
"Gio, tunggu!!" Seru Vivian seraya menahan pergelangan tangan pemuda itu. "Kau tidak perlu melakukan ini. Yang menjadi target mereka adalah aku. Biar aku saja yang pergi untuk memancing mereka keluar."
Nathan menggeleng. "Tidak, Vi. Itu terlalu berbahaya, kau memang menguasai tehnik bela diri. Tapi masalahnya yang akan kau hadapi adalah para mafia kelas kakap. Dan aku tidak bisa melibatkan mu dalam bahaya."
"Tapi, Nathan. Mereka pasti sudah mengantongi fotoku. Jika hanya style dan penampilan dari belakang saja aku rasa itu tidak akan cukup. Gio bisa berada dalam bahaya, dan aku tidak bisa melibatkan orang yang tidak berkaitan dalam masalah ini." Ujarnya.
Nathan mengacak rambut blondenya dengan frustasi. Kenapa gadis ini begitu keras kepala, apa Vivian tidak tau jika ia sangat mencemaskan keselamatannya.
Dan tepukan Gio pada bahunya sedikit mengalihkan perhatian Nathan.
"Kita harus percaya padanya. Dan sebagai seorang yang peduli padanya. Seharusnya kau mendukungnya, ada kita berlima dibalik Vivian jadi apa yang kau cemaskan. Bukankah kau tau sendiri jika kekasihmu ini adalah gadis yang kuat dan tangguh." Ujar Gio.
"Gio, benar kawan. Ada kita bertiga. Kita pasti akan membantumu melindunginya. Dan aku sudah memiliki sebuah rencana untuk mereka, Dio cepat bawa semua barang-barang itu kemari," seru Arya. Dio mengangguk.
Dio berjalan keluar, selang beberapa saat dia masuk dengan sebuah kotak berukuran sedang di tangannya. Baik Vivian, Nathan maupun Gio tidak tau apa isi di dalam kotak tersebut. Arya tersenyum misterius, kemudian dia membukanya dan isinya membuat mereka bertiga melongo.
Bagaimana tidak, di dalam kotak itu berisi segala macam atribut wanita mulai dari pakaian, wig sampai bukit kembar palsu pun ada. Nathan benar-benar tidak tau apa yang sedang di rencanakan oleh mereka bertiga.
"Hanya wanita jadi-jadian yang bisa membuat mereka kalang kabut." Ucap Sean.
Vivian meringis ngilu. "Apa tidak ada cara lain, kenapa harus jadi wanita jadi-jadian?" Gadis itu menatap ketiganya dengan sedikit ngeri.
"Hehehe... Tentu saja ada. Tapi ini lebih efektif dan efesien. Dan mereka pasti akan langsung lari ketakutan ketika melihat kita, dan saat itu kita bisa mengambil alih posisi mereka. Kita berempat berperan sebagai penculik-penculik itu." Tutur Arya panjang lebar.
Vivian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu mendengus berat. "Rencana kalian benar-benar tidak aku mengerti. Tapi boleh juga. Aku akan berangkat sekarang," ucap Vivian sambil bersiap-siap.
Nathan menahan pergelangan tangan Vivian dan menatapnya cemas. Gadis itu melepaskan genggaman kekasihnya lalu menangkup wajahnya. "Jangan cemas, semua akan baik-baik saja. Apalagi kalian semua melindungiku. Ayo kita pergi." Nathan mengangguk.
Para jomblo hanya bisa gigit jari melihat pemandangan romantis itu. Sedangkan Gio membuang muka kearah lain karena tidak tahan melihat kemesraan Vivian dan Nathan.
Sedikit banyak Gio merasa cemburu, mengingat jika dia sudah memiliki perasaan pada Vivian sejak Vano pertama kali membawa gadis itu ke rumahnya. Dan sayangnya Gio tidak pernah bisa memenangkan hati Vivian meskipun mereka sempat dekat selepas kepergian Vano dari hidup Vivian.
"Aku akan menunggu diluar." Ucap Gio dan pergi begitu saja.
-
-
Sebuah mobil Van hitam berhenti tak jauh dari halte tempat Vivian menunggu busnya. Gadis itu sibuk membaca novel romantis sambil menunggu busnya datang.
__ADS_1
Sesekali pandangannya menyapu. Seolah-olah melihat apakah bus yang ditunggu sudah datang atau belum. Padahal jelas pandangannya tertuju pada Van hitam itu, dan dia pria terlihat keluar dari Van tersebut.
Mereka sudah mulai bergerak. Kedua pria itu menghampiri si gadis yang pastinya adalah Vivian. Mereka berdiri disamping kanan dan kirinya, matanya memperhatikan sekeliling seolah memastikan keadaan benar-benar aman atau tidak.
"Hayo..." Dan disaat bersamaan, tiga mahluk jadi-jadian tiba-tiba muncul dan mengejutkan mereka berdua. Siapa lagi mereka selain Arya, Sean dan Dio.
"Huwa!!" Dan membuat kedua pria itu memekik kencang.
"Setan alas, setan kebun, setan laut, setan tanah, setan gunung. Huhuhu.. amit-amit tujuh turunan jauhkan mahluk dua alam ini dariku!!" Salah satu dari kedua pria itu membaca mantra untuk mengusir mereka bertiga.
"Hahaha..!! Mama bumi, Nenek bumi, Kakek bumi, Papa bumi, Bibi bumi, siapapun tolong selamatkan aku dari mahluk dua alam ini!!"
Arya meninggalkan mereka berdua. Dia menarik Gio yang juga berpenampilan sama menuju Van hitam yang terparkir sekitar empat meter dari halte. Sedangkan dua pria itu dipepet terus oleh Sean dan Dio. Mereka memeluk lengan mereka berdua dan membuat tangis kedua anggota mafia itu pecah.
Bagi mereka berdua, mahluk dua alam jelas jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan berhadapan dengan musuh paling kuat sekalipun.
Di dalam mobil. Arya dan Gio mulai menjalankan aksinya meskipun yang banyak berperan adalah Arya. Gio bingung harus melakukan apa. Arya membuat 3 pria di dalam Van itu kalang kabut, dia begitu agresif sampai-sampai membuat Van itu bergoyang hebat seperti terjadi sesuatu yang amazing di dalam sana.
Brakk...
"Huaaa... Siapa pun selamatkan kami dari mahluk dua alam ini!!"
"Huhuhu, jangan tarik celanaku. Nenek, selamatkan cucumu yang paling tampan ini!!"
"Hahaha...!! Kalian sangat menggelikan, mafia kok pakai celana pendek warna pink motif hello Kity pula. Hahaha, lucu sekali kalian ini!!" Tawa Arya pecah.
Gio menatap ngeri Arya. Tidak salah jika dia dan kedua temannya mendapatkan julukan trio gila. Gio menggelengkan kepala, mereka bukan servernya.
"Kalian mengerikan, menjauh dari kami!!" Teriak ketiga mafia itu.
Dan ketiganya keluar dari mobil tanpa pakaian lengkap. Hanya celana pendek motif warna-warni. Nasib kedua temannya yang keluar tadi pun tak kalah mengenaskannya dari mereka bertiga. Karena kedua mahluk dua alam itu jauh lebih agresif lagi.
Mereka lari tunggang langgang. Niatnya untuk menculik Vivian gagal total karena kemunculan empat mahluk dua alam tersebut. Tak lama selepas kepergian keempat pria itu. Nathan muncul dan menghampiri mereka berlima.
"Kita lanjutkan ke rencana kedua. Segera ganti pakaian kalian. Dan untukmu, Gio. Sebaiknya kau tidak terlibat kali ini, mereka pasti akan langsung mengenalimu."
Gio menggeleng. "Tidak, aku tetap ikut. Aku bisa menyamar agar mereka berdua tidak mengenaliku. Bagaimana pun juga aku harus memberi kejutan pada Ibu dan kakakku." Ujarnya.
Nathan menepuk bahu Gio. "Terimakasih sudah membantu, tanpa bantuanmu rencana ini tidak akan berhasil. Aku dan Vivian berhutang banyak padamu." Ujarnya.
__ADS_1
Gio tersenyum. "Aku senang bisa membantu. Vivian salah temanku, jadi mana mungkin aku diam saja melihat dia berada dalam bahaya. Bisa membantunya aku merasa senang."
"Kita berangkat sekarang," ucap Vivian dan kemudian dibalas anggukan oleh kelima pemuda itu.
-
-
Tubuh Vivian terikat pada sebuah kursi usang dan tua disebuah bangunan yang lama tak terpakai lagi. Mulutnya tertutup lakban hitam, dibelakangnya berdiri dua pria berpakaian serba hitam yang pastinya adalah Gio dan Dio.
Gio sengaja berdiri di tempat yang sedikit gelap agar keberadaannya tak terlalu disadari oleh ibu dan kakaknya.
Pintu ruangan terbuka. Terlihat Vano dan nyonya Bella memasuki ruangan.
"Hahaha, lihatlah siapa ini. Vivian, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini." Ucap Vano menyeringai.
Vivian tidak merespon. Jangankan untuk menjawab, berdehem saja dia tidak bisa karena mulutnya tertutup lakban. Matanya menatap sini dan tajam kedua ibu dan anak tersebut.
"Yakk!! Berani sekali kau melotot padaku dan Vano!!" Bentak Nyonya Bella. "Lepaskan lakban itu dari mulutnya," perintah Vano pada pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Siapa lagi jika bukan Nathan.
Nathan menghampiri Vivian. Mata mereka saling mengunci selama beberapa saat. Vivian dan Nathan sama-sama mengangguk, pemuda itu memberi kode pada Gio dan Dio untuk bertindak sekarang.
"Apa-apaan ini?!" Kaget Vano saat Vivian mengarahkan sebuah pisau pada leher ibunya. "Vivian, jauhkan belati itu dari ibuku!! Dan kalian bertiga, kenapa hanya diam saja?! Cepat tangkap gadis ini!!"
"Mereka tidak akan mendengarkanmu, Vano. Karena mereka bukanlah orang-orang yang kau sewa untuk menculik ku!!"
"Jadi kau sudah tau?!"
"Ya, dan kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Dan asal kau tau, mereka adalah teman-temanku dan kenali baik-baik laki-laki berkaca mata itu!!" Vivian menunjuk pemuda yang dia maksud dengan dagunya.
Pemuda itu maju ke depan lalu melepas penyamarannya. Vano dan Nyonya Bella membelalakkan matanya. Terkejut melihat siapa pemuda itu sebenarnya.
"Gio!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1