
Sore hari memang waktu yang pas untuk bersantai di pinggir Sungai Han. Mentari senja yang memberikan nuansa oranye disepanjang aliran sungai, pepohonan, bangunan, serta orang-orang yang berdiri di jembatan akan terlihat seperti siluet yang indah.
Vivian menghentikan langkahnya saat iris Hazel-nya tanpa sengaja melihat siluet seorang pemuda yang sangat dia kenal berdiri di tepi Sungai Han.
Gadis itu segera mengirim pesan singkat pada pemuda itu yang tak lain adalah Nathan. Kali ini Vivian menggunakan nomor barunya, ternyata ada gunanya juga dia membeli nomor baru.
"Hai tampan, sendirian saja, boleh dong aku temani?"
Vivian terkekeh saat mengetik pesan tersebut. Tanpa membuang-buang waktu ia pun segera mengirimnya pada Nathan.
Pesannya sudah di baca oleh pemuda itu, tapi tak ada balasan. Hanya di read saja. Kemudian Vivian mengirim pesan kedua.
"Sombong!! Dibaca tapi tidak dibalas. Ayolah, jangan sok jual mahal begitu. Dan senyum sedikit, pasti lebih tampan."
Lagi-lagi Nathan hanya membacanya. Tidak ada balasan untuk pesan kedua yang Vivian kirimkan. Vivian pun tidak menyerah dan mengirim pesan singkat lagi padanya.
"Jangan sombong-sombong, nanti tampannya ilang loh. Jeans belel hitam, singlet putih dan kemeja kotak-kotak hitam lengan terbuka. Aku melihatmu, Sayang."
Mulai ada respon dari Nathan. Pemuda itu menoleh dan menyapukan pandangannya. Tapi dia tidak mendapati siapa pun, kesal karena pesan itu. Nathan pun segera mengirim pesan balasan dengan kata-kata menohok pada si pengirim misterius tersebut.
"Tunjukkan batang hidungmu, jangan hanya jadi pengecut!!"
Vivian menggigit ujung kukunya. Dia bingung harus menulis apa lagi sekarang. Kemudian Vivian mengetik pesan lagi untuk Nathan. Dalam pesan singkat itu, Vivian memintanya untuk menoleh kebelakang.
Dan saat itulah Nathan melihat sosok Vivian yang sedang tersenyum lebar padanya. Matanya sedikit membulat. "Vivian," seru Nathan lalu menghampiri gadis itu dan memeluknya. Sudut bibir Vivian tertarik keatas. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nathan.
"Nathan, aku pulang." Ucap Vivian setengah berbisik.
"Aku merindukanmu, Vi. Sangat-sangat merindukanmu. Aku pikir kau tidak akan pernah kembali," bisik Nathan sambil mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana mungkin aku tidak kembali, jika setengah hatiku tertinggal disini," jawab Vivian.
Lantas Nathan melepaskan pelukannya dan menatap Vivian penuh tanya. "Maksudmu?"
__ADS_1
"Iya setengah hatiku. Aku mencintai negeri ini, jadi bagaimana mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Apalagi banyak sekali orang-orang yang aku sayangi di negeri ini. Jadi mana mungkin aku pergi begitu saja tanpa salam perpisahan." Ujarnya.
Nathan menepuk kepala Vivian dengan lembut. Matanya mengunci sepasang iris Hazel-nya. "Kapan kau datang? Lalu kenapa tidak memintaku untuk menjemputmu?"
"Aku tiba pagi ini. Dan apa kau tau, aku hampir saja menjadi korban perdagangan manusia. Untung saja aku menguasai bela diri, jadi bisa mengembalikan keadaan." Tutur Vivian.
Nathan terkejut. "Tapi kau tidak apa-apa kan?" Vivian menggeleng. Meyakinkan pada Nathan jika dia baik-baik saja. "Lain kali jangan ceroboh. Angka kriminal di negeri ini lumayan tinggi. Jadi kau harus lebih waspada lagi."
Vivian mengangguk. "Aku tau. Huft, Aku lapar, ayo traktir aku makan malam. Bukankah kau sudah berjanji." Nathan mendengus geli. Ekspresi Vivian yang seperti bocah membuat Nathan tidak bisa menolaknya.
"Baiklah, tentukan dimana kau ingin makan malam." Ucap Nathan. Vivian mengangguk antusias. Nathan akan mentraktirnya.
"Oke."
.
.
Nathan menggeleng. "Tidak, sejak awal hubunganku dan Karina tidak didasari cinta, tapi hanya saling menguntungkan saja. Dia yang membutuhkan materi, dan aku yang butuh seseorang untuk menemaniku dalam kesepian. Hanya itu alasan kami bersama." Jelasnya.
"Lalu, apakah ada orang lain yang kau sukai? Seseorang yang menempati hatimu saat ini?" Tanya Vivian.
"Aku sendiri tidak tau dan tidak yakin. Tapi aku selalu merasakan perasaan tak biasa ketika berada disisinya, melihat senyumnya, hatiku sakit ketika melihat air matanya dan aku merasa kosong ketika dia jauh dariku. Jujur saja, Vi. Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Dan aku merasa kesal saat melihatnya di dekati oleh pemuda lain." Jawab Nathan panjang lebar.
Vivian terdiam mendengar apa yang Nathan katakan. Perasaan yang sama persis seperti yang pernah ia rasakan pada Vano dulu. "Itu cinta, yang kau rasakan itu adalah cinta." Ucap Vivian penuh keyakinan. Nathan mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik Hazel gadis itu.
"Cinta, perasaan yang mungkin masih terasa sangat abu-abu untukmu. Pertama-tama, yang kau rasakan adalah jatuh cinta, lalu berubah menjadi rasa cemburu, dan kemudian merindu. Memangnya gadis mana yang berhasil membuatmu merasakan perasaan semacam itu?" Tanya Vivian penasaran.
"Kau..." jawab Nathan tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Hah, maksudmu apa?" Gadis itu menatap Nathan dengan bingung.
"Ya, gadis itu adalah kau, Vi. Orang yang membuatku merasakan berbagai perasaan aneh dan asing yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya." Kata Nathan meyakinkan.
__ADS_1
Vivian terdiam. Sepasang mata Hazel-nya menatap jari-jarinya yang saling meremas. Dia bingung harus menjawab apa, sebenarnya Vivian juga merasakan perasaan yang sama seperti yang Nathan rasakan, tapi dia masih trauma dengan rasa sakit yang pernah dia rasakan.
Ia takut, terluka dan patah hati untuk yang kedua kalinya. Vivian tidak mau hancur dan terpuruk sekali lagi. Tapi disisi lain dia juga ingin disayangi oleh seseorang dengan tulus. Mungkin memang tidak ada salahnya memulai sebuah hubungan dengan Nathan.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" Tanya Vivian.
"Ayo kita berkencan."
"Apa kau baru saja menembakku?" Vivian menatap Nathan dengan jahil.
"Ya, mungkin saja begitu."
Vivian menundukkan wajahnya. "Tapi, Nathan. Jujur saja aku masih trauma. Aku pernah disakiti oleh laki-laki dan itu membuatku takut untuk memulai sebuah hubungan lagi, apalagi kita masih muda dan pasti banyak ujiannya. Kita belum sama-sama memiliki pemikiran yang matang, yang menikah saja bisa goyah apalagi yang hanya sebatas pacaran. Aku takut," Vivian menggigit bibir bawahnya.
"Kalau begitu ayo kita menikah. Dengan begitu hubungan kita bisa terjalin lebih erat dan lebih kuat. Aku akan pergi menemui ayahmu dan meminta restu darinya."
"Nathan," gumam Vivian sambil menatap Nathan tak percaya.
"Aku bersungguh-sungguh, Vi. Jika aku berani menyakiti apalagi mengkhianatimu, kau boleh membunuhku."
Vivian kembali menggigit ujung bibirnya. Dia bingung harus menerima Nathan atau menolaknya, tapi melihat ketulusan dan kesungguhan pemuda itu membuat Vivian merasa yakin jika Nathan tidak akan pernah menyakitinya.
"Baiklah, ayo kita berkencan. Kita jalani saja dulu hubungan ini. Dan biarkan mengalir apa adanya," jawab Vivian pada akhirnya.
"Terimakasih sudah memberiku kesempatan, aku pasti akan menjaga hati dan kepercayaanmu." Vivian mengangguk seraya tersenyum tipis.
Meskipun ragu dan takut. Tapi tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada Nathan. Dan padanya Vivian akan mempercayakan hati serta cintanya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1