Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Mimpi Buruk Jordan


__ADS_3

Luna hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tuanya yang ingin menitipkannya pada orang asing. Jordan Tang, pria tampan namun memiliki sifat seperti kutub Utara. Entah mimpi buruk apa yang dia alami semalam sampai-sampai harus tinggal satu atap dengan pria menyebalkan seperti itu.


Rasanya Luna ingin sekali mengutuk orang tuanya yang sudah seenak jidat memintanya untuk tinggal bersama orang asing. Tapi sayangnya dia tidak berani. Luna tidak ingin disebut sebagai anak durhaka karena berani mengutuk kedua orang tuanya.


"Kita sudah sampai, cepat turun." suara dingin itu segera menyadarkan Luna dari lamunannya. Kemudian gadis itu menoleh dan membalas tatapan Jordan lalu menghela napas.


"Aku tidak mau!! Aku mau pulang," Luna menolak untuk turun dan dia malah mengatakan pada Jordan ingin pulang.


Pria itu berdecak sebal. "Entah mimpi buruk apa ini, sampai-sampai aku harus berurusan dengan gadis menyebalkan sepertimu!! Turun sekarang juga atau aku akan membiarkanmu mati kehabisan napas di dalam mobil ini!!" ujar Jordan memberi ancaman.


Sontak pupil Luna mau bulat sempurna setelah mendengar apa yang pria itu katakan. "Yakk!! Ancaman bodoh macam apa itu? Iya iya aku akan turun sekarang juga." Luna turun dari mobil Jordan sambil menggerutu tidak jelas.


Bisa-bisanya Jordan memberikan ancaman mengerikan seperti itu. Apa dia benar-benar pria yang normal? Benar-benar mengerikan, entah bagaimana nasib Luna kedepannya karena harus tinggal dengan pria seperti Jordan.


"Kenapa rumah ini sepi sekali? Apa kau tinggal sendirian saja? Lalu di mana orang tuamu?" tanya Luna penasaran.


Jordan hanya menatap sekilas kearah Luna tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya. "Ayo masuk." Jordan mengambil alih koper di tangan Luna lalu membawanya masuk ke dalam.


"Hei, kenapa pertanyaanku diabaikan? Aku sedang bertanya padamu.." Seru Luna melayangkan protesnya. "Ahhh," langkah gadis itu terhenti ketika tanpa sengaja bertubrukan dengan punggung bidang milik Jordan.


Pria itu menoleh ke belakang dan menatap Luna dari ekor matanya. "Kau terlalu berisik!!" ucapnya dan melengos pergi. Luna mempoutkan bibirnya. Gadis itu menghela napas. Sambil menghentakkan kakinya. Luna menyusul Jordan yang sudah menjauh.

__ADS_1


"Ini kamarmu. Di rumah ini hanya ada kita berdua. Karena kau tidak bisa memasak, maka kau harus membantuku beres-beres rumah. Bangun tidak boleh lebih dari jam 6 pagi, terlambat satu menit saja tidak dapat jatah sarapan. Tidur tidak boleh diatas jam 10 malam, supaya bangunmu tidak kesiangan." Ujar Jordan.


Pupil mata Luna membulat sempurna. "Yakk!! Aturan macam apa itu, jangan mentang-mentang kau tuan rumah dan aku tamu, maka kau bisa memperlakukanku seperti ini. Ini benar-benar tidak adil. Aku Tidak mau!!" tegas Luna.


Jordan mengangkat bahunya dengan acuh. "Itu terserah padamu. Kau boleh menempati kamar kosong di dekat gudang yang penuh dengan tikus dan kecoa, gampang kan." ucap Jordan dan membuat Pupil mata Luna membulat sempurna.


"Apa kau bilang?! Tikus dan kecoa, aku tidak Sudi. sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti aturanmu. Jika bukan karena terpaksa aku tidak suka melakukannya," tandas Luna.


"Baguslah jika kau tahu diri. Ini barang-barang mu," Aiden menyerahkan koper milik Luna pada sang empunya dan pergi begitu saja.


Luna menggepalkan tangannya sambil mendengus kesal. Jika bukan karena terpaksa dia tidak akan suci tinggal satu atap dengan pria menyebalkan seperti Jordan. Luna benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan oleh ibu dan ayahnya, sampai-sampai mereka harus menitipkannya pada orang menyebalkan seperti Jordan.


setelah meletakkan kopernya. Luna langsung menjatuhkan badannya pada kasur super nyaman di kamar ini.


"Sepertinya menyenangkan juga tinggal di rumah ini. Udaranya sangat sejuk dan pemandangannya indah, benar-benar cocok untuk menyegarkan mata di pagi hari," ucap Luna setengah bergumam.


Hari sudah beranjak petang. Luna melesat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang agak sedikit lengket. Setelah ini dia berencana keluar untuk makan malam, dia hendak makan malam di cafe bersama teman-temannya.


xxx


Jordan berjalan kearah pintu saat mendengar suara ketukan. Itu adalah kurir yang mengantarkan makanan pesanannya. Dia lebih memilih memesan dari luar karena hari ini Jordan sangat malas untuk memasak.

__ADS_1


Porsi makanan yang dia pesan kali ini lebih banyak dari biasanya karena ada anak orang lain yang harus dia beri makan.


"GADIS MANJA, TURUNLAH UNTUK MAKAN MALAM!!" seru Jordan dengan suara meninggi. Dia terlalu malas untuk memanggil Luna di kamarnya, belum habis rasa kesalnya pada gadis itu.


Luna menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Membuat Jordan memicingkan matanya. "Kau mau pergi ke mana?" tanya pria itu tanpa basa-basi.


"Tentu saja untuk makan malam. Aku akan makan malam di luar dengan teman-temanku," jawab Luna dengan santainya.


"Kau bercanda, ya?! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua, dan kau malah mau pergi keluar untuk makan malam bersama teman-temanmu?!" ujar Jordan sambil menunjuk makanan yang telah ia susun dimeja makan.


Pupil mata Luna sedikit membulat melihat makanan-makanan tersebut. "Kau yang menyiapkan semua makanan-makanan itu?" tanya Luna tak percaya.


"Lalu menurutmu siapa?"


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf aku tidak tahu kalau kau menyiapkan makan malam. Kalau begitu aku tidak jadi keluar dan makan malam di rumah saja." Ucap Luna.


Jordan memutar jengah matanya lalu beranjak dari hadapan Luna. "Terserah!!" dia sudah terlanjur kesal. Kesabarannya yang tidak lebih tebal dari selembar tisu harus diuji oleh Luna.


Jordan merasa kehadiran Luna dalam hidupnya seperti mimpi buruk . Dan cukup sekali ini saja dia berurusan dengan gadis menyebalkan seperti itu. Jangan ada Luna-Luna yang kedua, ketiga dan seterusnya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2