemaskan.
"Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa Lovely membuatmu kesulitan lagi?" tanya Luis melihat wajah murung istrinya.
Jesslyn menggeleng. "Aku hanya masih belum percaya jika putri kita telah tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang sangat cantik. Satu hal lagi, membaginya dengan sebutan Lovely karena dia tidak suka. Dia ingin di panggil dengan nama aslinya, yakni Luna..."
xxx
Bruggg...
Tubuh gadis itu tersungkur dan berkahir di tanah setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berdiri menjulang di depannya. Refleks dia mengangkat wajahnya dan seseorang dalam balutan jas hitam menatapnya datar padanya.
"Nanti aku hubungi lagi," kemudian dia mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu 'Luna'
"Kau tidak punya mata, ya? Apa kau tidak lihat aku yang sebesar ini berjalan di depanmu?!" ujar Luna, dia menatap laki-laki itu dengan kesal.
"Jelas-jelas kau yang salah karena jalan tidak memakai mata!!" jawabnya tidak mau kalah.
"Kau bodoh , ya? Di mana-mana orang jalan itu menggunakan kaki bukan mata!!" ucap Luna menyalahkan perkataan lelaki tersebut.
Laki-laki itu menghela napas. Jika dia menanggapi ocehan gadis aneh di depannya ini, bisa-bisa ia terlambat sampai di kantor. Apa lagi ada rapat penting lagi ini. Tanpa mengatakan apapun, dia melenggang pergi meninggalkan Luna. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakan wanita itu yang menghujaninya dengan berbagai sumpah serapah.
Luna menghela napas. Dia tidak tahu kesialan apa yang dialami pagi ini, sampai-sampai harus bertemu dengan pria menyebalkan seperti itu.
Gadis itu bangkit dari posisinya sambil membersihkan debu-debu yang menempel di pakaiannya. Tiba-tiba sebuah tangan terulur padanya, Luna mengangkat kepalanya dan mendapati seorang lelaki tampan berdiri di hadapannya.
"Mari saya bantu. Nona, tidak apa-apa kan?" tanya laki-laki itu memastikan. Luna menggeleng meyakinkan padanya jika dia baik-baik saja. "Atas namanya, saya minta maaf. Dia memang seperti itu orangnya." Ucap laki-laki itu sambil membantu Luna untuk berdiri.
"Kau mengenalnya?" tanya Luna memastikan.
laki-laki itu menganggukkan kepala "Ya, aku mengenalnya. Dia adalah adikku, dan sifatnya memang seperti itu. Dia yang dingin, arogan dan bermulut tajam, tapi dia bukan orang jahat kok." Ucap laki-laki tersebut.
Luna berdecak lidah. "Jelas-jelas dia penjahat. Jika bukan penjahat, tidak mungkin dia menyalahkan ku dan ngomel-ngomel tidak jelas. Sudah tahu dia yang salah, tapi malah melemparkan kesalahan pada orang lain. Tolong sampaikan pada adikmu itu, tidak perlu lempar batu kemudian sembunyi tangan. Suruh akui kesalahannya jangan malah melemparkannya ke orang lain." Ujar Luna panjang lebar.
"Baik, nanti akan aku sampaikan." Jawab laki-laki itu
Tanpa menghiraukan lelaki tersebut, Luna beranjak dan meninggalkan laki-laki itu begitu saja. Dan mimpi buruk apa yang dialami semalam, sampai-sampai harus mengalami hari yang sangat buruk. Luna segara menghentikan taksi ,dia harus sampai di kampus tepat waktu. Dia tidak ingin mendapatkan masalah dari dosen barunya yang katanya super killer.
xxx
Wanita-wanita itu merapikan penampilan mereka saat seorang lelaki tampan dalam balutan jas hitam rapi memasuki ruangan di mana mereka berada. Kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya. Dia adalah dosen baru Di S.N.U.
"Selamat pagi, Tang Songsaenim. Perkenalkan saya adalah Miss Selena, salah satu dosen yang paling terkenal di kampus ini."
"Kalau saya, Miss Lusi. Dosen paling cantik dan menarik di sini."
"Jangan terkecoh oleh mereka berdua. Mereka memang cantik dan langsing, tapi aku yang paling bohay. Selamat datang dan bergabung di S.N.U, Tang Songsaenim. Saya adalah Miss Eliza, senang menyambut Anda."
Para Dosen wanita memperkenalkan diri masing-masing pada Jordan. Namun hanya di sikapi dingin olehnya. Jordan bersikap dingin dan acuh, dia hanya membungkuk singkat kemudian berjalan menuju mejanya.
Jordan Tang, adalah seorang Tuan Muda dari keluarga ternama. Dia rela melepaskan posisinya sebagai CEO hanya demi mengejar cita-citanya sebagai dosen. Sedangkan posisi CEO di tempati oleh kakak angkatnya, David Tang.
xxx
"Luna, di sini!!" seru seorang wanita sambil melambaikan tangannya pada Luna.
Luna tersenyum lebar. Luna pun menghampiri orang yang memanggilnya sambil tersenyum lebar. "Oya, aku dengar akan ada dosen baru, ya? Sepanjang jalan mereka selalu membicarakannya," ucap Luna sambil menganggukkan kepala.
"Ya, itu memang benar, dan asal kau tahu saja dia sangat tampan," ujar Tiffany sambil bersorak kegirangan.
Luna mendengus sebal. Memangnya apa sih istimewanya pria tampan? Padahal mereka biasa saja. Dan Luna sangat penasaran dengan dosen baru itu, setampan apa dia sampai-sampai banyak orang yang begitu heboh membicarakannya.
"Akhirnya , setelah sekian purnama, kampus kita tercinta ini kedatangan dosen yang sangat tampan. Jujur saja aku sudah bosan melihat dosen botak dan gendut, membuatku malah datang ke kampus. Tapi sekarang aku bersemangat lagi karena dosen baru itu," ujar Tiffany sambil berputar-putar seperti orang mabuk.
Luna mendengus dan menatap sahabatnya itu dengan geli. Mengabaikan Tiffany, dia pun melenggang pergi menuju kelasnya. Kelas pertama hampir di mulai, dan dari informasi yang Luna dengar, dosen baru itu yang akan mengisi kelas pertama hari ini.
"Omo!! Kemana perginya gadis itu? Yakk!! Luna, tunggu aku!!" seru Tiffany sambil berlari mengejar sahabatnya itu. Karena terlalu asik dengan dunianya sendiri, sampai-sampai dia tidak sadar ditinggalkan.
xxx
Luna memasuki sebuah ruangan yang sudah hampir penuh dengan teman-teman satu angkatan dengannya. Hampir semua yang berada di ruangan itu tampak asyik dengan kesibukan masing-masing, ada yang berceloteh, ada juga yang memainkan ponsel nya, melakukan berbagai hal yang membuat mereka senang.
Tanpa disadari, seorang dosen muda memasuki kelas itu tanpa bersuara. Dosen muda itu memperhatikan mereka satu persatu, hingga dia perlu berdehem keras untuk membuat mereka menyadari kedatangannya.
Dan tentu saja kedatangannya mengejutkan para mahasiswa di kelas itu. Bukannya diam, mereka justru semakin riuh, bahkan ada yang sampai berteriak histeris menyampaikan kekagumannya. Hingga dosen muda itu perlu mengeluarkan suara tegas untuk membuat semua yang berada di ruangan itu diam seketika.
"DIAM, ATAU AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN SEMUA?!"
Iris hitam nya fokus pada satu titik dimana salah satu mahasiswi yang memiliki surai blonde panjang sedang asyik dengan ponselnya tanpa peduli dengan tatapan sang dosen yang mengintimidasinya.
Dosen itu melemparkan bolpoin kearah mahasiswi tersebut dan mengundang kemarahannya.
"Yakk!! Apa-apaan kau itu?!" teriaknya dengan kesal. Sontak dia mengangkat kepalanya dan... "KAU-" mahasiswi itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna memekik keras sambil menunjuk dosen tersebut yang pastinya adalah Jordan Tang.
"Letakkan ponselmu sekarang juga atau keluar dari kelasku," dia memberikan dua pilihan pada Luna. Antara meletakkan ponselnya atau keluar dari kelasnya.
"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau pikir dirimu siapa bisa mengaturku seenak jidat? Kau masih memiliki hutang maaf padaku, apa kau lupa apa yang kau lakukan lagi tadi kepadaku?!" Luna memberikan tatapan menantang pada Jordan, baru kali ini ada dosen yang berani menegurnya.
"Aku tegaskan sekali lagi, letakkan itu sekarang juga atau keluar dari kelasku!!" sekali lagi Jordan memberikan ancaman pada Luna, lagi-lagi Dia memberikan dua pilihan padanya.
"Oke, aku akan keluar sekarang juga!!" Luna menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Jika saja dosen baru itu bukan pria menyebalkan seperti Jordan, sudah pasti Luna akan bersikap lebih sopan padanya. Tapi sayangnya dosen itu adalah pria menyebalkan yang tadi pagi menabraknya tanpa meminta maaf padanya, dia malah bersikap arogan dan justru menyebutnya tak punya mata.
Jordan menoleh dan menatap kepergian Luna dengan tatapan tak terbaca. Jordan menghela napas, kemudian dia melanjutkan kegiatan mengajarnya dan mengabaikan Luna yang baru saja meninggalkan kelasnya.
.
.
Luna meninggalkan kelasnya sambil terus menggerutu tidak jelas. Gadis itu benar-benar kesal setengah mati, dia sangat menyesal kenapa dosen barunya harus manusia menyebalkan seperti Jordan, apa tidak ada dosen lain di dunia ini selain dia?!
"Luna," panggilan itu menghentikan langkahnya. Sontak Luna menoleh dan mendapati seorang laki-laki berjalan menghampirinya.
"Devan, sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau mengikuti jam pertama?" ucap Luna sambil menatap pemuda itu 'Devan'
Devan menghela napas. "Miss Salsa, mengeluarkan ku dari kelasnya dan dia melarang ku supaya tidak mengikuti semua mata pelajarannya. Lalu bagaimana dengan dirimu? Bukankah seharusnya sekarang adalah jam pelajaran dosen baru itu? Jangan bilang jika kau dikeluarkan juga olehnya?!" tebak Devan 100% benar.
"Ya, dosen menyebalkan itu mengusirku keluar dari kelasnya. Aku mau menemui rektor dan melayangkan protes padanya, bisa-bisanya dia memasukan dosen menyebalkan seperti orang itu ke kampus ini!!" ujar Luna.
Devan menahan pergelangan tangan Luna ketika dia hendak melenggang pergi. "Jangan aneh-aneh, kau cari mati, ya. Sebaiknya kau diam saja dan jangan cari masalah dengan rektor killer itu, amit-amit tujuh turunan, Jangan sampai kita terlibat masalah dengan orang sepertinya." Ujar Devan menasehati.
Luna menghela napas. "Betul juga. Aku lapar, sebaiknya temani aku ke kantin sambil menunggu jam berikutnya." Ucap Luna sambil menarik lengan Devan bawahnya pergi ke kantin kampus. Devan tidak bisa menolaknya, menolak pun percuma saja karena sudah pasti Luna akan tetap memaksanya.
"Iya, tapi pelan-pelan, kau membuatku hampir terjungkal!!"
xxx
Luna dan Devan tampak menikmati makanannya di kantin kampus. Jam Pertama belum usai dan masih sekitar lima belas menit lagi. Luna bersumpah tidak akan mengikuti semua kelas dosen baru dan menyebalkan itu, dia begitu galak dan sok keren yang membuat Luna merasa muak dengannya.
__ADS_1
Devan menatap Luna dengan pandangan memicing. Dia tampak begitu tenang, meskipun tidak ikut di jam pelajaran pertama, berbanding balik dengan dirinya yang tampak gusar dan tidak tenang. Devan, takut tidak lulus di semester kali ini.
"Kenapa Kau tampak tenang sekali, bagaimana jika dosen baru itu sampai tidak meluluskan mu dan membuatmu mengulang lagi? Bukankah itu akan sangat memakan waktu, aku saja tidak tenang mengusirku keluar dari kelasnya." ujar Devan.
Memangnya Apa yang perlu dicemaskan? Kau tidak berada di posisiku, apalagi menghadapi dosen baru dan menyebalkan itu. Pasti kau akan terus-terusan mengeluh, karena sikapnya." tutur Luna.
Luna benar-benar tidak ingin bertemu apalagi bertatapan muka dengan dosen baru itu, lebih baik dia tidak mengikuti semua kelasnya dan menghindari pertemuan dengannya. Itu akan membuatnya jauh lebih baik, daripada harus menghadapi sikap arogannya yang sangat menyebalkan.
"Tapi Bukankah dia tampan, bahkan hampir semua mahasiswi yang ada di sini terus membicarakannya, termasuk para dosen wanita. Mereka semua mengatakan jika dosen baru itu sangat tampan, sampai-sampai membuat mereka mau meleleh. Tapi kenapa kau malah tidak tertarik sama sekali padanya? Kau itu aneh," ujar Devan menuturkan.
Luna mengangkat bahunya dengan acung."Karena aku bukan mereka, aku masih waras dan tidak akan menjatuhkan harga diriku hanya untuk dosen menyebalkan seperti itu, itu benar-benar sangat memalukan." ujar Luna.
Devan menghela napas. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya Luna bersikap demikian. Devan sudah melihatnya meskipun hanya sekilas saja, tetapi dosen baru itu sangat tampan serta masih muda. Jadi bagaimana mungkin Luna tidak tertarik padanya, apakah dia masih normal?!
"Luna, Devan.." Seruan keras itu mengalihkan perhatian mereka berdua. Terlihat Tiffany melambaikan tangan pada mereka. Devan segera berdiri lalu berlari menghampiri Tiffany.
"Baby Tiffy," seru Devan sambil mengulurkan kedua tangannya pada Tiffany.
Malas melihat orang yang sedang bucin akut. Luna pun memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua. Tiffany sudah keluar, artinya kelas di jam pertama sudah selesai. Namun setibanya di ruang kelas, dosen menyebalkan itu ternyata belum pergi dan masih ada di sana.
Luna berbalik badan dan hendak pergi, namun langkahnya di hentikan oleh Jordan. "Berhenti di sana!!" seru Jordan lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Luna.
Gadis itu menoleh dan menatap Jordan yang menghampirinya dengan tatapan tak bersahabat. "Ada apa? Masih ingin cari gara-gara denganku?" Luna menatapnya dengan sebal.
Alih-alih menjawab. Jordan tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang kemudian dia berikan dia pada Luna. "Apa ini milikmu?" tanya Jordan sambil menunjukkan benda yang ada di genggamannya pada Luna.
"Dari mana kau mendapatkannya? Ya, kalung ini milikku." Jawabnya sambil mengambil kalung itu dari tangan Jordan.
"Aku tidak sengaja menemukannya tersangkut di kancing Vest yang aku pakai. Sepertinya kalung ini terlepas dari lehermu ketika kita tidak sengaja bertabrakan tadi." Ujarnya. Jordan tidak semenyebalkan sebelumnya. Bahkan cara bicaranya pun berbeda.
Luna mengangguk. "Ya, mungkin saja." Ucapnya sambil menganggukkan kepala. "Terimakasih sudah menemukan dan mengembalikan kalung ini padaku. Karena kalung ini sangat berarti bagiku." Ucapnya sambil menggenggam kalung tersebut.
"Kalau memang berharga, sebaiknya simpan baik-baik." Jordan beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.
xxx
Luna terus merengek, memohon supaya orang ayah dan ibunya mengajaknya untuk pergi ke luar negeri. Tapi permohonan Luna di tolak oleh mereka, Jesslyn dan Luis ingin agar Luna tetap di rumah dan fokus pada kuliahnya.
"Ayolah Mi, Pi. Ajak aku ikut bersama kalian juga, ya. Jika kalian pergi lalu bagaimana denganku? Aku harus tinggal bersama siapa? Kakak dan kakak ipar sedang berada di China, masa iya aku harus tinggal sendirian bersama para pelayan saja, aku tidak mau hidup nelangsa karena kesepian." Ujar Luna.
Jesslyn menggeleng. "Kami tidak bisa membawamu untuk ikut, Luna. Kau harus fokus pada kuliahmu, masalah dengan siapa kau harus tinggal itu sudah kami pikirkan. Untuk sementara waktu, Papi dan Mami akan menitipkan mu pada putra sahabat Papimu. Sementara kau bisa tinggal bersamanya, setidaknya sampai kami kembali." Ujar Jesslyn.
Luna menatap sang ibu dengan penasaran. "Siapa? Lagipula aku ini bukan barang yang bisa kalian titip-titipkan." Tutur Luna.
"Kau jangan banyak protes. Sebaiknya cepat siap-siap karena dia akan segera sampai, satu lagi... jangan membuat masalah apalagi keributan di sana. Dia seperti Papi mu, orangnya suka suasana yang tenang." Terang Jesslyn.
Luna menghela napas berat. "Kenapa ribet sekali sih, benar-benar menyebalkan!!" ucapnya dan pergi begitu saja.
Jesslyn menggelengkan kepala melihat sikap putri bungsunya. Dia tidak lagi heran karena memang seperti itulah Luna, kekanakan.
Kedatangan seorang pelayan mengalihkan perhatian Jesslyn, pelayan itu memberitahunya jika tamu yang ditunggu-tunggu oleh majikannya tersebut telah tiba. Jesslyn mengangguk, kemudian dia pergi untuk menyambut kedatangan orang itu.
Jesslyn tersenyum lebar sambil menghampiri orang itu. "Jordan, kau sudah datang?" tegur Jesslyn dengan senyum yang sama. Dia sedang mengobrol dengan Luis.
"Dimana Luna?" tanya Luis.
"Dia sedang bersiap-siap di kamarnya, sebentar lagi juga turun." Jawabnya. Luis mengangguk.
Jordan sedikit terkejut mendengar nama yang baru saja di sebut oleh Luis. Kemudian pandangannya bergulir pada foto besar yang menggantung di dinding, dia semakin terkejut setelah melihat foto tersebut.
Luis menatapnya dengan bingung. "Ada apa, Jordan?" tanya pria itu kebingungan.
"Maaf, Paman. Apa gadis di foto itu adalah putrimu?" tanyanya memastikan.
Luis mengangguk. "Ya, dialah Luna. Orang yang ingin Paman titipkan padamu. Paman, dan Bibi harus pergi ke luar negeri. Tidak ada yang menjaganya, jadi kami ingin menitipkannya padamu untuk sementara waktu. Paman harap kau tidak keberatan," ujar Luis.
Jordan menutup matanya dan menghela napas. dia tidak tahu bagaimana hidup dia kedepannya jika harus tinggal satu atap dengan orang seperti Luna. Pasti akan banyak masalah yang dia timbulkan.
Menolaknya sudah terlambat, karena dia sendiri yang sudah menyetujui ketika Luis dan Jesslyn meminta tolong padanya, tidak mungkin Jordan mengingkari ucapannya sendiri.
"Nah, itu dia sudah datang." Seru Jesslyn melihat kedatangan Luna.
Lantas Jordan menoleh, membuat pandangannya dan Luna saling bersirobok. Pupil mata Luna membulat sempurna. "Omo!! Sedang apa dia di sini? Jangan-jangan orang itu adalah dia? Sial, entah nasib buruk apa yang harus aku alami kedepannya," ucapnya lirih.
Luna benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika dia harus tinggal satu atap dengan Jordan. Dosen killer itu, pasti akan mempersulit hidupnya. Luna menggeleng, Sepertinya dia harus menolak untuk tinggal bersama dengan Jordan. lebih baik mencegah daripada setiap hari makan hati.
"Luna, kemarilah." Luis melambaikan tangan padanya. "Dia adalah Jordan Tang, dan selama kami tidak ada kau akan tinggal bersamanya. Jadi Papi dan Mami harap kau tidak membuat keributan apalagi menciptakan masalah di sana. Jangan mempersulitnya, dan yang terpenting kau harus menurut padanya." ujar Luis.
"Pi, Mi, aku tidak mau tinggal bersamanya!!"
xxx
Luna hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tuanya yang ingin menitipkannya pada orang asing. Jordan Tang, pria tampan namun memiliki sifat seperti kutub Utara. Entah mimpi buruk apa yang dia alami semalam sampai-sampai harus tinggal satu atap dengan pria menyebalkan seperti itu.
Rasanya Luna ingin sekali mengutuk orang tuanya yang sudah seenak jidat memintanya untuk tinggal bersama orang asing. Tapi sayangnya dia tidak berani. Luna tidak ingin disebut sebagai anak durhaka karena berani mengutuk kedua orang tuanya.
"Kita sudah sampai, cepat turun." suara dingin itu segera menyadarkan Luna dari lamunannya. Kemudian gadis itu menoleh dan membalas tatapan Jordan lalu menghela napas.
"Aku tidak mau!! Aku mau pulang," Luna menolak untuk turun dan dia malah mengatakan pada Jordan ingin pulang.
Pria itu berdecak sebal. "Entah mimpi buruk apa ini, sampai-sampai aku harus berurusan dengan gadis menyebalkan sepertimu!! Turun sekarang juga atau aku akan membiarkanmu mati kehabisan napas di dalam mobil ini!!" ujar Jordan memberi ancaman.
Sontak pupil Luna mau bulat sempurna setelah mendengar apa yang pria itu katakan. "Yakk!! Ancaman bodoh macam apa itu? Iya iya aku akan turun sekarang juga." Luna turun dari mobil Jordan sambil menggerutu tidak jelas.
Bisa-bisanya Jordan memberikan ancaman mengerikan seperti itu. Apa dia benar-benar pria yang normal? Benar-benar mengerikan, entah bagaimana nasib Luna kedepannya karena harus tinggal dengan pria seperti Jordan.
"Kenapa rumah ini sepi sekali? Apa kau tinggal sendirian saja? Lalu di mana orang tuamu?" tanya Luna penasaran.
Jordan hanya menatap sekilas kearah Luna tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya. "Ayo masuk." Jordan mengambil alih koper di tangan Luna lalu membawanya masuk ke dalam.
"Hei, kenapa pertanyaanku diabaikan? Aku sedang bertanya padamu.." Seru Luna melayangkan protesnya. "Ahhh," langkah gadis itu terhenti ketika tanpa sengaja bertubrukan dengan punggung bidang milik Jordan.
Pria itu menoleh ke belakang dan menatap Luna dari ekor matanya. "Kau terlalu berisik!!" ucapnya dan melengos pergi. Luna mempoutkan bibirnya. Gadis itu menghela napas. Sambil menghentakkan kakinya. Luna menyusul Jordan yang sudah menjauh.
"Ini kamarmu. Di rumah ini hanya ada kita berdua. Karena kau tidak bisa memasak, maka kau harus membantuku beres-beres rumah. Bangun tidak boleh lebih dari jam 6 pagi, terlambat satu menit saja tidak dapat jatah sarapan. Tidur tidak boleh diatas jam 10 malam, supaya bangunmu tidak kesiangan." Ujar Jordan.
Pupil mata Luna membulat sempurna. "Yakk!! Aturan macam apa itu, jangan mentang-mentang kau tuan rumah dan aku tamu, maka kau bisa memperlakukanku seperti ini. Ini benar-benar tidak adil. Aku Tidak mau!!" tegas Luna.
Jordan mengangkat bahunya dengan acuh. "Itu terserah padamu. Kau boleh menempati kamar kosong di dekat gudang yang penuh dengan tikus dan kecoa, gampang kan." ucap Jordan dan membuat Pupil mata Luna membulat sempurna.
"Apa kau bilang?! Tikus dan kecoa, aku tidak Sudi. sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti aturanmu. Jika bukan karena terpaksa aku tidak suka melakukannya," tandas Luna.
"Baguslah jika kau tahu diri. Ini barang-barang mu," Aiden menyerahkan koper milik Luna pada sang empunya dan pergi begitu saja.
Luna menggepalkan tangannya sambil mendengus kesal. Jika bukan karena terpaksa dia tidak akan suci tinggal satu atap dengan pria menyebalkan seperti Jordan. Luna benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan oleh ibu dan ayahnya, sampai-sampai mereka harus menitipkannya pada orang menyebalkan seperti Jordan.
setelah meletakkan kopernya. Luna langsung menjatuhkan badannya pada kasur super nyaman di kamar ini.
Ternyata tidak buruk juga, meskipun kamarnya tidaklah sebesar dan semewah kamar miliknya namun kamar ini begitu nyaman dan luas. Pemandangan luar juga sangat bagus di tambah lagi beberapa ornamen serta lukisan dinding yang sangat cantik.
"Sepertinya menyenangkan juga tinggal di rumah ini. Udaranya sangat sejuk dan pemandangannya indah, benar-benar cocok untuk menyegarkan mata di pagi hari," ucap Luna setengah bergumam.
Hari sudah beranjak petang. Luna melesat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang agak sedikit lengket. Setelah ini dia berencana keluar untuk makan malam, dia hendak makan malam di cafe bersama teman-temannya.
xxx
Jordan berjalan kearah pintu saat mendengar suara ketukan. Itu adalah kurir yang mengantarkan makanan pesanannya. Dia lebih memilih memesan dari luar karena hari ini Jordan sangat malas untuk memasak.
Porsi makanan yang dia pesan kali ini lebih banyak dari biasanya karena ada anak orang lain yang harus dia beri makan.
"GADIS MANJA, TURUNLAH UNTUK MAKAN MALAM!!" seru Jordan dengan suara meninggi. Dia terlalu malas untuk memanggil Luna di kamarnya, belum habis rasa kesalnya pada gadis itu.
Luna menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Membuat Jordan memicingkan matanya. "Kau mau pergi ke mana?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Tentu saja untuk makan malam. Aku akan makan malam di luar dengan teman-temanku," jawab Luna dengan santainya.
"Kau bercanda, ya?! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua, dan kau malah mau pergi keluar untuk makan malam bersama teman-temanmu?!" ujar Jordan sambil menunjuk makanan yang telah ia susun dimeja makan.
Pupil mata Luna sedikit membulat melihat makanan-makanan tersebut. "Kau yang menyiapkan semua makanan-makanan itu?" tanya Luna tak percaya.
"Lalu menurutmu siapa?"
Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf aku tidak tahu kalau kau menyiapkan makan malam. Kalau begitu aku tidak jadi keluar dan makan malam di rumah saja." Ucap Luna.
Jordan memutar jengah matanya lalu beranjak dari hadapan Luna. "Terserah!!" dia sudah terlanjur kesal. Kesabarannya yang tidak lebih tebal dari selembar tisu harus diuji oleh Luna.
Jordan merasa kehadiran Luna dalam hidupnya seperti mimpi buruk . Dan cukup sekali ini saja dia berurusan dengan gadis menyebalkan seperti itu. Jangan ada Luna-Luna yang kedua, ketiga dan seterusnya.
xxx
__ADS_1
Pagi ini suasa terasa begitu tenang, semilir angin bertiup menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di tanah setela berguguran dari rantingnya, terdengar suara burung-burung berkicau saling bersahutan bak sebuah nyanyian merdu untuk menyambut datangnya sang mentari pagi..
Luna terbangun dari tidur nyenyak nya meskipun matanya sangat berat untuk ia buka. Kemudian dia memperhatikan keadaan sekitar nya, ini bukan kamar nya. Lalu kamar siapa? Otaknya berpikir keras mencoba untuk mengingat sesuatu.
Tidak tidak tidak, ini adalah kamarnya karena dirinya berada di kamar ini. Luna baru ingat jika dia tidak lagi tinggal di kediaman orang tuanya, tetapi di kediaman pria super menyebalkan bernama Jordan Tang.
Ketika Luna hendak bangkit dari tempat tidurnya tiba-tiba saja tubuh nya menegang, ada sesuatu yang hangat menempel dibalik punggungnya. Luna mencoba menggerakkan kakinya, dan dia merasakan sesuatu di balik selimut tebal bermotif bulan bintang yang ia pakai.
Dengan ragu, Luna menoleh kebelakang. Pupil matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang berbaring di sampingnya.
"Huuuwwwaaaa.......!!" suara teriakan nyaring Luna sukses mengacaukan pagi yang sebelumnya hening dan tenang, dengan refleks dia menendang pantat orang itu yang pastinya adalah Jordan hingga dia jatuh dari atas tempat tidurnya. Tendangan Luna benar-benar mematikan.
"Yakk!! Dasar pria messum menyebalkan, bagaimana kau bisa berada di kamar ku, lewat mana kau masuk.....? " Luna berteriak dengan heboh, beruntung kamar itu kedap suara, sehingga teriakan nya tidak sampai keluar.
"Kenapa masih di sana? Cepat turun, pergi kau dari kamar ku." Luna berusaha mengusir Jordan dari kamarnya. Namun dia tetap tidak bereaksi juga, dan itu membuat Luna kesal setengah mati. "Kenapa kau malah menatapku seperti itu? Cepat keluar dari kamarku, dasar dosen messum!!"
Jordan memutar jengah matanya. Dia bangkit dari posisinya. Pantatnya agak sedikit ngilu karena ulah Luna.
"Yang seharusnya pergi dari kamar ini bukan aku, tapi kau!! Buka matamu dan perhatikan baik-baik, Ini kamarku atau kamarmu?!" Jordan meminta Luna untuk membuka matanya baik-baik. Karena jelas-jelas ini adalah kamar Jordan, bukan Luna.
"Eh?" gadis Itu tampak kebingungan. Kemudian dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, Luna merasa asing dengan tempat ia berada sekarang. Ini bukan kamarnya, lalu kamar siapa? Pandangannya kembali pada Jordan, Luna mengedipkan matanya dengan lucu. "Mungkinkah kamar ini, adalah kamarmu?" dia berkata ragu-ragu.
Jordan mendengus. "Bagus sekali, akhirnya kau sadar juga. Jadi yang seharusnya keluar itu aku atau kau?!"
Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia benar-benar merasa tidak enak pada Jordan karena sudah menuduhnya macam-macam. "Maaf, aku yang salah. Aku ingat semalam tiba-tiba ada petir lalu aku berlari dan masuk ke kamar ini. A..Aku akan kembali ke kamarku sekarang juga." Ucap Luna lalu berlari meninggalkan kamar Jordan.
Dia benar-benar merutuki kebodohannya. Dia telah mempermalukan dirinya sendiri di depan pria menyebalkan itu. Pasti Jordan sedang mengolok-olok dirinya sekarang karena kebodohannya tersebut. Dan rasanya Luna sudah tidak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan Jordan.
Pria itu menghela nafas dan mendengus geli. Bisa-bisanya dia diusir dari kamarnya sendiri oleh Luna yang notabenenya adalah tamu di rumahnya. Dan yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahpahaman.
Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Jordan meninggalkan kamarnya lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dia berencana membuat sandwich sebagai menu sarapan pagi ini. Meskipun dia kesal pada Luna, tapi Jordan tetap tidak bisa abai padanya, karena bagaimanapun juga yang memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaganya.
.
.
"Luna, cepat turun sarapan sudah siap!!"
Teriakan keras itu mengalihkan perhatian Luna dari cermin berukuran besar di depannya. Dia baru saja mandi dan sedang berias di depan cermin ketika suara Jordan menggema dan berkaur di telinganya.
Setelah memastikan tidak ada yang kurang pada penampilannya, Luna bergegas turun untuk sarapan bersama Jordan.
Luna menatap Jordan sekilas. Dan dia buru-buru menundukkan kepalanya ketika menyadari pria itu membalas tatapannya. Dia merasa tidak enak pada Jordan akibat kejadian pagi ini, sudah marah-marah dan menuduhnya macam-macam, ternyata hanya salah paham. Rasanya Luna ingin bersembunyi di Antartika supaya dia tidak bertemu dengan Jordan.
"Sampai kapan kau akan terus diam seperti orang bodoh, sebaiknya segera habiskan sarapan mu, kita bisa kesiangan sampai di kampus." Dan ucapan tajam Jordan membuyarkan lamunan Luna. Sontak dia mengangkat kepalanya dan matanya bersirobok dengan mata Jordan.
Luna menghela napas. "Aku tahu tapi tidak perlu menyebutku bodoh juga, dasar dungu!!" Luna tidak mau kalah, dia menimpali ucapan Jordan dan membalasnya dengan menyebutnya dungu.
Pria itu berdecak sebal. Mengabaikan Luna, Jordan menyantap sarapannya dengan tenang.
xxx
Sepanjang mata pelajaran berlangsung. Luna tidak bisa fokus pada materi yang Jordan sampaikan. Kejadian pagi ini benar-benar membuyarkan fokus Luna dari apa yang dipelajari saat ini. Gadis itu sedari tadi hanya diam tanpa bersuara, sementara telinganya terasa panas mendengar bisik-bisik para teman-temannya.
Kehadiran Jordan Tang di kampus mereka sukses menghipnotis para mahasiswi yang 1 angkatan dengannya, termasuk sahabat Luna salah satunya.
Gadis yang telah berstatus sebagai tunangan Jason Wong itu terlihat melepas ikatan rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi punggungnya. Luna tau, jika Tiffany mencoba menarik perhatian Jordan saja.
Luna mendengus, Ia sangat hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu. Kebiasaan buruk Tiffany saat melihat pemuda tampan, bahkan Ia melupakan statusnya sebagai tunangan dari pria tampan bernama Jason.
"Apa kau ingin Jason menggiling mu hidup-hidup?" bisik Luna.
Luna menoleh dan berbicara dengan nada rendah agar suaranya tidak sampai tertangkap oleh dosen tampan berwajah stoic yang sukses mengalihkan fokusnya itu. Luna benar-benar tidak ingin terkena masalah oleh Jordan, lalu diusir keluar dari kelasnya.
Tiffany segera tersadar, Ia buru-buru mengikat kembali rambut panjangnya seperti semula. Ucapan Luna ada benarnya juga, bisa-bisa Jason marah dan menolak memberikan dirinya barang-barang branded lagi.
"Hehehe. Aku lepas kendali, Lun." Luna memutar matanya malas, selalu jawaban yang sama. Dan Luna sampai bosan mendengar alasan sahabatnya tersebut.
"Cihh, dasar playgirl." Desis Luna memberikan cibiran. Bukannya tersinggung atau marah, Tiffany malah nyengir Kuda kearah Luna. Luna memang yang paling memahami dirinya, termasuk kebiasaan buruknya.
"Hehehe, maaf." ucap Tiffany.
Tidak ada obrolan lagi setelah perbincangan singkat itu. Luna dan Tiffany sama-sama fokus pada materi yang sedang disampaikan oleh dosen mereka di depan sana, baik Luna maupun Tiffany sama-sama tidak ingin diusir keluar dari kelas dosen galak tersebut.
xxx
Luna merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti detik itu juga, udara di sekelilingnya terasa kosong. Saat Hazel miliknya bertemu pandang dengan onyx milik Jordan. Dosen tampan itu menatapnya tanpa menghentikan kesibukannya dalam menyampaikan materi.
Wajah Luna tiba-tiba bersemu merah, merasa tidak sanggup, gadis itu pun memutuskan untuk mengakhiri kontak mata tersebut.
"Luna Qin, apa kau sakit??"
Luna mendongak saat di rasa suara baritone yang sangat familiar terasa begitu dekat, gadis itu menahan nafasnya dan melupakan caranya untuk bernafas saat mata mereka kembali bertemu pandang dalam jarak yang dekat. Jordan berdiri di sampingnya dalam posisi saling berhadapan, Dosen tampan itu menatapnya dingin dan datar.
"Aku rasa tidak, aku baik-baik saja," Suaranya bergetar, Luna menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang selalu Ia lakukan saat merasa gugup.
"Wajahmu memerah, aku pikir kau sakit." Setelah berkata datar. Jordan kembali ke depan kelas, bersandar pada mejanya. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan dan berakhir pada sosok cantik itu yang sedang menundukkan wajahnya.
Ia kembali menerangkan materinya dengan lugas dan jelas. Para gadis tak henti-hentinya mengagumi seorang Jordan Tang itu, dan mereka harus menelan kekecewaan saat mendengar lonceng yang menandakan kelas kedua telah usai. Sedangkan itu menjadi kelegaan dengan Luna.
Tanpa satu kalimat pun, Jordan meninggalkan kelas di ikuti para mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berhamburan keluar. Di dalam kelas hanya menyisakan Luna dan kedua sahabat tercintanya.
"Huaaa, akhirnya selesai juga. Berada dalam satu ruangan dengannya lama-lama membuatku gila." Luna mengacak rambutnya frustasi sebelum menjatuhkan kepalanya diatas meja.
Kedua sahabat Luna sontak menoleh padanya. Menatapnya penuh tanya "A-apa?" Luna tampak gugup di tatap seintens itu oleh sahabat-sahabatnya. Gadis itu mendengus kasar.
Tiffany mengerutkan alisnya, muncul per 4 siku-siku di jidatnya. "Hoi Luna, Jangan bilang jika kau---?"
" ... " Luna tidak mengatakan apa pun, dan kembali membenamkan wajahnya.
" ----Jatuh cinta padanya.??" Sambung Tiffany dengan raut wajah tak percaya.
"Sembarangan, siapa juga yang akan jatuh cinta pada manusia kutub sepertinya!!" sangkal Luna, karena tidak mungkin dia jatuh cinta pada orang seperti Jordan yang dingin bagaikan kutub Utara.
"Aneh juga sih kalau kau sampai jatuh cinta pada orang yang selalu membuatmu kesal. Tapi kalau itu sampai terjadi, aku rela berkeliling kota sambil memakai pakaian badut." ujar Tiffany.
"Sebaiknya terima saja tantangannya, Lun. Kan jarang-jarang kita melihat Tiffany berkeliling kota dengan pakaian badut." Ujar Sunny menyahuti.
"Sepertinya ~"
"LUNA..."
Perhatian ke tiga gadis itu teralihkan, serentak mereka menoleh pada sumber suara. Tampak gadis berhelaian merah berkaca yang muncul tiba-tiba dan mengejutkan mereka bertiga.
Tanpa aba-aba, gadis berhelaian merah itu yang tak lain dan tak bukan adalah Karin langsung menerjang tubuh Luna. Hal serupa seperti yang tadi Tiffany lakukan padanya.
"Kenapa sih kalian suka sekali membuatku sesak nafas? Apa kalian ingin membunuhku secara perlahan eo?!" Jerit Luna frustasi.
Luna merasa hidupnya begitu malang. Tidak dosen barunya, tidak sahabat-sahabatnya. Semua tidak ada yang beres. Tidak bisakah Luna memiliki 1 teman saja yang waras tanpa harus membuatnya menderita. Tapi bukan berarti dia benci dengan kehadiran mereka. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah sahabat-sahabatnya yang selalu ada saat Ia sedang bersedih dan membutuhkan sandaran.
Getaran pada ponselnya mengalihkan perhatian Luna, dahinya membentuk 4 siku-siku melihat nomor asing tertera di layar ponselnya. Penasaran, segera Ia buka pesan itu.
'Temui aku di atap, kita makan siang bersama '
Luna memiringkan kepalanya, menatap layar ponselnya sekali lagi. Otaknya berfikir keras, memangnya siapa gerangan yang mengiriminya pesan dan mengajaknya untuk makan siang bersama?
Tidak ingin rasa penasaran membunuhnya secara perlahan, Luna bergegas meninggalkan kelasnya dan berlari menuju atap. Bahkan Ia menghiraukan teriakan para sahabatnya yang memanggil namanya.
.
.
Setibanya di atap kampus. Luna tidak melihat ada siapa pun di sana, tempat itu kosong. Gadis itu menggeram kesal karena merasa di permainkan.
"HIIIAAAAA....!!" Namun saat berbalik. Luna di kejutkan dengan kemunculan seseorang yang kini berdiri di depannya. Hampir saja dia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di lantai jika tidak ada tangan kekar yang lebih dulu merengkuh pinggangnya.
"Jordan," Lirih Luna tertahan. Jordan memejamkan matanya sambil menggumamkan kata andalannya.
Jordan melepaskan pelukannya pada pinggang Luna dan membantunya berdiri. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Jordan memastikan.
Luna menggeleng. "Tidak." Jawabnya singkat.
Jordan mengangkat kotak berbentuk segi empat yang terbungkus kain biru dongker di tangannya, dan mengajak Luna untuk makan siang bersama. Meraih tangan gadis itu lalu membawanya duduk di kursi panjang di sisi kanan pintu.
"Temani aku makan siang."
"Kita benar-benar akan makan siang bersama?"
__ADS_1
xxx
Bersambung