Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Ada alasan kenapa Luis menggambarkan Jesslyn sebagai alam semestanya. Wanita itu punya makna yang begitu luas dalam hidupnya. Seluruh samudera bahkan serasa tidak setara dengan esensi Jesslyn dalam hidupnya.


Kata yang paling tepat untuk menggambarkan sosok wanita itu menurut Luis adalah universe. Alam semestanya. Karena Jesslyn adalah segala-galanya bagi pria itu.


Dengan Jesslyn, ia tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, tidak pula langsung tergila-gila begitu memutuskan untuk hidup bersama.


Semuanya berawal dari kata sederhana dan tidak terduga.


Sama seperti pertemuan pertama mereka, tak ada kesan, tak ada rasa apalagi cinta. Namun cinta di hati mereka tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Kebersamaan mereka membuat benih-benih cinta tumbuh di hati keduanya.


Meskipun sama-sama merasakannya, namun baik Jesslyn maupun Luis sama-sama tak ada yang mau mengungkapkannya apalagi mengakui perasaan masing-masing. Karena mereka masih sama-sama ragu dengan apa yang dirasakan saat itu.


Namun perasaan dan cinta di hati mereka tumbuh semakin besar setelah keduanya memutuskan berpisah dan hidup berjauhan. Selama 7 tahun, Luis hidup dalam kesendirian begitupun dengan Jesslyn, sama-sama tak ada yang ingin membuka hatinya untuk orang lain.


Keheningan menyelimuti keduanya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Jesslyn maupun Luis meskipun mereka sudah duduk bersama selama lebih dari 10 menit. Dan hal itu membuat Nathan bosan sendiri. Dia pun segera mengambil tindakan.


"Ada apa dengan kalian berdua, kenapa kalian hanya diam dan tidak saling bertegur sapa. Apa kalian tidak saling merindukan setelah berpisah selama 7 tahun?!" Bocah laki-laki itu sudah tidak tahan lagi, sikap kedua orang tuanya benar-benar membuatnya kesal sendiri.


"Jaga bicaramu, bocah!! Kenapa semakin hari ucapanmu semakin pedas saja?!" Dan akhirnya Nathan malah kena omelan oleh ibunya.


Nathan mengangkat bahunya. Dia bersikap acuh tak acuh. "Sudahlah, aku tidak mau ikut campur. Kalian selesaikan saja masalah kalian sendiri, aku akan menunggu kalian di luar. Mi, mana kunci mobilnya." Nathan meminta kunci mobil milik ibunya.


Bukan untuk melarikan diri, karena Nathan belum bisa mengemudi. Dia akan menunggu mereka di mobil, karena Nathan tau jika ibu dan ayahnya membutuhkan waktu untuk berdua saja.


"Jangan macam-macam dan tunggu Mami di mobil!!"


"Aku tau," Nathan meninggalkan mereka berdua.


Selepas kepergian Nathan. Di ruang VIP itu hanya menyisakan Luis dan Jesslyn. Karena privasi, Luis akhirnya mengajak mereka berdua pindah ke ruangan VIP. Dan keheningan diantara mereka belum juga mencair, keduanya masih sama-sama diam.

__ADS_1


Luis menatap wanita di depannya itu dengan tatapan tak terbaca. Kerinduan terlihat jelas dari sepasang manik matanya. "Jika malam itu aku menahanmu, apakah kau tetap memutuskan untuk pergi?!" Akhirnya, setelah cukup lama, sebuah pertanyaan keluar dari bibir Luis.


Jesslyn menggeleng. "Tidak, karena aku berharap kau menahanku malam itu. Tapi ternyata kau tidak berusaha menghentikan ku saat aku memutuskan untuk pergi." Ucapnya.


"Bodoh, kau benar-benar bodoh!!" Luis bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Jesslyn dengan erat. "Aku ingin sekali menahanmu, tapi aku takut hanya membuatmu semakin terluka. Karena keadaan pada saat itu tidak memungkinkan."


Jesslyn menutup matanya. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luis. Bahkan pelukan dan aroma tubuhnya masih sama seperti yang terakhir kali ia ingat.


"Aku mencintaimu, Jess. Dan kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi," bisik Luis seraya mencium pucuk kepala Jesslyn dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku juga mencintaimu, Lu. Selama tujuh tahun ini aku selalu berusaha membunuh perasaan ini tapi tidak bisa, aku sangat mencintaimu," ucap Jesslyn seraya menutup matanya.


Luis melonggarkan pelukannya. Sebelah tangannya berpindah ke belakang kepala Jesslyn, mereka saling memiringkan kepala dan selanjutnya bibir mereka saling bertemu dan menyatu.


Mata Jesslyn tertutup rapat saat merasakan lum*tan dan pagutan pada bibirnya, namun ciuman itu berlangsung hanya beberapa detik saja. Karena mereka harus segera menyusul Nathan yang sedang menunggu diparkiran sana.


.


.


Nathan turun dari mobil ibunya lalu menghampiri mereka berdua. "Apakah Mami dan Daddy sudah akur?! Bisakah mulai sekarang kita jadi keluarga yang utuh? Aku bosan jika hanya memiliki Mami yang payah," bocah laki-laki itu berbicara tanpa beban sedikit pun, bahkan ketika mengatakan jika Jesslyn payah.


"Bocah, sebaiknya jaga bicaramu. Kenapa semakin hari mulutmu semakin berbisa saja. Selama 9 bulan 10 hari kau ada di dalam perutku, tapi kenapa sikapmu malah menurun dari Daddy mu, sangat tidak adil!!"


"Karena aku tercipta dari bibit kecebongnya!!" Jawab Nathan sambil menunjuk Luis.


Jesslyn menjadi tidak enak pada Luis karena bahasa putranya. "Maaf, sebenarnya aku sudah mendidiknya dengan sangat baik. Tapi mulutnya memang sedikit pedas, dan aku tidak bisa mengontrolnya. Dan kau, sebaiknya jaga bicaramu saat bicara dengan orang dewasa!!" Lagi-lagi Jesslyn mengomeli putranya.


Nathan mengangkat acuh bahunya. "Lalu aku harus bersikap bagaimana? Menjadi anak yang manja dan cupu? Itu bukan gayaku!!"

__ADS_1


Luis menepuk bahu Jesslyn seraya menggelengkan kepala. "Tidak perlu di ributkan. Dia mewarisi sikapku, dan itu wajar-wajar saja. Sebaiknya kalian pulang satu mobil denganku, mobilmu biar dibawakan oleh orangku." Ucap Luis yang kemudian di balas anggukan oleh Jesslyn.


"Baiklah."


.


.


Melihat sebuah mobil mewah memasuki halaman rumahnya membuat Tuan Eric bertanya-tanya. Dia sedang bermain catur dengan Dion Wu, orang yang selalu Nathan panggil dengan sebutan Paman Naga.


Bukan hanya Tuan Eric yang penasaran, tapi Dion juga. Dan mereka semakin bertanya-tanya melihat Nathan keluar dari mobil itu. Bocah laki-laki itu kemudian menghampiri kakeknya.


"Tidak perlu bingung, Kek. Aku baru saja menemukan ayahku dan sekarang membawanya pulang," ucapnya dan langsung menyita perhatian Dion.


"Apa, Prince?! Kau bilang ayahmu? Maksudmu kau baru saja mencarikan suami untuk mamimu?!"


"Ck, diamlah!! Memangnya siapa yang mengajakmu bicara. Untuk apa aku mencarikan suami untuk mami, sementara dia sudah memilikinya. Hanya saja selama ini mereka terpisahkan oleh takdir yang kejam." Jelas bocah laki-laki itu.


Tubuh Tuan Eric menegang melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Itu benar-benar Luis Qin, ternyata Jesslyn tidak pernah berbohong padanya. Dia memang memiliki hubungan khusus dengan CEO muda itu.


Keterkejutan juga ditunjukkan oleh Dion saat mengetahui siapa suami Jesslyn dan ayah biologis dari putranya. Nyaris saja Dion jatuh pingsan, bagaimana tidak, ternyata saingan cintanya bukanlah orang sembarangan. Tapi Dion tak akan menyerah, dia pasti akan mendapatkan hati Jesslyn suatu hari nanti.


"Sebaiknya jangan terlalu berharap, Paman. Mundurlah sebelum nantinya kau terluka. Aku takut Paman akan patah hati dan menangis selama 7 hari 7 malam karena gagal mendapatkan mamiku!!"


Hati Dion terpukul hebat mendengar perkataan Nathan. Sejak awal bocah ini memang tidak pernah menyukainya. "Huhuhu, kenapa nasibku seperti ini. Tidak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta malah patah hati!! Mama, tolong anakmu ini!!" Dion meninggalkan kediaman Tuan Eric dengan berlinang air mata.


Ketiga orang dewasa itu menggelengkan kepala melihat tingkahnya, sementara Nathan mendecih dan mencibir. "Dasar kekanakan!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2