Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Demi Kebaikan Luna


__ADS_3

"Jordan, kau terluka lumayan parah," ucap Luna.


Luna menangkup pipi Jordan dan menatapnya dengan cemas. Perban di sana-sini, menandakan jika luka yang dia alami cukup serius. Jordan menggenggam jari-jari lentik Luna dengan lembut. Senyum terpatri di wajah tampannya.


"Tidak perlu cemas, hanya luka kecil saja. Dan kau tenang saja, luka seperti ini tidak mungkin membunuhku. Kekasihmu ini kan pria yang kuat," ucap Jordan. Dia melemparkan candaan pada Luna, bukannya senyum Luna malah pukulan pelan pada lengannya yang dia terima.


"Jordan, ini bukan waktunya bercanda, aku serius." gerutu Luna dengan kesal.


"Aku malah dua rius, karena aku memang tidak apa-apa. Kau tidak perlu mencemaskan ku," ucap Jordan sambil menatap Luna dengan lembut.


Terus terang Jordan merasa sedih dengan keadaan Luna saat ini. Dia lupa dengan pernikahan mereka, bahkan Luna lupa jika dirinya adalah suaminya. Dan hal tersebut membuat batin Jordan seperti diiris-iris.


Tapi begini juga bagus, dengan begitu Luna tidak akan merasa depresi karena kehilangan calon bayinya. Karena kesehatan mental Luna jauh lebih penting dari apapun.


"Luna, kami datang..." seru Tiffany yang datang bersama Karin dan Devan.


Jordan melepaskan pelukannya pada Luna melihat mereka bertiga memasuki ruang inap istrinya. Sebelumnya Tiffany, Karin dan Devan sudah diberitahu oleh Jesslyn tentang kondisi Luna saat ini, jadi Jordan tidak perlu menjelaskan apapun lagi pada mereka tentang keadaan Luna.


Tiffany memberikan sebuah buket bunga mawar berukuran besar pada Luna. "Ini, aku bawakan bunga kesukaanmu." Ucap Tiffany sambil menyerahkan bunga tersebut pada Luna. Membuat senyum di bibirnya mengembang seketika.


"Cantik sekali, aku menyukainya. Thanks, Tiffy." Ucap Luna lalu memeluk Tiffany.


"Sama-sama, Nana." Balas Tiffany.


Luna tetaplah Luna, tidak ada yang berubah pada dirinya. Dia memang kehilangan sebagian memorinya, tetapi Luna tidak pernah melupakan siapapun melainkan hanya kehilangan sedikit memorinya.


"Hey, kau harus cepat sembuh. Kita berdua sudah tidak sabar ingin menjadi bridesmaid di pernikahan kalian." Ujar Karin.

__ADS_1


Luna terkekeh. "Kau ini tidak sabaran sekali. Sepertinya aku tidak membutuhkan bridesmaid, karena pernikahanku dan Jordan akan dilangsungkan secara sederhana. Aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah, dan Jordan sudah menyetujuinya. Ge, bukankah begitu?" pandangan Luna kemudian bergulir pada Jordan. Pria itu terlihat menganggukkan kepala.


"Hei... Apa-apaan kau ini. Tidak seru sama sekali jika tidak dilakukan secara meriah dan besar-besaran. Menikah adalah hal paling bersejarah sekali seumur hidup, untuk itu kita harus meninggalkan sebuah kesan yang istimewa dihari yang istimewa juga." Ujar Tiffany melayangkan protesnya.


Luna menghela nafas. "Tapi aku benci pesta dan keramaian. Aku lebih menyukai pernikahan yang sederhana dan berkesan, karena mengadakan pesta mewah dan meriah hanya membuang-buang uang saja. Dan aku sama sekali tidak menyukainya, daripada dibuang-buang untuk acara semacam itu, lebih baik uangnya digunakan untuk jalan-jalan keliling dunia, lebih berguna." tutur Luna panjang lebar. Dia tidak mau kalah dari Tiffany.


Luna memang berbeda dari kebanyakan wanita. Di saat wanita lain menginginkan pesta yang mewah nan meriah dihari pernikahannya dan dengan dihadiri ribuan tamu undangan, maka Luna justru sebaliknya.


Dia tidak menginginkan sebuah pesta mewah dan meriah, yang Luna inginkan hanyalah pesta sederhana namun meninggalkan kesan yang mendalam baginya dan Jordan. Itulah yang Luna inginkan.


"Jujur saja kau sangat aneh, Luna. Kau memiliki segalanya, rekan bisnis ayah dan kakakmu ada dimana-mana. Seharusnya pernikahanmu dihadiri ribuan tamu undangan, bukannya malah pesta sederhana." Lagi-lagi Tiffany melayangkan protesnya.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya Luna menginginkan pernikahan yang sederhana, sementara dirinya adalah putri dari keluarga terpandang.


Menurut Tiffany, Luna sangatlah aneh bin nyeleneh. Tapi apapun itu, dia akan menghargai keputusannya karena yang menjalaninya adalah Luna bukan dirinya. Tapi tetap saja keputusan sahabatnya tersebut.


"Jam besuk sudah hampir habis. Sebaiknya kita pulang, besok kita kemari lagi." Seru Devan obrolan para wanita.


Sampai salah satu diantara mereka ada yang membuka suara. "Sayang, sebaiknya kau istirahat. Kondisimu belum begitu stabil, kau harus banyak istirahat agar kondisimu cepat membaik." Ucap Jordan.


Luna menggeleng. "Tidak mau. Aku baru saja bangun dan kau memintaku untuk tidur lagi. Jangan menyebalkan Jordan," gerutu Luna sambil menekuk mukanya.


Jordan terkekeh dan menatap Luna dengan geli. Jari-jari besarnya mengusap kepala Luna dengan lembut. "Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu aku akan menemanimu disini." Ucap Jordan sambil membelai wajah sang istri. Luna mengangguk, dia sangat bahagia karena Jordan selalu ada untuknya.


xxx


"Selesai,"

__ADS_1


David tersenyum lebar. Akhirnya pekerjaannya selesai. Dia dan anggota gengnya sedang bekerjasama membereskan barang-barang di kediaman Jordan yang berhubungan dengan kehamilan Luna dan pernikahan mereka.


Seperti halnya Nathan, Jordan dan orang tua Luna yang tidak ingin membebani wanita itu dengan kebenaran.


Maka dari itu David memutuskan untuk menghilangkan jejak tentang kehamilan Luna dan pernikahan mereka, termasuk membuang foto pernikahan Jordan dan Luna. Testpack dan surat keterangan dokter yang menyatakan Luna hamil. Dia berusaha menjaga mental Luna.


"Lalu harus kita apakan barang-barang ini?" tanya Leo.


"Kita bakar saja untuk menghilangkan jejak. Aku sudah meminta ijin pada Jordan dan dia mengijinkannya. Menurut Jordan, ini yang terbaik dan demi kebaikan Luna juga." Ujar David.


Leo dan yang lainnya mengangguk paham. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, David and the geng meninggalkan kediaman Jordan. Semua sudah beres, apapun yang berhubungan dengan kehamilan Luna dan pernikahannya dengan Jordan sudah tidak ada. Karena yang Luna ingat dia dan Jordan masih belum menikah.


"Kalian duluan saja, aku mau langsung ke rumah sakit." Ucap David lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia hendak mengantarkan baju ganti untuk Luna dan Jordan. Mereka berdua sama-sama merasa kurang nyaman dengan pakaian rumah sakit.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan."


xxx


"Jordan Tang dan istrinya mengalami kecelakaan lalu lintas, dan sekarang mereka sedang dirawat di rumah sakit. Aku rasa ini saatnya kau bergerak maju, Boy." ucap seorang wanita yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan Boy sambil menikmati res wine.


Boy memicingkan matanya. "Benarkah? Kenapa aku malah tidak tau jika bajiingan itu mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Tapi bagus juga, Dengan begitu kita bisa bergerak lebih bebas. aku akan datang ke Tang Group dan mengambil alihnya."


Wanita itu mengangguk. "Ya, lakukan dengan segera karena lebih cepat lebih baik." Ucap wanita itu. Dia sudah tidak sabar ingin menjadi Nyonya Tang. Dan jika Boy benar-benar bisa mengambil alih Tang Group, maka impiannya untuk menjadi nyonya besar bisa segera ia wujudkan.


"Ya, tentu saja sayang. Sebaiknya kau kembali, jangan sampai mereka mencurigai dirimu." Boy mencium bibir wanita itu.


Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Boy sendirian di ruangannya. Boy menyeringai lebar. Tinggal satu langkah lagi, Tang Group akan menjadi miliknya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2