Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Dasar M*sum


__ADS_3

Kabar tentang kematian Marissa sudah sampai ke telinga Nathan dan Vivian. Mereka berdua sedikit ngeri melihat rekaman video yang ditunjukkan oleh si trio. Sangat-sangat mengenaskan, baik Nathan maupun Vivian tidak menduga jika akhir hidup Marissa akan strategis itu.


Saat ini Arya, Sean dan Dio sedang menjenguk Nathan di rubah sakit.


"Untung saja lukanya tidak fatal. Tapi apakah sakita saat pertama kali terluka?!" Tanya Arya sambil menengahi perutnya.


"Hm, Lumayan. Tapi itu tidak terlalu, apa kalian ingin merasakannya? Bagaimana jika aku lakukan pada kalian juga?!!"


"Dasar sinting, ogah. Di gigit semut saja sakit apalagi terluka sepertimu!!" Tutur Sean.


Meskipun operasi sudah di lakukan, tapi Nathan belum bisa melepas perbannya. Karena luka jahit bekas operasi masih belum kering, akan sangat berbahaya jika sampai terkena kuman dan bakteri. Dan perbannya harus di ganti secara teratur setiap 3 jam sekali.


"Vi, aku sarankan padamu. Jika suamimu ini melakukan kegilaan seperti ini lagi. Langsung saja pecahkan telornya, biar dia gak aneh-aneh lagi!!" Saran Arya.


"Boleh juga idemu, nanti aku praktekkan dulu padamu!!" Jawab Vivian dengan entengnya.


"Aahh!!" Teriak Arya sambil memegang senjata tempurnya. "Enak saja, kau pikir aku bahan untuk uji coba!! Kalau telurku sampai pecah, lalu bagaimana aku mau berkembang biak!!"


"Salah sendiri kau memberi saran yang tidak masuk akal. Dan sampai kapan kalian mau disini? Ini sudah sore, apa kalian tidak mau pulang?!"


"Nunna, kau mengusir kami?!" Ucap Dio seraya menatap Vivian tak percaya.


"Ck, Nathan butuh istirahat. Kalau kalian tetap disini dan terus berisik, bagaimana dia mau istirahat!!" Jawab Vivian menimpali.


Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Betul juga, mereka sudah setengah hari di rumah sakit dan sejak mereka datang Nathan belum istirahat sama sekali. Memang sudah seharusnya mereka pulang. Dan setelah kepergian mereka, di ruangan itu hanya menyisakan Nathan dan Vivian.


Nathan mengulurkan tangannya pada Vivian lalu menempatkan gadis itu di pangkuannya. Mata kirinya menatap Vivian dengan intens, senyum tipis terukir di bibirnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Kenapa? Apa kau tidak suka jika aku menatapmu?"

__ADS_1


Vivian menggeleng. "Bukan begitu, kau membuatku gugup setengah mati." Ucapnya.


Nathan terkekeh. Kemudian ia menarik tengkuk Vivian dan menyergap bibirnya tanpa ampun. Pemuda itu terus mel*mat dan memagut bibir atas-bawah Vivian secara bergantian.


Nathan memperdalam ciumannya, dengan memaksa lidahnya masuk ke bibir Vivian. Dan gadis itu menyambutnya dengan senang hati.


Vivian sangat menikmati saat dia membiarkan lidah Nathan masuk ke dalam mulutnya. Vivian benar-benar menikmatinya, tangannya bergerak ke tengkuk Nathan untuk membalas ciuman menyenangkan dari keduanya.


Posisi mereka tidak lagi duduk. Nathan mengungkung Vivian di bawah tubuhnya. Dan bibir mereka bergulat semakin panas.


Ciuman itu sudah berlangsung selama satu menit namun tak satupun dari mereka berdua ada yang berniat untuk mengakhirinya. Meskipun kebutuhan oksigen mulai mengambil alih.


"Ya Tuhan!!"


Dan Jesslyn yang baru saja tiba terkejut bukan main ketika membuka pintu kamar inap putranya dan mendapati dua anak muda itu tengah asik dengan dunianya. Buru-buru dia menutup kembali pintu tersebut sebelum Lovely melihatnya.


Lovely dan Luis saling bertukar pandang lalu mereka menatap Jesslyn sedikit kebingungan. "Mi, kenapa tidak jadi masuk dan malah di tutup lagi pintunya?" Tanya Lovely kebingungan.


Dan sementara itu... Luis yang penasaran memutuskan untuk mengintip ke dalam. Ayah dua anak itu terkesiap dan matanya membulat sempurna. Sepertinya mereka bertiga datang di waktu yang tidak tepat. Memang sebaiknya tidak mengganggu mereka. Luis pun memutuskan untuk menyusul istri dan putrinya.


"Kalian berdua, tunggu Daddy!!"


.


.


Nathan dan Vivian baru mengakhiri ciuman panasnya 3 menit kemudian. Jika saja ini bukan kamar rumah sakit dan masih sore, pasti Nathan sudah menyerang Vivian dari tadi. Tapi dia harus menahannya dulu. Setidaknya sampai pulang nanti.


"Hah, hah, hah, kau gila Nathan. Bagaimana bisa kau mencium ku sampai segila itu?"

__ADS_1


"Kenapa mengeluh, Sayang?! Bukankah kau juga menikmatinya. Untung ini di rumah sakit. Jika saja kita sedang di rumah pasti aku sudah menyerang mu dari tadi!!" Pemuda itu menyeringai.


Rona merah muncul di kedua pipi Vivian setelah mendengar apa yang Nathan katakan. Bagaimana bisa suaminya yang dingin ini malah mengatakan kalimat fulg*r seperti itu. Vivian meninju pelan dada bidang Nathan.


"Dasar mesum!!" Gadis itu tersipu malu.


Nathan tersenyum. Baru saja ia hendak mencium bibir Vivian untuk kedua kalinya, tiba-tiba pintu ruang inapnya terbuka. Buru-buru Vivian menjauh dari suaminya, sementara Nathan langsung memasang muka bete karena kegiatannya dan Vivian terganggu.


"Kakak!!" Seru Lovely dan langsung memeluk kakaknya.


"Kau ini sudah remaja tapi kenapa masih cengeng, hm?! Jangan menangis lagi, toh mata kanan Kakak baik-baik saja. Dan dalam satu bulan mata Kakak bisa melihat kembali dengan normal."


"Sungguh?!" Nathan mengangguk. "Syukurlah, Lovely lega mendengarnya. Dan untung saja Kakak punya Nona perawat yang sangat sangat baik dan siap merawat Kakak selama 24 jam penuh." Kata Lovely sambil menyenggol lengan Vivian.


"Itu sudah menjadi tanggung jawab Kakak, Sayang. Merawat suami yang sedang sakit itu bukanlah keharusan, tapi kewajiban seorang istri." Jawab Vivian sambil menarik ujung hidung mancung Lovely dengan gemas.


Luis dan Jesslyn menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Lalu ibu dua anak itu mendekati sang putra. "Bagaimana keadaanmu, Nathan? Apa ada yang kau keluhkan pada mata mu?"


Nathan menggeleng. "Tidak ada, Mi. Sejauh ini masih aman dan baik-baik saja. Hanya saja masih terasa ngilu saat terkena cahaya. Mungkin karena belum terbiasa." Jawabnya.


"Lakukan dengan perlahan-lahan, tidak perlu terburu-buru. Yang terpenting adalah kau sudah normal lagi, matamu sudah kembali seperti sedia kala meskipun membutuhkan sedikit waktu."


Nathan mengangguk. "Dan untung saja aku memiliki istri yang sangat cantik dan perhatian, jadi mataku pasti bisa sembuh lebih cepat." Ucapnya sambil melirik Vivian yang sedang merona. Dia malu karena Nathan memujinya di depan adik dan kedua orang tuanya.


"Dasar tukang gombal, tidak lucu!!"


Nathan terkekeh. Dengan gemas ia mengacak rambut coklat gelap Vivian. Tanpa rasa sungkan sedikit pun, Nathan memeluk Vivian di depan kedua orang tuanya. Dan hal itu ia lakukan sebagai bentuk kasih sayangnya pada sang istri.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2