
Luis menyusuri jalanan desa seorang diri. Ditangannya menenteng sebuah paper bag yang di dalamnya berisi sebotol red wine. Beberapa kali dia berpapasan dengan beberapa gadis desa yang bisa dibilang semuanya cantik-cantik. Tapi sayangnya tak ada satu pun dari mereka yang berhasil menarik perhatian Luis.
Sesekali gadis-gadis itu mencuri pandang pada Luis, tapi dia tidak menghiraukannya. Luis bersikap dingin dan acuh pada mereka.
Dari jarak lima meter. Luis melihat segerombol pemuda yang 7 diantaranya adalah orang-orang yang mencari masalah dengannya sore tadi.
Luis mendecih, sepertinya mereka memang perlu diberi pelajaran supaya tidak membuat onar lagi. Orang yang di tendang oleh Luis tadi menghampiri dia sambil petentang-petenteng tidak jelas. Dia bersikap sombong karena datang bergerombol.
"Hei, anak kota. Sekarang kau bisa apa, lihat orang-orang yang aku bawa ini, kau akan habis ditangan mereka!!"
"Heh, kenapa kau percaya diri sekali. Tadi siang aku menahannya karena ada Jesslyn, tapi sepertinya sekarang tidak ada gunanya aku menahan diri lagi. Kebetulan sekali, sudah lama aku tidak menghajar sampah seperti kalian!!" Ujar Luis menyeringai.
"Sombong!! Kak, balaskan dendamku dan hajar orang kota sombong ini!!" Perintah pria itu pada orang yang dia panggil kakak.
"Tunggu apa lagi, maju dan habisi bocah sombong ini!!"
Tak ingin rugi, Luis meletakkan paper bag itu di tepi jalan. Ia mulai mengambil kuda-kuda dan siap menerima serangan dari para berandalan desa itu yang menyerangnya secara bersamaan.
Perkelahian pun tidak bisa terhindarkan lagi. Luis yang hanya sendiri dikeroyok sedikitnya 20 orang. Sejauh ini Luis belum melakukan serangan balasan, dia hanya menangkis setiap serangan yang menghujamnya tanpa henti.
Luis bukanlah orang lemah apalagi mudah untuk dihadapi. Dia sudah pernah mengikuti latihan selama bertahun-tahun. Dan jika hanya menghadapi orang-orang ini tentu saja bukan masalah besar baginya.
"Sial!! Ternyata bocah ini tangguh juga. Aku tidak yakin kau masih mampu bertahan jika kami menyerangmu dengan senjata!!"
"Hn, lakukan saja!!" Pinta Luis acuh tak acuh.
Berbagai senjata ada di tangan mereka, mulai dari balok kayu, tongkat besi sampai senjata taj*m pun ada. Sedangkan Luis hanya dengan tangan kosong, dia tidak memegang senjata apapun.
Serangan demi serangan bertubi-tubi menghantam tubuh Luis, yang dengan sigap ditahan olehnya. Luis terus meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari setiap serangan yang mengarah padanya.
Beberapa diantara mereka berhasil Luis tumbangkan. Meskipun tanpa senjata ditangan, tentu bukan hal sulit bagi Luis untuk menghadapi mereka yang bersenjata. Ya, meskipun beberapa luka gores menghiasi tubuhnya.
Dorr...
__ADS_1
Dorr...
Suara tembakan mengejutkan para berandalan desa itu. Luis menoleh, Kris datang dengan beberapa anak buahnya. Pria itu membungkuk pada Luis. "Tuan, maaf kami datang terlambat."
"Tidak masalah, segera bereskan mereka. Tidak perlu dibunuh, cukup beri pelajaran saja. Setelah selesai, bawa mereka semua pulang, jemput aku besok pagi."
"Baik, Tuan." Kris membungkuk paham.
Dia memberi kode pada anak buahnya supaya memberi pelajaran pada berandalan itu. Mereka berani menyerang dan mengeroyok Luis, jadi mereka semua harus menerima pelajaran.
Tak perlu turun tangan lagi. Luis pun memutuskan untuk pergi. Mungkin saja Jesslyn sedang mencarinya, karena dia pergi tanpa memberitahu gadis itu. Karena saat berangkat tadi Jesslyn sedang berada di kamar mandi.
-
-
Jesslyn terus mondar-mandir di teras depan sambil menggigit ujung kukunya. Raut wajahnya menunjukkan jika dia sedang cemas dan panik setengah mati. Bagaimana Jesslyn tidak panik, tiba-tiba Luis menghilang dan dia tidak bisa menemukan pria itu dimana pun.
Berkali-kali Jesslyn mencoba menghubungi suami kontraknya itu tapi ponselnya tidak bisa dihubungi. Jesslyn takut jika Luis tersesat dan mendapatkan masalah dari para berandalan desa.
Jesslyn berlari dan langsung menerjang tubuh laki-laki itu. Membuat tubuh Luis membeku, dia tidak menduga bila Jesslyn akan memberikan respon seperti itu.
"Kau darimana saja?! Kenapa pergi tidak bilang-bilang, apa kau tau bagaimana cemas dan khawatirnya aku?!" Jesslyn mendorong Luis dan memukulnya dengan brutal. Pria itu meringis, pukulan Jesslyn tanpa sengaja mengenai luka gores di dadanya.
"Aku keluar membeli ini, kau tadi di kamar mandi jadi pergi tidak memberitahumu." Jelas Luis sambil menunjukkan red wine yang menjadi alasan dia menghilang.
"Lalu kenapa banyak luka seperti ini? Disini, disini dan juga disini!!" Jesslyn menunjuk tiga luka gores di tubuh Luis, ditulang pipi, di dada dan di lengan kiri atas.
Luis pun tak memiliki alasan untuk membohongi Jesslyn, dia menjelaskan bagaimana mendapatkan luka-luka itu. Dan seperti dugaan Jesslyn, tapi dia merasa lega karena Luis baik-baik saja. "Ya sudah, sebaiknya kita masuk. Aku akan mengobati luka-lukamu." Luis mengangguk, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.
.
.
__ADS_1
Luka-luka itu sudah diobati dan ditutup perban. Namun drama panjang belum berakhir. Jesslyn mengomeli Luis habis-habisan. Dan si tersangka utama hanya bisa diam, dia tidak tau harus menimpali bagaimana semua kata-kata istri kontraknya.
Dan seumur-umur, baru kali ini ada orang yang berani mengomeli Luis selain mendiang ibunya. Jika orang lain menunduk hormat pada Luis, tapi Jesslyn malah sebaliknya. Dia tidak ada takut-takutnya pada pria bermarga Qin tersebut. Dan itu yang membuat Luis kagum padanya.
"Jangan kelayapan sendiri lagi, aku tidak akan segan-segan menggantungmu hidup-hidup jika kau sampai pergi tanpa memberitahuku!!"
"Apa sudah cukup ngomelnya?! Jesslyn, telingaku rasanya mau pecah dengar kau ngoceh dari tadi!!"
Jesslyn mempoutkan bibirnya. "Aku sedang mengomelimu, harusnya kau diam dan mendengarkan. Bukannya membantah!!" Luis kena omel lagi. Jesslyn persis seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya.
"Baiklah, baiklah. Tapi bisakah kau diam sekarang?! Kepalaku benar-benar pusing mendengarmu ngoceh terus dari tadi!!"
"Dasar menyebalkan!! Terserahlah!!" Jesslyn sewot dan pergi begitu saja. Luis mendengus dan menggelengkan kepala. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
"Kau memang berbeda, Jess. Dan apakah suatu hari nanti aku mampu untuk melepaskanmu?!"
-
-
Anna tidak bisa merasa tenang. Kata-kata Elisabet masih terus terngiang di telinganya, Luis telah mengetahui segalanya, Luis pasti akan menceraikannya. Anna menggeleng, dia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.
Wanita itu tidak tau bagaimana akhir hidupnya, jika Luis benar-benar sampai menceraikannya. Haruskah dia hidup dijalanan?!
Anna sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, orang tuanya tidak mau lagi mengakuinya setelah dia menjual satu-satunya tempat tinggal mereka. Saat itu Anna membutuhkan uang yang sangat banyak agar bisa setara dengan Luis.
Dan Anna tidak tau apakah orang tuanya masih hidup atau sudah mati. Sudah lebih dari 5 tahun dia tidak pernah bertemu dan berinteraksi dengan mereka lagi. Karena Anna mengatakan pada Luis jika dia seorang yatim piatu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Aku tidak boleh membiarkan Luis sampai menceraikanku. Berpikir Anna, kau harus berpikir. Cari cara agar Luis tetap mempertahankan mu!! AARRRKKHHH sial, kenapa semua jadi seperti ini. Kacau, semua benar-benar kacau!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.