
"Luis, jadi kau tidak lumpuh?!"
Frangky terkejut bukan main saat melihat Luis bisa berdiri dengan tegap dan wajahnya mulus tanpa cacat. Luis menyeringai, dia sudah menduga dengan respon Frangky saat tau jika dirinya sebenarnya tidak lumpuh.
Luis menarik Jesslyn untuk berdiri dibelakangnya. "Apa yang dia lakukan padamu?" Luis melirik Jesslyn dari ekor matanya.
"Dia mencoba menggoda dan mel*cehkanku. Dia memelukku dan meremas p*ntatku. Dan itu membuatku sangat takut," Jesslyn bersembunyi dibelakang punggung Luis, dia ingin tau apa yang akan Luis lakukan pada Frangky setelah mengetahui apa yang telah dia lakukan.
"Bohong!! Memangnya siapa yang meremas p*ntatmu?! Aku hanya memelukmu!!" Bantah Frangky. Secara tidak sadar dia mengakui apa yang baru dia lakukan pada Jesslyn.
Dengan kasar Luis menarik pakaian Frangky lalu memukul wajahnya hingga dia tersungkur ke lantai. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang terkelupas. "Br*ngsek!! Apa tidak cukup Anna saja?! Kenapa kau masih ingin menggoda Jesslyn juga?!" Teriak Luis marah.
Amarah Luis memuncak. Entah apa sebabnya dia begitu marah dan tidak terima ketika tau apa yang hendak Frangky lakukan pada Jesslyn. Padahal Jesslyn hanya istri kontraknya, tapi dia begitu tidak rela jika gadis itu disentuh oleh pria lain.
Luis terus memukul Frangky tanpa ampun, dan mungkin saja dia sudah membunuhnya jika Jesslyn tidak menghentikannya. "Luis, cukup!! Jangan memukulnya lagi!!" Jesslyn menarik Luis menjauh dari Frangky yang terkapar di lantai dalam keadaan setengah babak belur.
"Lepaskan, Jess. Biarkan aku memberi pelajaran pada bajingan ini!!" Pinta Luis.
Jesslyn menggeleng. "Jangan kotori tanganmu hanya untuk memberi pelajaran pada manusia bejad ini!! Itu tidak ada untungnya sama sekali. Kau hanya mengotori tanganmu saja. Sebaiknya kita tinggalkan dia," Jesslyn membawa Luis pergi dari dapur.
Frangky berteriak dan menghancurkan benda apapun yang ada di dekatnya. Dia marah, sangat-sangat marah malah. Frangky benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Luis. Dia bersumpah akan membalas sepupunya tersebut.
.
.
Disini mereka sekarang. Jesslyn dan Luis duduk bersebelahan di tepi ranjang, mereka ada di kamar utama. Yang merupakan kamar Luis dan Jesslyn. Luis memaksa Jesslyn supaya dia pindah ke kamar utama dan tidur sekamar dengannya.
Jesslyn melihat api kemarahan dikedua mata Luis. Dia sangat marah saat mengetahui jika Frangky mencoba mel*cehkan dirinya. Tapi Jesslyn tidak tau apa alasannya.
__ADS_1
"Kenapa kau tadi menghalangiku?! Seharusnya kau biarkan aku menghabisi bajing*n itu!!" Luis menoleh dan menatap Jesslyn yang juga menatap padanya.
"Kenapa kau sangat marah, Lu?! Apa yang membuatmu sampai semarah ini?" Tanya Jesslyn meminta penjelasan.
"Karena kau istriku. Mungkin pernikahan kita hanya diatas kertas, tapi bagaimana pun juga kau adalah istriku. Dan sebagai suamimu, aku tidak terima jika kau sampai di sentuh oleh pria lain. Setidaknya sampai kontrak nikah ini berakhir!!" Jelas Luis.
Jesslyn tersenyum semu. Memangnya apa yang bisa dia harapkan dari suami kontraknya ini?! Ketulusan Luis, sangat mustahil.Itu sama saja dengan punuk merindukan bulan, Jesslyn sadar betul akan posisinya, dia bukan orang yang spesial di hati dan hidup Luis. Jadi untuk apa berharap lebih?!
"Benar juga, harga dirimu bisa tercoreng sebagai seorang suami kontrak jika ada orang lain yang menyentuhku. Aku lelah, sebaiknya aku tidur dulu." Ucap Jesslyn.
Kemudian Jesslyn membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping. Hingga yang tertangkap oleh mata Luis hanya punggung yang tertutup gaun tidurnya.
"Kau salah jika berpikir aku melakukan hal itu semata-mata hanya untuk diriku sendiri. Justru sebaliknya, aku melakukannya untukmu. Selama kau masih berstatus sebagai istriku, aku memiliki hak penuh untuk melindungimu. Dan sebagai suamimu, aku tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor menyentuhmu!!"
Jesslyn menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia merubah posisinya menjadi terlentang, dia menatap Luis yang juga menatap padanya. Dan mereka saling menatap selama beberapa saat.
"Sudah larut malam, sebaiknya cepat tidur. Pasti kau lelah setelah seharian bekerja." Pinta Jesslyn.
"Kau tidur disini saja. Bukankah kita adalah suami-istri. Tidak seharusnya tidur terpisah begini,"
Luis menatap Jesslyn serius. "Apa kau yakin?! Apa kau tidak takut jika sesuatu yang tidak terduga malah terjadi?" Dia memicingkan matanya.
Jesslyn melempar bantal ke arah Luis sambil mempoutkan bibirnya. "Jangan mengatakan omong kosong lagi, sudah tidur saja. Dan sejak kapan kau punya pemikiran mesum seperti itu." Rona merah muncul di kedua pipi Jesslyn, gadis itu merubah posisi tidurnya. Ia tidur memunggungi Luis.
Pria itu tersenyum simpul. Kemudian dia ikut berbaring disamping Jesslyn. Luis sangat lelah dan kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dan tidak sampai satu menit, Luis sudah tertidur pulas, begitupun dengan Jesslyn.
-
-
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Luis sudah pergi. Jesslyn tidak tau kemana pria itu akan pergi, karena Luis tidak mengatakan apapun padanya. Gadis itu masih belum beranjak dari balkon kamarnya. Sepasang Hazel-nya menatap mobil Luis yang melaju meninggalkan halaman.
Jesslyn mengangkat bahunya acuh. Untuk apa dia peduli dengan urusan suami kontaknya itu, toh itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Lebih baik ia bersiap-siap sekarang. Jesslyn hampir lupa jika dia ada janji untuk bertemu dengan Susan dan Maya, sahabat mereka berdua yang baru kembali dari berbulan madu.
.
.
Jesslyn, Susan dan Maya sedang berkumpul di cafe langganan mereka. Keberadaan mereka bertiga cukup menyita perhatian pengunjung lain, beberapa pasang mata terus menatap mereka. Tapi Jesslyn cs tidak peduli sama sekali.
Mereka sedang mendengarkan cerita Maya selama dia dan sang suami pergi berbulan madu. Sebenarnya Maya dan suaminya sudah lama menikah, tapi baru sempat berbulan madu karena suaminya terlalu sibuk bekerja.
"Apa kalian tau, selama di luar negeri aku dan Martin melakukan banyak hal. Kami pergi ke beberapa tempat bersejarah dan romantis. Martin sangat romantis, baik dan royal. Sampai-sampai dia memiliki sugar baby."
"Dia membantu seorang gadis yang tidak mampu, tidak hanya mencarikannya tempat tinggal saja, tapi Martin juga membiayai kuliahnya. Dan apa kalian berdua tau, dia memiliki sebuah julukan loh. Dan julukannya itu adalah Sugar Daddy!! Sebagai istrinya aku sangat bangga karena memiliki suami sebaik itu." Ujar Maya panjang lebar.
"Sugar Baby?!"
"Sugar Daddy?!" Maya mengangguk menjawab ucapan Jesslyn dan Susan.
Keduanya saling bertukar pandang. Apakah cinta benar-benar buta, bisa membuat orang jenius dan berpendidikan tinggi menjadi orang yang lugu dan polos.
Mereka berdua benar-benar tidak tau, Maya yang terlalu cinta atau dia terlalu bodoh. Sampai-sampai tidak tau apa itu istilah Sugar Baby dan Sugar Daddy. Sepertinya Maya perlu dimandikan di air tujuh sumur dan tujuh samudera supaya terbuka mata hatinya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.